Dia yang Tertinggal
KOTAK PANDORA
Ruang tamu itu tidak terlalu luas. Beberapa foto keluarga Samudera terpasang di dinding. Pru duduk sambil mengamati foto-foto yang sepertinya sudah lumayan lama. Sementara Samud masuk ke dalam. Tak lama Samud muncul diikuti seorang perempuan yang usianya tampak tidak jauh berbeda. Di tangan perempuan itu ada sebuah nampan yang berisi dua gelas minuman. Dari foto yang tadi dilihatnya, Pru bisa menduga kalau perempuan itu adalah istri Samud.
“Diminum dulu, Nak. Maaf, siapa namanya?” tanya perempuan itu sambil meletakan gelas yang dibawanya di atas meja.
“Saya Pruistin, Bu.” Pru bangkit sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Oh iya, saya istrinya Pak Samud. Silakan dilanjut.” Perempuan itu kembali masuk ke dalam setelah menerima uluran tangan Pru.
“Saya yakin, kamu datang ke sini pasti karena ingin tahu tentang angka-angka yang diberikan oleh Tamri. Betul?” Samud bertanya tanpa basa basi.
Pru sedikit terkejut dengan pertanyaan Samud. Sejak tadi, dia tidak bisa menemukan keramahan layaknya tuan rumah yang baru pertama kali bertemu dengan tamunya. Sikap Samud terasa sangat dingin bagi Pru.
“Iya Pak. Saya ke sini karena mama saya menyuruh ke sini. Tadi saya telepon Mama, menanyakan maksud deretan angka yang dulu sering disebutkan Papa. Mama tidak menjelaskan, tapi memberikan alamat Pak Samud sambil berpesan saya harus bertemu dengan Pak Samud segera.”
“Kamu sudah membaca tulisan dalam buku Arkan?”
“Bagaimana Pak Samud bisa tahu?” Pru tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Saya sudah tahu, cepat atau lambat kamu akan datang ke sini. Deretan angka yang diberikan Tamri tidak akan berarti apa-apa kalau kamu tidak mendapat perintah langsung dari Arkan atau membaca bukunya.”
“Memangnya ada apa dengan deretan angka itu?”
“Angka-angka itu adalah kunci untuk membuka kotak deposit yang ada di Bank Mandiri Teluk Betung. Hanya orang-orang pilihan Arkan yang bisa mengetahui angka-angka itu. Sekarang lebih baik kamu pulang. Tunggulah beberapa hari lagi sampai pembacaan surat wasiat dari Arkan selesai. Kalau pengacara Arkan bisa membacakan surat wasiat itu, kamu tidak perlu membuka kotak deposit di Bank Mandiri itu. Tapi kalau sesuatu terjadi sebelum pembacaan surat wasiat, kamu harus segera datang ke Bank Mandiri. Katakan kepada pimpinan bank itu kalau kamu ingin membuka kotak pandora.”
“Kenapa saya tidak bisa ke sana sekarang, Pak? Bukankah kalau saya ke sana sekarang, masalah ini bisa cepat selesai?”
“Nggak bisa. Saya tidak akan mengatakan untuk ketiga kalinya. Sekarang kamu pulang dan tunggulah beberapa hari. Sopir saya akan mengantarkan kamu pulang.”
“Saya bisa pulang sendiri, Pak.”
“Kamu pulang diantar sopir. Saya harus memastikan kamu baik-baik saja sampai rumah kamu. Dan ingat, jangan memaksa ke Bank Mandiri saat ini. Seharusnya kamu paham dengan yang saya katakan tadi.”
“Baik, Pak,” cicit Pru. Tidak ada pilihan lain bagi Pru selain menuruti perintah Samud. Meski semuanya makin samar dan abu-abu, Pru harus bersabar menunggu.
Setelah sopir yang diperintahkan Samud untuk mengantar Pru pulang siap, Pru pun pamit meninggalkan Samud yang masih berdiri sampai mobil itu menghilang dari pandangan matanya. Samud kembali masuk ke ruang tamu lalu duduk. Nafasnya sedikit terengah seolah dia telah berlari kencang. Bulir keringat tampak sedikit membasahi rambut di keningnya. Samud tidak pernah menyangka kalau akhirnya dia benar-benar didatangi salah satu anak Tamri.
Lebih dari dua puluh tahun lalu, Samudera yang saat itu menjabat sebagai kepala cabang Bank Mandiri Teluk Betung dipanggil oleh Arkan Rasyid untuk datang ke rumahnya. Tentu saja Samud sangat terkejut. Samud tidak menemukan sesuatu yang istimewa dalam dirinya hingga seorang Arkan Rasyid memanggilnya. Sempat terpikir mungkin dia melakukan kesalahan yang menyinggung keluarga konglomerat itu. Namun rasa-rasanya tidak. Bank yang dipimpinnya tidak pernah bersinggungan dengan nama Rasyid. Dengan pikiran yang bergemuruh, Samud pun mendatangi Arkan di kediamannya.
“Saya butuh bantuan kamu,” ujar Arkan memulai pembicaraan.
