Dilamar Mokondo yang SALEH

Ubah Niat

Senyum tipis muncul di wajah Fikri. “Capek?”

Zizi menggeleng pelan. “Enggak.”

Fikri mengangguk kecil, lalu suaranya makin rendah, hanya terdengar berdua. “Mulai sekarang… kalau capek, bilang ya.”

Zizi menahan napas. Fikri tidak menatap ke depan lagi. Kali ini benar-benar ke Zizi. “Aku belum bisa janji banyak hal,” lanjutnya pelan. “Tapi aku nggak mau kamu ngerasain semua sendiri.”

Zizi menunduk cepat. Senyumnya muncul tanpa bisa ditahan.

Beberapa detik mereka diam.

Lalu, dari kejauhan, suara salah satu kolega Tuan Arsyad terdengar cukup jelas.

“Arsyad… ini calon menantu yang kemarin ditolak itu, ya?”

Deg.

Zizi langsung mengangkat wajah, Fikri menatap tegas ke arah suara itu.

Ruangan yang tadinya hangat… mendadak seperti diselimuti dingin.

Beberapa kepala menoleh. Bisik-bisik kecil mulai merambat pelan, seperti angin yang menyelinap di sela-sela percakapan.

Seorang pria paruh baya berdiri dengan sikap santai. Tangannya dimasukkan ke saku jas, tapi sorot matanya tajam. Senyum tipis di wajahnya tak terlihat ramah.

Ia melangkah mendekat, “Maaf,” ucapnya ringan, seolah basa-basi. “Aku cuma memastikan.”

Tatapannya bergeser ke Fikri. “Ini yang kemarin… sempat tidak direstui itu?”

Deg.

Zizi merasakan jantungnya turun seketika. Jemarinya refleks bergerak, tapi ditahannya.

Tuan Arsyad berdiri sedikit lebih tegak. Wajahnya tenang, “Bukan soal restunya,” jawabnya singkat.

Pria itu mengangguk kecil. “Oh.” Senyumnya tidak berubah. “Aku kaget saja," jedanya. “Biasanya,” lanjutnya pelan, “Kamu cukup… selektif.”

Kalimat itu menggantung dan semua orang di sekitar cukup paham arah sindirannya.

Fikri masih berdiri tenang, sama seperti saat pertama kali masuk ke rumah ini. Tatapannya lurus ke depan.

Zizi melirik Fikri sekilas, membuat dadanya berdebar. Fikri… tidak terlihat goyah.

Tuan Arsyad menatap lawan bicaranya lebih dalam. “Aku masih selektif, kok, Roy," jawabnya pada sang karib, ayah Rasyid.

Roy tersenyum tipis. “Tentu. Aku percaya itu.” Ia mengangguk kecil, lalu menambahkan, “Hanya saja… pilihan kali ini cukup… berbeda.”

Sunyi.

Satu dua orang mulai berpura-pura sibuk. Tapi telinga mereka jelas masih mendengarkan percakapan ini.

Zizi menunduk. Nafasnya terasa berat. Sampai suara Fikri terdengar pelan.

“Memang berbeda, Pak.”

Semua langsung menoleh.

Fikri tidak menunjukkan emosi. Ia hanya berdiri sedikit lebih tegak. “Karena saya datang bukan membawa apa yang biasa Bapak lihat.”

Jeda. Pria itu menatap Fikri lebih lama, ini pertemuan pertama keduanya.

Fikri melanjutkan, tetap tenang, “saya memegang niat teguh dan tidak sedang bersaing dengan siapa pun di sini, Pak.”

Matanya sekilas beralih ke arah Zizi… lalu kembali lagi. “Saya hanya berusaha pantas untuk satu orang.”

Hening.

Tidak ada yang langsung menanggapi, senyum tipis di wajah pria itu… memudar sedikit.

Tuan Arsyad tidak berkata apa-apa. Tapi sorot matanya berubah lebih dalam memperhatikan.

Sudut bibir Zizi bergerak pelan. Di tengah ruangan yang penuh tekanan karena penilaian kolega ayahnya, Fikri tidak mencoba terlihat sok. Dia tenang sehingga terkesan memliki kontrol emosi matang.

Di sudut ruangan, seseorang berdiri kaku sejak tadi. Tangannya terkepal pelan di samping tubuhnya. Tatapannya tidak lepas dari Fikri. Lalu perlahan… ia tersenyum.

“Menarik…” gumamnya pelan.

Suasana kembali berangsur membaik saat ayah Zizi mengajak Roy menikmati jamuan. 

Fikri masih berdiri di tempatnya. Zizi melirik pelan. Ada yang berbeda. Ia tidak bisa menjelaskan… tapi bisa merasakannya.

Zizi sejak tadi mencoba terlihat tenang… tetap tidak bisa menyembunyikan gugupnya. Jemari lentik itu saling mengunci lebih erat dari biasanya.

Fikri melangkah sedikit mendekat. “Dek.”

Zizi menoleh cepat. “Iya?”

Fikri menatapnya beberapa detik. Dia sedang menimbang… keputusan. “Aku nggak suka,” ucapnya akhirnya, pelan.

Zizi mengerjap. “Apa?”

Fikri menghela napas pendek. “Cara orang lihat kamu… seolah kamu masih bisa ditarik ke mana saja.”

