Cinta Kuli dan Misteri
Dalang Kejahatan
Andi?
Semua pun menjadi kaget. Jadi selama ini, dia berencana untuk mengambil uang dengan jalan menakuti dan saat semua orang lari. Mereka tinggal mengambil uang jatah untuk pegawai. Bahkan uang itu sangat banyak, hampir 1 Miliar. Hmm.... pantas saja bos Tama memeluknya demikian erat meskipun ada hantu, dia tak peduli. Kalau sampai uang itu hilang, tentu saja itu adalah kerugian besar baginya.
Karena itu, uang untuk membayar para buruhnya selama dua minggu kerja.
Bos Tama langsung menelpon polisi, PLN juga dikerahkan untuk segera membenahi lampu karena listrik di sebelah pabrik tidak mati. Artinya, ada perusakan kabel atau kerusakan jaringan. Polisi dekat dengan pabrik dan langsung datang mengamankan para tersangka, tiga orang dan satunya masih pingsan.
Kronologi kejadian diceritakan bos Tama dan Fahri. Aku cukup lelah sekali. Tentang Andi, dia belum kelihatan. Dari penjahat yang tertangkap, terutama si pocong jadi – jadian yaitu Dandi, dia hanya disuruh dan akan diberikan bagian besar kalau berhasil. Dia hanya diminta menakuti saja.
Para mandor yang lari ketakutan tadi pun sudah kembali, mereka sebelumnya lari ke luar dan melihat di luar terang dan tidak mati listrik. Saat mereka kembali, polisi juga sudah datang. Mereka jadi penasaran, saat itu Andi juga datang dan dia mengira bahwa para penjahat berhasil membawa uang sehingga lapor polisi.
Saat dia datang kembali, bos Tama langsung berteriak.
”Itu Andi, tangkap dia !”
Andi kaget dengan suara itu, dia ketakutan dan berlari. Para Polisi dengan sigap berlari mengejar dan Andi tak bisa lagi berlari karena sebuah peluru sudah bersarang di kakinya. Para mandor yang lain jadi heran dan ketakutan.
Baru setelah Andi diamankan, semua mengetahui kronologi kejadiannya. Namun, aku menutupi hal yang terjadi. Saat lampu menyala, semua sudah diamankan. Bos Tama berterima kasih padaku, namun aku juga menunjuk pada Fahri yang membantu.
Ketika ditanya orang, aku bilang pada Bos Tama untuk tak menceritakan apa – apa kecuali tadi kita bertarung bersama melawan mereka semua. Fahri juga membantu jadi tidak ada yang berjuang sendiri.
Para penjahat dimintai keterangan, mereka juga diberi informasi oleh Andi bahwa malam ini akan ada pembagian uang. Uang yang terkumpul besar, jika berhasil maka Andi dapat bagian separuh dari uang itu.
Cukup menggiurkan, dan aku tak menyangka seorang Andi akan melakukan hal itu. Padahal dia sudah bekerja lama pada Bos Tama dan mendapatkan tempat sebagai tangan kanannya. Yah, segala hal bis terjadi di dunia ini.
Uang mungkin adalah segalanya bagi sebagian orang. Namun, jarang ada yang berpikir bahwa berkah dalam hiduplah yang sebenarnya harus dicari.
Orang kaya itu belum tentu cukup dan orang miskin belum tentu kekurangan. Ada makna didalamnya yang lebih penting, yaitu berkahnya hidup. Iya gak Teman? Ya, kali ini aku dapat pelajaran berharga.
Apa itu kawan? Tentu saja bukan karena hantu maupun harta, tapi kalau kamu bisa silat tentu saja itu bermanfaat saat – saat begini kawan. Jangan cuma takut saja sama hantu, segala macam setan, kuntilanaklah, poconglah. Kalau kamu takut, bisa – bisa hartamu hilang.
Lho kok bisa?
Lha, seperti kisah bos Tama ini. Hmm... pasti dia kini akan lebih waspada, apalagi mencari orang kepercayaan yang menggantikan Andi.
Yah sudahlah! Sudah malam dan aku ingin segera pulang.
@ @ @
Hari cukup larut ketika aku pulang, sudah malam betul. Malam ini barusan bertemu dengan pocong jadi – jadian. Merampok dengan cara menakuti, ada – ada saja. Lalu, bagaimana juga ada orang yang menakuti untuk tujuan jahat yang lain?
Ini semua karena masyarakat sudah terlalu ditakuti dengan hantu sehingga ketika ditakuti sudah lari dan begitu merinding pada yang namanya hantu.
