Cincin Bulan Persahabatan

Adik yang Menyemangati

Aku jatuh sakit, hingga berbulan-bulan.

Adikku terpaksa menungguiku, dia meminta izin liburan di pesantrennya dan sekaligus di sekolahnya. Dalam hening sakitku, aku ingin bangkit dari keterpurukan tapi wajah Sarah selalu berada di kelopak mataku, aku benar-benar telah gila. Setiap hari mataku hanya membuyarkan bening aliran. Aku benar-benar terpuruk. Adikku dengan sabar membimbingku untuk berubah.

Hingga suatu hari keyakinanku bangkit oleh kata-katanya.

”Kak, bangkitlah. Kakakku Umair tidaklah bermental lemah seperti ini. Kakakku Umair adalah seorang ksatria, Ibu dan Bapak di sisi Allah juga memercayakan aku padanya. Aku percaya kakakku, bukanlah menghancurkan dirinya hanya gara-gara seorang wanita. Sungguh Allah begitu sayang kepada Kakak! Dia tidak pernah bersikap dzolim sedikitpun pada Kakak. Allah telah menganugerahkan ilmu kepada Kakak, kakak telah lulus dan menguasai ilmu hadits. Hanya seperti inikah, orang yang telah Bapak dan Ibu percaya untuk menjagaku,”

Adikku menangis, mungkin kesabarannya mulai hilang. Tapi, aku masih diam tak berbahasa. Walau, airmataku mengalir karena kecewa pada diriku sendiri.

”Kakak telah mengecewakanku. Kini, akulah tulang punggung keluarga. Kakak tega? Menjadikanku seorang pemulung demi mencari sesuap nasi untuk Kakak yang hanya bisa bermalas-malasan. Demi Allah! Dia sangat membenci orang berilmu yang tidak mau mengamalkan ilmunya. Allah sangat mencintaimu Kak,” tangisnya malam itu membuat hatiku teriris-iris.

”Selama Kakak di Mesir, Kakak selalu mengirimkan uang kepadaku untuk biaya sekolahku. Aku kira Kakak adalah seorang yang tegar, kini kutahu. Aku sangat kecewa pada Kakak!” isaknya yang lirih terdengar, lebih keras di keheningan malam. Airmatanya menetes di lenganku yang kurus, berbalut kulit saja.

”Kakak, kumohon bangkitlah. Aku mencintaimu karena Allah, aku akan selalu menemanimu hingga nyawaku pun akan terpisah, aku tak peduli. Karena aku tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali Kakak. Jika Kakak seperti ini, Kakak tidak ingin membuktikan bahwa Kakak seorang yang kuat? Apakah Kakak merasa Allah tidak adil? Aku ingin melihat Kakak bangkit! Aku tak akan bisa tidur dengan tenang jika Kakak seperti ini,”

Aku memejamkan mataku, gerimis jernihnya tak kuasa membasah dipan yang telah reot. Kayunya telah mulai lapuk, bunyi kriut-kriut setiap kubergerak adalah buktinya.

Sepertiga malam terakhir itu, kulihat adikku kembali bermunajat di atas sajadahnya. Di depan tidurku yang sebenarnya mataku melihat, hatiku merasa, tapi seolah tak ada kuasa untukku bertindak lebih kecuali bagaikan jasad semata.

Dia kembali menangis dalam doanya. Aku mendengarkannya.

”Ya Allah, berilah hambaMu cintaMu, dan cinta orang yang cintanya memberi kebaikan padaku di sisiMu. Ya Allah, apa yang kau berikan padaku dan aku senangi, maka jadikanlah itu kekuatan bagiku untuk melakukan apa yang Kau sukai. Ya Allah, apa yang Kau jauhkan dariku dari apa yang kusenangi, maka jadikanlah itu kelapanganku dari apa yang Kau sukai.” kumemohon hanya kepadaMu, tidak ada selainMu dalam hatiku. Jagalah kakakku ya Allah. Ya Allah, tidak pernah hambaMu ini berputus asa kecuali hanya karena kakakku yang malang nasibnya ya Allah. Kumohon, dengan segenap cintaMu, kembalikan dia padaku ya Allah. Jangan Kau ambil dia, jangan Kau jadikan dia bagaikan jasad tak bergerak.

