Cinta Kuli dan Misteri

Undangan Pak Lurah

Desaku terbilang makmur, bantuan dari pemerintah bahkan melebihi desa – desa di sekitarnya. Meskipun terbilang tak modern sama sekali atau bahkan bisa dibilang tertinggal. Di desaku, Desa Bulan Indah ada bantuan setidanya setiap panen empat kali datang pupuk dan lainnya. Itu memang sedikit aneh, mungkin karena kepala desaku punya link khusu kali ya, entahlah! Yang jelas, bantuan kami bisa empat kali lebih banyak.

Contoh saja desa Pucuk Lebah, desanya Mang Krimo. Perbatasannya dengan desa Bulan Indah. Mang Krimo sendiri adalah salah satu warga desa Pucuk Lebah. Disana, sekali panen atau berkisah 4 hingga 6 bulan, itu hanya satu kali bantuan turun, sedangkan di desaku empat kali bantuan turun berupa pupuk dan bibit serta lainnya.

Meskipun tak banyak, satu mobil setiap datang, namun dibagikan rata sedapatnya ke semua petani padi yang ada. Untuk pupuk yang lain bisa diberikan kepada mereka yang punya perkebunan, baik; sawit maupun pohon karet.

Meskipun hanya kebagian satu atau dua kandi pupuk, setidaknya sudah membuat hemat bukan?

Siang ini pun, pak Lurah yang bernama Norman mengundang semua warganya yang tidak berhalangan untuk datang ke balai desa. Di balai desa, kepala desa akan menerangkan banyak hal, peraturan atau himbauan, juga yang paling penting adalah makan bersama. Semua biaya nasi bungkus di tanggung pemerintah desa.

Disana nanti, masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi akan didengarkan dan dicatat sekretaris desa. Selain itu, ada musiknya nanti setelah acara selesai bagi yang mau menikmati hiburan. Hal ini sering dilakukan pemerintah desa, oleh pak Norman. Pak Norman selalu melakukan hal ini setiap 6 bulan sekali, hal itu untuk mempererat hubungan antar masyarkat dan juga dirinya agar lebih dekat ke rakyat, mencatat  masukan dari masyarakat dan tentu saja membahas semua hal yang berkaitan dengan pembangunan.

Selain itu, menyaring informasi dan juga ide adalah tujuan utama dari kedekatan pemimpin dengan rakyatnya itu.

Aku dan Bapak pun berangkat, peserta pun boleh ikut laki – laki maupun perempuan. Semuanya bisa hadir, Mamak tak mau katanya masih banyak pekerjaan di rumah.

Aku juga dinas siang ini, jadi bisa berangkat. Kemarin aku pulang malam dan kini sebaiknya berkumpul bersama masyarakat, setidaknya ada kabar baru apa sehingga bisa tahu dan dapat informasi cepat.

Berkumpul dengan maryarakat memang selain bertegur sapa, juga menghilangkan stres. Seharian dan setiap hari bekerja, lelah juga dan enak kalau kumpul bareng rekan – rekan dan bisa saling bertukar pendapat.

Namun, saat di balai desa, belum banyak yang hadir. Di pinggir balai desa, parkiran ada mobil truk dengan angkutan barang – barang, sepertinya itu bantuan sudah tiba karena musim tanam akan dimulia sekarang masih dipersiapkan lahannya agar gembur dan cocok untuk padi tumbuh dengan baik.

Ada panggung sederhana, hanya undakan di depan balai desa ditambah karpet digelar. Ada alat musik disana yaitu organ. Lurah kami memang agak royal soal keuangan, bahkan para masyarakat juga senang karena diberikan banyak hal terutama makanan dan musik.

Bukan itu juga yang menjadi topik utamaku sekarang. Tapi, kenapa setiap bertemu orang ngobrol selalu hal klenik yang dibicarakan. Hantu dan setanlah, pesugihanlah, tuyul secondlah, babi ngepetlah. Bahkan ada yang didatangi hantu waktu keluar malam, kuntilanak, poconglah. Dimana – mana kalau ketemu pasti yang ramai soal setan.

Namun, kalau soal foya – foya desaku ini juga menang penghargaan kali ya. Mang Krimo saja setiap ngobrol dengannya waktu minum kopi disana. Dia selalu iri dan ingin menjadi warga desa Bulan Indah karena sering dapat bantuan, sering dapat hiburan dan sering dapat makanan dan makan bersama dengan masyarakat.

Sudah mulai banyak yang datang, mereka sudah mulai duduk di beberapa tempat yang terlihat. Cukup banyak kursi yang disediakan. Sekitar 500 kursi lebih. Bapak duduk duluan dan bersama pak Kyai Kusrin. Aku pamitan untuk pergi ke tempat lain yang disana banyak pemuda. Masak aku mau duduk – duduk sama orang tua. Aku pun menyingkir.

