Dia yang Tertinggal
TAK ADA BUKTI 1
“Wah ada tamu rupanya. Mau bertemu siapa, Pak?” Fauzan masuk ke dalam ruang tamu dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Fajar. Lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Fajar. Mata Fauzan tak lepas mengawasi Fajar sambil bertanya-tanya siapa yang akan ditemui lelaki ini.
“Saya Fajar. Kebetulan saya mau bertemu Badri.” Fajar membalas uluran tangan Fauzan, tak lupa menyebutkan namanya.
“Oh iya, saya sudah mendengar nama Pak Fajar dari Badri. Maaf, lama menunggu.”
“Belum lama, kok. Saya baru datang juga. Ini Pru saja baru selesai membuatkan kopi.” Fajar menunjuk Pru yang masih memegang nampan.
“Eh, ada Pak Fajar. Padahal tadinya saya mau ke sana. Tapi saya hubungi Bapak nggak bisa terus.” Badri yang baru masuk setelah memarkirkan mobil di garasi langsung duduk di sebelah Fajar.
“Kalian sudah melihat kondisi Pak Hanafi? Tadi Pru bilang Pak Fauzan sama Badri ke rumah sakit.”
“Iya, tadi kami berdua ke rumah sakit. Tapi hanya Badri yang bisa masuk ke dalam ruang rawat inapnya. Istrinya membatasi pengunjung supaya Pak Hanafi bisa segera pulih. Oh iya, Bang, gimana tadi hasil obrolan dengan Pak Hanafi? Bapak juga belum sempat nanya sama kamu.” Fauzan menatap Badri.
“Kondisinya sudah lumayan membaik. Tapi memang masih belum bisa diajak banyak bicara. Beliau tadi hanya menekankan kalau saya harus menunggu kabar dari Pak Fajar dan tidak boleh bertindak gegabah.” Badri menjelaskan singkat.
“Apa Pak Hanafi menyinggung masalah kantornya yang terbakar? Mungkin dia mencurigai seseorang?” selidik Fajar.
Sesaat Badri bisa melihat ada kecemasan pada raut wajah Fauzan. Badri menyimpulkan kalau Fajar belum mengetahui siapa orang di belakang peristiwa kebakaran kantor Hanafi itu.
“Nggak. Beliau hanya bilang kebakaran kantor itu tidak akan memberikan dampak apa-apa terhadap keputusan yang sudah diambil Datuk.”
“Saya ke sini ingin mengajak Badri menemui seseorang. Dia mungkin bisa menyibak siapa pelaku yang sebenarnya. Tapi melihat situasi sekarang, saya berubah pikiran. Biar orang itu saja yang datang ke sini.” Fajar mengutarakan niatnya.
Setelah mendapat persetujuan dari Badri dan Fauzan, Fajar pun menghubungi Satria agar datang ke kediaman Fauzan. Saat ketiga orang itu fokus dengan pembicaraan mereka, diam-diam Pru pergi meninggalkan ruang tamu. Sesuai pesan Samud, Pru harus datang ke Bank Mandiri saat sesuatu terjadi kepada Hanafi. Pru berpikir mungkin inilah saat yang tepat dia harus melaksanakan pesan itu.
Pru masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju. Tidak lupa dia memakai masker untuk menyamarkan muka. Jika biasanya Pru berpenampilan casual dengan jilbab segi empat biasa, kini Pru mengubah penampilannya dengan memakai gamis dan jilbab lebar. Pru keluar melalui pintu samping setelah sebelumnya memastikan tidak ada seorang pun termasuk pembantu di rumah itu yang melihatnya. Pru berjalan sekitar 100 meter dari rumahnya lalu memesan taksi online.
Tidak sampai sepuluh menit, sebuah mobil datang menghampiri Pru. Sopir terlebih dahulu memastikan data Pru dan tujuan mereka. Perlahan mobil pun melaju ke arah Bank Mandiri Teluk Betung. Pru terus berdoa dalam hati semoga semuanya lancar dan tidak ketahuan oleh Badri atau Fauzan.
Setibanya di Bank Mandiri Teluk, Pru langsung mengatakan keinginannya ntuk bertemu dengan pimpinan cabang kepada satpam yang sedang berjaga.
“Bilang saja, saya Pruistin yang ingin membuka kotak pandora,” tambah Pru. Dia tahu, kalau tidak ada janji bertemu pasti akan sulit menemui pimpinan cabang.
“Silakan naik, Mbak. Kata Bapak, Mbak bisa langsung ke ruangan Bapak. Nanti di lantai dua, Mbak belok kanan, terus saja sampai ujung, ya. Ruangan Bapak yang paling ujung, Mbak.” Satpam tadi mempersilakan Pru naik.
