Dibalik Secangkir Teh

Sebuah Kebenaran 1

Malam makin larut. Tidak mungkin aku terus di luar dan meminta Aji untuk menemaniku. Aku harus kembali ke hotel. Meski aku yakin, Dimas pasti masih ada di sana. Dalam kondisi tertentu, Dimas jauh lebih keras kepala dariku. Dimas tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghadapiku. Mungkin itu pula yang membuat aku merasa nyaman di sampingnya.

Benar saja, laki-laki dengan kulit sawo matang dan bertubuh tinggi tegap itu masih setia duduk di lobi hotel. Aku tahu, cepat atau lambat aku harus menghadapinya.

Ngapain kamu masih di sini?” tanyaku sengit.

“Urusan kita belum selesai,” Dimas menjawab yakin.

“Urusan yang mana?”

“Enggak usah pura-pura lupa. Aku tahu, kamu pasti paham maksudku. Ini tentang kita. Aku sama kamu.”

“Apa lagi yang mau kamu bahas? Bukannya semua udah jelas ya? Kamu menikah terus tinggal melanjutkan hidup sama Yunita dan keluarga kecil kalian.”

“Bagaimana dengan kamu?”

Ngapain mikirin aku? Bukannya waktu kamu selingkuh pun kamu enggak pernah mikirin aku? Kalau kamu emang peduli sama aku, harusnya ya kamu enggak selingkuh.”

“Kita bicara di luar. Jangan di sini. Enggak enak sama tamu lain.”

Awalnya aku menolak saat Dimas menggamit lenganku dan membawaku keluar dari lobi hotel. Namun, tatapan resepsionis dan beberapa orang tamu hotel yang ada di lobi membuatku tidak bisa menolak. Dimas mengajakku ke tempat parkir. Aku ternganga melihat mobil Dimas yang terparkir di sana. Dia membawa mobil sendiri dari Lampung ke Solo? Pertanyaan itu menguap saat Dimas mendorong tubuhku masuk ke dalam mobil.

Dimas melajukan mobilnya entah ke mana. Luar biasa, malam belum habis dan ini kali ketiga aku keluar dari hotel. Aku diam. Tak tahu harus memulai obrolan dari mana. Dimas juga sepertinya tidak berniat membuka mulut, bahkan untuk sekadar menjelaskan ke mana dia membawaku malam ini. Aku sempat melirik, dia tampak fokus pada jalanan di depannya. Hanya napasnya saja yang terdengar sedikit kasar.

Berkendaraan berdua seperti ini membuatku terjerumus ke dalam nostalgia yang terasa begitu menyakitkan. Jauh sebelum aku dan Dimas pacaran, kami memang sangat suka berkendaraan menyusuri keindahan tiap lekuk kota. Entah naik motor atau mobil, keduanya sama-sama luar biasa. Aku menutup mata. Ingin sejenak egois dengan menikmati aroma kebersamaan dengan Dimas. Aku pikir, aroma telah pergi dan aku lupakan. Ternyata tidak. Aku masih membaui aroma yang sama, kerinduan.

“Kita mau ke mana?” akhirnya aku bertanya.

Empat puluh menit berkendara tanpa tujuan, membuatku merasa pusing. Aku lelah. Sejujurnya, saat ini aku hanya ingin segera tidur.

“Enggak tahu.”

“Gila kamu. Terus ngapain kamu dari tadi muter-muter gini?”

“Cuma mau berdua sama kamu.”

“Kita balik ke hotel,” ucapku tegas.

“Enggak.”

“Dim, jangan macam-macam. Kita balik ke hotel sekarang.”

Dimas menepikan mobilnya. Aku tak tahu entah ada di mana ini. Jalanan sudah sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat dengan kecepatan lumayan tinggi.

“Anak itu... anak itu, bukan anakku,” lirih Dimas.

“Hah?”

Jelas aku tak mengerti apa yang dikatakan Dimas.

“Anak yang dikandung dan dilahirkan Yunita, bukan anakku.”

Dimas menggenggam setir mobil makin kencang. Kalau ada sedikit saja cahaya, akan terlihat buku-buku tangannya yang memutih.

Hening. Untuk sekejap, hanya keheningan yang menemaniku dan Dimas. Apa aku nggak salah dengar? Benarkah anak itu bukan anak Dimas dan Yunita? Lalu, anak siapa? Jika benar anak itu bukan anak Dimas, aku harus bagaimana?

