Dibalik Seragam Sekolah
Menjadi Tambah Dekat
Siang itu, lapangan sekolah terasa seperti tungku panas raksasa. Matahari menggantung tepat di atas kepala, membakar tanah yang sudah kering sejak pagi. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah hembusan angin panas dan langkah kaki beberapa siswa yang baru selesai olahraga.
Di tengah lapangan, tiga sosok terlihat berjalan mengitari garis putih sambil terengah-engah: Rendi, Aldi, dan Vino. Wajah mereka sudah merah padam, baju olahraga basah oleh keringat. Guru piket berdiri di pinggir lapangan, memegang stopwatch sambil mengawasi mereka dengan tatapan tajam.
Sudah tiga hari hukuman itu berlangsung. Setiap pagi sebelum jam masuk, mereka diwajibkan berlari 20 putaran lapangan dan piket membersihkan kamar mandi selama satu bulan penuh. Hukuman yang berat, namun setimpal setelah terbukti bahwa merekalah yang mengunci Raka di kamar mandi.
Di tepi lapangan, Raka berjalan perlahan sambil membawa tiga botol air mineral dingin. Sinar matahari menusuk kulitnya, namun ia terus melangkah, menunggu waktu tepat ketika guru piket lengah dan tiga siswa itu berhenti sebentar untuk menarik napas.
Saat langkah mereka melambat, Raka mendekat.
“Ren!” panggilnya pelan.
Rendi menoleh cepat. Wajahnya dipenuhi keringat dan rasa kesal. “Apa lagi?”
Raka berhenti di bawah bayangan tiang gawang, menyodorkan botol air.
“Ini buat kalian.”
Aldi dan Vino saling pandang. Rendi justru melotot.
“Ngapain lo ke sini?” desis Rendi.
Raka menarik napas. Ia memutuskan untuk berbicara langsung, tanpa berbelit.
“Aku mau ngomong sama kamu, Ren. Berdua.”
Meskipun ragu, Rendi akhirnya melangkah mendekat. Masih dengan napas yang terengah, masih menunjukkan gengsi yang tebal.
Raka tersenyum kecil. “Aku… udah maafin kamu.”
Rendi mengerutkan dahi, seperti tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Aku juga mau minta maaf,” lanjut Raka, “kalau gara-gara aku, kamu jadi kena hukuman. Aku tahu… kamu kayaknya nggak sengaja waktu itu.”
Rendi terdiam. Tangannya refleks mengepal, namun matanya bergerak gelisah.
Raka mengangkat botol air itu. “Ini… tanda pertemanan. Kalau kamu mau, kita bisa mulai dari awal. Aku mau kok berteman sama kamu.”
Ucapan itu seperti petir tanpa suara di kepala Rendi. Ia menatap Raka lama, seolah mencoba memahami niat sebenarnya. Tak ada amarah, tak ada dendam, tak ada tuduhan, yang ada hanya ketulusan yang membuat dada Rendi justru terasa sesak.
Dalam hati kecilnya, Rendi berpikir:
“Pantes aja Clara belain dia…”
“Dia orangnya beneran sebaik ini?”
Gengsi masih menahan lidahnya, tetapi tangannya terulur pelan, menerima air minum yang disodorkan Raka. Begitu botol berada di tangannya, ia langsung memalingkan wajah.
“Sorry,” katanya datar, “tapi gue nggak butuh temen kayak lo.”
Ia kemudian berlalu tanpa menunggu reaksi Raka.
Aldi dan Vino menatap Raka bingung, namun tak berkata apa-apa. Mereka hanya mengikuti langkah Rendi yang menjauh.
Raka tetap tersenyum kecil. Ia tahu kebaikan tidak selalu langsung diterima. Kadang, butuh waktu agar hati seseorang mencair. Tapi ia tetap berharap.
***
Jam sekolah berakhir dengan awan hitam perlahan menggantung di langit. Angin dingin berhembus, membuat daun-daun trembesi di halaman sekolah bergoyang. Banyak siswa buru-buru berlari ke kantin untuk berteduh, sementara yang lain menunggu jemputan.
Raka mengambil sepedanya yang diparkir di sudut sekolah. Ia merapikan tasnya dan siap pulang ketika tetes air pertama jatuh mengenai pipinya.
Lalu hujan turun sangat deras, seolah langit menumpahkan seluruh isinya sekaligus.
Ia hendak mengayuh sepeda ketika sebuah tangan kasar menarik kerah belakang seragamnya.
“Lo!” suara itu berat, penuh amarah.
Raka menoleh cepat. Vino berdiri tepat di depannya, wajahnya memerah dan basah oleh hujan, matanya tajam penuh emosi.