Fikri melanjutkan, suaranya tetap rendah, “Padahal kamu sudah jelas berdiri di sisiku.”

Zizi menunduk. Kalimat itu… sederhana, tapi posesif tipisnya terasa langsung ke dada. 

“Aku ngerti,” lanjut Fikri, “ini baru langkah awal.” Ia berhenti sebentar. “Tapi aku nggak terima tatapan mereka, seakan aku nggak mampu menjagamu.”

Zizi menahan napas. Perlahan menoleh, “Jadi?” suaranya berbisik.

Fikri menatapnya lurus, tak ada keraguan di sorot matanya, “Aku mau percepat.”

Jantung Zizi seperti ditekan perlahan, berdegup kencang. “Apa?” suaranya makin pelan.

Fikri tidak tersenyum. Tapi sorot matanya… hangat, “Bukan karena aku keburu,” katanya tenang. “Tapi aku nggak mau kamu nunggu terlalu lama di posisi ini.”

Jeda.

“Aku belum sempurna,” lanjutnya jujur. “Tapi aku juga nggak mau nunggu sampai sempurna baru berani jaga kamu.”

Hening.

Zizi masih memandangnya. Fikri menurunkan nadanya, “Nanti aku ngomong sama Ayah.” 

Zizi langsung menelan ludah, percakapan itu pasti akan mengubah segalanya.

***

Malam sudah larut saat keluarga Fikri sampai di rumah.

Lampu ruang tengah langsung menyala. Pak Joko duduk di kursi, sementara Bu Rahma melepas selop dan selendang, dilipat di sampingnya. Fadlan bersandar di dinding, sibuk dengan ponselnya.

Fikri tidak langsung masuk ke kamar. Langkahnya justru berhenti di tengah ruang.

“Yah… aku mau ngomong.” Nada suaranya cukup membuat Fadlan menurunkan ponselnya.

Pak Joko mengangkat wajah. “Ngomong apa?”

Fikri menarik napas sebentar. “Aku mau percepat nikah.”

Bu Rahma yang akan bangkit, berhenti. Tangannya tertahan di pegangan kursi. “Apa?”

Fadlan langsung berdiri tegak. “Fik… kamu serius?”

Fikri masih berdiri. “Serius.”

Pak Joko menatapnya lebih dalam. “Percepat… itu maksudnya?”

“Secepatnya, Yah.”

Bu Rahma langsung menggeleng kecil. “Dek… ini bukan hal yang bisa kamu putuskan sepulang dari acara.”

“Bukan karena acara, Bu.”

“Terus karena apa?” potong Fadlan cepat. “Karena omongan orang tadi?”

Fikri menatap kakaknya sekilas. “Bukan.”

“Tapi kamu jelas kepancing!” nada Fadlan naik sedikit. “Orang ngomong dikit, kamu langsung mau lompat ke nikah?”

Fikri menghela napas pendek. “Aku nggak lompat.”

“Terus ini apa?” Fadlan mendekat satu langkah. “Kamu tahu kondisi kamu kan? Jangan pura-pura nggak ngerti.”

Fikri diam sebentar. Lalu menjawab pelan, “Aku tahu.”

“Kalau tahu,” lanjut Fadlan, “harusnya kamu juga tahu diri.”

Bu Rahma langsung menoleh ke Fadlan. “Kak—”

“Enggak, Bu. Biar jelas sekarang,” potongnya. “Kita ini siapa? Mereka siapa? Kamu lihat sendiri tadi," bebernya melihat Fikri.

Fikri menatap kakaknya, “Tahu,” jawabnya singkat.

“Dan kamu tetap mau bawa Zizi ke sini?” tanya Fadlan.

“Bukan bawa ke sini,” jawab Fikri tenang. “Bawa ke hidupku.”

“Yang belum jelas?” sindir Fadlan cepat.

Fikri tidak langsung jawab. Rahangnya mengeras sedikit, tapi suaranya tetap dijaga agar tidak terdengar emosi.

“Justru karena belum sepenuhnya jelas… aku nggak mau dia nunggu tanpa kepastian.”

Bu Rahma berdiri pelan. “Dek…” suaranya lebih lembut, tapi penuh tekanan. “Nikah itu bukan cuma soal ngasih kepastian.”

Fikri menoleh ke ibunya.

“Itu tanggung jawab,” lanjut Bu Rahma. “Menjamu dia. Menjaga dia. Memberi dia hidup yang layak.”

Jeda.

“Kamu yakin sudah bisa sampai situ?”

Fikri menatap ibunya, “Belum semuanya, Bu. Tapi aku lagi jalan ke sana.”

Fadlan menghela napas kasar. “Dan kamu pikir nikah itu tempat belajar?”

Fikri menoleh. “Iya.”

Fadlan tertawa pendek, tidak percaya. “Gila.”

“Daripada belajar sendiri-sendiri,” lanjut Fikri tenang, “aku pilih belajar sambil tanggung jawab.”

“Dan kalau kamu gagal?” potong Fadlan cepat.

Fikri terpaku beberapa detik. “Berarti aku yang benahin,” ucapnya enteng.

Pak Joko yang sejak tadi diam… akhirnya bergeser dari posisi duduknya. Ia bersandar sedikit, menatap Fikri lurus. “Kenapa sekarang?”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!