Dibalik Secangkir Teh
Menemui dan Memeluk 2
Tak mungkin terus-menerus terpuruk dan meratap, aku mulai membantu emak mengelola Laras Rasa. Baru saja aku mulai merasakan kenyamanan, Covid menyerang kesehatan emak hingga beberapa minggu kemudian emak berpulang menyusul abah.
Sejak itu, aku bertekad untuk memegang toko kue Laras Rasa sepenuhnya. Hubunganku dengan kedua orang tuaku masih sama. Hambar. Tidak pernah memanas, tetapi juga tidak mesra. Beruntung, om dan tanteku tidak ada yang melarang aku menjadi penerus Laras Rasa.
Nyatanya, meneruskan Laras Rasa yang sudah berdiri lebih dari tiga dekade tidak semudah yang aku bayangkan. Keputusanku membuka dua cabang dan menambah karyawan tidak membuat toko kue ini makin berkembang dan makin mapan. Aku malah kewalahan dengan berbagai masalah yang sebelumnya tidak pernah aku prediksi.
Aku harus membangun kembali konektivitas. Terutama dengan ibu. Bagaimana mungkin aku bisa membaur secara tulus dengan para pekerja, jika masih ada noda di dalam hatiku? Ibu menjadi prioritas yang ingin aku temui dan aku peluk.
Rasanya aku sudah tidak bisa lagi bersembunyi dari keadaan ini. Aku bukan emak yang bisa menutup rapat rahasia besarnya.
Aku ingin memeluk ibu. Mengatakan bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Keputusanku membuka dua cabang Laras Rasa menyebabkan kondisi keuangan toko benar-benar goyah. Aku meminjam uang Rp2,5 miliar ke bank dengan menjaminkan toko kue Laras Rasa peninggalan emak. Bukan jumlah yang kecil.
Tamu yang bernama petaka itu datang beberapa bulan lalu karena aku sudah menunggak cicilan ke bank lebih dari empat bulan. Dua toko Laras Rasa yang baru tidak bisa memberikan hasil seperti yang aku prediksi. Padahal, aku sudah menggelontorkan hampir semua tabungan dan pinjaman yang ada. Aku yang tidak memiliki pengalaman apa pun dalam berbisnis telah mengakibatkan kerugian yang begitu besar.
Aku tidak punya pilihan selain harus segera membayar utang beserta bunganya. Berminggu-minggu aku mencoba mencari solusi dengan cara meminjam kepada om, tante, uwa, para sepupu, dan beberapa teman. Namun, hasilnya nihil. Satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah menjual jaminan, yaitu ruko yang kini menjadi Toko Kue Laras Rasa.
Jangan tanya bagaimana perasaanku. Aku sudah seperti orang gila. Berhari-hari aku hanya mengurung diri di kamar. Aku membiarkan Mbak Ani sendirian mengurus toko hingga dia kelelahan dan putus asa melihatku yang tidak mengambil tindakan sama sekali.
Om, tante, dan uwa jelas menekanku. Mereka menyalahkanku karena sudah berani menjaminkan ruko ke bank. Sorot kebencian perlahan mulai bisa aku lihat di mata mereka. Entahlah, sejak dulu aku selalu merasa asing di tengah keramaian saat mereka berkumpul. Aku sama sekali tidak bisa membaur dengan adik-adikku, apalagi saudara-saudara sepupuku. Ada tembok yang tak bisa aku tembus. Tembok yang tidak nyata, tetapi selalu terasa sakit tiap kali aku menabraknya.
Sampai Ajeng datang dan memberikan banyak pencerahan. Lepaskan! Kata itu yang Ajeng tekankan kepadaku.
“Lepaskan kalau memang kamu tidak bisa mengenggamnya dengan baik. Jangan memaksakan diri untuk tetap memiliki jika itu hanya akan menyakiti diri sendiri dan orang di sekitarmu,” ujar Ajeng penuh ketegasan.
