Cinta Kuli dan Misteri
Lelaki Bersila yang Menunggu Lilin
Mataku tak bisa lepas dari pandanganku saat itu. Entah kenapa, mataku melihat manusia dan bukan setan atau hantu yang terbayang dalam imajinasiku. Ya, pandanganku melihat manusia yang tengah bersila di ruangan itu dan menghadap sebuah lilin.
Lalu, jika itu manusia beneran, apa yang dilakukannya disitu?
Itu hanya satu orang yang tengah bersila sambil menghadap sebuah lilin dalam sebuah wadah seperti piring. Ngapain orang itu menunggui lilin?
Jangan – jangan, ya dulu saya pernah mendengar cerita klenik soal pesugihan. Kamu juga pasti langsung paham kan kemana arahnya jika orang melakukan pesugihan dan menunggu lilin. Mereka disebutkan sebagai babi ngepet.
Benarkah orang di dalam itu sedang melakukan ritual babi ngepet? Jika benar itu yang terjadi pasti banyak uang nanti malam yang akan hilang. Atau, jangan – jangan babi ngepet juga bisa menghilangkan sapi juga? Hingga kemarin baru saja kejadian sapi hilang karena babi ngepet?
Ah, ngelantur!
Mana bisa sapi diambil dan dicuri melalui pesugihan bagi ngepet, emangnya sapi segede babon gitu bisa disimapan di bulu babi? Ada – ada saja. Aku menggelengkan kepalaku lagi, bisa – bisanya pikiranku dimasukin pikiran aneh pesugihan bagi ngepet begini. Aku pun beristighfar.
Aku menaikkan kepalaku lagi, dan benar saja lelaki itu masih saja bersila dan menghadap ke lilin yang menyala. Dia pun menangkupkan kedua tangannya ke depan dan menyatukan antara jari – jarinyanya, tangan kanan dan kiri menyatu seperti orang yang akan mengeluarkan ajian ilmu di film – film kolosal.
Aku tak bisa lagi menahan penasaranku. Aku mendekat dan akan masuk dari samping. Dulu rumah itu sebenarnya aku sering datang ketika mbah Pati masih hidup.
Aku sendiri cukup akrab dengan almarhum mbah Pati karena itulah aku tak sepakat dan tak setuju orang mengaitkan dengan horornya desa kami dan rumah tua ini sebagai pertanda kalau mbah Pati masih gentayangan.
Kini, aku juga ingin membuktikan hal itu. Apakah benar mbah Pati gentayangan karena bagiku itu tak mungkin sama sekali dan hanya cerita rekayasa dari orang – orang. Belum tentu mereka meliha mbah Pati dalam kondisi arwah, bisa jadi karena mereka ketakutan saja jika melihat hantu beneran maka bisa jadi itu hantu lain. Lalu, orang yang tertanggungjawab mengaitkan hal itu pada arwah mbah Pati.
Mamakku sendiri dulu sering mengajakku ke rumah mbah Pati, setidaknya kadang mengantarkan makanan buat mbah Pati.
Mamak memang sangat peduli dengan mbah Pati, lelaki tua yang hidup sendiri dan tak memiliki anak maupun cucu. Mbah Pati sendiri juga kadang sewaktu masih hidup terkadang ke rumahku dan membelikanku makanan maupun jajanan.
Mbah Pati juga akrab dengan Bapakku, apalagi mereka sering shalat di masjid dan sering berbincang.
Kata Bapak dan Mamak, mbah Pati sudah dianggap seperti orangtua mereka sendiri jadi bisa dibilang dia kakekku juga.
Karena aku sudah sering main ke rumahnya dulu, maka aku hapal betul seluk beluk rumah ini. Meskipun semenjak kuliah aku sudah tak pernah ke rumah mbah Pati lagi. Karena ketika aku semester 4 mbah Pati meninggal dunia.
