Cinta Kuli dan Misteri
Bayangan di Rumah Tua
Gak usah takut!
Aku membuat diriku sendiri berani. Kalau tidak kita lalu siapa lagi? Malam sepi, hampir pukul 12 malam. Aku menghidupkan motorku dan sudah membayar tagihanku pada Mang Krimo. Makan dua tahu bunting sama satu tempe goreng plus satu kopi hitam. Lengkap sudah, perutnya sudah terisi dengan baik.
Malam itu, aku sendirian lagi. Kuhidupkan motorku dan mengucapkan bismillah. Kata pak Kusrin sih, atau Kyai Kusrin kalau kita baca Bismillah setan pada kabur. Mantep gak tuh, biar setannya pada bubar, pasar malam ikutan bubar! Ha.. ha... ha... aku menghibur diriku sendiri. Gak lucu ah!
Lagi – lagi sebelum pergi, Mang Krimo selalu punya pesan yang cukup aku hapal dengan baik. Kalau lewat rumah tua bekas dari almarhum mbah Pati, berhati – hati, itu yang dibilangnya lagi padaku.
Mang Krimo gak tahu, aku baru saja melawan para pocong yang mencoba mencuri uang milik pabrik. Setidaknya, pocong jadi – jadian, he.. he.. he..
Aku mengemudikan motorku dengan santai, tak perlu takut lagi, aku harus berani. Takut sama hantu itu bagi mereka yang tercuci otaknya saja dengan semua klenik dan horor, apalagi mereka sudah percaya semua omongan dukun dan paranormal itu. Semua kata mereka diiyakan seolah melebih kitab suci agama saja.
Aku terus melajukan motorku, sebentar lagi masuk perbatasan desaku dan bulak cukup panjang sekitar 1,5 kilometer akan aku lalui dan disana ada rumah tua yang agak jauh menjorok dari jalan utama tersebut.
Rumah yang katanya angker.
Tapi itu semua hanya sebatas rumor yang tak berdasar. Aku pun masuk wilayah perkebunan dan sebentar lagi rumah tua itu akan kulewati. Rumah tua itupun berjarak sekitar 20 an meter dari jalan raya. Barisan perdu bambu yang tergerak oleh angin malam dan temaram kabut dari sinar rembulan mulai nampak menyeramkan bagi orang yang takut.
Memang sih, namanya manusia kalau merinding itu wajar saja. Hal itu memang manusiawi dimana manusia takut pada gelap dan sesuatu yang bisa muncul dari kegelapan. Meskipun itu kadang hanya imajinasi atau halusinasi semata.
Aku mencoba tetap santai dan membaca dzikir dan shalawat Nabi. Itu bisa mengurangi rasa bergidik yang tiba – tiba muncul. Itu memang naluri manusia, bukan karena kalau kita merinding dan bergidik karena ada makhluk jin yang dekat dengan kita.
Karena jin ataupun setan memang ada di sekitar kita, kapanpun dan dimanapun kita berada. Jadi, alasan kita kadang berdiri bulu roma atau bergidik itu biasanya juga karena ketakutan secara naluri akan kegelapan.
Daun – daun bambu bergoyang seperti melambai – lambai, juga pohonnya kadang bergoyang terkena angin dan ada suara kriet ketika bambu – bambu itu bergesekan dengan bambu yang lain karena terkena angin.
Sialnya, suara burung hantu juga ikutan menyemarakkan malam sunyi itu. Malam yang tadinya sunyi berubah menjadi mencekam pada akhirnya. Siapa sih sebenarnya yang memulai memberi nama burung itu menjadi burung hantu? Ada – ada saja, apa karena burung itu memang keluar pada malam hari dan siangnya dia tidur atau sembunyi?
Kenapa aku malah jadi ingat hantu, apalagi burung hantu segala sih! Aku merutuki diriku sendiri yang teringat hal seram padahal sejak awal tadi aku sudah berani. Sekarang kenapa malah jadi sedikit takut ya.
Aku sedikit menghibur diriku dengan berani, bukankah tadi juga aku habis berantem dengan manusia dan bahkan tak takut dengan pocong jadi – jadian.
Aku pun menghadap lurus ke jalan, mencoba menghilangkan perasaan takut dan juga khawatir. Aku mencoba untuk tak menengok ke kanan tempat rumah tua yang katanya angker tersebut.
Aku lurus sambil menstabilkan stang motorku, aku tak mau melirik apapun ke arah kanan apapun yang terjadi. Gas agak aku pegas, cukup biar cepat meninggalkan rumah tua itu.
Kabut menyisa, namun saat benar – benar sejajar dengan rumah tua itu. Bayanganku merasa bahwa di rumah itu ada cahaya, seperti kerlap – kerlip dan kadang mati kembali. Itu dapat aku tangkap dari melihat lurus ke depan namun masih terlihat sedikit bagian dari rumah itu.
Kenapa ada lampu kerlap – kerlip, sepertinya ada sesuatu. Aku pun jadi penasaran dan kepalaku pun jadi menoleh ke arah rumah itu begitu saja.
Saat menengok itulah, ada seperti bayangan yang berkelebat seperti orang lewat di rumah itu. Lalu seperti ada lampu yang berpijar, namun mati kembali. Kemudian berpijar kembali dan mati lagi, ada bayangan orang yang lewat dari sela jendela ruang tamu.
