Dibalik Seragam Sekolah
Persiapan Panggung Ulang Tahun Sekolah
Pagi itu halaman sekolah sudah berubah menjadi lautan kesibukan. Panggung besar tengah didirikan di tengah lapangan, sementara stand bazar berjajar rapi di sisi kiri. Spanduk bertuliskan “Perayaan Ulang Tahun Sekolah ke-45” tergantung tinggi, berkibar pelan ditiup angin. Hari itu, seluruh panitia gabungan OSIS, MPK, Klub Seni, sampai komunitas musik bergerak seperti semut yang membawa tugas masing-masing.
Raffi, ketua OSIS yang terkenal tegas namun humoris, berjalan sambil memegang papan klip berisi daftar persiapan. Ia memanggil beberapa panitia lain dengan suara lantang.
“Bagian panggung, pastikan kabelnya aman semua. Jangan ada yang longgar. Resti, kumpulkan semua voucher belanja, jangan sampai tercecer. Itu penting banget untuk pengunjung nanti!”
Resti, gadis mungil berkerudung dengan kacamata bulat, mengangkat amplop besar berisi ratusan voucher. “Siap, ketua! Ini sudah direkap. Nanti aku bagi sesuai stand bazar yang sudah terdaftar.”
Raffi mengacungkan jempol. “Mantap! Kita harus pastikan acara besok berjalan smooth.”
Sementara itu, Rendi dan beberapa teman laki-laki lain sedang sibuk di panggung utama. Mereka menaiki tangga kecil untuk memasang lampu sorot dan speaker tambahan. Suara palu, gesekan kabel, dan percakapan panik memenuhi udara.
“Rendi! Lampunya agak miring, bisa lurusin sedikit?” teriak salah satu panitia.
“Siap, bentar!” jawab Rendi dari atas panggung sambil mengencangkan baut lampu.
Ia bekerja cepat, cekatan. Meskipun keringat mengalir di pelipisnya, wajahnya tetap fokus. Panggung adalah bagian yang paling penting dari acara ini tempat penampilan band, tari tradisional, teatrikal, dan sambutan kepala sekolah akan digelar. Karena itu, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.
***
Di sisi lain lapangan, Raka berjalan sambil menenteng clipboard yang sama seperti Raffi. Bedanya, daftar yang ia pegang adalah khusus untuk divisi dekorasi dan bazar. Setelah memastikan sudut panggung aman, ia mencari satu orang yang sejak tadi tidak terlihat.
“Clara mana, ya?” gumamnya sambil menyipitkan mata, mencoba menemukan gadis itu di tengah kerumunan panitia.
Biasanya Clara ada di area panggung membantu Rendi dan Aldi, tetapi kali ini tidak tampak batang hidungnya. Bayu yang menyadari tatapan Raka hanya menghela napas dan menepuk bahu temannya itu.
“Lu cari Clara, ya?” Bayu menebak tepat sasaran.
Raka terdiam sesaat, lalu mengangguk kecil. “Dia harusnya bantu panitia inti. Tapi nggak ada.”
Bayu tertawa kecil, “Udah, cek aja di area bazar. Kayaknya tadi ada yang bilang Clara bantu stand makanan.”
Raka mengucapkan terima kasih dan segera melangkah menuju sisi kiri halaman, tempat beberapa stand bazar mulai berdiri. Meja-meja panjang sudah ditata, walau beberapa masih miring dan perlu dirapikan. Di sana ia melihat rambut panjang yang diikat setengah, dan tubuh mungil seorang gadis yang sedang berusaha mendorong meja sendirian.
Clara tersentak, hampir menjatuhkan gelas plastik kecil yang ada di atas meja. “Hah? Raka? Astaga, dari tadi kamu di sana?”
Raka hanya tersenyum. “Ini meja berat, Clar. Kenapa nggak bilang? Dua tangan lebih baik daripada satu.”
Clara tertawa kecil, pipinya sedikit memerah karena kaget. “Makasih ya, Rak.”
“Udah dapet tugas masing-masing. Kamu kenapa kerja sendiri begini?”
Clara menghela napas. “Petugas stand yang lain lagi ambilin barang di gudang. Aku pikir… mumpung nunggu, aku beresin dulu.”
Raka menaikkan sebelah alisnya. “Jangan dipaksain. Yang berat-berat itu bagiannya cowok.”
Clara mengangkat tangan dan memberi hormat sambil tersenyum lebar. “Siap ketua!”
Raka menggeleng pelan, tertawa. Keduanya mengangkat meja itu bersama-sama dan menempatkannya di posisi yang lebih tepat. Setelah semua rapi, mereka menepuk-nepuk tangan sendiri seperti pekerja bangga yang baru menyelesaikan misi.
***
Sementara itu, Rendi, Aldi, Vino, dan beberapa anak kelas sembilan sedang sibuk di panggung utama. Mereka memasang lampu-lampu mini di pinggir backdrop, merangkai kabel panjang, dan memastikan sound system tidak meledak seperti latihan minggu lalu.
“Raffi! Kabel ini colok ke mana?” teriak Vino sambil memegang gulungan kabel.
“Ke colokan deket drum! Tapi jangan salah lagi, Vin! Kemarin kamu bikin listrik satu aula mati!” balas Raffi dari atas tangga.
Aldi tertawa keras. “Vino, kalau salah colok lagi kita semua bakal gelap-gelapan kayak film horror.”
“Lu kira gue sengaja?” Vino menggerutu.
