Cinta Kuli dan Misteri
Kepala Terbang dan Penculikan Jin?
Bantuan dari pemerintah datang lagi ke desaku, kali ini bahkan desa sebelah yaitu desanya Mang Krimo di Pucuk Lebah bahkan belum mendapatkan bantuan. Di desaku sendiri sudah dua kali bantuan untuk pertanian.
Ini hasil kerja keras kepala desaku, Pak Norman.
Mang Krimo semalam bahkan mengeluhkan kepala desanya yang katanya tak bisa gesit bergerak seperti kepala desaku di desa Bulan Indah. Mang Krimo sendiri malah pingin pindah ke desaku, he.. he.. he.. tentu saja itu hanya bercanda.
Baru dibicarakan semalam saja, pagi ini bantuan sudah datang lagi kedua kalinya di musim panen kali ini. Aku diminta Bapak untuk mengambil bantuan ke balai desa. Shift siang untuk bekerja dan pagi masih bisa membantu Bapak maupun Ibu.
Aku mengambil motor dan bergegas ke balai desa desa Bulan Indah. Disana sudah cukup ramai orang lalu – lalang untuk mendaftarkan dirinya dengan KK dari masing – masing keluarga dan akan mendapatkan giliran karena sudah masuk dalam daftar datang dan antrian mengambil bantuan pupuk.
Sambil menunggu antrian, aku duduk menunggu antrian. Ada kursi kayu panjang kalau bahasa jawanya dingklek.
Disana juga ada orang – orang yang menunggu. Sambil duduk, orang – orang di sebelahku masih saja membicarakan hantu. Cerita lek Firman misalnya yang duduk di belakangku. Dia seminggu yang lalu mencari belalang untuk dimasak. Dia mencari belalang dengan Pairan, dan dari ladang singkong yang letaknya sekitar setengah kilo dari arah rumah almarhum mbah Pati, mereka bertemu hantu.
Parahnya, mereka mengaitkan ini agar tak mendekati rumah hantu itu, rumah kosong peninggalan almaruhm mbah Pati. Saat itu, mereka memang karena malam malah semakin mendekat arah rumah kosong itu dan sekitar setengah kilo meter, ada kepala manusia yang menggantung dari atas pohon dan seperti bergerak terbang.
Pairan dan Firman langsung berlari tunggang langgang di dekat pohon beringin besar sebelum barisan pohon bambu.
”Mungkin itu hanya sekedar halusinasi saja Lek?” aku mencoba menyangkal pendapat lek Firman tersebut.
”Beneran Nan, bahkan aku menyoroti kepala itu dengan santerku. Tapi karena ketakutan, santerku jatuh dan aku berlari bersama Pairan dan kami terpisah karena saking takutnya.”
Aku jadi berpikir bahwa mereka tidak bohong, namun soal kepala terbang. Itu seperti hal yang aneh bagiku.
”Apakah kepala terbang itu mengejar kalian?” aku jadi penasaran pada cerita lek Firman.
Firman terlihat berpikir sejenak, ”Hantunya gak ngejar lah Nan, dia seperti terbang mengelilingi pohon beringin dan mungkin itu penunggu pohon beringin tua di dekat hutan bambu itu.”
Jadi, menurut cerita lek Firman. Hantu itu hanya menunjukkan dirinya dengan kepalanya saja saat mereka mulai mendekat di kebun bambu. Memang ada pohon besar sebelum pohon bambu, dan hantu itu tak pergi dari sana.
Artinya, jika memang mereka melihat hantu berarti hantu itu seolah mencegah lek Firman dan lek Paeran untuk mendekati areal bambu.
”Jadi..., lek Firman ini ternyata tidak boleh masuk ke kawasan itu Lek. Berarti ada sesuatu disana,” aku mulai curiga, beberapa orang di sekitar kami mendengarkan percakapan kami dengan serius.
”Ya tentu saja Nan,” lek Paeran menimpali, ”Hantu itu pasti mengingatkan kami agar tak terlalu jauh masuk ke wilayah kerajaan atau perkumpulan hantu. Jika kami masuk maka bisa jadi kami tersesat di alam ghaib dan tak bisa kembali.”
Hmmm...
Aku jadi berpikir lagi, memang ada cerita – cerita unik dan aneh, semisal ada manusia yang tersesat di alam ghaib dan tak bisa kembali. Seperti cerita remaja bernama Amir, ya, dia satu tahun yang lalu pernah hilang selama seminggu dan tak tahu rimbanya.
Benar – benar raib dan tak ada jejak.
Terakhir Amir membawa sepedanya keluar rumah dan menghilang begitu dia ke belakang rumah. Karena seharian hingga malam tak ketemu dimanapun, keluarga mendatangi orang pintar atau dukun. Kata dukun itu, Amir tersesat di alam ghaib, dan jin menyesatkannya. Dia diculik oleh jin tersebut.
Maka, sang dukun memberikan syarat agar Amir bisa dilepaskan, yaitu menyembelih ayam jantan hitam dan ditaruh di tampah serta ada nasi kuning dan kemenyan. Mereka menaruhnya di belakang rumah mereka dan di dekat pohon mahoni.
Kata dukun itu, Amir ada di sekitar situ dan tak terlihat saja. Padahal kata dukun itu, Amir tahu orang yang mencarinya dan berteriak – teriak tapi tak ada yang mendengarnya.
