Cincin Bulan Persahabatan
Pernikahan Wanda
Kuliah hari ini hanya satu mata kuliah, sebentar lagi ujian. Aku harus mempersiapkan diri secara penuh, harus dapat membagi waktu dan pikiran. Banyak orang yang berpikir ‘Kapan libur’, jika dia sedang kuliah dan belajar dan berpikir ‘Kapan sekolah lagi’ jika sedang liburan. Banyak orang yang shalat pikirannya kemana-mana dan tidak fokus, orang sedang makan memikirkan kerja, ketika kerja memikirkan makanan dan lain sebagainya. Itulah yang membuat manusia tidak bisa fokus, kenapa tidak memikirkan apa yang sedang dilakukannya saat itu juga.
Saat hendak pulang, sebuah suara membuatku menghentikan laju langkahku.
“Ali…, sebentar,” suara Aisyah lembut.
“Ada apa Ais?”
“Ehm…, bagaimana perkembangan Fadli adikku?”
“Bagus. Sangat bagus! dia kini telah hafal satu juz, juz 28,” aku menjawab prestasi hafalannya, bukan prestasi akademiknya. Bukankah akademik dia lebih tahu daripada aku? Karena dia lebih sering bersamanya.
“Apakah kau punya janji dengan Fadli?”
“Janji?”
“Ya.”
“Janji apa?” aku tak ingat.
“Janji jika Fadli bisa menghafal satu juz, kau akan memberinya hadiah istimewa.
“Astaghfirullahal ‘Adhim, iya aku lupa. Insyaallah aku akan memberikan hadiah padanya. Tapi, kenapa dia tidak menagihnya padaku?”
“Dia malu mendahuluimu, dia ingin kau yang menawarkan hadiah itu,”
“Benarkah?”
Aisyah menggangukkan kepalanya. Bisa juga Fadli bercanda, hatiku tersenyum sendiri. Aisyah pamitan padaku. Aku meneruskan langkahku untuk pulang.
“Kau pasti ada apa-apanya sama Aisyah? Ayo Ustadz ngaku sama aku? Aku tidak akan marah. Aku bahagia jika kamu menikah dengannya,” Hanif memberondongku, sambil berjalan keluar kelas. Aku tersenyum padanya.
“Nif, kau tahu sendiri aku ini siapa? Aku anak Pesantren yang mendapat keringanan, karena tidak kuat membayar, lalu bekerja di Pasar Minggu dan kerja apa saja. Aku orang miskin Nif. Tenang saja, jodohku dan jodohmu ada di tangan Allah.”
“Iya aku tahu, aku salut sama kamu Fren. Aku saja masih minta sama orangtua. Semoga Allah selalu menyertai langkahmu. Aku janji tak akan menjahilimu lagi. Kecuali…, jika terpaksa,” matanya mengedip sambil tersenyum sambil memukul bahu kananku pelan.
“Ayo kita pulang,” kami melangkah keluar kelas, keluar dari Fakultas Ekonomi. Menantang matahari yang tegar berpijar, bagaikan petala langit yang dihidupkan Allah ‘Azza wa Jalla, untuk memperingatkan manusia akan panasnya api neraka.
Sepulang kuliah, aku mengambil sepeda di Pesantren, aku sampai di kantor ‘Zahra Corporation’ pukul 11.00. Dzuhur masih sekitar satu jam lagi. Masih ada waktu untuk lebih mengenal jauh usaha-usaha secara keseluruhan. Pak Arifin tersenyum melihatku masuk ke ruangannya. Hari ini kami akan berangkat ke Surabaya untuk melihat kondisi usaha Rumah makan ‘Barakah’, yang disana menyediakan hampir semua makanan khas setiap daerah di Indonesia.
Rumah makan Barakah terdiri dari empat tingkat. Di setiap tingkat terdapat tukang masaknya sendiri-sendiri. Tingkat ke-empat adalah makanan khas untuk Negara Barat, tingkat ke-tiga merupakan masakan khas Timur Tengah, untuk tingkat ke-dua makanan khas Jawa dan sekitarnya, dan tingkat pertama khas masakan Sumatera.
Adzan Ashar menggema. Para pegawai di Rumah Makan itu bergantian shalat di Mushola Al-Muhajirin. Aku pamitan dengan Pak Arifin untuk sejenak ke Masjid. Aku teringat pesan Khalid bin Walid ra., maka setelah shalat aku banyak mencari informasi dari masyarakat sekitar rumah makan itu, banyak yang kutanyakan pada setiap orang yang kutemui di Masjid. Aku banyak menemukan informasi baru, kucatat dan kusimpan dalam tas bututku.
Tanpa terasa sabtu sore itu menjelang Maghrib, aku kembali ke rumah makan. Wajah pak Arifin sedikit muram, kutahu dia sedikit kecewa dengan kinerjaku, karena untuk shalat saja menggunakan waktu yang terlalu lama. Aku hanya menjelaskan aku bertemu dengan orang-orang disana dan sedikit ngobrol. Setelah Maghrib kami meluncur ke Bekasi yaitu dihotel ’Salim’. Hotel yang megah, kami disambut dengan baik. Aku terus mengikuti pak Arifin, hingga rapat musyawarah untuk jajaran tertinggi di hotel tersebut.