Seperti ada orang yang berjalan di dalam sehingga bayangannya terpantul sampai kaca depan rumah itu karena adanya sorot lampu yang tadi kerlap – kerlip di dalam.
Aku pun bergidik tiba – tiba, antara dua pilihan ngebut atau berhenti dan memeriksanya. Tapi, malam – malam begini bahkan ini sudah pukul 12 malam hari. Tepat saat tengah malam, tengah malam yang selalu orang ceritakan dengan waktunya untuk hantu.
Kenapa aku selalu dihadapkan pada hal horor seperti ini, apalagi tengah malam. Karena rasa penasaran yang terus membuncah, meskipun Aku sudah cukup jauh melewati rumah tua itu. Aku pun mengerem dan membalik motorku dengan cepat.
Aku sudah melewati sejajar dengan rumah itu sejauh 20 an meter, aku pun kembali dan mencoba menghidupkan motor perlahan dengan lajunya. Aku memarkir motorku di pinggir jalan dan aku pandangi seksama rumah tua itu. Kosong, kini sepi dan hanya ada desir angin yang membuat merinding dan juga kabut tipis yang menciptakan ilusi seperti malam dengan asap yang menambah kesan mistis.
Aku diam, hanya ada suara burung hantu dan juga suara nyanyian jangkrik. Aku memperhatikan sekelilingku, bolak – balik. Aku memastikan kalau tidak ada bayangan apapunyang tiba – tiba muncul.
Kini, aku harus memberanikan keberanianku. Aku tak boleh takut pada apapun lagi, maka aku pun masih berdiri di dekat motorku.
Aku mencoba menunduk dan jongkok di balik motorku. Aku penasaran dengan lampu dan orang lewat yang tadi aku tak sengaja melihatnya. Apakah itu memang ada orang yang berada di dalam sana, ataukah aku hanya berhalusinasi?
Beberapa menit kemudian, ada kerlip lagi dari dalam rumah tua itu. Seperti ada orang, namun seperti tak ada. Kerlip itu seolah bergerak dan bayangan dari balik cahaya yang ditimbulkan oleh cahaya santer itu membuat ada seperti orang yang di dalam dan melintas pindah ke ruangan yang lain.
Kali ini, mataku tidak berhalusinasi. Entah itu hantu atau pun bukan, aku ingin melihatnya karena ini bisa jadi masalah sebenarnya kenapa selama ini rumah ini begitu ditakuti oleh masyarakat dan semuanya menganggapnya sebagai arwah mbah Pati yang masih gentayangan.
Percaya tak percaya, malam ini harus aku selesaikan. Aku adalah Adnan yang pemberani. Lagi, ada kerlip dan bahkan ada cahaya yang muncul. Dan itu cukup menerangi sebuah ruangan agak dalam, ruangan samping di rumah itu itu.
Later L, dan lampu itu kini menyala di sebelah kamar L nya.
Aku perlahan meninggalkan motorku. Tidak mungkin itu pasar malam seperti yang dibilang Jono, pasar malam setan atau hantu. Jika memang hantu, maka aku harus menyaksikannya sendiri agar aku tak penasaran lagi.
Aku memberanikan diri dan merangkak di rerumputan. Perlahan dan pasti, aku mencapai jendela di ruangan L tersebut dan aku berada di bawah jendela. Aku diam sejenak tepat di daun jendela.
Ada memang sih perasaan jika aku sedang disini, tiba – tiba sosok menyeramkan muncul dan membuka jendela lalu melihat ke bawah ke arahku, dan mukanya hancur. Betapa mengerikannya simulasi imajinasi dalam pikiranku. Padahal, kadang pikiran itu kita semai sendiri dengan baik sehingga menjadi fatamorgana yang seolah – olah ada padahal hanya pengembangan dari imajinasi kita sendiri.
Bau yang tercium tiba – tiba semakin membuatku seolah mabuk. Bau minyak bunga ini seolah pekat dan hampir saja membuat otakku berimajinasi. Benar – benar seperti mimpi, hampir jiwaku melayang karena bau yang begitu menyengat dan demikian kental dengan hal horor.
Bau ini amat menyengat sampai hampir saja aku bersin, namun aku tahan sekuat tenaga.
Brak!
Ada suara seperti kayu yang pecah, atau meja yang hancur atau sesuatu yang jatuh di lantai. Aku sendiri sampai terjingkat dari dudukku namun aku berusaha kerasa menutupi kedua mulutku.
Aku diam sejenak, menoleh ke kanan dan ke kiri berharap tidak ada apa – apa. Namun, suara apa di dalam? Kini, Aku harus bisa menguak ada apa di balik rumah tua ini. Aku pun memeranikan diriku perlahan mengangkat kepalaku dan mencoba mengintip dari jendela kayu itu, ada apa gerangan?
Kepalaku mulai naik ke atas, mataku mulai mencapai kaca jendela. Perlahan, takut juga sebenarnya tiba – tiba ada wajah yang menyeramkan menempel kaca dan aku langsung melihatnya. Itu tentu bayanganku yang takut, namun kali ini aku harus memastikan ada apa sebenarnya di dalamnya.
Kenapa semalam larut ini ada kerlip lampu dan juga ada seperti orang di dalam padahal rumah ini tidak lagi berpenghuni.
Lalu, apakah penghuninya seperti yang dikatakan Jono sebagai makhluk halus?