Dia yang Tertinggal
TAK ADA BUKTI 2
“Kamu dari mana aja? Kenapa nggak pamit? Kan, Abang udah bilang jangan ke luar rumah sendirian. Susah amat, sih, dibilanginnya,” omel Badri.
“Bang, ajak masuk dulu adeknya,” panggil Fauzan.
Kini kelima orang itu kembali berkumpul di ruang tamu. Pru baru tahu kalau Badri meliburkan semua pekerja di rumah itu. Pantas saja sejak pagi Pru tidak melihat seorang pun yang biasanya sibuk bekerja.
“Saya Satria. Ini pasti Pruistin, ya?” tanya Satria sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Iya, saya Pruistin.” Pru menyambut uluran tangan Satria.
“Ada yang mau kamu jelaskan?” Badri menatap tajam ke arah Pru. Jantungnya masih belum berdetak dengan normal membayangkan bagaimana kalau sesuatu yang buruk menimpa Pru.
Akhirnya Pru menceritakan semuanya. Berawal dari buku milik Arkan yang dia baca di kamar Badri, nama Samudera yang diperolehnya dari Linda, hingga kejadian barusan di mana dia mendatangi Bank Mandiri dan bertemu dengan Teguh. Dari dalam tasnya, Pru mengeluarkan dua buah tabung yang diambil dari deposit box dan menyerahkannya kepada Badri. Kali ini Pru tidak akan menyembunyikan apa-apa lagi dari Badri.
Badri mengambil kedua tabung itu dan membukanya. Tabung pertama yang berukuran lebih kecil ternyata berisi dua buah kunci. Langsung saja Badri mencoba dua kunci itu untuk membuka kotak yang ada padanya dan kotak yang dibawa oleh Satria. Cocok. Dua kotak itu kini terbuka dengan sempurna. Ternyata kotak-kotak itu berisi recorder yang nyaris sama bentuk dan ukurannya.
Tangan Badri kini beralih ke tabung satunya lagi. Tabung kedua ternyata berisi sebuah amplop coklat yang sama persis dengan amplop yang tadi dibawa oleh Satria. Segel yang terlihat pun benar-benar sama. Sedangkan satu lagi isi dari tabung kedua itu adalah sebuah kunci. Kelima orang di situ saling pandang dengan pikiran yang hampir sama, kunci apalagi ini?
“Dua amplop cokelat ini sepertinya berisi surat wasiat Arkan. Kita tidak bisa membukanya sekarang. Kita harus diskusi dulu dengan Pak Hanafi. Semoga kita bisa menemukan titik terang dari dua recorder ini.” Satria berkata sambil memandang empat orang yang ada di depannya. Tangan Satria mengambil salah satu recorder dan menyalakannya.
Kamu tahu, rasanya dada ini sudah tidak sanggup lagi untuk menampung semua rahasia. Ingin aku bawa mati, tapi aku tahu itu tidak akan menyelesaikan masalah. Aku tidak sekuat dulu. Tubuh renta ini hanya tinggal menunggu waktu. Tapi aku tidak punya nyali untuk berhadapan dengan para leluhurku. Aku telah gagal. Tatanan keluarga ini begitu rapuh di tanganku...
Terdengar suara Arkan yang sedang berbicara kepada Arif. Arkan menjelaskan dengan gamblang bagaimana dia terpaksa harus menutupi kebusukan Saka dan Aji, mengembalikan kehormatan Rasyid, disusul dengan kecurigaan Arkan kalau ada seseorang yang sengaja menginginkan kematian Tamri. Lalu dugaan Arkan tentang Badri serta perintah Arkan agar Arif menjauh dari Lampung.
Badri Abadi adalah pewaris sahku. Kamu harus memastikan surat dan rekaman ini benar-benar bisa dibaca dan didengar oleh seluruh anggota keluarga Rasyid. Aku juga tidak akan membebani Badri atau keturunanku yang lain dengan aturan perjodohan konyol yang nantinya malah merenggut kebahagiaan mereka, entah untuk kepentingan bisnis maupun politis. Aku percaya Badri mampu menjalankan seluruh wasiatku. Dia hanya butuh waktu dan kepercayaan.
Rekaman berdurasi tiga puluh delapan menit itu pun akhirnya berhenti. Badri nyaris tidak bisa bernafas mengetahui sebagian kecil rahasia keluarga besarnya. Di balik besarnya nama Rasyid, ternyata ada pilar yang rapuh dan sudah nyaris roboh. Tangan Satria berpindah ke recorder yang satunya lagi.
