Dibalik Secangkir Teh
Laras Rasa di Titilaras 1
“Apakah ada orang yang ingin Mbak Ratih temui atau mungkin Mbak Ratih peluk?”
“Mungkin ada, Mas.”
“Saya meracik Temuipeluk saat berkolaborasi dengan seorang rencang nglaras dalam sebuah pameran. Kami ‘menciptakan’ sebuah rumah yang di dalamnya tentu saja ada kami. Karena saat ini banyak sekali yang tidak peduli arti sebuah rumah sebagai tempat kita pulang. Temuipeluk adalah perpaduan teh hitam dari Gunung Lawu tepatnya dari Perkebunan Bukit Kemuning, akar cemara, jahe, daun pandan, dan mawar. Hadirnya akar cemara ini memberikan sensasi manis, bahkan jika kita tidak mencampurkan gula ke dalamnya.”
“Pertemuan memang selalu terasa lebih manis jika disertai pelukan.”
“Dan lebih hangat, Mbak. Kalau Mbak Ratih mau berbagi sedikit tentang keinginan Mbak Ratih untuk menemui dan memeluk seseorang, mungkin saya bisa menyeduh dengan racikan yang sesuai kondisi Mbak Ratih saat ini.”
“Bukankah setiap racikan sudah ada takarannya, Mas?”
“Tidak selalu, Mbak. Saya bisa mengubah takaran sesuai cerita yang saya tangkap dari rencang nglaras.”
Aku berpikir sejenak. Menimbang apakah aku harus bercerita atau tidak. Setelah hampir dua menit diam, akhirnya aku beranjak bangun dari tempatku semula menuju satu dari tiga Jendela Titilaras. Di sana, Mas Aji seperti sengaja sedang menungguku. Dia sudah siap dengan kondimen-kondimen Temuipeluk.
“Jendela Titilaras sudah saya buka lebar Mbak. Kondimen Temuipeluk juga sudah siap. Monggo kalau Mbak Ratih ingin memulai narasi Temuipeluk.”
Nada suara Mas Aji tidak memerintah. Sangat jauh pula dari kata menuntut. Dia seolah memberikan ruang dan jeda yang cukup agar aku mampu merancang narasi yang ingin aku sampaikan.
Sungguh, aku selalu membenci situasi ini. Berbagi cerita tentang kehidupan pribadiku kepada orang lain bukanlah yang menyenangkan bagiku. Aku juga benci terhadap orang yang selalu ingin tahu hidup orang lain.
Tiga Jendela Titilaras terbuka lebar. Aku duduk di depan salah satunya. Sedangkan dua jendela lain ditempati beberapa rencang nglaras yang sepertinya sudah sering mampir. Seperti layaknya pasar tradisional, di sini pun tidak ada AC yang bisa membuat udara tetap sejuk. Lalu, aku memilih mengunci rapat mulutku. Tak ada satu narasi pun yang mengalir dan bisa didengar Mas Aji. Biarlah dia menyeduh racikan Temuipeluk sesuai keinginannya. Tanpa ada masukan lewat ceritaku.
***
"MAS, izin untuk merekam pas proses nyeduh tehnya ya."
Seorang laki-laki muda mendatangi Mas Aji yang masih ngobrol denganku, tetapi tangannya sigap menyeduh teh yang aku pesan. Dilihat dari tampilannya, sepertinya dia seorang mahasiswa.
Mas Aji memperbolehkannya mengabadikan momen tersebut dan membebaskan para tamu lain mengambil sudut pandang dari mana pun asal masih sopan dan tidak mengganggu saat proses seduh menyeduh. Aku segera menyingkir dari Jendela Titilaras. Tahu diri bahwa aku tidak selayaknya masuk dalam bingkai kamera orang-orang yang ingin memotret Mas Aji di balik Jendela Titilaras.
Banyak di antara tamu yang singgah di Jendela Titilaras mengungkapkan baru pertama kali melihat kejadian itu. Ada juga yang bilang jarang sekali menemui momen ketika proses pembuatan suatu menu ditampilkan di depan pemesannya secara langsung. Apalagi sembari bersama menikmati sebuah proses seduh ini selalu menimbulkan sebuah perbincangan menarik. Obrolan demi obrolan terus saja berkembang.
Menurut Mas Aji, Jendela Titilaras memang mengusung sebuah interaksi seperti itu. Dia sadar akan sebuah isu di mana manusia sebagai makhluk hidup sosial sudah mulai kehilangan kemampuan dasarnya yaitu interaksi dengan sesama. Jendela Titilaras ini menjadi salah satu media untuk Mas Aji dan para rencang nglaras sama-sama belajar tentang interaksi tersebut. Dari hal itu pula ternyata sebagai manusia kita diajarkan untuk lebih bisa mengolah kepekaan rasa.