Aku berhenti, aku lelah sekali. Aku mampir di Warung Krimo. Mang Krimo pun terlihat masih membersihkan meja tempat makan itu dan juga melihat televisi. Uang yang tadinya mau dibagikan tak jadi dibagikan dan disimpan di brankas kantor. Besok baru akan dibagikan ke mandor dan mandor akan membagikan ke pegawai di bawah pengawasannya.
Aku mengucapkan salam pada Mang Krimo, lelah rasanya tubuh ini. Malam ini, tepat pukul 11 malam. Dingin dan terasa sunyi, ada dua orang juga yang tengah makan malam. Mungkin juga seorang pekerja di tempat usaha lain dan sedang dalam perjalanan malam.
Dua orang itu nampak sedang berbincang seru, mereka memesan makanan soto pada Mang Krimo dan kini sedang menyantapnya.
”Biasa mang Krimo, kopi hitam ya,” aku menaruh tas cangklongku di meja, rasanya lelah sekali. Kejadian barusan yang terjadi di pabrik juga teringat dengan jelas.
Dua menitan kemudian, mang Krimo sudah mendekat dan membawakan cangkir dan tutup gelasnya. Menaruhnya di mejaku.
”Lembur mab Sos?” sapa mang Krimo sambil mempersilakan aku meminumnya.
”Iya mang Krimo, berharap minum kopi mang Krimo langsung seger lagi pokoknya.”
”Wah pasti kalau itu mas Bos! Kopi asli gitu yang mang Krimo jual,” gaya mang Krimo kepedean.
”Memangnya ada kopi gak asli Mang?” Aku berusaha meledeknya, mematahkan argumennya.
”Ya banyak mas Bos! Lihat ya, ngomongnya kopi asli, lha pas digoreng dicampur jagung atau dicampur beras. Ya namanya bukan asli lagi.”
Benar juga kata mang Krimo, namanya saja kopi. Tapi, kebanyakan digoreng dicampur dengan bahan lain seperti beras atau jagung agar jadi lebih banyak atau untuk mempermudah menggorengnya.
”Berarti punya mang Krimo, kopinya murni ya. Pantas saja saya ketagihan minum kopi disini,” aku tersenyum saja dan mulai menyeruput kopiku.
Tak berselang lama, kedua tamu yang tadi makan soto itu pamita untuk pergi dan menanyakan harga makanan dan minuman mereka. Mereka pun berlalu untuk pergi setelah membayar tagihan pada mang Krimo.
Ada kembalian karena uang berlebih, namun mereka mengatakan kembaliannya untuk mang Krimo saja. Mang Krimo pun mengucapkan terima kasih dan orang itu pun meninggalkan warung. Saat melewatiku yang duduk di pinggir gang antara meja. Aku mencium bau yang sangat pekat dan aneh.
Bau kembang?
Entah kenapa, itulah yang aku cium dan wanginya seperti bau minyak yang pekat, minyak yang biasanya aku cium saat ada sesajen.
Kalau orang yang sudah takut duluan mencium bau ini, pasti bawaannya horor dan langsung merinding. Tapi kenapa tiba – tiba bau minyak serimpi kalau orang menyebutkannya aku cium dengan pekat setelah kedua orang itu pamit?
Entahlah! Urusan orang lain kan.
Seperginya kedua orang itu mang Krimo membersihkan meja tempat kedua orang tadi makan. Saat membersihkan meja kedua orang itu, mang Krimo tiba – tiba badannya bergidik dan pundaknya terangkat.
”Hiyyyy!”
Aku melihat hal itu, ”Ada apa mang Krimo?”
”Bau seperti di kuburan mas Bos!”
Benar kan? Jadi, hidungku tidak salah tadi, dan bau itu adalah bau dari kedua orang tadi saat melewatiku dan baunya begitu pekat.
”Salah membau itu hidung mang Krimo.”
”Hush! Mas Adnan ini. Beneran, hidung mang Krimo gak pernah salah kalau mencium suatu bau Mas Bos!”
”Jangan – jangan kedua tamu mang Krimo tadi bukan manusia Mang! Wah bahaya Mang, coba lihat uangnya Mang, siapa tahu Cuma daun!” Aku mencandai mang Krimo, sudah malam jadi jangan serius – serius kan.
Tapi beda dengan mang Krimo, dikiranya perkataanku itu serius.