“Gara-gara lo, gue harus dihukum gini!” Vino mencengkram kerah Raka semakin kuat. “Lo bikin semuanya makin parah! Kalau lo diem aja kemarin, kita nggak bakal kayak gini!”
Raka mundur satu langkah, tapi Vino menahan.
“Aku nggak pernah bilang kalian harus dihukum,” jawab Raka pelan. “Aku cuma bilang yang sebenarnya terjadi.”
“ALASAN!” Vino mendorongnya hingga Raka hampir jatuh.
Hujan semakin deras. Petir menyambar jauh di belakang gedung sekolah. Beberapa siswa mulai memperhatikan, namun tak ada yang berani mendekat.
Vino mengangkat tangannya, siap memukul—
Namun sebelum tinjunya sempat mendarat, sebuah tangan lain memegang pergelangan tangan Vino kuat-kuat.
“Cukup, Vino!”
Suara itu jelas, tegas dan dingin yaitu Viola.
Ia muncul dari balik hujan, rambutnya basah, seragamnya menempel pada tubuhnya, namun tatapannya tak gentar sedikit pun. Dengan kekuatan yang mengejutkan, ia menarik tangan Vino hingga lelaki itu kehilangan keseimbangan sedikit.
“Kalau kamu mukul Raka,” suara Viola hampir bergetar karena marah, “kamu bakal diskors. Kamu mau tambah masalah?!”
Vino terdiam. Napasnya berat, marahnya belum padam, tetapi kata-kata Viola seperti membentur dinding keras yang menghentikannya.
“Udah,” kata Viola lebih pelan. “Ayo pulang. Kita basah kuyup.”
Raka menelan ludah. “Viola, nggak apa—”
“Diam, Raka,” potong Viola tanpa menoleh. “Ini bukan salahmu.”
Ia kemudian menarik lengan Vino dan menyeretnya perlahan menjauh. Vino masih menatap Raka penuh dendam, tetapi ia tak melawan tarikan sahabatnya itu. Keduanya menghilang di balik derasnya hujan.
***
Raka menarik napas panjang. Dadanya masih berdebar, bukan karena takut, tapi karena merasa bersalah. Ia menunduk dan hendak mengambil sepedanya ketika seseorang muncul dari arah gerbang.
“Raka!”
Suara yang lembut, namun jelas. Clara!!
Ia berlari kecil sambil memegang payung, wajahnya cemas melihat kondisi Raka yang basah kuyup. Mobil keluarganya terparkir tak jauh dari situ, dengan sopir yang menunggu di dalam.
“Kamu mau kemana naik sepeda hujan-hujan gini?” tanya Clara panik.
“Pulang,” jawab Raka singkat.
“Tapi kamu bisa sakit, Ra! Masuk mobil, biar aku antar.”
Raka menggeleng. “Nggak usah. Rumahku dekat kok.”
Clara menatapnya lama. Ada sesuatu dalam tatapannya—bukan hanya kecemasan, tapi juga rasa ingin melindungi. Tanpa pikir panjang, ia memegang lengan Raka dan menariknya lembut.
“Raka. Dengar aku. Masuk mobil. Sekarang.”
Nada suaranya tidak mengancam, tapi tidak memberi ruang untuk ditolak. Raka terdiam, lalu akhirnya mengangguk pelan.
Clara tersenyum lega. “Bagus.”
Mereka berjalan cepat ke arah mobil. Sopir segera membuka pintu belakang.
Saat Raka duduk di kursi, air hujan masih menetes dari rambutnya. Clara duduk di sebelahnya, menutup pintu, lalu menyodorkan handuk kecil yang ia ambil dari dalam tas.
“Lap badannya, nanti masuk angin,” katanya.
Raka menerima. Wajahnya menunduk, namun ada sedikit kehangatan yang mengalir di dadanya kehangatan yang berbeda dari sebelumnya.
Mobil melaju perlahan di tengah hujan deras. Clara menatap jendela, lalu menoleh lagi pada Raka.
“Mulai hari ini… jangan pulang sendiri kalau hujan, oke? Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
Ucapan itu sederhana. Tetapi bagi Raka yang terbiasa sendirian, yang terbiasa menanggung semuanya tanpa mengeluh kata-kata Clara merupakan sesuatu yang jauh lebih berarti.
Dan tanpa disadari, itulah awal kedekatan mereka. Bukan dari senyuman, bukan dari candaan, tetapi dari sebuah hujan yang menguji hati.
"Makasih ya," ucap Raka pelan yang disambut dengan senyuman Clara.