“Mas, kenapa memilih menyajikan teh? Padahal, di tempat lainnya lebih banyak menyajikan kopi," tanya pengunjung yang duduk di jendela ketiga.
“Saya sudah sering sekali mendapat pertanyaan seperti itu dari tamu yang singgah di Jendela Titilaras. Pada dasarnya, Titilaras merupakan kedai kecil di Pasar Gede yang menyajikan menu dasarnya kopi dan teh, maka dari itu nama Titilaras ada embel-embel Kedai Kopi dan Teh. Mungkin yang termanifestasikan dari apa yang saya mau dulu sudah berjalan hari ini, sadar dengan minuman yang menjadi ciri khas dan paling favorit di Kota Solo inilah yang membuat saya mau dan berkenan belajar untuk menyajikan teh. Pada dasarnya minum teh di Solo bukan menjadi sebuah ‘ritual’ pada pengertian sesungguhnya seperti di Inggris, Cina, dan Jepang, tetapi nyatanya ngeteh ini menjadi sebuat rutinitas yang tak bisa ditinggalkan oleh orang Solo dan sekitarnya. Bahkan, saya sendiri sudah menikmati teh dari kecil hingga saat ini, rasanya sehari gak ngeteh itu kayak ada yang kurang,” Mas Aji menjelaskan sambil terkekeh.
"Terus Mas, kalau di Titilaras ini ngeteh-nya condong ke tradisi cara ngeteh dari negara mana? Cina atau Jepang?" tanya tamu yang lain.
"Sebenarnya, saya sendiri belum memahami lebih dalam atau mengetahui tata upacara ngeteh dari Cina atau Jepang. Mungkin beberapa ornamen kedai seperti teapot, gelas dan alasnya menyerempet ke Jepang. Tradisi ngeteh Cina dan Jepang itu levelnya sudah paling tinggi, bahkan sampai ada upacara khususnya. Tapi, kami di Jendela Titilaras hanya menampilkan cara ngeteh yang sederhana saja.”
“Sederhana itu seperti apa, Mas?”
“Kalau tanya bagaimana cara menikmati teh sederhana, kami sarankan ketika diminum jangan langsung ditelan. Diamkan seduhan teh yang sudah diseruput di dalam mulut selama dua atau tiga detik. Ingat jangan langsung ditelan, nanti malah enggak bisa tahu rasanya teh ini bagaimana. Biarkan lidah bercengkrama dengan teh dan saling mengenal satu sama lain. Nanti pasti akan tahu nikmatnya teh seperti apa. Kalau masih panas ya jangan dipaksa diseruput. Nanti lidahnya malah luka."
"Mas, enggak bosen ya setiap hari melakukan kegiatan sama di kedai?"
“Bosen ya pernah. Mencintai pekerjaan yang dicintai tidak semudah yang dibayangkan. Tidak akan selalu mulus jalannya setiap hari. Bagaikan pasangan atau orang yang kita cintai, nyatanya setiap hal yang selalu kita cintai ada saja menemui titik jenuhnya atau bosan. Itu termasuk dalam berkarya. Mungkin ada satu dua hal yang mengakibatkan adanya muncul perasaan tersebut, ya pasti ada juga titik di mana saya jenuh dengan kegiatan di kedai, makanya saya selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar tidak larut dalam perputaran titik jenuh tersebut. Saya selalu mempunyai trik yang membuat saya bisa memulihkan semangat saya dalam berkarya di kedai, salah satunya dolan-dolan ke tempat lain atau bertemu dengan beberapa teman. Kita harus bisa menumbuhkan cinta di setiap saat, agar kita bisa selalu punya rasa kangen terhadap ‘berkarya’ yang kita cintai.”
"Barusan saya mendengar Mas menyebut kata berkarya. Kenapa Mas memilih kata berkarya daripada bekerja?"
“Menurut saya, kata ‘berkarya’ memiliki makna yang lebih luas dan secara tidak langsung menyangkut sebuah cipta karya yang kita ciptakan dan tuangkan. Pemilihan kata berkarya sendiri bisa diartikan memiliki jiwa di dalam hasilnya. Dan ternyata pemilihan kata berkarya dalam perjalanannya sendiri bisa meciptakan alur, ruang, ekosistem, ritme dan makna tersendiri dari si empu. Sedangkan kata bekerja, menurut saya hanya akan selalu mengikuti sebuah hal yang telah ada. Tapi kedua kata itu enggak ada bedanya kalau dilihat dari soal rezeki. Sama-sama enggak akan tertukar dan sudah ada takarannya.”
***