Cincin Bulan Persahabatan
Maafkan Aku Ibu, Anakmu Ini ...
21 Desember 2007, di pekuburan basah. 09.00
Aku duduk di depannya. Gerimis air yang mengguyur Gedung Dalam Baru, tak menggoyahkan sedikitpun jasadku untuk pergi. Rintik air hujan mengiringi lantunan doa dalam hatiku yang bergema. Airmataku memburai, bahkan aku tak sempat melihat wajahnya yang terakhir kali. Aku baru tiba pukul 08.30. Jenazah Bapak telah dikubur kemarin siang, karena Bapak meninggal kemarin pagi ketika shalat subuh berjamaah di Masjid. Segala urusan adalah dariNya, dan akan dikembalikan padaNya dengan seadil-adilnya.
Kurelakan kepergiannya, walau belum banyak yang kupersembahkan untukmu Pak, hanya doa yang bisa kukirimkan. Aku akan berusaha menjadi anak yang soleh, dan berharap pada Allah untuk mempertemukan kita di tempatNya yang terindah. Inginku melihat bahagiamu saat melihatku di wisuda, tapi Allah yang berkehendak. Walau kutata hatiku untuk ridha, airmataku tetap menetes bercampur air hujan yang jatuh dari langit. Gluduk terdengar berulang-ulang, membahana. Kakiku enggan sedikitpun meninggalkan Bapak, aku tak tega meninggalkan dia, sendirian dalam dekapan tanah yang menghimpit.
Air hujan seolah jatuh di sekitarku, tapi tak mengenaiku. Ada orang yang memayungiku, aku melihatnya. Ibu dengan balutan jilbab biru muda, menatapku tersenyum. Aku membalas senyumnya, ada kerinduan sekaligus kesedihan yang kupancarkan. Mungkin Ibuku tahu, tapi aku juga tahu wajahnya yang telah memperlihatkan keriput, juga memendam kesedihan yang terbalut dalam ketulusan. Bagaimanapun juga, beliaulah yang selalu membersamai Bapak. Bapak adalah seorang pahlawan yang tak kenal lelah, menghadang matahari untuk mencari sesuap nasi, beliaulah Imam yang mengajari ibu dan anak-anaknya belajar mengaji. Ibulah yang paling kehilangan, lihatlah senyumnya bagaikan bidadari yang menjelma sebagai manusia.
Aku juga harus tabah, kini aku harus mengambil peran Bapak sepenuhnya. Yasmin di belakangnya, berpayung sendirian. Wajahnya begitu cantik, walau gurat kelelahan sedikit menyelimutinya, kuyakin dia bekerja keras membantu Ibu. Matanya masih menyisakan mendung duka, senyumnya tulus menyapaku. Betapa kerinduan ini tak berada di tempat yang tepat. Alangkah kesyukuran itu begitu menakjubkan, aku memiliki mutiara-mutiara. Sang Pemilik mutiara bisa mengambilnya kapan saja, tapi mutiara-mutiara itu akan terus hidup di hatiku, walau terpisah jarak yang jauh atau tempat yang berbeda. Karena itulah sesungguhnya ujian akan ketegaran, dan keteguhan iman dibuktikan, saat musibah dan kehilangan.
“Ibu pulang saja dulu, Ihsan masih ingin disini. Ihsan ingin menemani Bapak sejenak. Sebentar lagi Insyaallah Ihsan pulang.”
Ibu tidak menyahut, beliau duduk di sebelahku. Menatap nisan kayu yang basah kuyup kehujanan, “Ibu kesini bukan untuk menjemputmu San, Ibu kesini akan menemani kamu dan Bapak. Bukankah lama kita tidak berkumpul bersama,” matanya berkaca-kaca.
Aku menyandarkan kepalaku yang basah, tertimpa rintik hujan ke pundak Ibu. Ibu membelai rambutku. Semua kenangan berkelebat dalam bayangan suara hujan, yang menghantam payung. Saat itu, ketika malam Bapak membacakan surat An-Naas untuk kuhafal agar mendapatkan hadiah dari Mbak Ningsih, hadiah dua buah jilbab untuk Ibu. Saat yang membuat keluargaku menangis, untuk sebuah kalimat yang belum pernah mereka dengarkan dari orang lain, kecuali dari mulut mungilku. Kalimat cinta yang diajarkan mbak Fatimah, seandainya waktu dapat dilipat sedikit, aku akan mengucapkannya dengan ketulusan sebelum kepergian Bapak. Tidak ada yang terlambat.
Bibirku bergetar, “Bu, Ihsan mencintai Ibu karena Allah, Ihsan mencintai Bapak karena Allah, sungguh. Allah sebagai saksinya, maafkan semua khilaf Ihsan,” aku menggapai tangan Ibu, kucium dengan lembut.
Hujan yang membersamai derai airmata yang tumpah, mulai reda. Mendung mulai memisah-misahkan dirinya, tertiup angin pelan dan mulai memburai, menampakkan selaput biru langit yang basih buram. Gedung Dalam Baru berduka, untuk kepergian salah satu penghuninya.