Allah..., aku telah ikhlaskan diriku kepadaMu. Aku belajar menghafal Al-Quran hanyalah mengharap ridhaMu, seandainya Engkau ridha akan amalku itu. Maka kembalikanlah kakakku seperti semula. Kakakku yang akan memperjuangkan agamaMu dengan segenap jiwanya. Allah..., kembalikan kakakku ya Allah. Jadikanlah dia kuat, jadikan dia tegar. Jika aku dijadikan tebusanpun untuknya, aku bersedia ya Allah.”

Isaknya yang meratap membuat tanganku bergerak. Terus kupaksa bergerak, sangat berat. Menjentik dan akhirnya terangkat, gemetaran kuletakkan pelan telapak tangan kananku, di kepalanya yang tertutup surban. Bibirku bergerak sembari tepat tanganku yang gemetaran menyentuh kepalanya, ”Adik...k,” suaraku keluar.

Dia langsung menoleh dan menatap mataku. Kami bertatapan lama, kedipan mata kami berpacu dan derai airmata terus mengalir menyiratkan ikatan kami yang kuat. Bibir kami sama-sama bergetar, tasbih dalam hati kami tak kuasa tercurahkan untuk Allah. Allah membangkitkan aku lagi. Aku harus bangkit!

”Aku akan bangkit dari kelemahan ini adikku,” kugerakkan tubuhku untuk duduk.

Adikku langsung menghambur dan menubrukku. Dia sesenggukan. Dia berujar hamdalah tanpa henti hingga adzan subuh dari masjid Ar-Rahman berkumandang. Airmata kami bersatu dalam kesyukuran. Aku dibantunya untuk bangkit lalu ke kamar mandi untuk berwudhu. Tertatih aku membasuh semua bagian, wudhu, bergetar kurasakan kesegaran yang tiada terkira. Kulihat adikku memerhatikanku sambil terus menangis gembira.

Aku shalat subuh berjamaah, saat itulah aku menjadi manusia yang baru. Aku bangkit dari keterpurukan. Tapi, rasa cintaku kepada Sarah tidak pernah berubah sampai kapan pun. Aku mulai mengatur pola hidupku. Aku mengirim kembali adikku ke Jombang yang telah libur selama setahun. Selama menungguiku, dia menghafal Al-Quran sendiri tanpa ada yang memandunya. Kini disana dia ingin mengetes hafalan 30 juznya yang telah selesai.

Aku mencoba mencari peluang usaha. Aku ingin menjadi enterpreneur, aku telah banyak belajar di Mesir. Bukankah Rasulullah saw, Abdurahman bin auf ra., Utsman bin Affan ra., Abu Bakar ra. juga sukses dalam berdagang, modalnya yang utama sangat sederhana. Jujur.

Aku kembali membaca buku-buku bisnis yang kubeli sewaktu di Mesir. Aku harus berpacu akan ketertinggalanku selama ini. Kini, adikkulah harapanku. Aku bertekad kuat dalam hatiku, tak akan membuatnya menangis lagi, walau hanya dalam mimpi. Hidupku akan kucurahkan untuknya. Dia yang membangkitkanku dalam tidur panjang, saatnya kubuktikan padanya bahwa dia tidak pernah sia-sia menjagaku.

Uangku dari hasil kerja di Mesir selalu kusimpan, sehingga dapat kugunakan untuk modal usaha di Indonesia. Pound masih mahal harga jualnya dari rupiah.

Sebagai langkah awal, aku di terima sebagai dosen di salah satu Universitas Swasta di Surabaya. Aku terus mempelajari usaha-usaha yang berkembang. Teringat pepatah bisnis, ”Masa depan bukannya di depan kita, melainkan sudah terjadi. ” aku mencoba membuka rumah makan ala Arab di dekat Kampus. Walau cibiran datang dari beberapa mahasiswa dan Dosen, tak aku gubris. Aku harus maju, kalau gerbang masa depan sudah terjadi, siapa tidak mau masuk akan tertinggal di belakang. Seperti itulah ucapan Philip Khotler, ”Hari ini anda harus berlari lebih cepat untuk tetap berada di tempat yang sama.” untuk menempati posisi yang sama, kita harus berlari lebih cepat bukan?

