Cincin Bulan Persahabatan
Memulai Jadwal Padat di Pondok
Hari-hari di pondok pada awalnya masih terlihat santai, namun setelah seminggu peraturan mulai berlaku. Jadwal belajar di pondok yaitu dua kali sehari, dari hari senin hingga jum’at, sedangkan sabtu dan minggu libur. Belajarnya pada waktu ba’da subuh, dan ba’da shalat isya’. Materinya pun beragam, dari seminggu dua kali belajar bahasa arab menggunakan buku Al ’Arobiyah linaa syi iin yang terdiri dari enam jilid kemudian ta’mir , satu kali perpekan, kemudian setiap pagi ba’da subuh tahsin dua kali yaitu pembenaran bacaan Al-Quran. Kitab yang dipelajari di tingkat awal adalah Riyadhus Shalihin dan tafsir Ibnu Katsir. Jadwal yang padat, tapi tetap boleh ijin asalkan syar’i misalnya urusan urgent urusan kuliah maupun keluarga, dan sebagainya. Aku harus menyiapkan diri untuk menjadi manusia yang baru, karena semakin banyak kegiatan positif, maka pikiran-pikiran negatif akan tersingkirkan dengan sendirinya.
Di Pesantren, Ustadz Wahid mengajar untuk tingkat satu, yaitu tafsir Ibnu Katsir. Dia mengajar malam ba’da shalat isya’. Ustadz yang selalu tersenyum, namun dari sorot matanya tampak tegas sehingga santri yang berjumlah 31 orang tidak berani ribut, karena seolah mata Sang Ustadz selalu memandang kami satu persatu. Jadwal yang kubuat ba’da pulang dari Pasar Minggu, adalah membuka-buka catatan kuliah atau beristirahat walau sejenak, untuk menyiapkan belajar malamnya. aku masih menyembunyikan pekerjaanku itu. Belum ada yang tahu karena ketika pulang aku masih mengenakan pakaian kuliah, mereka mengira jadwalku hingga sore.
Di malam haripun demikian, ketika bertabrakan dengan jadwal mengisi privat, aku meminta kepada Syahid untuk menuliskan absenku, dan ternyata dua pelajarannya adalah bertepatan dengan materi Ustadz Wahid saat materi tafsir. Walau aku tidak masuk, ketika pulang privat aku selalu mencatat catatan milik Syahid, jadi kuusahakan tidak pernah ketinggalan. Apa boleh buat, jika tidak mengisi privat, darimana aku memperoleh biaya kuliah dan biaya pondok. Jika ketahuan pun pasti mereka akan memakluminya. Semoga saja.
Dan biaya pesantren ternyata tidak semahal yang kupikirkan, bahkan seimbang dengan biaya kost di Asrama Mahasiswa, padahal di Asrama hanya kamar saja dan belum termasuk makan dan listrik jika ada tambahan alat elektronik, sedangkan di pesantren sudah lengkap dengan fasilitas listrik, makan dan juga belajarnya. Subhanallah, Allah memang mempermudah segalanya. Yang membuatku lebih betah lagi, ternyata kondisi mendukung sekali, teman-teman yang baik lagi saling menasehati. Kala ada materi sebulan sekali ketika tahsin, yaitu evaluasi diri atau muhasabah.
Hari sabtu. Liburan di Pesantren beberapa santri pulang ke rumah, karena selain itu kuliah mereka juga libur. Mungkin separuh yang masih menetap. Aku sendiri masih ada mata kuliah di hari sabtu. Bismillahirrahmaanirrahiim, kulangkahkan kakiku mantap setelah sebelumnya memasukkan Al-Quran di ranjang tas sebelah kanan, dan air minum kuselipkan di ranjang tas sebelah kiri. Aku memakai peci bulat, mengambil topi pemberian Bapak, lalu menutupkannya di atas peci. Jarak pesantren sampai Fakultas Ekonomi tidak terlalu jauh, hanya berjalan keluar pesantren, lalu menyeberang jalan besar dan tiba di halte pertama UI dari Asrama Mahasiswa. Setelah itu baru naik bikun, dan melewati beberapa Fakultas dan akhirnya turun juga di Fakultas Ekonomi.
Fakultas Ekonomi yang sepi dari nilai-nilai religius, karena ekonomi yang dipelajari adalah ekonomi konvensional yang mencari keuntungan. Walau begitu, ekonomi global dan internasional merupakan mata kuliah yang sering disampaikan, sehingga aku tahu bagaimana negara memberlakukan penerapan pajak dan subsidi, atau bagaimana jaminan dalam mencetak uang dan sebagainya. Semua hal harus kupelajari, untuk melihat nilai manfaat dan mana yang tidak sesuai dengan Islam.
Di kelas, kucoba menatap teman-temanku yang ternyata selama setahun lebih ini, aku belum mengenal mereka, bahkan aku jarang berinteraksi dengan mereka, karena sepulang kuliah aku langsung ke masjid Ukhuwah Islamiyah dan ke Pasar Minggu, untuk menyambung hidupku di kota Depok yang nyaman ini. Yah! Seberapa pun peluang untuk dapat mengenal mereka, mereka juga suatu saat dan sekarang adalah asset yang belum terlihat. Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri .
Ada sekitar 45 mahasiswa dalam kelasku, jurusan manajemen pemasaran. Namun ketika seringnya pembicaraan di kalangan teman-teman, mereka sering membanding-bandingkan mana mahasiswi yang paling cantik dan cocok buat rebutan. Yah! Dasar teman-teman. Ada yang belum paham, bagaimana Rasulullah saw mencontohkan bagaimana memilih pasangan hidup. Untung kak Nugroho sudah mengajarkannya walau hanya sepintas. Uups! Bukankah aku baru belajar agama kemarin sore, tapi aku beruntung dapat belajar agama di pondok Darussalam, sehingga paradigma pemikiranku tidak terlalu convensional, seperti ekonomi yang aku pelajari dan bukan paradigma liberal, seperti yang menyebar merusak agama Islam saat ini.