Setelah memikirkan banyak hal, aku mulai mencoba berdamai dengan situasi bahwa aku harus rela melepaskan ruko itu. Hasil penjualan ruko ditaksir bisa menutupi lebih dari separuh hutang. Sisanya, aku harus berpikir lagi mencari ke mana. Mungkin inilah saatnya aku terbuka kepada bapak dan ibuku. Sejujurnya, kepergian abah membuatku seolah tak lagi memiliki pegangan dan arah untuk melanjutkan langkah.
***
Andai abah masih ada, sudah pasti abahlah satu-satunya orang yang ingin aku temui dan aku peluk dengan erat saat ini. Aku merasa kalau aku lebih mirip abah dibandingkan bapak. Bahkan, aku tidak menemukan satu karakter pun yang sama antara aku dan bapak. Namun, jika disandingkan dengan ibu, akan terlihat jelas betapa banyaknya kesamaan di antara kami.
Sebagian dari sifat dan karakterku menurun sempurna dari abah. Abah adalah tipe pemberontak yang selalu ingin melewati batas kemampuannya. Abah cenderung tidak puas dengan pencapaian yang diraihnya.
Aku sadar, aku sangat mengikuti jejak abah. Aku tipikal orang yang cenderung pemberontak dan tidak suka berada dalam zona nyaman.
Kebersamaan abah dan aku di masa kecilku jelas sangat berpengaruh besar. Abah sangat suka membaca buku. Koleksi buku abah banyak sekali. Sedari kecil, aku telah terbiasa membaca buku-buku hebat yang abah miliki. Buku tentang keagamaan, filsafat, juga biografi orang-orang luar biasa.
Abah juga sering mendongeng untukku. Ketika abah meninggal, aku pun paham bahwa sebenarnya aku sudah dipersiapkan untuk menjadi tangguh sejak kecil. Kematian itu adalah dongeng yang aku dengar dari abah saat aku masih belia. Dongeng yang aku terima menjelang tidur adalah buku tentang Imam Ali bin Abi Thalib yang abah bacakan. Bahkan buku cerita tentang 25 nabi dan rasul menjadi hadiah ulang tahunku ketika kelas 5 SD.
Mengingat abah adalah memutar kembali berbagai nilai-nilai kehidupan yang abah tanamkan di benakku. Kelak, semua nilai yang abah ajarkan ini menjadi pondasi kokoh dan menopang kakiku sehingga aku bisa tetap berjalan.
Selain membaca buku, abah juga sangat suka menonton film. Sama seperti buku, abah selalu mengajak saya untuk menonton film-film berkualitas.
“Ayo, temani abah nonton film Oscar,” kalimat itu yang selalu abah ucapkan ketika mengajakku untuk menonton film di bioskop.
Tak jarang aku mendapatkan tatapan heran dari sebagian orang yang melihat keberadaan abah dan aku di bioskop menonton film Oscar. Mungkin mereka berpikir, ‘Apa sih anak kecil nonton film itu?’ Tapi aku sangat menyukai momen itu. Beranjak SMP, ketika aku sudah bisa pergi sendiri ke bioskop, maka aku akan pergi sendiri. Aku tidak suka pergi beramai-ramai dengan teman karena kalau ramai, aku tidak bisa menikmati film itu.
Buku-buku dan film-film bagus itu sebenarnya mengajarkan aku tentang wawasan. Membuka cakrawala kepalaku. Itu semua aku dapat dari abah. Bukan dari bapak.
Sisi introvert-ku pun diwariskan dari abah. Walau sebenarnya abah adalah seorang yang humoris, abah juga sangat introvert. Abah tidak bisa cepat berbaur dengan orang-orang baru. Abah lebih suka berkumpul dengan lingkungan yang sudah dia kenal dan bisa membuatnya merasa nyaman.
Abah mengajarkan nilai kehidupan dengan cara yang luar biasa. Melalui cerita-cerita yang dikemas sangat baik dan ditanamkan mendalam pada benakku.
Dulu abah sering mengajakku bermain di kebun orang. Saat bermain itu, aku memperhatikan keberadaan alang-alang yang tumbuh terus. Meskipun sudah dibabat habis, alang-alang itu tetap saja tumbuh.
“Abah, kenapa alang-alang ini kok tumbuh terus? Tidak ada habisnya,” aku bertanya pada abah dengan rasa penasaran.
***