Cinta Tertinggal
Perhatian Xtra
"Sabar ngapa, 'kan aku capek!" sungut Diah langsung menyambar minum dari atas meja.
"Banyak kali iklan kau!" oceh Eka yang sebal karena menunggu.
Aku memilih melanjutkan bersiap sembari menanti cerita Diah sementara Eka masuk ke kamar.
"Elvan!" cakapnya menatapku.
Diah tahu Elvan sebab dia pernah uji coba ikut kelas bahasa di lembaga kursus milik pria itu.
Tanpa sadar, dahiku mengernyit mendengar nama Elvan disebut Diah. Mau apa dia disekitar sini, pikirku.
"Yakin?" tukasku pada Diah.
Gadis itu mengangguk. "Yakin, dia nanyain kamu," ujarnya sembari membelalakkan matanya.
"What!!!!" Eka tiba-tiba nongol dari pintu kamar dan bergabung dengan kami. "Ngapain?" cecarnya lagi.
"Nyariin kos Arina, lah. Mau ngapel kali," jawab Diah bersungut-sungut.
Aku menghela napas panjang. "Elvan emang ngajar matkul bahasa asing di kelasku, kok," kataku sambil bangkit menuju pintu.
Giliran Eka yang terkejut dan beralih mellhatku. "WHAT!!"
"Dia dan ayahnya dah jelasin perihal kasus Ari. Tapi, kalau urusan nyari aku ya entahlah," balasku sembari menekan tuas pintu dan membukanya.
Terdengar suara gaduh karena kedua sahabatku berusaha mengejar.
Aku hanya menggeleng sambil menapaki anak tangga turun. Akhirnya kujelaskan pada mereka kejadian saat ayah Elvan datang di waktu lalu.
Eka tampak tak terima, persis reaksiku saat kali pertama mendengar penjelasan mereka. Dia protes tapi aku memilih menghentikan kasus tersebut, demi ibu.
"Lalu ibu bagaimana? Kamu mampu jelasin?" sanggah Eka masih penuh emosi. Sementara Diah hanya diam menatapku.
"In sya Allah." Aku meninggalkan kosan dengan langkah mantap.
Saat menunggu ojol di sisi jalan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depanku. Aku pun mundur beberapa langkah ke belakang.
Kaca samping kiri itu lalu perlahan turun dan tampak seorang gadis dalam balutan jas tersenyum padaku.
"Nona Maisy?" tanyanya padaku.
Aku celingukan, mencari orang lain di sekitar. Siapa tau, ada Maisy lain yang dia maksud.
"Anda!" sambungnya seraya menunjuk padaku. Dia pun lantas turun dan memutari mobil. "Silakan." Gadis ini membuka pintu lalu menyilakanku masuk.
Teringat kejadian saat dicegat preman, tubuhku otomatis menolak. Kakiku mundur perlahan-lahan agar dia tak curiga.
Tapi, tampaknya gadis itu menyadari kegugupanku. Dengan sigap, dia menahan lenganku dan sedikit membungkukkan badannya di depanku.
"Saya Sila driver nyonya Atin Syahbana, beliau oma tuan muda Syaban. Mohon maaf, lupa memperkenalkan diri," katanya ramah.
Aku menepis lembut cekalannya. "Maaf, Kak. Apa maksudnya ini?" tanyaku.
Ojol online yang kupesan akhirnya tiba. Aku hendak ke sana tapi lenganku kembali ditahan si gadis.
"Ikut dengan saya, Nona Maisy. Ojolnya tetap saya payment," katanya lagi sambil menarikku masuk ke mobil.
Lagi-lagi aku menolak. "Nggak, ah."
Saat kutolak, tiba-tiba ekspresi wajah ramah ini berubah drastis. Tatapan matanya tajam menusuk membuatku bergidik ngeri.
Dengan perasaan takut, aku mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Setelah memberikan kompensasi pada Abang ojol, gadis berjas hitam ini pun kembali duduk di balik kemudi.
Sepanjang perjalanan kami habiskan dalam diam. Dia menurunkan aku di ujung basemen, entah apa tujuannya. Yang pasti, aku jadi lebih jauh menuju lift di lobby.
Saat aku mulai turun dan beranjak menjauh, sebuah pesan dari sang gadis terdengar.
"Saya tunggu di sini, saat jam pulang kerja," katanya datar menatapku.
"Untuk apa?" cicitku menoleh padanya sebelum beranjak.
"Mengantar Anda pulang," sambung sang gadis dengan nada datar. "Ini permintaan nyonya besar."
Aku membola tapi hanya diam, beringsut minggir dan menutup pintu mobil. Tak lama, kendaraan mewah itu melesat keluar basemen. Menyisakan banyak tanya dibenakku.