“Bantuan dari saya? Apa Pak Arkan tidak salah?” Samud bertanya bingung. Siapa dia hingga Arkan membutuhkan bantuannya.
“Saya membutuhkan deposit box di tempat kamu. Saya ingin menyimpan sesuatu yang sangat berharga tapi jangan sampai ada seorang pun tahu. Tolong kamu atur deposit box itu atas nama kamu. Jangan ada jejak saya sedikit pun,” perintah Arkan dengan nada yang sangat sulit untuk dibantah.
Samud tahu diri untuk tidak menanyakan lebih detail lagi. Dia yakin, setiap kalimat tanya yang keluar dari bibirnya jelas akan membuat Arkan tidak nyaman dan mungkin saja Arkan akan mengurungkan niatnya.
Samud berpikir permintaan Arkan bukan hal yang sulit untuk dipenuhi. Cukup menyediakan deposit box atas namanya lalu membiarkan Arkan menyimpan barang yang dia anggap paling berharga di sana. Kadang Samud tidak habis pikir, kenapa Arkan mau membayar dengan biaya yang bikin geleng-geleng kepala hanya untuk sebuah deposit box.
Untuk beberapa tahun, semuanya berjalan baik-baik saja. Bahkan Samud yang sudah pensiun hampir melupakan deposit atas namanya kalau saja empat bulan lalu Arkan tidak menghubunginya.
Masih segar dalam ingatan Samud hari itu, empat bulan lalu, Arkan Rasyid, berdiri di depan pintu rumahnya. Jarum jam baru menunjukan pukul tujuh pagi ketika pemandangan itu sanggup membuat Samud nyaris terkena serangan jantung.
Arkan datang sendirian. Bahkan tanpa diantar sopir. Padahal Samud tahu pasti, saat itu kondisi kesehatan Arkan sedang tidak baik-baik saja. Beberapa media ramai memberitakan bagaimana kesehatan Arkan yang menurun drastis.
Pagi itu, Arkan datang bukan saja untuk mengejutkan Samud. Dua rahasia besar dititipkan oleh Arkan kepada Samud. Seseorang yang sangat jauh dari lingkaran Arkan.
“Saat ini, aku tidak bisa percaya sama siapa pun. Tolong kamu simpan dokumen ini dalam deposit box atas nama kamu. Dokumen awal yang ada di sana, harus kamu hancurkan segera. Aku yakin kalau kamu tidak akan pernah membaca isi dari dokumen ini atau dokumen yang lalu. Aku minta tolong kamu menjaga rahasia ini bahkan meski dengan nyawamu. Kelak, ada seseorang bernama Badri atau Pruistin yang akan datang menemuimu. Jika dia membahas angka-angka atau deretan angka yang kamu tidak tahu, maka kamu harus menuntunnya menuju deposit box itu.”
Samud tidak mampu bersuara untuk menanggapi ucapan Arkan. Kalau boleh jujur, Samud belum bisa memahami situasi seperti apa yang terjadi saat itu hingga Arkan terlihat sedikit cemas.
“Sudah lama ada seseorang yang ingin mengakhiri hidupku.” Arkan melanjutkan ceritanya. “Selama itu pula aku tidak pernah menyadari kalau dia akan melakukannya lewat obat-obatan yang aku minum. Reaksi obat yang menjadi racun bagiku itu membutuhkan waktu yang lama. Aku baru menyadarinya setelah kemarin jatuh sakit. Tentu saja sudah terlambat untuk menghilangkan pengaruh obat-obatan itu. Aku berpacu dengan waktu. Tolong jaga dan selamatkan isi deposit box itu. Aku sudah menyiapkan biaya pendidikan untuk anak-anakmu.” Arkan memberikan dua buah amplok coklat besar.
Sampai Arkan pamit dan pergi meninggalkan rumahnya, Samud masih diam seolah terkena hipnotis. Tubuhnya gemetar akibat rasa terkejut saat mendengar cerita Arkan. Kesadarannya baru kembali saat sang istri menghampirinya.
Setelah pulih dari rasa terkejutnya, Samud membuka amplop yang diberikan Arkan. Di dalamnya masih ada lagi amplop coklat yang sudah di lak sedemikian rupa dan sebuah amplop putih yang tertulis nama Samudera di bagian depannya. Di dalam amplop putih itu ada sebuah buku tabungan dan kartu atm. Samud kembali dibuat ternganga melihat nominal yang tertera di buku tabungan itu. Lima belas miliar. Bahkan dalam mimpi pun Samud tidak pernah membayangkan bisa memiliki uang sebanyak itu.
Pagi itu juga, Samud pergi ke Bank Mandiri Teluk untuk menyimpan amplop coklat yang Arkan berikan. Dokumen lama yang sebelumnya sudah ada di deposit box, segera dibakarnya sesuai perintah Arkan.
Maka, ketika Pruistin datang sesuai prediksi Arkan, pundak Samud terasa jauh lebih ringan. Beban berat itu seolah pergi begitu saja. Samud hanya berharap setelah dia memberikan informasi kepada Pruistin, dirinya lepas dari keterikatan dengan keluarga Arkan Rasyid.
***