Cinta Kuli dan Misteri
Pertarungan dengan Hantu
Malam mencekam di pabrik, aku susah payah membungkam mulut Fahri agar tidak bersuara. Napasnya nampak benar – benar ketakutan, bahkan kurasakan tubuhnya gemetaran hebat. Aku membisikinya agar diam, mereka bukan hantu, mereka adalah penjahat yang menyamar.
Fahri pun mulai mendengarkanku dan mengangguk pelan. Aku yakin dia mengerti keadaan ini sekarang.
Suara tawa wanita seperti dalam film horor masih bersuara, ki ki ki ki. Persis suara kuntilanak dalam film, padahal apakah benar suara hantu seperti itu? Apakah kita selama ini tidak kena prank saja bahwa itu suara yang diciptakan dari imajinasi orang yang seolah – olah meraba bagaimana suara hantu? Ah! Yang benar saja, itu suara kaset pastinya. Mereka pasti orang yang sudah berbicara di kamar mandi tadi. Aku harus mengambil momen yang tepat, jika tidak habis sudah uang kami.
Dia pasti mengincar uang kami dengan manakuti kami semua dan mengambil uang dengan mudah. Enak saja mereka itu! Aku marah sekarang.
Fahri sudah mulai tenang, aku membantunya untuk duduk tenang. Suara cekikikan versi hantu kuntilanak masih terdengar. Silau cahaya masih terlihat, dua sosok mulai masuk dari arah tadi mereka muncul. Awalnya mereka hanya muncul kepalanya dari sisi kiri dan kanan pintu masuk. Kini mereka lompat masuk melewati pintu.
Apa – apaan, pocong kenapa lompat di atas tanah dan terdengar lagi. Sudah pasti itu kerjaan mereka para penjahat. Ruangan gelap, kami masih di balik kursi jok panjang. Kami diam saja, aku mendapatkan sebuah gagang besi saat merasa – raba lantai. Aku kira dapat kayu ternyata malah besi berat. Nah, itu kunci inggris yang besar, biasanya untuk membetulkan mesin.
Aku meraihnya dan perlahan aku pegang dengan tangan kananku. Lampu tiba – tiba menyala, cukup terang. Nyatanya itu adalah seseorang yang membawa santer cukup besar.
Dia terlihat menghidupkan santer dan menyorot beberapa tempat. Dia datang dari arah dua pocong tadi masuk. Orang itu, semoga saja satpam pikirku.
”Bagaimana, sudah beres?”
Suara cekikikan hantu kuntilanak mati. Jadi benar kan, masak pocong suaranya kuntilanak. Mandor yang lain sudah pada lari entah kemana terbirit – birit semua. Satu orang lagi terlihat dari bayang – bayang senter datang. Musik hantu juga sudah mati.
Jadi, ada empat orang yang datang masuk. Bukan satpam, itu semua adalah komplotan. Fahri terlihat agak pucat dan gemetar dari sorot lampu santer, lebih dari satu menyorot kesana – kemari. Kamu bersembunyi dengan rapi agar tak terlihat. Mungkin, Fahri merasa terjebak dalam kejahatan dan dirinya bingung mau berkata apa.
Jika ketahuan bisa matikah mereka? Mungkin, itu yang dipikirkan Fahri hingga gemetaran seluruh tubuhnya.
Saat mereka menyorot pada meja aku mengintip dari sela antara kursi dengan kursi. Mereka menyorot meja dan kosong, bungkusan uang tak ada disana. Mereka mengedarkan santer dan kedapatan seorang lelaki tambun tengah berdiri di ujung kursi dan dekat dengan ruangan bos Tama. Dia tengah memeluk bungkusan yang cukup besar.
”Disana!”
Dua santer mengarah ke arah dimana lelaki tambun itu memeluk bungkus yang berisi semua uang, tas besar dan uang sudah diamankan olehnya. Itu adalah bos Tama sendiri. Jadi, saat yang lain ketakutan dia mengambil semua uang dan mendekapnya sampai di tembok dekat ruangannya sendiri.
Para penjahat itu sempat kaget, mereka pikir semuanya sudah lari mungkin. Baru mereka menyadari bahwa bos pabrik masih tak peduli hantu dan hanya peduli dengan uangnya yang akan dibagikan kepada para pegawainya.
”Ayo ambil uangnya cepat sebelum yang lain masuk!”
Perintah salah seroang tadi sambil merangsek maju. Sedangkan dua orang yang memakai baju pocong mulai membuka ikatan di atas mereka. Saat dua orang sedang bergerak kearah bos Tama, aku langsung berdiri diantara lampu santer yang remang. Salah satu yang memegang santer langsung aku pukul punggungnya sekuat tenaga.
Aku sebelumnya memberi kode pada Fahri agar segera mengikutiku, aku harap dia yang kebagian jatah dua orang yang sedang mengenakan pakaian pocong. Mereka akan susah bergerak jadi akan mudah dilumpuhkan.
Aku berhasil mengenai punggung salah satu yang memegang santer dan dia langsung ambruk ke depan dan hampir menerjang bos Tama. Dia jatuh di depan bos Tama dan santernya jatuh begitu saja. Salah satu orang lagi yang memegang santer kaget melihatku, mata kami bertemu. Santernya mengarah kearahku, aku melompat menubruk dirinya.