Hingga tiga hari kemudian, Amir pulang sendiri dengan membawa sepedanya dan dia terlihat sangat lemas karena beberapa hari tidak makan. Banyak orang berpikir Amir sudah dilepaskan dari jin tersebut dan mereka terlanjur percaya.
Namun, aku yang penasaran pun berbicara dengan Amir di rumah makan soto tempat bi Winah.
Aku mentraktirnya makan setelah sebulan kejadian hilangnya dia tersebut. Saat aku mendengarkan Amir dan aku memintanya bercerita terus terang, kemana dia 4 hari tak ada di rumah.
Amir berkisah bahwa dia pergi dari rumah alias kabur. Dia dimarahi bapaknya karena menghabiskan uang bapaknya di bawah kasur untuk senang – senang. Saat hendak dipukul, Amir ketakutan dan pergi dari rumah dan tak tahu hendak kemana dengan sepedanya saat itu dia bingung.
Amir seperti orang yang ketakutan, dia terus menaiki sepedanya ke rumah temannya di lain kecamatan. Dia meminta temannya itu untuk merahasiakan dirinya, dan meminta menginap beberapa hari.
Amir ingin seolah dirinya hilang dan Bapaknya memaafkannya, begitu mendengar orang ribut dan bapak mencarinya dia masih di tempat temannya hingga beberapa hari kemudian dia baru pulang karena merasa Bapaknya pasti sudah memaafkannya.
Lalu saat aku bertanya kenapa kata orang kamu kelihatan seperti orang kelaparan dan seperti tak pernah makan saja.
Dia pun menjawab bahwa dia ketakutan sehingga tak selera untuk makan, sehingga dia pun lemas dan memang memberikan kesan bahwa dia hilang diculik jin. Sehingga, Bapaknya akan memaafkannya.
Begitulah cerita Amir sebenarnya, namun aku juga diminta merahasiakan hal itu. Namun, meskipun orang diceritakan hal sebenarnya, mereka lebih percaya kalau Amir benar – benar lenyap di culik jin saat itu.
Giliranku pun tiba. Aku menyudahi percakapan hantu itu dengan lek Firman dan lek Paeran. Aku mendekati tumpukan kandi berisi pupuk yang sudah ditata di bawah mobil. Saat mendekati itu, aku melihat di dalam mobil masih banyak beberapa kandi pupuk di dalam mobil.
Seseorang hendak mengangkat kandi dan aku diminta memutar motor sehingga aku langsung bisa menjalankan motor dan mereka akan mengangkatkan kandi pupuk itu ke motorku.
Aku membalik motornya seseorang menangkat kandi pupuk dan menaruhnya di jok belakang motor yang sudah siap aku jalankan.
”Yang di atas mobil masih ada separuh Mas,” aku berkata pada lelaki yang merupakan orang asing dan bukan dari desa kami. Dia petugas sepertinya, ”Bagaimana kalau bersama – sama kita turunkan dulu biar lebih mudah. Kami bisa membantu kok.”
Orang yang mengangkat pupuk itu berjalan di dekatku dan aku masih mengendari motor, ”Tidak perlu, itu tugas kami. Kami sudah dibayar untuk hal itu Mas.”
”Tidak apa – apa Mas, itu akan ringan di desa kan biasa berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Kami sudah diberi bantuan jadi tak masalah...”
”Tidak usah!” tiba – tiba lelaki itu sedikit keras, aku pun menghentikan kata – kataku.
”Begini mas...” lelaki itu tiba – tiba memelankan suaranya, ”Kalau warga desa membantu kami, maka bayaran kami juga semakin kecil karena itungannya adalah per kandi yang kami gotong ke petani Mas.”
Begitu penjelasan dari lelaki kuli tersebut. Aku segera memakluminya, benar juga. Kalau bayaran mereka berkurang kan kasihan mereka. Aku pun mengucapkan maaf dan terima kasih pada lelaki itu dan berpamitan pulang.
Aku kemudian membawa satu kandi pupuk dan juga obat semprot untuk penyubur buah padi. Aku pulang dengan membawa bantuan tersebut.
Pikiranku masih saja teringat pada hantu kepala terbang di pohon beringin besar dan tua di dekat barisan pohon bambu. Apakah aku harus melihatnya terlebih dahulu ya siapa tahu ada petunjuknya.
Benar juga!
Aku segera pulang dan mengembalikan pupuk bantuan dan juga botol semprotan untuk penyubur tanaman tersebut.
Sampai rumah, kemudian aku sangat penasaran pergi ke arah rumah tua milik almarhum mbah Pati dan menuju tempat pohon beringin besar untuk melihat adakah petunjuk yang bisa aku peroleh dari cerita lek Firman yang melihat kepala terbang.
Aku segera kesana karena nanti siang aku shift kerja. Aku segera menuju pohon beringin, di sekelilingnya tampak belukar dan ada ladang kebun singkong. Memang disitu banyak belalang dan lek Firman mencarinya hingga kesini.
Aku menstandar motor dan berjalan menuju pohon besar beringin itu. Sendirian, siang hari dan aku akan mencari bukti. Aku berkeliling pada pohon beringin tua tersebut. Sangat sepi dan tidak ada orang, semuanya mungkin kebanyakan sedang di balai desa untuk menerima bantuan dari pemerintah berupa pupuk dan obat.
Aku bisa observasi sendiri dan mendalam soal hantu kepala terbang itu.
Aku kesana – kemari mencari bukti. Hingga kepalaku mendongak ke atas dan kulihat ada setitik bukti.
Itu???