Dia yang Tertinggal
BARISAN ANGKA ACAK 3
Tangan Badri meremas rambutnya. Kenapa semua jadi serumit ini? Gumam Badri dalam hati.
“Om, apa aku harus ke alamat ini?”
“Tuntaskan apa yang perlu dituntaskan.” Adi memberikan semangat sambil menepuk bahu Badri pelan. Dia bisa merasakan Badri sedang dalam masalah.
Setelah Badri berpamitan dan keluar dari ruangannya, Adi meraih ponselnya menghubungi seseorang.
“Anak itu sudah tahu. Kamu sudah bisa menjalankan tugasmu dari sekarang.”
***
Pru masuk ke dalam kamar Badri. Dia heran karena Badri buru-buru pergi tanpa pamit.
Ada sebuah buku yang tergelatak di atas meja kecil di samping ranjang Badri. Kondisi buku yang dalam keadaan terbuka menandakan kalau Badri mungkin baru saja selesai membacanya. Pru mengambil buku itu lalu membaca pada halaman yang terbuka.
Linda hamil. Kabar itu tentu saja tidak akan berlalu dari telingaku. Kabar susulan datang dan membuatku kembali merasakan gelombang kebahagiaan yang tidak pernah sama dengan sebelumnya. Jenis kelamin calon cucu pertamaku adalah laki-laki. Sepertinya aku bisa pensiun dan menikmati hari tuaku sebentar lagi. Dua pewaris Rasyid Grup sudah lebih dari cukup untuk membuatku bisa bernafas lega.
Tamri sudah membuktikan dengan sangat baik bahwa dirinya seorang Rasyid. Aku bangga ketika dia menolak uluran tanganku dan lebih memilih berjuang dengan kakinya sendiri. Aku tidak pernah membuang Tamri dari urutan pertama daftar pewaris Rasyid Grup. Pilihannya untuk pergi dari rumah dan membangun bisnisnya sendiri semakin membuatku yakin bahwa hanya dialah yang pantas meneruskan tongkat estafet yang saat ini sedang aku pegang.
Aku ingin sekali mengajak Tamri mengenang masa kecilnya. Hanya ada aku dan dia. Kami akan membuat racikan robusta dan arabika yang dicampur menjadi satu. Kami akan menghirupnya sampai paru-paru kami penuh dengan aroma kopi. Lalu meminumnya perlahan-lahan dalam hitungan sepuluh yang diacak.
Pru tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Paragraf terakhir yang dibacanya mengingatkan Pru kepada deretan angka yang dia hafal di luar kepala. Sejak dia SD, Tamri selalu mengajaknya bermain sambil menghafalkan sebaris angka-angka. Bahkan hingga saat ini Pru kerapkali menjadikan deretan angka itu sebagai password emailnya.
Penuh rasa ingin tahu, Pru membolak-balik buku itu dari halaman pertama. Ternyata buku itu milik Arkan. Rasa ingin tahu Pru semakin menjadi. Kenapa Arkan menyerahkan buku ini? Kenapa juga Arkan menyinggung deretan angka seperti yang sering dibahas oleh Tamri? Apa hubungan keduanya dengan angka-angka itu?
Pru berpikir untuk menghubungi Linda. Selama ini dia tidak pernah menceritakan atau menanyakan perihal angka-angka itu kepada Linda. Pru merasa deretan angka itu adalah rahasia dia dengan Tamri. Namun, mungkin saja mamanya tahu sesuatu.
Pru mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menelpon Linda. Segera setelah panggilannya terjawab, Pru langsung bertanya mengenai deretan angka itu.
Linda memberikan sebuah alamat kepada Pru. Berikut pesan kalau Pru harus menemui orang itu saat ini juga.
Pru berpikir cepat. Dia tidak mungkin pamit kepada Badri atau Fauzan. Kedua orang itu dengan tegas melarang Pru meninggalkan rumah ini. Pru keluar dari kamar Badri dengan mengendap-endap. Untunglah, Fauzan masih ada di teras atas. Gegas Pru memesan taksi online yang akan mengantarkannya ke alamat yang tadi diberikan Linda.
Tak sampai lima belas menit, taksi online yang Pru pesan sudah tiba. Pru yang memang sudah siap, secepat kilat berlari menuju taksi online tersebut.
Pru memandang rumah sederhana yang kini ada di depannya. Sekali lagi Pru mencocokan alamat yang diberikan oleh Linda. Sudah benar. Rumah itu tampak sepi. Sepertinya sudah lama tidak ditinggali. Namun, hal itu tidak menyurutkan niat Pru untuk memuaskan rasa ingin tahunya.
Pru melangkah memasuki halaman rumah yang tidak begitu luas tetapi terasa sangat asri. Dia membayangkan taman kecil di sudut kanan depan rumah itu pasti dirawat dengan sepenuh hati. Semua tanamannya terlihat sangat hidup. Sampai di depan pintu, Pru memencet bel beberapa kali sebelum muncul sosok laki-laki paruh baya yang membukakan pintu.
“Siapa, ya?” tanya laki-laki yang usianya mungkin tidak terlalu jauh berbeda dengan usia Arkan.