“Kita balik ke hotel Dim.”

Tak ada satu pun pertanyaan yang berkecamuk di benakku keluar dari bibirku. Entah mengapa, bibirku malah mengajak Dimas untuk kembali ke hotel. Padahal, jelas-jelas ada begitu banyak pertanyaan untuk Dimas.

“Pulang ke hotel?” Dimas mengulang pertanyaanku.

“Iya,” jawabku singkat.

“Tih, kamu enggak mau dengar ceritaku?”

Dimas memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku. Aku hanya meliriknya sekilas.

“Untuk apa?”

Pertanyaan ini mungkin lebih tepat jika aku tanyakan pada diriku sendiri. Untuk apa aku mendengar ceritanya? Sementara aku tahu, apa pun kebenarannya, tidak akan mengubah keadaan. Dia tetap suami Yunita. Bahkan, kebersamaan kami malam ini pun sudah sebuah kesalahan.

“Untukku. Kamu pasti bakal bilang aku egois. Ya, untuk kali ini aku sangat egois. Sejak awal Yunita bilang kalau dia hamil anakku, aku sudah ragu. Aku memang dekat sama dia, malah sangat dekat. Tapi aku enggak segila itu untuk bikin dia hamil. Otakku masih cukup waras, Tih. Kalau hanya demi nafsu, aku bisa mencari perempuan lain. Bukan Yunita yang sudah aku anggap saudara perempuanku. Aku dijebak, Tih.”

“Kamu enggak usah bohong. Apalagi untuk cari-cari alasan.”

“Cukup kamu dengar. Enggak usah kamu pikirin aku bohong atau enggak. Yunita memang hamil, seperti yang saat itu kamu tahu. Aku ingat, malam itu Yunita minta dijemput. Aku enggak mikir macam-macam. Aku jemput dia. Kepalaku lagi sakit banget. Seingatku, sebelum aku jemput Yunita, aku sempat bilang sama kamu kayaknya vertigoku kambuh. Aku juga bilang, Yunita minta jemput dan kamu kasih izin. Karena udah jam satu malam, kepalaku juga makin sakit, aku menginap di rumah Yunita. Tidak ada yang aneh menurutku. Pas pagi, Bapaknya Yunita memergoki kami tidur bareng. Aku juga enggak tahu kenapa kami bisa tidur bareng. Sejak itulah aku diminta untuk bertanggung jawab.”

“Kenapa kamu enggak nolak?”

“Kamu pikir aku diam aja? Berkali-kali aku menjelaskan enggak terjadi apa pun di malam itu. Tapi, enggak ada yang percaya. Apalagi satu setengah bulan kemudian Yunita membawa hasil test pack dan keterangan dokter yang menyatakan dia hamil. Aku bisa apa? Bahkan, kamu sendiri enggak percaya sama aku. Aku enggak punya punya pilihan selain menikah dengan Yunita. Andai kamu mau percaya sama aku, mungkin aku masih bisa mencari cara lain untuk menolak pernikahan itu.”

Aku menghembuskan napas kasar. Lagi-lagi aku yang disalahkan. Kenapa Dimas tak bertanya bagaimana caraku memulihkan luka dan tetap mencoba bersikap baik-baik saja?

“Baiklah. Aku sudah tahu ceritamu. Sekarang kita bisa pulang ke hotel.”

“Tih, are you oke?”

Dimas memegang lengan atasku.

Tubuhku seketika membeku. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ada yang bertanya apa aku baik-baik saja. Dan, itu keluar dari mulut Dimas. Orang yang tak pernah bisa aku benci sekeras apa pun aku berusaha membencinya.

Are you oke, Ratih?”

Kali ini jemari Dimas memegang dua bahuku.

Aku masih diam. Tak lama, setetes air mata luruh tanpa mampu aku cegah. Ya Tuhan, kenapa aku menangis di saat seperti ini?

“Ratih.”

Untuk ketiga kalinya, Dimas memastikan keadaanku.

Aku tak menjawabnya. Kali ini, aku menyerah pada keinginan untuk memeluk Dimas. Menumpahkan air mata yang aku pikir sudah mengering. Dada ini, masih sekokoh dulu. Memberikan rasa nyaman sekaligus kehangatan.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!