Cinta Menyatukan Iman

Aku Mencintaimu David

"Aku memang ingin menikahimu tapi tunggu waktu yang cepat," sahut David masih dengan nada suara yang rendah. 

"Din, kita masih semester 6 aku mau kita ta'aruf aja dulu lagipula aku masih belajar agama Islam Din, biar bisa jadi imam yang baik buat kamu, setelah kita sidang skripsi aku akan melamarmu, aku harap kamu mau menungguku." Janji David akhirnya terucap.

 

Mendengar jawaban David berhasil membuat air mata Dinda mengalir dia begitu terharu, David menjadi bingung harus bagaimana ketika melihat air mata Dinda jatuh.

 

"Din, aku tahu kamu takut akan melanggar apa yang telah dilarang oleh Allah tapi ketahuilah aku butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya saat hendak menikahi seorang wanita, meski aku ingin kaulah yang akan menjadi istriku kelak." David mencoba menjelaskan agar Dinda merasa tenang.

 

Entah apa yang harus Dinda lakukan namun dia tidak kuat lagi jika harus menjauhi David hingga cowok itu siap untuk melamarnya, hatinya begitu mencintai David Nathantion bagaimana jika Kevin akan melamarnya terlebih dahulu apa yang harus dia lakukan? Dia terpaksa memaksa David untuk meyakinkan dirinya jika tidak menjauh dari cowok itu adalah keputusan yang tepat.

 

"Kalau begitu jauhi aku Dav!" lirih Dinda dengan gemetar, berat sekali untuk mengatakan semuanya.

 

Deg, David kaget saat mendengar ucapan Dinda yang sungguh menusuk hatinya.

 

"Tapi Din," sergah David mencoba memberikan Dinda pengertian.

 

"Maafin aku Dav, mungkin inilah jalan yang terbaik untuk kita saat ini, aku tidak bisa terus bertahan dengan hubungan ini, lebih baik kita fokus pada perkuliahan dan diri kita masing-masing," kata Dinda gigih dengan keputusannya.

 

"Aku harus bagaimana Din agar kamu mau menungguku?" David memulai bingung dia tidak mau kehilangan Dinda.

 

Dinda masih terisak, "Lamar aku Dav! Agar aku bisa jadi milikmu, aku takut Dav, jika ada laki-laki lain yang melamarku lebih dulu dari kamu, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dengan nada yang terdengar tegas dan penuh emosi, Dinda berani menatap wajah David.

 

"Kalau begitu beri aku waktu untuk memutuskannya Din, aku yakin kau pun pasti menginginkan hal sama denganku jadi tolong beri aku waktu tiga hari untuk memikirkannya, aku tidak bisa gegabah seperti ini dalam mengambil keputusan," jelas David mencoba menahan Dinda untuk tidak melepaskannya.

 

Apa yang dikatakan David benar dia sendiri tidak menginginkan hubungan ini berakhir karena dia berharap bahwa David lah yang akan menikahinya kelak.

 

"Baiklah aku akan menunggu jawabanmu Dav," sahut Dinda pelan seraya mengusap air matanya.

 

Setelah melakukan pembicaraan dari hati ke hati adzan magrib pun berkumandang membuat David harus segera pulang Dinda pun sudah tidak menangis lagi sehingga David bisa meninggalkan Dinda tanpa khawatir.

 

"Jangan menangis Din, hatiku sungguh perih melihat air matamu menetes," ungkap David jika diperbolehkan dia ingin mengusap air mata di wajah Dinda tapi untuk menyentuh cewek itu dia tidak berani. "Assalamualaikum," pamit David pergi meninggalkan rumah Dinda.

 

"Waalaikumsalam," jawab Dinda melepas kepergian David, matanya terus menatap punggung cowok itu.

 

Dinda semakin hanyut dalam perasaannya, "Ya Allah jika David benar jodohku dekatkanlah kami namun jika David bukanlah jodohku aku mohon ikhlaskan hatiku untuk meninggalkannya," batinnya berdoa.

 

Dinda ingat betul saat David datang ke rumahnya, membuatnya terkejut bukan main karena dia juga sempat melihat cowok itu bersama dengan Hamdan dan Alex di kampus, nama David seketika banyak dibicarakan karena kecerdasan dan ketampanan cowok itu yang meluluhkan hati para mahasiswi. Sampai akhirnya dia begitu terkejut jika David menyukainya meski perbedaan menjadi penghalang bagi Dinda waktu itu untuk membuka hati untuk David.