Aku pun mengendap di bawah jendela kaca itu dan merangkak perlahan. Aku berdiri lalu menempelkan dirinya di tembok mirip seorang agen atau detektif. Aku bergerak perlahan dan dari ruangan L besar itu ada pintu kecil yang bisa masuk dari pojok dinding ke arah belakang.
Suara burung hantu semakin membuat suasana jadi terlihat seram. Aku tak mengindahkannya, bulu kuduk yang merinding segera aku usap dari atas kepala hingga ke bawah leher.
Aku mengucap bismillah pelan dan meyakinkan diriku bahwa aku adalah seorang pemberani dan tidak takut dengan apapun. Bahkan setan sekalipun.
Rumah tua memang rumah tua, tak pernah dipakai lagi oleh orang untuk mengaji dan bisa jadi disini memang banyak jin atau setannya.
Tapi, kali ini aku ingin menyelidiki ada apa lelaki yang bersila di dalam ruangan itu. Bukankah tadi juga barusan aku menghajar dua pocong jadi – jadian dan semua aman bukan? Kejadian hantu – hantuan di pabrik tadi aku ingat untuk membuat semangat keberanianku bangkit sehingga aku tak takut lagi.
Aku meyakinkan diriku lagi. Bersiap menempel pada dinding dan bergerak ke arah pintu. Aku ingin tahu apakah benar lelaki di dalam itu sedang melakukan ritual untuk pesugihan atau adakah sesuatu yang disembunyikan?
Rasa penasaranku membuncah.
Pintu mulai terlihat. Aku terus mendekat kearah pintu itu. Aku mencapainya, aku mengintip dari arah samping sisi pintu.
Kedua mataku aku tajamkan. Sebelah mataku melihat ke dalam, lelaki itu masih bersila dan terkadang bergoyang ke kanan dan ke kiri, mungkin dia lelah karena duduk bersila sedari tadi.
Lelaki itu masih saja duduk, matanya kadang terlihat membuka dan melihat ke kanan dan ke kiri. Lalu terpejam lagi. Dia sedang melakukan apa sih? Ini benar – benar mencurigakan.
Aku tak habis pikir, apa yang dilakukan lelaki itu. Mau bertanya takutnya salah, didiamkan saja takutnya tak ada kejelasan lagi.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Lelaki yang masih bersila itu terkadang mengeluarkan suara seperti kidung lalu bernyanyi lirih. Aku mendengarkan begitu saja. Suasana jadi semakin terlihat mencekam menurutku, aku terdiam karena lelaki itu juga seolah tengah melakukan sesuatu hal namun apa itu?
Lelaki itu kemudian menggerakkan tangannya menjaga lilin agar tak mati karena ada hembusan angin yang cukup kencang dari luar. Aku pun merasakannya sehingga tubuhku sedikit menggigil.
Api lilin itu pun sedikit bergoyang kesana – kemari karena angin. Lelaki bersila masih saja menutupi lilin dengan kedua telapak tangannya serta menjaga agar tidak mati lilinnya. Aku semakin jadi penasaran.
Sudah berada di tempat gelap dan ceritanya angker, kemudian menjaga lilin agar tidak mati. Pertanda apakah ini?
Lilin sudah mulai stabil, angin berhembus dengan perlahan lagi dan lelaki itu tersenyum seperti ada kepuasan. Aku pun tanpa sengaja memperlihatkan kepalaku di pintu masuk yang terbuka itu. Di sisi lain ada daun pintu dan di sisiku aku terlihat kepalaku menjorong masuk dan kedua mataku melihat begitu saja dan kepalaku menyembul.
Mungkin karena tengah malam lewat, kepalaku juga mengantuk berat. Dan, lelaki yang tengah bersila itu terlihat sedikit kaget dan menoleh kearahku. Kepalaku yang keluar dari bawah dan karena aku tengah duduk, kepalaku miring seolah hanya ada kepala saja yang terlihat.