Nah, ada tempat duduk di tengah mereka banyak yang masih muda. Roni, Wahyu dan Jono juga ada. Jono pasti juga sama denganku, shiftnya nanti siang mulai jam 2 siang hingga malam pukul 08.00 malam.

Aku menyapa mereka dan tentu saja Jono masih ingat kejadian semalam dimana dirinya dan kami semua bersama konvoi hanya karena takut melewati rumah tua bekas rumah dari Mbah Pati yang sudah meninggal itu.

Jono pun masih dengan lugunya mengobrol dengan kami soal lagu Lingsir Wengi, itu katanya bersama orang – orang yang bisa melihat hantu atau indigo. Ini katanya tentunya, lagu Lingsir Wengi kalau malam hari dinyanyikan maka itu seperti barang dagangan dibuka gratis, banyak diskon, dan juga barang gratis. Tapi, itu khusus buat dedemit. Mereka akan langsung berebutan untuk mendatangi mereka yang berani bernyanyi Lingsir Wengi.

Makanya, semalam saat aku mulai bernyanyi mereka semua membekabku. Ada – ada saja, masa ada setan ada barang gratis pada datang. Pasar malam beneran gara – gara sebuah lagu, Lingsir Wengi.

Jono pun bercerita demikian antusias dan dia sangat percaya hal itu. Beberapa pemuda di sekitarnya, termasuk Roni dan Wahyu jadi bergidik mendengar cerita itu.

”Udah gak usah dipikirkan Ron, Jono saja dipercaya.”

Aku mencoba membuat Roni dan Wahyu tak mengingat lagi soal hantu dan setan itu. Ini sedang ada di acara pesta desa ini, mau makan enak malah mikirin hantu pula.

”Tapi..., beneran kamu nyanyi lagi itu semalem Nan?” Wahyu masih penasaran dan menanyakan itu padaku.

”Ya benarlah.., lha kan lagu Lingsir Wengi bagus dinyanyikan. Apalagi pas malam, kan enak tuh didengarkan sambil bisa tidur. Apalagi pas Ibu kita nyanyi sambil mengelusi rambut kita. Pasti kita langsung tidur karena tenang kan”

Hiyyy!

Suara mereka semua hampir kompak, ketakutan di wajah mereka pias terlihat. Apa – apaan mereka itu, bahkan siang hari mereka juga merinding karena hantu?

”Kalian ini kenapa sih? Siang hari saja takut dengan hantu, padahal aku cerita hanya soal lagu saja.”

”Dasar bocah Udik!” Roni yang kini bicara.

”Lha kamu lho Ron, takut juga sama hantu siang hari begini lagi! Padahal biasanya kamu pemberani lho!”

Roni menggeleng kearahku, ”Dasar Adnan! Kami kompak bergidik bukan karena ceritamu soal lagu Lingser Wengi dan hantu. Tapi kamu itu lho, sudah besar masih saja begitu...”

”Begitu kenapa Ron?” Aku menyangkal penasaran.

”Bisa – bisanya kamu sudah besar begitu, hampir nikah lagi, masih suka dielusin kepalamu sama Emakmu. Malu tahu!”

Ooo begitu, he... he... he.. baru sadar akunya. Malu juga aku, aku kira mereka takut cerita hantu gak tahunya bergidik karena dielusin Emak. Kini, aku yang ternyata terlalu lugu, aku mengalihkan pandanganku biar gak terlalu malu.

Namun, acaranya ternyata sudah mulai jadi hilang sudah deh rasa maluku.

Kursi mulai penuh, meski ada yang masih tertinggal. Biasalah, ditunggu sambil dimulai kalau menunggu terus gak akan dimulai – mulai nantinya.

Pembawa acara memulai acara dengan bla bla bla, seperti itulah kalian pasti paham kalau MC lagi membuka acara. Jadi aku malas mendengarkannya dan membagikannya dengan kalian. Cukup dikira – kira seperti itulah. Lalu, lanjut ke masalah sambutan saja. Biar cepat, pak Norman selaku lurah menyampaikan sambutan seperti biasanya.

Kumis tebalnya terlihat, dia gagah memakai baju dinas-nya membuat banyak orang iri dengan pakaian itu yang menunjukkan gengsi tinggi. Beda dengan aku, meskipun aku lulusan sarjana tapi sebagai mandor dan juga sekalian buruh. Kalian pasti tahu baju dan bauku saat bekerja, tak lagi kukenakan pena seperti waktu kuliah lagi.