 

Lagi dan lagi pikiran David tertuju pada pembicaraannya dengan Dinda dia tidak bisa memutuskannya sendiri karena itu dia akan menghubungi ke dua temannya untuk meminta pendapat dari mereka.

 

***

"Untuk besok kita akan pergi ke Bandung buat menghadiri beberapa rapat di sana sekalian liburan," ujar Pak Hartono dengan tersenyum saat menyampaikan laporannya tentang jadwal David besok.

 

Duh, untung saja setelah UTS libur panjang jadi dia bisa menghadiri rapatnya namun sebelumnya David menghubungi Papahnya seperti biasa.

 

"Ya sudah Pak atur saja kapan berangkatnya, saya mau menghubungi Papah dulu," kata David dengan tegas.

 

"Oh baik Tuan kalau begitu saja permisi keluar." Pak Hartono pun keluar dari ruangan David setelah mendapatkan izin dari cowok itu.

 

Ketika sepi ruangannya David pun bangkit dari duduknya dan pergi ke luar jendela untuk menikmati pemandangan kota Jakarta dari atas kantornya ini.

 

Seketika pikirannya kembali dihantui oleh Dinda, dua hari lagi di harus memberikan jawaban kepada Dinda.

 

David pun mengeluarkan ponselnya dan mencari nama seseorang pada kontak teleponnya.

 

"Assalamualaikum Dan, Lex," ujar David ketika panggilan sudah terhubung dengan kedua temannya.

 

"Waalaikumsalam Dav kenapa nelpon?" seru Hamdan saat ini dia sedang berjaga di warteg Mamahnya.

 

"Waalaikumsalam ada apa bro?" Kini Alex pun ikut bersuara saat ini dia sedang menonton pertandingan bola di halaman dekat rumahnya.

 

David pun berjalan menghampiri bangku yang ada di dekat sana.

 

"Gue butuh pendapat kalian berdua nih bro!" kata David to the point.

 

"Apaan terus terang aja Dav," sahut Alex dia sudah penasaran jika David akan berbicara apalagi sampai menelepon mereka pasti itu penting.

 

"Biar kutebak pasti tentang Dinda ya?" tebak Hamdan yang tepat sasaran.

 

Mengetahui itu David terkekeh. "Hehehe lo tahu aja Dan iya gue mau minta pendapat sama kalian kan kemarin gue ke rumah Dinda terus ngobrol di sana sama dia tiba-tiba Dinda nanya ke gue apa tujuan gue deketin dia," terang David dia menjeda ucapannya.

 

"Terus apa jawaban lo Dav?" seru Hamdan penasaran sedari tadi dia diam menyimak.

 

"Pasti Dinda kepingin lo nikahin dia Dav," celetuk Alex dengan santai dia sudah mengira bahwa cewek modelan Dinda tidak bisa diajak pacaran maunya langsung nikah.

 

"Tunggu dulu apa dengerin gue cerita dulu," keluh David saat mendengar Alex sudah menebaknya terlebih dahulu.

 

"Iya Iya sorry broku," ujar Alex meminta maaf.

 

"Iya terus kan gue jawab kalau gue belum bisa menikahinya karena itu gue meminta dia sekarang menjaga komitmen namun dia tidak mau malah bilang kalau dia mau menjauh dari gue atau tidak gue yang akan menjauh darinya," terang David kembali menjeda ucapannya agar ke dua temannya bisa mendengar dengan jelas.

 

Hamdan kaget mendengar cerita David, "Dinda nyuruh lo menjauh kalau tidak mau menikahinya?" pekiknya menyakinkan apa yang didengarnya memang seperti itu.

 

"Iya," sahut David lirih tangannya menyisir rambutnya yang tertiup oleh anila.

 

"Wah gila juga ya Dinda untung saja gue tidak jadi untuk mengejar cewek itu yang ada nanti dia nyuruh gue buat nikahin dia," cibir Alex dia tidak menyangka bahwa serumit itu menjalani hubungan untung saja saat ini dia jomblo.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!