Aku izin untuk keluar, mencoba menggali informasi sebanyak-banyaknya, ilmu sebanyak-banyaknya. Jadilah malam itu ba’da isya’ malam minggu aku mengelilingi seluruh hotel itu, sambil sedikit berbincang-bincang pada para penjaga, para kasir hotel dan para pengunjung, sedangkan pak Arifin kutahu masih rapat, karena biasanya kutahu rapat-rapat yang lain terlalu lama dan aku merasa tak tahan. Aku mencatat segala informasi yang kudapat, nanti setelah kembali ke Depok akan aku analisis sendiri.
Senin pagi, aku menyiapkan segalanya berangkat kuliah, kumasukkan perlengkapan yang akan kugunakan pada hari ini. Dua minggu lagi ujian semester ganjil. Aku sudah semester tujuh. Aku harus segera melengkapi bahan-bahan untuk semester, aku segera ke perpustakaan mencari bahan yang belum kudapat. Dapat! Langsung kusalin disana tentang Korelasi dan Regresi, dalam hal proyeksi usaha perdagangan barang maupun jasa. Saat konsentrasiku penuh, seseorang mengagetkanku.
”Ali.., kau sedang sibuk ya?”
Aku menengok ke sebelah kanan, akhir-akhir ini aku sering berkonsentrasi penuh hingga tak menyadari jika apapun terjadi di sekitarku. Mau gempa atau tsunami pun mungkin aku tak merasakannya, sebagaimana Imam Nawawi Rahimallah tak merasakan rasa makanan ketika ibunya menyuapi, ketika beliau sedang belajar dan menulis kitab. Aku kaget, Aisyah berada di sebelahku dengan satu kursi kosong yang membatasinya. Sejak kapan?
”Tidak juga, aku sedang menambah bahan-bahan untuk semester minggu depan. Sebentar lagi kita juga harus segera menyusun skripsi. Aku ingin lulus pada semester depan ini.”
”Kau sudah tahu kabarnya Wanda Hamidah?” dia menatapku lalu menunduk.
”Memangnya ada apa dengan Wanda?” aku sedikit kaget mendengar nama gadis Aceh itu disebut. Aku jadi teringat kejadian di Lampung dulu.
”Minggu depan dia akan melangsungkan pernikahannya dengan Jamaaluddin Al-Afghani. Kau tahu, dia amat mencintaimu. Kau tahu, perempuan itu sangat sensitif. Berkali-kali kulihat dia saat berbicara padaku. Matanya sering sembab, dia tersiksa oleh rasa cinta, dan kutahu dia tak berani mengungkapnya kepadamu. Karena aku juga...,”
”Ketahuan sekarang!” Aku dan Aisyah kaget. Hanif telah berada di antara kami duduk. Hanif menatapku, aku sedikit mendelikkan mataku supaya dia tahu kalau aku sedang berbicara serius dengan Aisyah. Saat itu aku melihat jam tanganku, hampir Dzuhur. Aku juga harus segera ke kantor.
”Baiklah, mungkin kita teruskan obrolan kita lain kali. Aku ada keperluan. Silakan jika ingin mengobrol lagi,” aku beranjak hendak meninggalkan mereka.
”Ali,” aku menoleh, kulihat Aisyah ingin mengatakan sesuatu dari raut wajahnya sekilas.
Bibirnya bergerak, ”Ehm..., hati-hati,” Hanif melongo dibuatnya. Wanita berjilbab itu tersenyum kearahku lalu menunduk. Hanif seolah menyinyir kuda kepadaku, tanpa diketahui Aisyah. Dia semakin mengejek aku pasti nantinya. Aku keluar, tapi ketika aku mengambil tasku di loker, mereka juga ikut keluar. Aku tak peduli, aku harus bergegas.
Naik Bikun, aku tak menyiakan waktu. Siapa yang menguasai waktu dialah yang menang. Bayangkan jika waktu setiap orang terbuang walau hanya satu menit, ketika dikalikan jumlah penduduk bumi misalnya empat milyar. Jumlahnya menjadi empat milyar menit, dengan waktu sebanyak itu bukankah dunia sudah dapat digunakan beribadah kepada Allah? Atau dapat merubah tatanan masyarakat yang rusak menjadi baik. Aku bergegas.
Waktu terus merambat, tak kuasa aku telah satu bulan bekerja di Zahra Corporation. Ternyata gaji diberikan sesuai dengan tanggal masuknya setiap pegawai, oleh sebab itu jarang ada yang berbarengan antara gaji pegawai yang satu dengan yang lainnya. Saat itu, genap usia kerjaku 30 hari. Aku dipanggil pak Salim.
”Bagaimana ujianmu Ali?”
”Insyaallah lancar Pak,” aku tersenyum karena keramahannya. Matanya yang jernih menandakan ketulusan akhlak. Tentu dia paham banyak tentang agama, terlihat dari peraturan di seluruh cabang usahanya yaitu dahulukan shalat.
