Cincin Bulan Persahabatan
Surat Terakhir dari Wanda
Awal Maret 2008
Pengumuman ujian telah keluar. Sekarang semester genap sudah dimulai kembali, sudah beberapa bulan yang lalu. Aku berlari menuju kantor FE dan mengambil KHS, nihil. Aku tak menemukannya, kata pak Romli sudah diambilkan oleh teman sefakultasku. Siapa yang mengambilnya? Aku harus segera melihat hasil semester itu, apalagi ini sudah harus mengajukan judul skripsi. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliah, agar bisa total membantu semua kebutuhan Ibu, dan adik-adikku.
”Nif!” aku melihat Hanif, mungkin dia yang mengambilkannya, atau dia tahu siapa yang mengambilkannya. Hanif juga menuju ke arahku.
”Kamu tahu Nif, siapa yang mengambil KHS-ku?”
Hanif malah tersenyum, ”Siapa lagi kalau bukan Aisyah, tadi dia mengambil miliknya sekalian milikmu,” aku mengucapkan terima kasih pada Hanif. Aku percaya kepadanya karena ada sms masuk dari Aisyah.
”Asw. Akh, aku tunggu di perpustakaan.”
Aku mengajak Hanif, kutakut jika terjadi fitnah. Apalagi aku sangat malu kepadaNya. Hanif yang kupaksa akhirnya bersedia juga. Kami masuk ke perpustakaan, kami menaruh tas, dan kulihat Aisyah dengan jilbab putihnya telah duduk sambil membaca buku. Kami mendekatinya dan duduk di sampingnya, kulonggarkan satu kursi agar tidak berdekatan.
”Ini surat dari Wanda, sebelum dia menikah sebulan yang lalu. Aku coba mencarimu tapi selalu tak ketemu selama liburan. Kutahu surat ini sangat terlambat datangnya, tapi mungkin ini ketetapan Allah untuk hambaNya. Kau juga tak kelihatan di Pasar Minggu? Disana banyak orang yang merindukanmu Ali,” dia menyodorkan amplop putih kepadaku. Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
Aku menerima amplop itu, ”Alhamdulillah, aku mendapat pekerjaan di Jakarta Timur. Mungkin sesekali aku hanya bisa main ke Pasar Minggu untuk belanja. Aku masih sering bersilaturahim pada mereka,” aku memutar-mutar surat itu.
Aisyah pamitan padaku, katanya hendak kerja. Setelah mengobrol sedikit dengan Hanif, diapun pamit. Aku berterimakasih padanya sudah menemaniku. Seperginya, surat itu kubaca dan menjadikan hatiku resah setelah membacanya. Kubaca sekali lagi;
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Ali...
Semoga Allah mengampuni dosa orang yang menulis dan membaca surat ini. Semoga Allah mengampuniku. Semoga ketika aku menulis ini, Rabbku tidak murka dan marah kepadaku.
Ini adalah usaha terakhirku Ali. Kau tahu aku sangat mencintaimu, aku tak kuasa lagi menahan rasa cinta, rasa itu tumbuh begitu saja menyusup dalam hatiku. Perasaan ini timbul ketika kau mengisi kajian menggantikan Dr Ramahdan Al-Buthy, kau memesona jiwaku hingga tersihir. Sejak itu, aku tak bisa memejamkan mataku demi mendengar namamu. Dalam shalatku selalu terbayang wajahmu, seandainya jika aku shalat bersamamu. Jika makan selalu wajahmu ada, seandainya kita dapat beribadah dan makan bersama.
Aku tak bisa dan tak kuasa menikah dengan Jamaaluddin, aku tak bisa. Entah akan jadi apa ketika aku menikah nantinya dengannya. Aku merasa menjadi wanita paling sengsara sejagad, tolonglah aku Ali..., datanglah dan jemput aku. Aku rela lari denganmu, kemanapun engkau mau. Aku tak akan bisa hidup tanpamu di dunia ini.
Wanda
Mataku kembali sembab. Kipas angin di atasku menjadi saksi dan dia mengeringkannya, agar aku dapat tabah dalam menghadapi semua persoalan. Saat hatiku masih bimbang aku membuka KHS yang baru saja diberikan Aisyah. Subhanallah, keresahan hatiku terobati cepat. Nilaiku Cum laude, 3,88. hanya ada satu nilai B dan yang lainnya A. Kau Maha membolak-balikkan hati, kadang sedih kadang bahagia secepat kilat. Allah...