“Saya Pruistin, mohon maaf, Pak, saya mencari Pak Samud. Apa beliau ada?”
“Ada keperluan apa kamu mencari Samud?” tanya laki-laki itu lagi tanpa menyuruh Pru masuk ke dalam terlebih dahulu.
“Saya disuruh mama saya untuk bertemu Pak Samud.”
“Siapa nama kedua orang tua kamu?”
“Papa saya Tamri Akmal, mama saya Linda Anita.”
“Kamu Pruistin Rasyid?” Laki-laki itu menegaskan.
“Iya, Pak. Saya Pruistin Rasyid.”
“Masuk. Sayalah yang kamu cari. Saya Samudera, kamu bisa memanggil saya Samud.”
Kali ini ucapannya terdengar lebih ramah di telinga Pru. Setelah dipersilakan masuk, Pru mengikuti Samud masuk ke dalam rumahnya.
***
Linda masih duduk di salah satu sisi tokonya yang menghadap ke pintu masuk. Tangan lentik itu sedikit gemetar memegang ponsel yang baru saja dimatikan. Cerita tentang barisan angka acak di tahun keempat pernikahannya dengan Tamri hanya dia anggap ucapan iseng Tamri dan dia sudah lama menguburnya entah di bagian ingatan yang mana. Bahkan Linda sendiri tidak yakin apakah dia masih mengingatnya atau tidak.
“Hon, aku nggak tahu hidup kita ke depan seperti apa. Obrolan sama Papa menyadarkanku kalau kita nggak bisa memegang kendali atas apa yang akan terjadi nanti. Kelak, kalau aku lupa atau aku udah nggak bisa lagi ada di samping kamu, aku mau kamu bisa menjaga anak-anak kita menjalani takdirnya.”
“Kamu ngomong apa, sih? Kita, tuh, pasti menua bersama, Yang.” Linda merebahkan kepalanya di sisi kanan pundak Tamri. Sontak Tamri mengubah posisi tangannya agar dapat dijadikan bantal bagi Linda.
“Aku udah bicara semua hal sama Papa,” Tamri masih melanjutkan ceritanya, “Angka-angka acak dan kebiasaan minum kopi yang Papa ajarkan dari dulu itu adalah angka kombinasi untuk membuka sebuah kotak. Papa menyimpannya di suatu tempat yang dia rahasiakan dariku. Tapi ada satu orang yang tahu dengan pasti tempat itu. Namanya Samudera. Aku sudah menyimpan alamatnya di brankas kita. Kalau nanti salah satu dari dua anak kita datang bertanya tentang barisan angka-angka, tolong kamu suruh dia menemui Samudera.” Tamri terus saja membelai lembut kepala Linda.
“Yang, omongan kamu itu bikin aku takut. Kamu nggak usah mikir aneh-aneh. Kita bakalan bersama sampai tua.” Linda makin merapatkan tubuhnya mencari kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan Tamri.
“Sebelumnya, aku berpikir kalau duniaku sudah cukup dengan adanya kamu sama anak-anak. Aku bisa lepas dari kewajibanku sebagai penerus Rasyid Grup dan memberikan kehidupan yang nyaman untuk kalian. Tapi ucapan Papa nggak bisa aku abaikan, Hon. Aku yang pergi dari rumah Rasyid, bukan mereka yang mengusirku. Papa sama sekali tidak mau mengubah surat wasiatnya. Beliau masih terus mengharapkan aku akan kembali ke sana dan menggantikan Papa di Rasyid Grup.”
“Sepertinya kamu memang ingin kembali ke rumah, ya?”
“Sebagai anak Papa dan Mama, jelas aku sangat ingin pulang, Hon. Aku nggak pernah benar-benar bisa pergi. Lain lagi kalau sebagai penerus Rasyid Grup, sepertinya aku masih berat. Tapi aku paham omongan Papa, apakah anak-anakku nantinya bisa menghindar seperti aku? Padahal tatanan keluarga Rasyid sudah dibuat sedemikian rupa. Aku belum tentu bisa melindungi anak-anakku.”
“Kamu bisa melindungi aku dan anak-anak kita. Kita akan bersama dalam waktu yang sangat lama. Tentunya kita juga akan melihat dan menemani anak-anak sampai mereka memberikan kita cucu.”
“Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, Hon. Kamu tahu banget, aku cuma mau selamanya bersama kalian. Walaupun Badri ada di tangan Fauzan, tapi aku akan berusaha agar kita bisa tetap dekat dengan dia. Sekali lagi, aku ingin kamu paham kalau suatu hari anak-anak kita bertanya tentang angka-angka acak, tolong kasih alamat Samudera kepadanya.”
“Bagaimana kalau Samudera pindah dan tidak tinggal di alamat itu lagi?”
“Kamu jangan khawatir. Papa sudah mengatur semuanya agar Samudera bisa melakukan tugasnya dengan paripurna.”
Dan malam itu berlalu seperti malam-malam sebelumnya. Pelukan hangat Tamri menjadi pelengkap mimpi-mimpi mereka.
***