”Sebelumnya aku minta maaf. Hari ini aku akan memberi insentifmu,” pak Salim menyerahkan amplop kepadaku, ”Ini terimalah.”
”Bapak tadi bilang minta maaf? Boleh kutahu kenapa Pak?”
”Pada saat kamu datang kita telah membuat satu kesepakatan. Engkau akan digaji sesuai kinerjamu, untuk itulah aku meminta maaf karena berdasarkan laporan dari pak Arifin, kerjamu sering tak disiplin dan sering meninggalkannya semaumu, tanpa memberi tahu akan kemana dan berada dimana. Ini menjadi pelajaran untukmu, bukan aku meragukanmu, karena kutahu kau punya kemampuan yang bagus, tapi kinerjamu dalam sebulan ini cukup memuaskan sebagai karyawan baru,” nadanya begitu tenang, berkarakter kuat, dan mempunyai kharisma dalam setiap untaian kata-katanya.
Aku hanya mengangguk saja. Aku mengakui bahwa aku kurang disiplin dalam menjalankan tugasku.
”Tidak usah khawatir Ali, ini hanya permulaan saja. Biasanya pegawai baru disini rata-rata dulu selama tiga bulan adalah usaha adaptasinya dengan seluruh lingkungan. Aku sangat percaya padamu, tapi berusahalah baik-baik bekerja sama dengan yang lain. Karena usaha ini mengutamakan profesionalitas bukan hubungan kedekatan dengan pemimpin utama. Kau paham Ali?”
Aku mengangguk dan pamitan pergi.
”Oya Ali, adikku juga kuliah di UI kau kenal dia? Ingat sewaktu kamu menolongku di kompleks Asrama Mahasiswa?” aku mengangguk, ”Kedua adikku kuliah di UI, yang satu kini ikut dengan suaminya di Mesir karena suaminya sedang menyelesaikan S2-nya, sedangkan ia harus meneruskan kuliah disana. Mungkin kau kenal dengannya. Satunya lagi masih di UI”
”Siapa namanya Pak?”
”Zahra.”
”Zahra? Sepertinya saya pernah dengar,” kuingat nama itu. Iya aku ingat sekarang! Bukankah itu nama yang selalu kubaca ketika aku masuk ke kantor ini. Tapi seolah nama itu pernah kudengar, tapi dimana? Aku lupa. Mungkin karena aku pelupa, tapi aku pernah mendengarnya. Aku yakin itu.
”Maaf Pak, saya tidak ingat.”
”Tidak apa-apa, padahal dia terbaik satu angkatannya. Tapi, mungkin dia memang jarang keluar kecuali dia berdakwah dan menuntut ilmu. Apalagi kau, kudengar kau juga sering mengisi kajian besar dan mengisi jadwal jum’at di sekitaran kota Depok. Aku pernah mendengar khutbahmu sekali sewaktu di masjid Raya di pusat Depok,” aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Senja kota Depok menyapaku, membalut keringatku yang bercucuran sehabis naik sepeda dengan kecepatan penuh. Matahari mulai tidur dalam buaian malam di kaki langit barat.
Aku pulang ke Pesantren pukul 17.00. aku mandi dan membuka amplop gaji pertamaku. 3.000.000. aku tersenyum, ’lumayan untuk permulaan’ begitu hatiku berucap. Besok yang 2 juta akan kukirim ke Lampung, kasihan si Yasmin telat bayar untuk semesterannya. Fajar dari suratnya kemarin sudah mulai dapat berjalan dengan penyangganya, dia sementara harus kost di dekat kampus sebelum sembuh karena kasihan jika harus naik angkot, naik-turun dan berjalan kaki dari jalan besar ke Kampus. Itu jelas menambah biaya. Aku harus semakin giat bekerja.
Kunyalakan kipas angin. Segar! Kutelentangkan tubuhku di atas tikar, aku tidak membeli kasur karena satu alasan khusus. Aku selalu ingin bangun malam untuk Qiyamul Layl, karena jika aku tidur dalam keenakan kasur apalagi empuk aku pasti akan bangun begitu adzan subuh berkumandang. Kudengarkan Murottal Al-Mathrud, hatiku berdebar-debar kala asma Allah dibaca, mataku menganak air. Sembab. Ya Allah, jangan jadikan dunia melenakanku. Aku takut, jika harta melalaikanku padaMu.
Aku teringat Yasmin yang mempunyai semangat tinggi. Aku teringat Ibu yang kesepian setelah Bapak tiada, aku teringat Fajar yang harus tertatih-tatih untuk menuntut ilmu, dia harus berjuang keras untuk memperbaiki dirinya. Menjadi lelaki sholeh. Aku harus bekerja lebih keras lagi, ini adalah tanggung jawabku. Terlintas dalam benakku, rencanaku menikah. Segera kuurungkan karena aku takut akan ada yang terdzalimi nantinya. Bukankah aku harus membantu Ibuku yang kini telah lemah tubuhnya.
Ya Allah, Engkau yang bijak. Aku yakin Kau berikan yang terbaik untuk hamba-hambaMu. Aku yakin ya Allah. Aku yakin. Adzan kembali bersahutan.