Rendi mendengus sambil mengencangkan baut di salah satu rangka panggung, sedangkan Resti sibuk memeriksa daftar bazar. “Clar, kamu dapat 20 voucher untuk dibagikan besok. Satu orang cuma boleh ambil satu, ya.”
Clara mengangguk. “Siap, Rest. Aku akan jaga stand-nya.”
Raffi kemudian mendekat sambil membawa papan klip. “Oke, konfirmasi terakhir untuk bazar ya. Stand Clara sudah siap?”
“Sudah,” jawab Raka mendahului. “Barusan kita beresin meja dan dekorasinya.”
“Bagus,” kata Raffi. “Ingat, kita punya susunan acara yang padat. Setelah pembukaan, bazar mulai langsung rame. Jadi pastikan stand kamu siap dari jam 7.30.”
Clara mengangguk dengan tekad. “Siap, ketua OSIS!”
Raffi membaca ulang jadwal di papan klipnya:
Susunan Acara Ulang Tahun Sekolah:
1. Pembukaan oleh MC
2. Sambutan Kepala Sekolah
3. Penampilan Tari Tradisional
4. Penampilan Band Sekolah
5. Pembacaan Puisi
6. Lomba Karaoke Antar Kelas
7. Bazar dan Voucher Promo
8. Pengumuman Doorprize
9. Penutup
“Semua bagian harus siap sesuai timeline,” lanjut Raffi. “Khusus band, latihan terakhir nanti sore ya.”
Raka mengangguk. “Sudah dijadwalkan. Mereka siap.”
***
Setelah semua selesai di stand Clara, gadis itu terlihat sedikit letih. Gerakan tangannya melambat, dan napasnya agak berat.
Raka memperhatikan itu. “Clara, sudah selesai semua? Kayaknya kamu perlu istirahat bentar.”
“Kayaknya iya…” jawab Clara lirih. “Dari pagi belum duduk.”
Tanpa banyak bicara, Raka meraih botol minum dingin yang dibawa di tas kecilnya dan menyerahkannya pada Clara. “Nih, minum dulu.”
Clara menerimanya, matanya sedikit terbelalak. “Kamu bawa dua botol?”
“Emang sengaja,” jawab Raka sambil duduk di sisi meja. “Biasanya ada aja yang lupa minum.”
Clara tertawa kecil. “Maksudnya biasanya aku, ya?”
Raka hanya tersenyum—senyum yang tidak membantah tapi juga tidak membenarkan.
“Yuk, ke kursi sana. Kita istirahat sebentar. Nanti kalau kamu tumbang, berabe semuanya.”
Clara mengangguk dan mengikuti Raka ke kursi panjang di bawah pohon besar. Angin semilir membuat suasananya terasa adem. Dari tempat itu, mereka bisa melihat seluruh panitia bekerja dengan penuh semangat. Suara orang memanggil, suara tawa, dan suara palu bersahut-sahutan.
Clara meneguk airnya perlahan. “Rak, menurut kamu… besok bakal berjalan lancar nggak?”
“Pasti lancar,” jawab Raka mantap. “Kamu tahu kenapa?”
“Kenapa?”
“Soalnya semua orang kerja keras. Raffi bolak-balik ngecek sampai sandal dia hampir putus, Resti sibuk jagain voucher kaya jaga harta karun, Rendi sampai naik turun panggung kayak atlet…. Dan kamu juga kerja keras dari pagi.”
Clara terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Iya, semua orang berusaha banget ya.”
Raka mencondongkan sedikit tubuhnya. “Dan ingat, kalau kamu capek, bilang. Jangan nahan sendiri.”
Clara memandang Raka, sedikit tersentuh oleh perhatiannya. “Makasih, Rak. Serius. Kamu perhatian banget.”
Raka mengalihkan pandangan sambil menghela napas pelan, pura-pura cuek. “Ya… soalnya kamu bagian penting dari acara ini.”
Clara tersipu, tapi juga tersenyum hangat.
***
Beberapa saat kemudian, Raffi muncul sambil membawa megafon. “Oke semuaaa! Istirahat 15 menit! Setelah itu lanjut finishing panggung dan sound check!”
Panitia bersorak kecil tanda lega. Banyak yang turun dari panggung untuk minum dan istirahat.
Rendi menghampiri mereka sambil mengusap keringat. “Clara, meja bazarmu udah siap?”
“Udah, barusan selesai!” kata Clara ceria.
“Bagus! Besok pasti rame!”
Raka menepuk bahu Rendi. “Istirahat dulu, Ren. Tadi kamu naik turun terus.”
“Sip, bos!” jawab Rendi sambil duduk di tanah, kelelahan.
Waktu terus berjalan. Langit mulai menguning, tanda sore menjelang. Panitia kembali bekerja setelah istirahat, menyiapkan detail-detail terakhir untuk ulang tahun sekolah yang dinanti. Semua bergerak dengan semangat baru.
Dan ketika Clara berdiri untuk kembali melanjutkan tugas kecilnya, Raka sudah lebih dulu berdiri di sampingnya.
“Siap kerja lagi?” tanya Raka sambil tersenyum.
Clara mengangguk. “Siap. Kita harus pastikan acara ulang tahun sekolah ini jadi yang terbaik.”
Mereka berjalan kembali ke lapangan, menyatu dalam hiruk-pikuk persiapan. Besok, hari besar menunggu dan semuanya ingin memberikan usaha terbaik.