Dilamar Mokondo yang SALEH
Masa Lalunya
Fikri sempat diam sepersekian detik. Lalu, “Iya… lama.”
Nada suaranya berubah. Lebih… tertahan dan hati-hati. Zizi berdiri di samping. Matanya bergeser pelan ke arah perempuan itu.
Perempuan itu melangkah mendekat sedikit. Tatapannya tidak lepas dari Fikri. "Selamat, ya. Akhirnya lulus juga,” katanya.
“Terima kasih.”
Lalu perempuan itu tersenyum lagi. Kali ini tampak mempesona, "Masih sibuk ngejar target yang sama?” tanyanya, seolah itu percakapan yang pernah merasa bahas tanpa Zizi tahu.
Fikri menatapny dan Zizi menangkap jeda itu. Entah kenapa… dadanya terasa sedikit mengencang.
Perempuan itu akhirnya melirik ke arah Zizi. “Kenalin?” tanyanya ringan ke Fikri.
Fikri menoleh ke Zizi. “…Zizi,” ucap Fikri singkat.
Zizi masih menatapnya penasaran siapa sebenarnya mahluk di hadapannya ini.
Perempuan itu mengangguk kecil. “Oh.” Ia tersenyum lagi. “Aku Rania.” Tangannya terulur.
Zizi menyambut, sopan. “Zizi.”
Sentuhan singkat dan dingin. Di dalam hati Zizi… ada sesuatu yang pelan-pelan naik. Dia tidak nyaman.
Fikri menarik napas pendek. “Maaf, Ran. Aku lagi sama keluarga.”
Rania mengangguk, “Iya, santai aja.” Tapi dia tidak langsung pergi. Matanya kembali ke Fikri. “Ngobrol bentar nanti?” tanyanya.
Fikri belum menjawab. Dan Zizi… tidak lagi melihat ke arah siapa pun. Karena tiba-tiba—hari yang tadi terasa hangat, pelan-pelan berubah jadi… sesuatu yang belum ia pahami.
Zizi menarik napas pelan. Berdiri di tempatnya… tapi tiba-tiba kehilangan posisi di antara dua orang yang saling punya cerita masa lalu.
Fikri menatap Rania beberapa detik. Lalu menggeleng kecil. “Nggak bisa lama,” ucapnya akhirnya. “Cuma sebentar.”
Rania tersenyum tipis. “Sebentar juga gak apa.”
Nadanya tertangkap Zizi seperti punya arti lebih. Dan kali ini… ia menoleh ke arah Fikri, ingin tahu apa responnya.
“Aku bentar ya,” ucapnya pelan ke Zizi.
Zizi mengangguk kecil. “Iya.”
Mereka menjauh beberapa langkah, membuat suara mereka tidak lagi jelas.
Zizi berdiri di tempat yang sama, mengikuti punggung Fikri dan perempuan itu.
“Aku kira kamu nggak bakal kejar tahun ini,” suara Rania terdengar samar.
Fikri berdiri menghadapnya. “Malas nunda.”
Rania tersenyum manis. “Kamu masih gigih ternyata... Aku denger kamu masih… ngejar keinginan yang sama," lanjut Rania. “Nggak berubah.”
“Berubah,” jawab Fikri pelan. “Cuma… makin jelas arahnya.”
Rania mengangguk pelan. Matanya menelusuri wajah Fikri sejenak. Seolah memastikan sesuatu. “Dan sekarang?” tanyanya. “Serius?”
Fikri mengerti maksudnya tanpa perlu dijelaskan. “Iya,” tegasnya.
Rania tersenyum lagi. Tapi kali ini… ada yang sedikit berbeda. “Good for you,” ucapnya. “Tapi kamu tahu kan…” lanjutnya pelan, “nggak semua orang bakal nerima kamu gitu aja?”
Fikri diam. Dari kejauhan, Zizi tidak mendengar isi percakapan. Tapi ia melihat cara mereka berdiri, gaya Rania saat bicara. Dan sikap Fikri yang serius mendengarkan.
Dadanya terasa makin penuh. Bukan cuma karena cemburu tapi sekaligus tidak tahu apa yang sedang ia hadapi.
“Ran,” suara Fikri akhirnya terdengar lebih tegas. “Aku nggak cuma ngejar harapan dan doa yang sama.”
Rania mengangguk kecil. “Kelihatan,” jawabnya ringan. Matanya sempat melirik ke arah Zizi lalu kembali ke Fikri. “Dia alasan kamu sekarang?” tanyanya.
Fikri tidak menoleh ke belakang. “Iya," jawabnya tanpa ragu.
