Cincin Bulan Persahabatan
Jaga Kakakku
Aku menyimak setoran Fadli. Kemajuannya pesat, kini dia sedang melantunkan surat At-Tahriim. Penghujung surat di juz 28. Aku teringat punya janji memberinya hadiah jika dia bisa menghafal satu juz. Aku tersenyum kearahnya yang masih membaca basmallah dan memejamkan matanya.
Aku menyimaknya seksama. Beberapa tempat sedikit salah, lalu kubetulkan. Dia meneruskan bacaannya kembali. Hatiku bergetar ketika dia membaca ayat, ”Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah. Dan dikatakan (kepada keduanya), ”Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Dan Allah membuat istri Fir’au perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, ”Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” dan (ingatlah) Maryam putri ’Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabNya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”
Allah mengisyaratkan contoh-contoh istri yang tidak baik dan istri yang baik. Pantas dengan siapakah diriku? Istri? Bukankah wanita yang baik-baik untuk lelaki yang baik, wanita pezina untuk laki-laki pezina. Istri-istri Nabi yang soleh pun, tak lepas dari kemusyrikan. Apakah aku telah bisa membimbing istriku nanti? Allah..., jadikan aku dan istriku kelak dapat saling membantu di pengadilanMu, jangan jadikan aku kelak bermusuhan dengan keluargaku, istriku, teman-temanku. Jadikan ikatan cinta kami kuat, jadikan muaranya hanya padaMu. Allah...
”Gimana Kak? Sudah lulus kan? Katanya Kakak mau memberi hadiah,” matanya berkedip-kedip. Sangat mirip dengan lakuku sewaktu kecil. Tak terasa, sudah lama aku mengajarinya membaca iqra’, mengkaji pelajarannya bersama sehingga dia tidak perlu mencontek seperti kecilku dulu. Masakannya pun sekarang sudah lumayan enak, aku mengajarinya pelan-pelan. Waktu pertama kali, masakannya benar-benar hambar. Kadang kemanisan karena kebanyakan gula. Kulihat sekali lagi senyumnya, sungguh indah..., begitulah Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Semoga akhlak kitapun seindah penciptaan kita. Amiin ya Rabbal ’Alamin.
”Fadli ingin hadiah apa?”
”Bolehkah..., bolehkah aku meminta sesuatu yang bukan berbentuk barang?” tatapannya begitu serius. Baru kali ini kulihat wajahnya penuh harap, dan sorot matanya seolah ketakutan, ”Lakukanlah sesuatu untuk Fadli.”
”Jika Kakak bisa melakukannya, Kakak pasti memenuhinya. Pokoknya Kakak akan berusaha untuk memenuhinya,” aku mengusap kepalanya pelan.
”Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini, aku hanya punya Kak Aisyah. Walau dia hanya menciumku dikala tidurku, dan mengatakan kalau dia sangat mencintaiku. Aku sangat mencintainya, tetapi aku belum pernah mengatakan cinta padanya. Aku ingin melihatnya bahagia, sepanjang hidupku. Aku hanya minta Kakak..., Kakak...,”
”Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu dan kak Aisyah bahagia? Sedangkan aku sendiri orang perantauan disini,” aku menatapnya teduh.
”Tolong jaga Kakakku, tolong buat dia tersenyum. Karana kak Aisyah membutuhkan Kakak. Dia sangat mencintai Kakak. Aku tahu itu, ketika pagi hari dia selalu memintaku menceritakan tentang Kakak. Itulah permintaan Fadli..., aku ingin Kakak membimbingnya dan membimbingku..., aku ingin Kakak menjaganya,” wajahnya menatapku penuh harap.
Aku mencoba menata hatiku. Aku memegang dan mendekap kedua tangannya, ”Fadli..., urusan itu adalah milik Allah. Setiap perkara di dunia; yang ghaib dan tersembunyi adalah rahasia Allah. Kita dipertemukan karena Allah, semuanya bukan kebetulan, semuanya telah diatur Allah. Biarlah Allah yang akan mengaturnya untuk kita. Kita harus ridha pada semua ketentuanNya,” aku tersenyum meyakinkan.
”Tapi...,” dia menatapku memelas, ”Bukankah Kakak pernah bilang, kalau kita berdoa pada Allah, kita bisa meminta apapun. Dan Allah pasti mengabulkannya, jika tidak di dunia Insyaallah di akhirat kelak. Aku sudah berdoa di setiap shalatku, di hari ulang tahunku, di setiap menjelang tidurku, di setiap wudhuku. Aku hanya ingin Kakak bahagia..., aku...,” dia menangis. Aku mendekapnya erat. Alangkah cintanya mendalam pada Aisyah. Alangkah dalam sebuah cinta, hingga mampu membuat orang yang sedang dirundung melakukan apapun.
”Allah akan mengabulkan doamu, Insyaallah..., Insyaallah. Yakinlah bahwa Allah selalu bersamamu. Dia tidak akan mengecewakan hambaNya yang beriman dan mengagungkanNya. Sudahlah, bukankah engkau tidak tahu apa yang diinginkan kak Aisyah? Bukankah kamu juga belum pernah mengatakan bahwa engkau mencintainya karena Allah pada kakakmu? Ucapkanlah dan buatlah ia bahagia. Jangan menunggu dan menunda-nunda, karena semuanya bisa terlambat.”
”Aku akan mengatakannya segera Kak. Fadli akan mengusahakannya.”
”Semoga Allah menjadikanmu orang yang berilmu, dan mampu menjadi teladan di zaman yang telah rusak ini. Aamiin.”
Adzan isya’ menggema. Aku mengajaknya shalat di masjid, setelah itu biasanya kuantar pulang sekaligus pamitan untuk pulang. Fadli berlari masuk katanya mengambil sesuatu dan pecinya di dalam. Saat keluar, sarung kecilnya telah dipakainya. Aku teringat begitu lucunya dia, ketika dulu belajar memakai sarung hingga melorot terus hingga menangis. Aku mengajarinya sambil tersenyum, akhirnya dia tersenyum juga. Tapi entah apa yang dipegangnya, sebuah amplop? Bukankah baru seminggu yang lalu Aisyah menitipkan amplop pada Fadli?
”Ini surat dari Kak Aisyah?” senyumnya mengembang.
”Untuk Kakak,” seolah tak percaya, aku menunjuk diriku sendiri.
Anggukan kepalanya yang yakin, membuatku menerima amplop itu. Sebuah surat? Dari gadis tegar itu? Aku kembali menghadap Allah dengan gundah.