Dibalik Seragam Sekolah

Guru Baru, Harapan Baru

Suasana hari Senin terasa berbeda sejak pertama kali Raka menginjakkan kaki di sekolah itu. Matahari bersinar lebih hangat, angin berhembus lebih tenang, dan halaman sekolah tampak jauh lebih hidup. Bukan hanya karena proyek ulang tahun sekolah semakin dekat, atau karena band yang baru terbentuk itu semakin solid, tapi karena hari ini ada seorang guru baru yang akan masuk ke kelas mereka.

 

Kabar itu menyebar sejak pekan lalu: wali kelas mereka yang lama, Pak Rijal, dipindahkan sementara ke sekolah lain untuk menangani program khusus, dan digantikan oleh guru muda dari sekolah favorit di kota sebelah.

 

Namanya: Ibu Gita Almanda.

 

Para siswa sudah sibuk menebak-nebak seperti apa gurunya nanti. Ada yang bilang tegas, ada yang bilang ramah, ada yang bilang killer, bahkan ada rumor liar kalau guru itu masih saudara jauh kepala sekolah. Apa pun itu, kelas hari ini terasa lebih riuh dari biasanya.

 

Clara duduk di bangku tengah sambil menata buku. Viola di sebelahnya sibuk mempersiapkan agenda OSIS. Bayu, seperti biasa, mengeluh karena PR matematika tidak ia kerjakan. Sementara Rendi dan Vino justru tampak… tenang. Tenang dengan cara yang aneh, seolah mereka berdua menyimpan sesuatu.

 

Raka masuk dengan senyum kecil. Ia masih membawa gitar akustiknya di tangan kiri sebuah kebiasaan baru setelah ia resmi menjadi vokalis band mereka.

 

Clara menoleh dan tersenyum, “Pagi, Ra.”

 

“Pagi juga,” jawab Raka, sedikit gugup.

 

Belakangan ini, setiap Clara bicara padanya, hatinya terasa seperti ikut dipetik, seperti senar gitar yang berbunyi lembut. Ia tidak mengerti apa itu, dan ia tidak ingin terburu-buru memikirkannya.

 

Ketika bel masuk berbunyi, seluruh kelas langsung duduk rapi. Mereka sama-sama menunggu sosok yang akan masuk dari balik pintu.

 

Hening. Detik terasa panjang.

 

Hingga—

 

Tok tok tok.

 

Pintu terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah anggun dan percaya diri. Parasnya lembut, kulitnya bersih, memakai gamis biru muda dan cardigan putih. Rambutnya tertata rapi. Ia terlihat seperti seseorang yang tegas, tapi hangat.

 

“Sebelumnya, assalamualaikum dan selamat pagi semuanya,” ujarnya sambil tersenyum.

 

“Waalaikumussalam… selamat pagi, Bu…” jawab seluruh kelas hampir bersamaan.

 

“Aku Ibu Gita Almanda. Mulai hari ini, aku menjadi wali kelas kalian. Selain itu, aku juga akan mengajar Bahasa Indonesia.”

 

Viola berbisik ke Clara, “Cantik banget ya, jelas bukan guru killer.”

 

Clara tersenyum kecil. “Kelihatannya ramah.”

 

Ibu Gita meletakkan map di meja guru, lalu berdiri tegak.

 

“Aku sudah membaca profil kalian dari wali kelas sebelumnya. Tapi aku ingin mengenal kalian langsung. Jadi hari ini kita sesi perkenalan. Bukan sekadar nama, tapi juga apa harapan kalian untuk semester ini.”

 

Siswa-siswa saling pandang. Biasanya guru hanya menyuruh memperkenalkan nama, tapi kali ini berbeda. Harapan?

 

Bayu mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Ibu, saya harap matematika ditiadakan.”

 

Seluruh kelas tertawa kecuali Aldi, yang tampak tidak mengerti mengapa itu lucu.

 

Ibu Gita tertawa pelan. “Sayang sekali, Bayu. Saya bukan guru matematika.”

 

Raka pun ikut tersenyum lebar.

 

Sesi perkenalan dimulai dari kursi depan. Clara memperkenalkan diri dengan kalem dan elegan seperti biasa. Viola membubuhkan sedikit kelakar. Rendi memperkenalkan dirinya dengan cara yang jauh lebih sopan dari biasanya, membuat beberapa teman kelas ternganga. Aldi dan Vino pun menyusul dengan sikap yang lebih dewasa.

 

Ketika tiba giliran Raka, ruangan terasa sedikit lebih hening.

 

“Aku Raka Pradipta…” ia mulai.

“Hobi menyanyi. Harapanku… semoga semester ini aku bisa lebih percaya diri dan… lebih berani tampil.” Ia tersenyum kecil. “Dan mungkin… punya lebih banyak teman.”