Di sisi lain, dua pocong jadi – jadian juga langsung kaget. Untunglah Fahri siaga dan mendorong salah satunya sehinggga terjengkang dan satu pocong lagi belum sempat melepaskan baju pocongnya tapi terjerembab sendiri karena ikatan di kakinya.
Satu sosok yang sudah jatuh kutimpa dia, tangannya mencoba meraih wajahku dalam gelap dan remang. Sorot santer menyilau kemana – mana. Setidaknya, aku adalah orang yang dulu sangat rajin ikut pencak silat, Pagar Jiwa.
Aku bisa bertarung kawan, jangan lupa itu. Kalau urusan beginian, aku sih cukup jago. Tapi bukan itu yang jadi masalahku sekarang. Kaki orang itu masih bisan mencapaiku meskipun aku memegang kedua kakinya. Dengkulnya menendang punggungku.
Bug! Aku bergulingan ke depan. Namun aku sigap berdiri lagi dan mencari posisi kuda – kuda yang pas.
Beruntung dalam gelapnya, bos Tama meraih dua santer yang jatuh dan menyoroti kami. Bagus! Kini aku tahu bagaimana gerakannya.
Dia berjaket dan memakai masker.
”Bos Tama! Arahkan dengan benar santernya!”
Aku berteriak pada bos Tama, dia mengerti dan mengarahkan santer dengan benar meskipun tas uangnya masih berada dalam pangkuannya. Benar – benar dia ini, tak peduli nyawa dan takut, uang adalah segalanya.
Laki – laki itu mulai ragu, mungkin sudah tanggung dan ketahuan. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.
Di sisi lain, Fahri berhasil meringkus salah satu pocong dan membekapnya karena dia susah bergerak. Satu pocong jadi – jadian yang lain entah kemana. Sepertinya karena ribut dia berlari keluar.
Aku masih siaga, nyatanya sebuah benda hitam dikeluarkan dan akan mengarah padaku. Aku melorot ke bawah dan berlari menunduk. Dia bingung hendak mengarahkan pistol kearahku karena aku sudah berada di bawahnya dengan cepat.
Dia tak menyangka kalau aku akan memukulnya, tepat di dagunya dengan kuat dengan pukulan tangan kananku.
Kratak!
Suara seperti tulang yang terkena pukulan. Dia jatuh terkulai ke belakang, pistol jatuh di sebelahku begitu saja. Aku terduduk lemas diiringi penjahat itu jatuh begitu saja. Aku benar – benar cepat bergerak, apa jadinya kalau sampai aku tidak bertindak cepat tadi.
Aku mengambil pistol itu dan membuangnya jauh. Lelaki itu belingsatan dan terkulai memegang rahangnya yang pasti sangat sakit.
Aku mencapainya dan membekap kedua tangannya. Bos Tama mengarahkan santernya dengna tepat. Aku mendapati sebuah tali di sampingku, hanya saja itu tali rafia yang biasa digunakan untuk mengikat sebuah kandi untuk wadah sesuatu atau menjahit kandi.
Aku mengambilnya, mengikat sekuatnya kedua tangan penjahat itu di belakang punggungnya, dia pun masih mengaduh sakit.
”Kita berhasil mas Adnan!”
Suara Fahri terdengar, dia masih menginjak punggung pocong yang tadi didorongnya. Dia minta tolong untuk dilepaskan karena susah bernapas dengan baju pocong itu.
”Rasain Lu! Mau nakutin kita pakai pocong, memang kita takut. Kita ini orang – orang pemberani tahu!” Teriak Fahri, kini dia jadi sok berani. Aku tersenyum sekarang, meskipun napasku memburu karena adrenalin saat bertarung sungguh membuat lelah kawan.
Bos Tama sigap segera berdiri. Satu orang pingsan di sampingnya yang aku pukul tadi. Saat itulah, beberapa orang datang. Siapa lagi orangnya?
Satpam! Mereka datang. Daritadi kemana mereka ini?
”Maaf Bos! Kami sedang masuk ruang satpam, tiba – tiba kami dikunci dari luar dengan gembok. Kami baru bisa keluar melalui jendela dan kesini Bos!”
Dua orang satpam itu langsung melihat hal berantakan, dengan lampu santer yang mereka bawa. Mereka memegangi orang yang aku ikat, dan pocong satu lagi yang sudah Fahri bekap.
”Ampun! Jangan bawa kami ke kantor polisi. Kami orang suruhan saja!” si Pocong yang dipegang polisi pun dilihat oleh bos Tama.
Bos Tama kini merasa wibawanya kembali lagi, dia mendekati pocong itu, ”Siapa yang menyuruhmu!”
”Saya Dandi Bos! Saya adalah pegawai anda!”
Semua kaget dan melihat lebih jelas dengan santer, benar saja. Itu adalah salah satu pegawai yang berada di divisi yang lain atau di bawah komando mandor selain aku. Tapi aku tak tahu dia ada di bawah komando siapa.
”Siapa yang menyuruhmu!”
”Bos Andi Bos! Saya hanya disuruh menakuti Bos!”