Yang aku pegang besi, sekop, dan lainnya untuk membantu rekan – rekan setimku. Sesekali saja pegang pena untuk mencatat dan menghitung target harian dan juga waktu pembagian gajian bonus setiap dua minggu sekali atau satu bulan dua kali.

Gak apa – apalah, itupun masih bisa digunakan keahlian menulisku. Tapi pak Norman itu, lurah lulusan SMA, setiap hari sekarang pegang pena? Ya itu kata setan sedang membisiku, biarlah setiap bagian kan sudah digariskan. Gak usah iri sama orang lain, cukup iri kalau melihat orang lain ibadahnya lebih rajin dari kita. Hmmm, setannya kabur dia. He... he... he...

Giliran pak Lurah itu, sudah mulai sambutannya. Kami mendengarkannya, dia menyatakan desa kami, desa Bulan Indah harus semakin gencar menjaga keamanan karena kemarin habis kemalingan sapi. Orang yang ronda harus kembali digalakkan dan harus menjaga keamanan lingkungan dengan baik.

Sebagai tanda rasa bersalah, pak Lurah bahkan memberikan ganti rugi meskipun tidak semua kepada lek Yanto yang kemarin kehilangan sapi. Pak lurah langsung memberikan uang sebesar 3 juta rupiah, setidaknya bisa untuk obat sedih lek Yanto. Yanto pun menerima uang itu dengan menangis karena terharu.

Pak Norman kembali meneruskan sambutannya. Dia juga menggambarkan pembangunan jalan akan dilakukan bulan depan dengan membenahi jalan di sekitar perkebunan dan persawahan karena akan mempermudah petani dalam menanam dan memanen hasil pertaniannya. Semua orang berteriak sangat setuju dengan hal itu.

Lanjut pak Lurah, bantuan juga datang lagi, ini kloter pertama tahun ini di awal tahun. Bantuan pupuk dan benih, mobil sudah diparkir nanti akan diturunkan dulu dan besoknya baru masyarakat bisa mengambil jatahnya sesuai dengan catatannya. Mereka bisa mengambil bantuan itu dengan membawa KTP untuk di list biar tidak ada yang curang.

Masyarakat dan aku kembali tersihir dan bertepuk tangan berteriak kalau lurah kita adalah yang terbaik.

Sambutan mendekati ujung, pak Lurah menyebutkan bahwa nanti akan ada hiburan organ, jadi yang ingin menikmati hari ini silakan untuk tetap di tempat dan nikmati saja pertunjukannya. Selain itu sebagai tambahaan setelah acara MC selesai, kita semua akan makan bersama dengan nikmat. Begitu tutup pak Lurah, semuanya bersorak, memang lurah kita yang terbaik.

Hmmm... aku sendiri sih memang berpikir kalau lurah desaku yang terbaik dengan segala hal luar biasa yang diberikannya kepada para penduduk. Meskipun saat dia mencalonkan diri dulu, dia juga menyogok, bahkan keluargaku di sogok juga.

Lha terus?

Maksudku, apa di desa – desa yang lain sudah seperti itu ya untuk jadi lurah harus menyiapkan uang dan memberikan sejumlah uang kepada masyarakat agar dirinya dipilih? Jika memang semua desa di Indonesia demikian dan dianggap lumrah sih gak masalah juga berarti desaku.

Tapi, kalau memang itu tidak boleh. Artinya, pak Lurah naik jadi Kepala Desa dengan hasil suap dong. Menyuap masyarakat. Nah, sama saja dengan para anggota dewan yang korupsi dan menyuap juga. Lha... aku pusing.

Sudah ah mikirin korupsi, malah jadi pusing. Acara berakhir dan ditutup MC wanita dengan anggun dan cantik itu. Dia adalah keponakan pak Lurah sendiri, bunga desa juga dan jadi rebutan para bujang.

MC itu bernama Virna. Virna lalu meminta para masyarakat untuk mulai makan dengan antre karena ada prasmanan yang sudah disiapkan. Orang tua pun lebih dulu masuk antrean dan juga mereka dekat dengan tempat prasmanan.

Pemuda dapat jatah belakangan tentunya, tapi kami sabar saja, memang beginilah nasib pemuda. Meski dapat jatah belakangan tapi makannya paling cepat dibandingkan yang duluan. Jelaslah, mereka yang duluan sudah pada tua dan giginya tinggal dua, ha.. ha.. ha.. jadi kan sulit makan, kita yang cepat makannya karena gigi masih lengkap.

Mungkin karena itu juga ya, kalau ada acara makan bersama pasti orang tua dulu yang diminta duluan. Kan repot kalau mereka belakangan, bisa pemuda duluan habis makan mereka baru mulai mengambil jatah makanan.

Ada – ada saja.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!