Dibalik Seragam Sekolah
Pilihan Yang Tak Mudah
Pagi itu berjalan seperti hari-hari sekolah lainnya.
Raka duduk di bangkunya, membuka buku pelajaran sambil menunggu guru masuk. Cahaya matahari menyelinap lewat jendela kelas, memantul di permukaan meja yang penuh coretan nama siswa. Di luar, beberapa anak masih bercanda, sebagian lagi berlarian mengejar bel yang hampir berbunyi. Suara langkah kaki dan tawa kecil bercampur menjadi kebisingan khas pagi hari.
Tidak ada yang istimewa hingga wali kelasnya, Pak Arman, memanggil namanya setelah jam pelajaran selesai.
“Raka, sebentar ya. Ada yang ingin Bapak sampaikan.”
Raka menoleh, sedikit terkejut, lalu mengangguk. Ia menunggu di depan meja guru saat teman-temannya satu per satu keluar kelas. Begitu ruangan mulai sepi, Pak Arman membuka map cokelat di hadapannya, menyusun beberapa lembar kertas dengan rapi.
“Kamu tahu Olimpiade Akademik tingkat kota, kan?”
Raka mengangguk pelan. Ia pernah mendengar pengumuman itu sekilas di papan informasi sekolah, tapi tak pernah benar-benar berharap namanya ikut disebut.
“Beberapa guru merekomendasikan kamu,” lanjut Pak Arman dengan nada tenang. “Nilai kamu stabil, pemahaman kamu cepat, dan kamu konsisten. Kalau lolos, ini bisa sangat membantu rekam akademikmu. Bahkan ada peluang rekomendasi beasiswa.”
Kalimat terakhir itu membuat Raka terdiam sejenak. Kata beasiswa bergema di kepalanya, membawa bayangan wajah ibunya, dapur kecil di rumah, dan tumpukan kue yang setiap hari harus dibuat.
“Namun,” Pak Arman melanjutkan, suaranya tetap realistis, “persiapannya tidak ringan. Akan ada bimbingan tambahan, latihan soal hampir setiap hari setelah sekolah. Kamu harus siap mengorbankan waktu.”
Raka mengangguk lagi. “Saya mengerti, Pak.”
“Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Pikirkan baik-baik. Besok beri Bapak keputusan.”
Raka berpamitan dan keluar kelas dengan langkah pelan. Lorong sekolah terasa lebih panjang dari biasanya. Ia menuruni tangga dengan pikiran yang mulai penuh, meski wajahnya tetap datar.
Di koridor belakang aula, suara musik mulai terdengar. Dentingan gitar bercampur ketukan drum yang stabil. Latihan band akan dimulai seperti biasa.
Raka berhenti sejenak di depan pintu ruang musik. Tangannya menggenggam mic yang baru ia ambil dari loker. Dari balik pintu, ia bisa mendengar suara Rendi yang sedang menyetem gitar dengan fokus penuh.
Ia menarik napas, lalu masuk.
“Rak,” sapa Rendi tanpa menoleh. “Hari ini kita coba rapihin aransemen bagian akhir ya. Buat tampil bulan depan.”
“Iya,” jawab Raka singkat.
Latihan dimulai. Musik mengalir rapi, tempo pas, setiap bagian berjalan sesuai rencana. Tidak ada kesalahan berarti. Bahkan terdengar lebih solid dibanding sebelum libur.
Namun di sela jeda, Raka lebih sering diam. Ia berdiri di tempatnya, menunduk, memutar mic di tangannya tanpa sadar.
“Kamu kenapa?” tanya Vino akhirnya, memecah keheningan.
“Nggak apa-apa,” jawab Raka cepat.
Rendi melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus ke gitarnya. Tidak ada komentar lanjutan. Latihan dilanjutkan sampai selesai.
Begitu musik berhenti, Rendi mendekat sambil menyampirkan gitar ke bahunya.
“Kita bakal lebih sering latihan mulai minggu depan,” katanya. “Biar makin solid.”
Raka mengangguk, tapi kali ini ia tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai, seolah sedang menyusun kata-kata.
“Rak?” panggil Rendi.
Raka menarik napas. “Gue… mungkin ada kegiatan tambahan dari sekolah.”
Rendi berhenti bergerak. “Kegiatan apa?”
“Olimpiade akademik,” jawab Raka jujur.
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Bahkan suara kipas angin terdengar lebih jelas.
“Oh,” kata Rendi akhirnya. “Bentrok sama latihan?”
“Kayaknya iya.”