Kutapaki langkah menuju kubikelku sambil terus memikirkan kejadian tadi. Aku terus berjalan menunduk dan rupanya sikapku diperhatikan seseorang.
"Rin!" sapanya lembut, dari arah samping.
Aku menoleh dan langsung disuguhi oleh senyuman manis disertai tatapan teduh. Wangi Citrus dan oak mendominasi penciumanku karena jarak kami yang begitu dekat.
"Malah bengong ... sakit?" tanyanya lagi masih dengan kelembutan.
"Pagi, Pak!" balasku canggung meski melempar senyum sebelum mengalihkan pandangan.
"Pagi, Maisy ... setelah meeting, kita ke floor sama-sama," katanya sembari menarik ujung bibirnya ke atas, lalu melangkah cepat mendahuluiku.
Deg!
Deg!
Deg!
Aku berhenti, meraba dada yang tiba-tiba membuat napasku sedikit berat. 'Apa ini?' batinku.
Kugelengkan kepala pelan, berusaha menepis bisikan hati tentang perhatian tak biasa yang Syaban berikan akhir-akhir ini. Aku memang belum pernah mengenal cinta, tapi bukan berarti aku bodoh.
Aktivitas hari ini sangat padat tapi entah mengapa aku tidak merasa lelah padahal kita berdua ke sana sini dengan staf lain.
Pembawaan Syaban yang tenang, sesekali bercanda membuat suasana kerja di akhir bulan lebih santai dan enteng. Bukan bagai sidang amal di Yaumil hisab, dibayangi hawa neraka.
Tapi kuakui, letih mulai menyergap ketika jam pulang kantor tiba. Kakiku sangat pegal, rasanya ingin langsung pulang dan mandi air hangat lalu merendam tungkai dengan larutan garam.
Aku kini berdiri di barisan belakang ... memilih masuk ke lift terakhir agar leluasa bersandar di dinding kotak besi itu, seorang diri. Tapi, kiranya aku keliru.
Asisten Syaban malah kini berdiri di sampingku seraya membawa sesuatu di tangannya.
"Anda lelah, Nona?" lirih Arman. Bibir si asisten itu kulihat nyaris tak bergerak meski dia bicara. Kemampuan luar biasa, pikirku.
Aku meliriknya dan menggeleng. "Tidak!" jawabku singkat.
Ting!
Pintu lift terbuka, aku gegas masuk lebih dulu dan memilih berdiri di sudut.
Tiba-tiba asisten Syaban ini mengeluarkan sesuatu dari goodie bag yang dia bawa dan membungkuk, meletakkannya di hadapanku.
"Silakan ganti sepatu Anda dengan sandal ini, Nona."
Aku melongo, dan beringsut sampai membentur dinding lift. Takut akan sikap Arman, karena hanya ada kita berdua di dalam sini.
Badanku membeku, membiarkan Arman berjongkok memandangi sandal itu di lantai lift.
"Jangan membuat saya kehilangan gaji bulan ini, Nona. Mohon kerjasamanya," ujarnya lagi sembari bangun menegakkan tubuhnya dan berdiri di tempat semula.
"Hah? Apa hubungannya?" tanyaku tak paham, dengan bibir membulat.
Dia melepaskan napas panjang sebelum bicara padaku meski tatapannya lurus ke arah pintu.
"Kalau Anda keluar lift tidak memakai sandal itu, Bos Syaban akan memotong gajiku ... satpam basement bakal membuat ban mobilku kempes dan ponselku disita agar tidak dapat memesan ojol." Suara Arman terdengar berat dan tertekan.
Aku terkekeh mendengar segala keluhan si asisten. Wajahnya sangat datar dan ucapannya tadi bernada putus asa.
"Anda puas? Lima detik lagi pintu ini terbuka, saya harus siap-siap tapi saya enggan memohon pada Anda," sambung Arman lagi.
Aku tertawa lepas. "Pak Arman, nasib diujung tanduk tapi gengsi segede gunung," kataku sambil melepas sepatu dan memakai sandal teplek.
Benar saja, saat pintu lift terbuka, satpam sudah menunggu dan langsung melihat ke arah bawah sambil membungkuk pada kami.
Beberapa pasang mata melihat aku membawa tas belanja ini sampai ke arah basemen. Dan di sana, lagi-lagi aku mendapat sesuatu di luar kebiasaan.
Sila sudah menunggu. Tanpa banyak bicara dia menggiringku masuk dan gegas menekan pedal gas meninggalkan gedung.
"Aku kudu minta penjelasan Pak Syaban, jangan sampai semua ini menimbulkan gosip," gumamku sambil mengetik pesan di ponsel.
Namun, tiba-tiba sebuah nama terpampang di layar ponselku.
"Kebetulan!" gumamku sembari menggeser tombol hijau ke atas layar. "Halo!"
.
.