”Benar juga mas Bos! Tadi, mereka juga membayar dan ada sisa uang namun mereka tak mau dikembalikan!” mang Krimo panik dan berlari menuju tempat kasir pembayaran, tempatnya diskat agak tinggi sehingga tingginya sampai perut mang Krimo.
Mang Krimo langsung mengecek laci tempat uang disimpan. Dia menariknya dengan kuat dan setelah itu dia tersenyum lega. Napas mang Krimo dihembuskan dengan kencang tanda dia sangat bahagia.
”Uangnya asli mas Bos! Mereka manusia beneran! Alhamdulillah!” teriak mang Krimo kepadaku.
Ya terang saja mereka manusia mang Krimo. Hmmm..., mang Krimo ada – ada saja, mana ada manusia makan soto? Kadang imajinasi kita itu mengalahkan rasionalitas kita sih, jadinya banyak orang yang mudah tertipu oleh iming – iming sesuatu padahal jelas itu sesuatu yang tidak bisa dinalar.
Contohnya orang sakit, kalau sudah sakitnya parah atau tak kuat menahan rasa sakit. Mereka akan datang ke paranormal atau dukun, dan dukun selalu mengatakan bahwa orang itu kena santet atau kiriman orang lain untuk mengancam kesehatan dan jiwanya.
Alasannya mudah, medis belum menemukan sakitnya atau sakitnya belum ada perubahan dengan datang ke dokter.
Terang saja, akal harus didahulukan dulu. Penyakit itu sangat banyak, medis itu kemampuannya terbatas. Jadi, banyak penyakit yang belum ditemukan namanya dan karena apa karena tubuh manusia itu merupakan ciptaan Allah yang sempurna sedangkan manusia itu hanya memiliki setitik ilmu.
Namun selalu dikaitkan dengan hal klenik. Yang muncul adalah rasa saling curiga antara manusia. Dukun atau paranormal menambahi dengan siapa yang mengirim penyakit, inisial, arahnya atau tetangganya sendiri.
Hal itu tentu merusak ukhuwah dan persaudaraan. Dan orang yang sudah percaya dengan hal itu pun menelan mentah – mentah kabar bahwa sakitnya karena dikirim oleh manusia yang tak suka padanya.
Hmm... itulah yang terjadi jika sudah terlalu takut pada setan, kemudian terlalu percaya hal mistis dan klenik. Juga, kurangnya keyakinan yang tinggi pada Tuhannya.
”Mang Krimo, aku pesan soto juga ya. Aku lapar nih!” Aku memesan soto, rasanya lapar karena sore baru makan sedikit.
”Siap mas Bos! Berarti tadi kecapekan beneran ya mas Bos!”
”Iya.”
Sebenarnya, rumah makan mang Krimo dengan pabrik tempatku bekerja itu tidaklah jauh. Mungkin, sekitar 5 kilometer saja. Untuk pulang ke desa Bulan Indah maka aku akan melewati desa Mang Krimo yaitu desa Pucuk Lebah.
Dan, desa kami dibatasi oleh bulak perkebunan yang cukup panjang, dan disana ada misteri yang selalu membuat orang ketakutan.
Apalagi, rumah tua bekas rumah dari almarhum mbah Pati. Semua orang paham dengan kengeriannya. Namun, itu sebatas masih cerita – cerita, atau kisah seseorang yang dihantui di sekitar sana. Di ujung desa dan perbatasan dengan desa mang Krimo.
Soto datang dan dibawa dengan nampan oleh mang Krimo dan langsung menaruhnya di meja makan di depanku.
”Oya mas Bos! Kedua orang tadi akan menuju desa Bulan Indah lho Mas. Soalnya, tadi dia tanya arah desa Bulan Indah.”
Aku mengangguk dan mengiyakan hal itu, tidak masalah sih soalnya desaku memang banyak pengunjung baru mungkin tamu untuk pak Lurah yang memang terkenal di seluruh desa di kecamatan dan bahkan di kabupaten kami.
”Mereka juga bertanya soal rumah angker di perbatasan, apakah itu memang menyeramkan? Begitu tanya mereka tadi mas Bos!”
Aku sendiri jadi heran, kenapa orang luar jadi mengenal desaku dengan keangkerannya? Ada – ada saja masak desa jadi terkenal karena tempat angkernya. Harusnya terkenal karena prestasi kan.
Tapi..., kenapa larut malam begini mereka datang ke desaku, dan apalagi mereka tadi seperti bau minyak serimpi dan menanyakan angkernya rumah bekas mbah Pati. Ada apa ya? Aku pun jadi penasaran.