Cinta Menyatukan Iman
Amira Kabur dari Rumah
"Sudah datang Davidnya?" tanya Wilda yang membuat Dinda kaget karena tadi dia melamun.
"Sudah Mi, tuh dia lagi ngobrol sama Abi ya sudah Dinda mau masuk ke kamar dulu ya Mi." Dinda pun pergi menuju kamarnya dia merasa lega David mau hadir dan menepati janjinya.
Awalnya Dinda merasa takut jika David tidak bisa hadir karena kesibukan cowok itu di kantornya tapi nyatanya David bisa mengatur waktunya dan membuat dia senang.
Ponsel David sejak tadi tidak aktif, Dinda merasa cowok itu memang sedang tidak bermain ponsel, baru jam 22:10 mata Dinda sudah mengantuk dia tidak kuat jika harus menunggu pengajian selesai.
Sambil menonton ceramah ustad Hanan attaki yang tentang rasa syukur dan bagaimana kita harus bersyukur suara beliau membuat Dinda candu, penjelasannya juga dapat dengan mudah dia pahami. Saking enaknya mendengarkan mata Dinda perlahan terpejam ya dia tertidur dengan ponsel yang terus berbicara kebiasaan buruk Dinda yang suka tidur setelah bangun pasti dia kaget karena datanya habis.
Paginya harinya Dinda terbangun kaget karena dia ketiduran, melihat bajunya yang belum sempat ganti membuatnya langsung pergi ke kamar mandi. Pukul 05:23 pagi, seperti biasa Dinda melakukan ibadah sholat dan bermurajaah, lalu pergi untuk mengambil air putih.
Tidak biasanya Dinda mengantuk berat seperti ini, setelah sholat subuh dia kembali tidur sampai Uminya membangunkan di pukul jam 06:35 Wib.
"Sayang, bangun nak udah siang kamu harus pergi ke kampus kan?" Wilda mencoba membangunkan putrinya yang masih tidur dibalik selimut yang tebal.
"Hemm jam berapa Mi?" sahut Dinda dengan suaranya yang serak.
"Udah jam 7 loh yuk bangun!" sahut Wilda yang mendudukan bokongnya di pinggir ranjang tempat tidur anaknya.
Terpaksa Dinda harus bangun meski mata dan tubuhnya begitu susah untuk diajak kerjasama, "Mi, semalam jam berapa selesai pengajiannya?" tanyanya yang masih kepikiran David.
"Jam 12 malam, semalam juga David nyariin kamu loh tapi Umi lihat kamu di kamar ternyata sudah tidur, oh ya ada bingkisan dari David katanya buat Dinda pas Umi buka isinya kue bolu gitu kesukaan kamu," jelas Wilda yang mengingat bingkisan milik anaknya.
Dinda merasa dia tidak pernah meminta David untuk membawakannya bolu tapi kok tumben cowok itu ngasih bolu tahu dari mana kalah dia suka bolu gitu? batin Dinda bertanya-tanya.
****
Sore hari ini Amira baru balik kuliah namun langkahnya terhenti begitu mendengar perdebatan kedua orangtuanya yang semakin hari semakin memanas.
Amira tidak kuat mendengarnya, hari ini dia merasakan tubuhnya yang begitu lelah ditambah lagi ketika pulang dia malah disambut dengan pertengkaran kedua orangtuanya.
"Kamu itu ya pak, pulangnya malam terus di chat gak pernah dibalas udah satu bulan gak kasih nafkah kamu gak mikirin anak istri makan apa kalau kayak gini terus aku gak tahan sama kamu," teriak Nia Mamanya Amira dengan penuh emosi memaki-maki suaminya.
"Maksud kamu apa bilang kayak gitu?" Jaki Bapaknya Amira melotot mendengar ucapan kasar istrinya.
Sedangkan Nia tidak berani lagi menjawab dia malah menundukkan kepalanya, suara Jaki ternyata begitu menyeramkan saat cowok itu marah.
"Minta uang? Lagian kan udah pernah aku kasih seminggu yang lalu, kurang? Makanya kerja!! Emang jadi aku gak capek apa? Harus banting tulang kerja buat bayar kuliah Amira bayar sekolah Tiara?! Capek dan kamu juga udah berubah gak seperti dulu yang selalu melayani aku, buat apa aku kasih kamu uang?" Jaki semakin marah dia tidak terima dengan ucapan istrinya.
Nia memandang lekat mata suaminya yang memerah, "Kamu kira uang 100 ribu cukup untuk sebulan, apa jangan-jangan benar apa yang dikatakan tetangga kita itu kalau kamu selingkuh? Kamu gunakan uang gaji kamu buat manjain cewek simpanan kamu itu?" jeritnya diiringi dengan tetesan air mata.
Plak…
Terdengar suara tamparan yang begitu keras mendarat di wajah Nia, cewek itu menunduk memegang pipinya yang terasa panas, ngilu dan sakit bukan pipinya tapi hatinya, mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya yang sebelumnya tidak pernah bermain tangan kini dengan mudahnya dia menampar wajah istrinya sendiri.
"Kurang ajar kamu!" ujar Jaki dengan otot-otot yang mengeras menahan emosi dalam dirinya untuk tidak bertindak lebih.