Isi recorder itu adalah suara Arkan yang sedang membacakan surat wasiatnya sekaligus rician pembagian warisan dari Rasyid Grup untuk seluruh anggota keluarga Arkan. Satria menduga apa yang diucapkan Arkan bisa jadi sama persis dengan isi dokumen dalam amplop coklat yang dibawa oleh dia dan Pruistin.
“Seperti yang sudah saya katakan kepada Mas Fajar, saya sudah mengantongi nama tersangka. Hanya saja saya masih perlu bukti yang kuat. Ucapan Pak Arkan yang saya dengar ternyata tidak jauh berbeda.”
“Bagaimana Pak Satria bisa menduga itu?” Pru tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Saya harus memaksa orang itu keluar dan menampakan dirinya sendiri. Kalau hanya bicara bukti fisik, saya yakin masih sangat lemah. Saya perlu dukungan dari semua yang ada di sini berikut Pak Hanafi. Kita nyaris sudah kehabisan waktu.”
Kemudian Satria memaparkan rencananya. Sesekali Fajar dan Badri menimpali. Sedangkan Fauzan dan Pruistin tidak banyak berkomentar.
***
Fajar dan Satria kini ada di dalam kamar hotel tempat Satria menginap. Satria tidak menduga, setelah bertahun-tahun kini dia bisa mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal yang benar dan menggantikan kesalahan informasi yang dulu dia berikan kepada Arkan.
Karir Satria di Badan Intelijen Negara memang termasuk cemerlang. Meski sebanding dengan harga yang harus dia bayar. Selain jarang sekali punya waktu untuk istri dan keluarganya, Satria juga harus menutupi keberadaannya saat menjalankan tugas. Dia tidak mau keluarganya terancam. Pencarian anak sulung Tamri menjadi pintu masuk Satria ke dalam Rasyid Grup.
Saat itu, Satria memang hanya diminta membantu penyidikan oleh Fajar yang merupakan atasannya di BIN. Namun, entah mengapa, Satria langsung bisa merasakan kalau dirinya dan keluarga Rasyid sudah diikat oleh sebuah hubungan yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Kegagalan Satria kala itu tidak membuat dia menjauh dari keluarga Rasyid.
Apalagi ketika Satria memilih menjadi intelijen swasta. Arkan langsung mengikatnya dengan perjanjian tak tersurat. Satria mengundurkan diri tepat ketika anak sulungnya meninggal karena kecelakaan motor. Anak lelaki itu ikut kebut-kebutan bersama teman-temannya dan berakhir dengan meregang nyawa. Sejak itu Satria selalu dihantui perasaan bersalah dan merasa telah gagal sebagai seorang ayah. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk pekerjaan daripada mendampingi tumbuh kembang anaknya.
Kondisi istrinya yang begitu terpuruk memantapkan hati Satria untuk tidak terikat lagi dengan lembaga negara yang menjadi batu pijakannya sebagai seorang intelijen. Setelah bertahun-tahun bekerja sendiri dan terkadang dibantu oleh beberapa rekannya yang masih aktif, Satria akhirnya kembali membuat simpul baru dengan keluarga Rasyid. Kasus yang menimpa Aji Rasyid membuat Arkan memintanya langsung untuk menyelidiki kebenarannya.
Laporan yang disampaikan Satria membuat Arkan puas sekaligus berang. Aji terlibat dalam kasus suap yang melibatkan Bupati Lampung Utara. Kabar itu menjadi pukulan telak bagi Arkan. Politik dan kekuasaan adalah dua hal yang menjadi larangan keluarga Rasyid. Bukan hanya Zulkifli, bahkan Edward pun sudah dengan tegas menuliskan dalam surat wasiatnya. Arkan bisa memahami alasan leluhurnya itu. Politik yang sudah bersanding dengan kekuasaan, menjadi godaan kuat yang bisa menarik seseorang ke dalam kehancuran. Rasyid memiliki uang, kendaraan yang sangat bagus untuk menciptakan sebuah kekuasaan.
Kali ini, Aji membuktikannya. Kekuasaan dan uang yang ada dalam genggaman Aji membuat adiknya itu goyah dan makin merasa dahaga. Aji sudah termakan ambisi dan keserakahan sehingga tidak lagi mengenal kata cukup. Itulah yang membuatnya terlibat dalam kasus suap.
***