Rendi menatap Raka beberapa detik. Wajahnya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang berubah di sorot matanya. “Gue harap lu tetap komitmen sama band. Kita udah jalan sejauh ini.”
“Iya,” jawab Raka pelan. “Gue juga nggak mau ninggalin.”
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada nada tinggi. Namun kalimat itu menggantung di udara, meninggalkan beban yang sama-sama mereka rasakan.
Sore hari, Raka pulang ke rumah.
Ibunya sedang duduk di dapur, menyusun kue-kue ke dalam wadah plastik. Uap tipis masih mengepul dari loyang. Gerakannya sedikit lebih lambat dari biasanya, bahunya terlihat kaku.
“Bu, istirahat dulu,” kata Raka sambil meletakkan tasnya.
Ibunya tersenyum. “Sebentar lagi selesai.”
Raka tidak membantah. Ia langsung mencuci tangan dan membantu menyusun kemasan. Setelah semuanya rapi, ibunya duduk dan menghela napas panjang.
“Kamu kelihatan capek,” ujar ibunya sambil memijat pergelangan tangan.
“Biasa, Bu.”
Ibunya menatap Raka lebih lama dari biasanya. Tatapan yang penuh perhatian, seolah membaca sesuatu yang tidak diucapkan.
“Sekolah kamu gimana?” tanyanya.
Raka ragu sejenak, lalu bercerita tentang tawaran lomba itu. Tentang jadwal tambahan, tentang kemungkinan bentroknya waktu.
“Itu bagus,” kata ibunya tanpa ragu. “Kamu ambil.”
“Tapi—”
“Raka,” potong ibunya lembut, “kamu nggak bisa pegang semuanya sekaligus. Pilih yang paling penting buat masa depanmu. Ibu nggak apa-apa.”
Kalimat itu sederhana, tapi menancap kuat. Raka hanya mengangguk. Ia tahu ibunya berkata begitu bukan karena semuanya baik-baik saja, melainkan karena ia selalu ingin Raka melangkah lebih jauh.
Malam itu, Raka belajar lebih lama dari biasanya. Buku-buku terbuka di meja kecilnya. Di sela-sela soal, pikirannya sesekali melayang ke ruang musik, ke jadwal latihan, ke janji yang pernah ia ucapkan pada band.
Keesokan harinya, Clara melihat Raka duduk sendirian di bangku taman sekolah. Buku terbuka di pangkuannya, tapi matanya tidak benar-benar membaca.
“Kamu jarang sendirian sekarang,” kata Clara sambil duduk di sampingnya.
Raka tersenyum kecil. “Lagi mikir.”
“Boleh tahu mikir apa?” tanya Clara seraya duduk di sampingnya.
Raka tidak langsung menjawab. Ia menutup bukunya pelan. “Kalau kamu punya dua hal penting, tapi cuma bisa pilih satu, kamu ngapain?”
Clara berpikir sejenak. “Aku pilih yang bikin aku tetap bisa berdiri lama. Bukan cuma senang sebentar.”
Raka menoleh. “Itu jawaban dewasa.”
Clara tertawa kecil. “Kadang dewasa itu cuma soal berani tanggung jawab.”
Mereka duduk berdampingan tanpa banyak bicara. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun kecil di taman, tidak ada nasihat panjang, tidak ada tekanan. Hanya kehadiran yang terasa cukup.
Sore harinya, Raka menemui Pak Arman.
“Saya ikut olimpiade, Pak,” ucapnya mantap.
Pak Arman tersenyum. “Keputusan yang berani. Bapak harap kamu siap.”
“Saya siap," jawab Raka seraya tersenyum.
Di ruang musik, Rendi mendengar kabar itu dari Vino. Ia hanya mengangguk, lalu melanjutkan menyetem gitar seperti biasa, tidak marah, tidak juga tersenyum.
Saat Raka datang, ia berdiri di ambang pintu sejenak, menatap ruang itu tempat yang memberinya banyak hal, tapi juga menuntut komitmen besar.
“Ren,” panggilnya.
Rendi menoleh. “Gue tahu.”
Raka mengangguk. “Gue bakal tetap latihan kalau bisa, gue juga bakal usahakan tetap ikut event kalau gak bentrok.”
“Lakuin yang harus lu lakuin,” jawab Rendi singkat.
Hari itu, Raka pulang dengan langkah lebih ringan, meski jalannya ke depan tak akan mudah.
Ia akhirnya mengerti, tidak semua hal bisa dijalani bersamaan dan memilih bukan berarti menyerah, melainkan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.