***
Satria datang sendirian ke rumah Fauzan. Sepulangnya dari Likupang, Satria memang langsung kembali ke Lampung untuk menyelesaikan semuanya. Dia tiba di Lampung tadi malam, tapi memilih untuk istirahat sejenak.
“Ini Satria. Orang yang sangat banyak membantu saya. Satria dulu menemani saya ketika mencari tahu tentang kelahiran anak sulung Tamri yang dinyatakan meninggal. Nggak tahunya, anak itu sekarang malah ada di depan saya.” Fajar mengenalkan Satria kepada Fauzan dan Badri. Ketiganya tidak ada yang menyadari ketidakhadiran Pru sejak tadi.
“Jadi, apa yang kamu dapatkan?” tanya Fajar.
Satria mengeluarkan sebuah amplop coklat dan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya. Amplop coklat itu masih tersegel rapi. Sedangkan kotak kecil yang kini disimpan di atas meja tampak terkunci rapat.
“Aku mendapatkan ini dari Kuncoro. Paman Linda. Bisa dibilang dia adalah kakek Badri juga. Kuat dugaanku, isi amplop ini adalah salinan surat wasiat Arkan atau mungkin malah yang asli. Tapi Kuncoro tidak menyimpan kunci dari kotak ini,” ucap Satria.
Badri memejamkan mata. Kotak yang dilihatnya, sama persis dengan kotak pemberian Hanafi yang saat ini ada di kamarnya. Lalu di mana kunci untuk membuka kedua kotak tersebut? Badri pamit untuk menuju ke kamarnya dan mengambil kotak yang ada padanya. Saat melewati kamar Pru, Badri baru sadar kalau sejak tadi dia tidak melihat keberadaan adiknya.
Badri pun berhenti di depan pintu kamar Pru lalu mengetuknya sambil memanggil-manggil nama Pru. Saat tidak ada jawaban, Badri mengelilingi rumah setengah berlari. Mulutnya terus saja memanggil Pru.
“Ada apa, Bang?” Fauzan tergopoh-gopoh menghampiri Badri.
“Pru nggak ada, Pak.”
“Maksudnya?”
“Tadi pas mau ke atas, waktu lewat kamar Pru, Abang baru ingat kalau dari tadi Abang nggak lihat Pru. Abang panggil-panggil nggak ada yang nyahut.” Badri meremas rambutnya kasar. Dia tidak akan memaafkan dirinya kalau sampai terjadi apa-apa dengan Pruistin.
“Ada apa ini?” tanya Fajar yang masuk ke ruang tengah bersama Satria.
“Pru nggak ada,” jawab Fauzan singkat.
“Biar saya telepon Safuan dan anak buah saya. Semoga mereka bisa segera menemukan Pru,” putus Fajar.
Badri pun melanjutkan niatnya untuk mengambil kotak di kamarnya. Sekuat mungkin dia berusaha untuk tetap tenang dan berdoa semoga Pru baik-baik saja.
***
Sementara itu, di Bank Mandiri, Pru diterima dengan baik oleh Teguh Prayoga yang saat ini menjadi pimpinan cabang bank tersebut. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya sesuai dengan perintah Samud, kini Pru sudah berhadapan dengan deposit box yang diberikan Teguh. Pru membuka kunci deposit box dengan memasukkan kombinasi angka acak yang sudah sangat dihafalnya.
Ceklek. Suara kunci yang terbuka memecah keheningan ruangan yang sejak tadi dirasakan oleh Pru. Kotak itu sudah terbuka. Tampak dua buah gulungan berbentuk tabung dengan ukuran yang berbeda. Pru segera mengambil kedua gulungan itu dan memasukkannya ke dalam tas. Pru ingin secepatnya pulang ke rumah dan memperlihatkan isi deposit box itu kepada Badri.
Setelah berpamitan kepada Teguh, gegas Pru memesan kembali taksi online. Matanya awas mengamati keadaan sekeliling sambil berharap tidak ada orang yang akan mengenalinya. Masker yang dia pakai cukup ampuh untuk menyamarkan wajahnya. Pru tersenyum lega saat taksi online pesanannya tiba.
Kali ini Pru meminta sopir turun di depan rumahnya. Tidak apa-apa jika Badri dan Fauzan marah, yang penting misinya selesai. Begitu pikir Pru.
Baru saja Pru membuka gerbang, Badri sudah lari dari dalam dan memeluknya sangat erat hingga nyaris membuat Pru kehabisan nafas.
***