Si penunggu lilin yang tengah duduk bersila itu terpaku beberapa detik dan memperhatikanku dengan seksama. Baru tiga detik setelah mata kami saling melihat karena juga gelap dan hanya ada lampu lilin.
Aku mencoba tersenyum karena sudah terlanjur ketahuan, jadi bilang saja kalau ada apa – apa bahwa aku melihat ada cahaya di kamar dan aku menengok ada siapa di dalam. Begitu akan jadi lebih mudah tentunya jika orang itu bisa diajak diskusi.
Begitu aku tersenyum hendak menyapa orang itu, dia malah berjingkat dan melompat karena kagetnya. Lelaki penunggu lilin itu melompat dari duduknya dan berdiri begitu saja dan terlihat wajahnya pucat karena melihatku.
Apakah itu ketahuan? Apakah dia berpikir ketahuan olehku perbuatan yang dilakukannya itu dan akhirnya lari karena takut dilaporkan atau akan ditangkap?
Lelaki itu langung melangkahkan kakinya dengan cepat dan menuju pintu depan di ruangan L tersebut dan hampir saja menabrak pintunya. Namun, karena larinya yang cepat dia sempat menabrak daun pintu itu sehinga dia terjatuh.
”Demiiiit!”
Lelaki itu bangkit sekuat tenaga meskipun kadang terpeleset dan jatuh lagi. Dia bangkit sambil terus berlari keluar halaman dan matanya kadang melihat ke belakang dan malah lurus melihat depan dan terus berlari.
”Ada demit tanpa kepalaaa!”
Teriak lelaki itu sambil masih berlari dan kadang jatuh, kakinya beberapa kali terpeleset sambil terus berlari sekencang – kencangnya.
Kenapa dia bilang Demit dan berlari kencang sekali. Lilin di ruangan itu pun sudah mati sekarang. Oya, Demit itu kamu tahu gak apa itu Demit?
Demit adalah setan atau hantu yang horornya serem banget digambarkan seperti setan tanpa kepala atau hantu dengan kepalanya saja tanpa ada badan.
Hal itu yang diserukan lelaki penunggu lilin itu sehingga lari terbirit – birit.
Aku sempurna bangun dari dudukku, aku berjalan kearah lelaki itu kabur. Makanya, jadi orang yang rajin bekerja ya, dan bukan pesugihan dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri. Bukankah kesehatan adalah yang paling utama hidup di dunia ini?
Saat aku keluar dari pintu depan ruangan L rumah mbah Pati, sekelompok orang datang depan rumah almarhum mbah Pati. Beberapa orang sekitar 7 orang, ada apa ini? Apa mungkin mereka semua teman dari lelaki yang menunggu lilin?
Lelaki penunggu lilin itu pun terlihat bersama rombongan itu, mereka bergegas dan mau masuk ke rumah L dan aku ada disitu. Aku pun mundur beberapa langkah karena sepertinya dia seorang penjahat atau apapun itu dan dia tengah balas dendam denganku?
Aku terus mundur dalam kegelapan ruangan rumah mbah Pati. Segerombol pasukan itu aku ada yang kenal sepertinya.
Mereka semakin dekat kearahku.
”Ayo cepat! Mana hantunya?” Salah seorang diantara mereka mendekati arah masuk dan aku masih di ruangan itu tak bisa melakukan apapun kecuali bersiap dengan kuda – kudaku. Siapa tahu mereka menyerang dan aku harus melawan mereka.
”Di dalam sana!” suara yang lain lagi.
Saat segerombol orang itu masuk dan lampu santer menyala, sorot wajahku tersorot oleh santer itu. Mereka mulai masuk dan satu persatu melihatku yang bersiap dengan kuda – kudaku untuk bersiap berkelahi jika mereka menyerangku.
”Lho, kamu Adnan!”
Hah? Kenapa ada yang mengenalku? Saat kulihat seksama dari kilauan santer yang silau pada wajahku. Aku melihat dari Roni dan seperti itu kepala desa. Lha..., kenapa ini?