 

Kata terakhir membuat Rendi, Vino, dan Bayu secara bersamaan menatapnya dengan reaksi berbeda. Bayu tersenyum haru, Rendi menunduk menahan rasa bersalah, dan Vino tersenyum malu.

 

Ibu Gita memperhatikan Raka dengan tatapan lembut. “Suara kamu bagus ya? Dari cara bicara pun kedengaran tenang.”

 

Raka menunduk sedikit, malu. “Alhamdulillah… banyak yang bilang begitu.”

 

“Bagus,” kata Ibu Gita sambil mencatat sesuatu.

“Percaya diri itu bukan soal tampil sempurna, tapi soal berani mencoba. Kamu sudah mulai melangkah.”

 

Kalimat itu menancap lembut di hati Raka. Setelah sesi perkenalan selesai, Ibu Gita mulai menjelaskan aturan kelas namun caranya berbeda. Tidak seperti guru lain yang hanya menuliskan peraturan di papan tulis dan menyuruh siswa menyalin, ia membuka lembaran kertas dan membagikan “Kartu Harapan” kepada tiap murid.

 

“Ini,” katanya sambil berjalan mengelilingi kelas.

“Kalian bisa menuliskan apa yang kalian ingin capai. Tidak harus akademik. Bisa tentang diri kalian, keluarga, aktivitas, atau hal yang mungkin tidak pernah kalian beritahu siapa pun.”

 

Clara membaca kartunya dengan wajah serius.

Viola memandangnya antusias. Rendi menatap kartu itu lama, seolah membaca sesuatu dalam dirinya yang sudah lama ia tutupi. Bayu menggigit ujung pulpen, bingung harus menulis apa.

 

Sementara Raka… Ia menatap kartu itu dengan tangan bergetar.

 

“Harapan apa yang ingin kamu lakukan untuk dirimu sendiri?”

 

Pertanyaan sederhana, tapi berat karena selama ini, hidupnya selalu tentang bertahan, bukan tentang berharap.

 

Perlahan, ia menulis:

 

> Aku ingin menjadi orang yang bisa membanggakan Ibu. Aku ingin berani tampil. Aku ingin tidak lagi takut sekolah. Aku ingin bahagia… seperti orang lain.

 

 

Ia menahan napas, ketika kartu terkumpul, Ibu Gita hanya tersenyum.

 

“Aku tidak akan membacanya sekarang. Ini bukan untuk menilai kalian. Ini untuk mengingatkan kalian bahwa kalian punya arah. Dan aku… akan menemani kalian di perjalanan itu.”

 

Dalam sekejap, suasana kelas berubah. Ada kehangatan yang tidak pernah ada sebelumnya. Seolah seseorang membuka jendela baru di ruang yang gelap, membiarkan cahaya masuk.

 

 

***

 

Saat jam istirahat tiba, siswa-siswa berhamburan keluar. Sebagian menuju kantin, sebagian keluar kelas. Raka merapikan buku-bukunya sebelum ikut Bayu ke kantin. Tapi seseorang menghampirinya dari belakang.

 

“Raka,” panggil sebuah suara lembut.

 

Raka menoleh. Ibu Gita berdiri di depan pintu kelas.

 

“Boleh bicara sebentar?”

 

“Boleh, Bu… ada apa ya?”

 

Ibu Gita tersenyum hangat. “Aku cuma ingin bilang, kamu punya mata yang… hidup. Anak-anak dengan mata seperti itu biasanya menyimpan sesuatu yang besar dalam diri mereka. Jangan pernah matikan cahaya itu.”

 

Raka tertegun.

Perkataan itu bukan hanya motivasi biasa. Bukan kalimat hafalan dari buku guru. Ada ketulusan yang murni.

 

Saat ia hendak menjawab, Ibu Gita menepuk lembut bahunya. “Kamu akan jadi besar, Raka. Asal kamu tetap berani mencoba.”

 

Raka tidak sempat menjawab. Ibu Gita sudah melangkah pergi melewati lorong kelas dengan langkah tegap.

 

Untuk pertama kalinya sejak lama…

Raka merasa benar-benar terlihat. Dilihat sebagai seseorang yang punya potensi, bukan beban. Sebagai seorang anak yang bisa tumbuh, bukan seseorang yang harus bersembunyi. Damai itu terasa hingga ke dadanya.

 

Di luar kelas, Clara memanggilnya dengan melambaikan tangan. “Rak! Ayo makan bareng!”

 

Raka tersenyum dan berlari kecil ke arah mereka.

Bayu menggeliat senang, Vino menyodorkan roti, Rendi menarik kursi untuk Raka.

 

Untuk pertama kalinya…

Raka duduk bersama bukan sebagai anak yang dijauhi, bukan korban, bukan pelarian.

Tapi sebagai teman. Bagian dari mereka.

 

Sambil makan, Raka menatap langit biru jauh di atas sana. Hari ini, dengan guru baru dan suasana baru, ia merasa sesuatu yang belum pernah ia rasakan yaitu ada Harapan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!