Amira menangis melihatnya dari balik dinding, dia juga menaruh curiga dengan bapaknya yang jarang sekali pulang sekalinya pulang pasti larut malam, dia juga pernah mendengar tetangganya ada yang melihat bapaknya berduaan dengan cewek di cafe tapi berita itu ditepis jauh-jauh berusaha percaya jika bapaknya tidak akan pernah selingkuh.
Nia wanita cantik dan perhatian, Amira mengira bahwa bapaknya tidak akan berani bermain di belakang mamanya apalagi menduakannya.
"Hiks … hiks kamu jahat pak, kamu berubah, aku sungguh tidak tahan lagi dengan sikap kamu ini," lirih Nia dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Jaki mendekat, tangannya meraih dagu Nia, "Sekarang mau kamu apa?" tanyanya dengan suara yang menekan.
Nia diam bibirnya kelu tenggorokannya tiba-tiba menjadi kering dia kesulitan untuk berbicara padahal dia ingin sekali mengatakan 'Aku ingin kita cerai' tapi nyatanya itu semua terasa sulit dikatakan.
"Katakan!!" teriak Jaki sambil melepaskan tangannya dari dagu istrinya dengan kasar. "Apa kau mau aku …"
"STOP PAK!!" teriak Amira dengan tegas menghentikan ucapan bapaknya karena dia tahu apa yang akan dikatakan oleh bapaknya dan itu tidak boleh terjadi.
Nia dan Kaki menoleh menatap putrinya yang ternyata sudah pulang dan mendengarkan perdebatan mereka.
Tangan Nia langsung mengusap air matanya, "Sayang, kamu sudah pulang? Sejak kapan?" tanyanya lembut.
"Amira," ujar Jaki dia tidak percaya jika anak kesayangan mendengar semuanya.
Amira tersenyum getir melihat drama kedua orangtuanya, "Aku sudah pulang dari tadi Mah, Pak. Aku juga sudah melihat semua pertengkaran kalian berdua," katanya mencoba menahan untuk kuat. "Apa kalian tidak capek terus bertengkar seperti ini? Pak, Mah, lihat aku? Anak kalian yang sudah tumbuh dewasa, apakah kalian tidak malu?" Amira meneteskan air matanya dia tidak tahan dengan semuanya.
Nia menghampiri Amira untuk memeluk anaknya namun Amira malah menjauh sikapnya kini menandakan jika dia benar-benar sudah marah.
"Ini semua gara-gara kamu Nia, jadinya anak kita mendengar semuanya." Jaki menyalahkan istrinya atas semua pertengkarannya.
Mendengar itu Amira menggelengkan kepalanya, "Cukup Pak, Amira capek dengar pertengkaran kalian, Amira akan pergi dan gak akan pulang sebelum kalian janji buat gak bertengkar lagi dan mau kembali rukun kayak dulu," katanya mengancam.
Nia dan Jaki sama-sama egois dan keras kepala saat ini mereka tidak mau mengalah dan mengakui kesalahannya. Melihat kedua orangtuanya bungkam Amira pun tersenyum getir dia tahu bakal seperti ini jadinya.
"Baiklah Amira pamit sungguh aku kecewa dengan kalian," ujarnya berbalik badan pergi meninggalkan kedua orangtuanya dan rumahnya.
Baginya rumah adalah tempat ternyaman untuknya beristirahat tapi nyatanya dia malah dibikin pusing dan capek mendengar pertengkaran kedua orangtuanya setiap pulang dan setiap malam.
"Amira tunggu nak!" teriak Nia dan Jaki mencoba menghentikan kepergian Amira.
Dulu dia sangat menghormati kedua orangtuanya yang selalu mengajarkannya hal baik tapi saat dia tumbuh dewasa kenyataannya berubah, perilaku kedua orangtuanya tidak lagi menjadi cerminan mereka malah mengecewakan Amira.
"Ini semua gara-gara kamu Nia." Jaki pergi setelah melihat anaknya marah kepadanya.
"Berhenti salahkan aku Pak, lihat perilaku kamu apakah sudah benar?" teriak Nia tak kuasa menahan tangis.
Amira pun nekat pergi dari rumahnya, langkah kakinya lebar-lebar tak ingin lagi menoleh atau kembali ke rumah itu, suasana hatinya sedang kacau dia tidak tahu harus pergi kemana hari sudah semakin sore sebentar lagi adzan magrib berkumandang.
"Astaghfirullah, aku gak tahu harus pergi kemana tapi aku juga tidak mau tinggal di rumah itu kedua orangtuanyaku terus bertengkar membuat hatiku sakit melihatnya," lirih Amira yang terduduk dibangku taman pinggir jalan air matanya masih terus menetes.
Di pikiran Amira masih terbayang-bayang pertengkaran hebat kedua orangtuanya membuat air matanya semakin deras menetes. Dia mencoba menghubungi seseorang yang mungkin mau membantunya.
"Astaghfirullah Mira, kok bisa sih kamu kabur?"
Terdengar suara dari seberang sana yang terkejut mendengar ceritanya, Amira pun tak kuasa menahan tangisnya.
"Ya sudah aku jemput ya kamu kirim saja alamat kamu sekarang ada dimana, ingat jangan pergi sebelum aku datang ya!" Panik seseorang itu panik mendengar jika Amira kabur dari rumahnya dan kini sedang berada di jalan tidak tahu harus pergi kemana.
Disaat seperti ini Amira tahu siapa yang harus dia hubungi, seseorang yang selalu siap membantunya, mendengarkan ceritanya dan bisa memberikannya nasehat.