Di rumah makan itu semakin ramai, setelah kusediakan panggung untuk para pecinta seni untuk unjuk kebolehan, bukankah mereka juga senang jika unjuk kebolehannya? Maka ini saling memanfaatkan, mutualisme, tidak ada yang dirugikan. Jika rumah makanku ramai, mereka juga kebagian jatahnya, setidaknya makan gratis. Aku membuat menu-menu baru, apalagi aku banyak belajar masakan ala Timur Tengah. Subhanallah, Allah sangat menyayangiku. Rumah makan itu semakin lama semakin ramai, kuperlebar dan tanah yang semula menyewa, dapat kubeli walaupun mengangsur.

Rumah makan Barakah akhirnya semakin maju, dan membuka cabang di dekat-dekat Kampus, di titik strategis. Di dekat UI Depok, lalu di dekat UM Malang, di dekat Stasiun Gambir dan beberapa titik strategis lainnya.

Pengelolaan rumah makan Barakah, akhirnya kuserahkan pada Ridwan, karyawanku sejak awal. Aku hanya sesekali memantaunya, aku akan mencari usaha yang lain. Aku beralih membuat usaha baru di Stasiun Gambir. Sebuah hotel yang mempunyai standar khusus, yaitu standar Syariah Islam. Saat awal launching, banyak kebingungan dari banyak pihak. Hotel Mawaddah bertuliskan Syariah di belakangnya.

Hotel itu, seluruh pelayan wanitanya memakai jilbab. Di setiap sudut tembok banyak ukiran ayat-ayat Al-Quran, sebagai bahan muhasabbah. Di setiap kamar tersedia, Al-Quran, buku hadits Bukhari dan Muslim, juga kumpulan doa, perlengkapan shalat, dan lain-lain. Setiap pengunjung yang akan menginap diperiksa, jika berpasangan harus menyertakan surat tanda nikah, menggeledah jika ada barang-barang haram dan sebagainya. Alhamdulillah, sambutan masyarakat sangat antusias.

Menyitir kembali kata-kata Philip Khotler bahwa, ”Jangan membeli pangsa pasar, pikirkanlah bagaimana mendapatkannya. Dan siapakah yang akhirnya merancang suatu produk baik jasa maupun barang? Tentu saja pelanggan.” masyarakat kurasa sudah muak dengan segala kebobrokan, masyarakat Indonesia telah merindukan syariat di tengah-tengah kehidupan mereka. Bukankah syariah itu menentramkan?

Pelangganlah yang membuatku mendirikan setiap usaha, dan akhirnya Allah mempermudah segala jalannya. Setiap kuanalisa masyarakat butuh ini, maka aku ciptakan barang ini. Jika masyarakat membutuhkan barang itu, maka aku menciptakan barang itu. Aku bekerja berdasarkan pemenuhan akan para perancang itu sendiri, yaitu konsumen. Misalnya di Stasiun Gambir, kulihat sering ketika malam banyak para wanita dan pria yang kebingungan ketika sampai disana kemalaman. Untuk menghindari segala marabahaya dan resiko di kala malam, aku ciptakan hotel syariah itu. Dan hasilnya Insyaallah baik dan sukses.

Aku semakin gemar berusaha, tapi tak kutinggalkan kegemaranku dalam berdakwah sebagaimana kebiasaanku saat di Mesir. Aku benar-benar bisa bangkit. Adikku telah lulus SMA, dan dia telah hafal Al-Quran, aku masih kalah dengannya. Setelah kami berkumpul dan berembuk, dia sepakat dengan usulku untuk meneruskan kuliah di Mesir seperti aku dulu. Dia mendalami ilmu Tafsir. Dengan mudah, beasiswa cepat di perolehnya, karena aku sangat paham dengan kemampuannya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!