Rania salah satu teman dekatnya, dulu. Kala mereka terlibat kegiatan yang sama di kampus. Rania lulus lebih dulu. Keduanya sempat dikabarkan menjalin hubungan tapi Fikri menampik itu.
Fikri lantas menjelaskan alasannya bahwa dia menaruh hati pada seseorang. Tak disebut namanya tapi membuat Rania mencari tahu meskipun gagal. Hingga akhirnya dia diterima kerja di luar kota dan hubungan mereka merenggang.
Rania rupanya masih mengikuti perkembangan Fikri dan dia datang di perayaan ini. Sekalian memastikan gosip antara Fikri dan Zizi.
Rania menarik napas pelan. Lalu mengangguk. “Ya udah,” ucapnya. “Aku cuma mau lihat… kamu masih jadi Fikri yang dulu atau nggak.”
Fikri mengernyit sedikit. “Maksudnya?”
Rania tersenyum tipis. “Yang kalau udah milih… nggak setengah-setengah dan kayaknya… masih.” Ia melangkah mundur satu langkah. “Congrats ya,” ucapnya sekali lagi lalu berbalik pergi.
Fikri melihat kepergiannya sambil menarik napas lalu kembali ke arah Zizi.
“Zi…”
Zizi mengangkat wajah. Tersenyum kecil. “Iya?”
***
Pekerjaan pertama bareng Rendra… ternyata bukan sekadar coba-coba.
Fikri datang sesuai janji. Awalnya hanya merapikan pembukuan yang berantakan. Nota campur, catatan dobel, kas yang jauh dari balance.
Dia nggak cuma beresin itu tapi bikin sistemnya mudah. Rendra beberapa kali memperhatikan dari jauh. Awalnya sambil duduk santai, lama-lama ikut berdiri di belakang Fikri.
“Kamu biasa kayak gini?” tanyanya.
Fikri mengangguk. “Biar ke depannya nggak ribet lagi, Bang.”
Rendra tersenyum kecil. “Bagus. Lanjutin.”
Hari itu selesai dengan hasil yang mulai membuat Rendra senyum cerah. Dia meminta Fikri kerja sampai pekan depan. Dan menjanjikan tambahan fee.
Besoknya.
Jam kerjanya di LPK sudah lewat dari jadwal selesai. Tapi Fikri masih di depan papan, menjelaskan satu contoh lagi.
“…jadi kalau pemasukan sama pengeluaran nggak dicatat rapi, bukan cuma bingung,” ucapnya sambil menulis, “tapi bisa rugi tanpa sadar.”
Beberapa peserta mengangguk. Sementara di luar ruangan, Zizi sudah duduk manis. Matanya sesekali melihat ke arah pintu di mana Fikri mengajar lalu ke ponselnya.
Ada rasa bukan sekadar bangga. Dia melihat versi lain dari Fikri dan itu membuat kupu-kupu di hatinya beterbangan.
“Lama ya?” tanyanya saat mendekat, tepat ketika semua muridnya keluar kelas.
Zizi menggeleng. “Enggak.”
“Bosen?”
“Enggak juga."
Fikri mengangguk kecil. “Lapar?”
Zizi langsung tersenyum. “Lumayan.”
“Yaudah,” Fikri memakai jaket dan kunci motor, “yok jalan.”
Motor melaju pelan. Udara siang menerpa wajah keduanya. Zizi duduk di belakang, tangannya tidak memegangi Fikri… tapi cukup dekat untuk merasa aman.
“Ke mana?” tanyanya.
“Lihat kontrakan,” jawab Fikri.K
Zizi diam sebentar… lalu tersenyum kecil sendiri. Beberapa tempat mereka kunjungi. Mempertimbangkan luasnya, keramaian lingkungan juga harga sewa.
Sampai akhirnya mereka berhenti di satu kompleks yang lumayan tenang. Bangunannya tidak besar, cukup bersih dan baru direnovasi.
Zizi melangkah pelan masuk ke dalam. Matanya menyapu ruangan, dapur kecil, kamar lumayan lega meski kalah dengan kamarnya di rumah. Namun, entah kenapa… dia bisa membayangkan bila hidup di situ.
“Gimana?” tanya Fikri dari belakang.
Zizi menoleh. “Aku suka.”
Fikri langsung buka dompetnya. “Saya ambil, Bu,” ucapnya ke pemilik.I
Zizi langsung menoleh cepat. “Eh—”
“Gak usah nunggu lama,” lanjut Fikri.
Zizi menggeleng. “Kak…”
Belum selesai bicara, pemilik rumah ikut mengangkat tangan. “Eh, bentar, Mas.”
Fikri berhenti.
“Udah nikah?”
Sunyi. Senyum Zizi menjadi jawaban bagi si pemilik rumah. Dia langsung menggeleng tegas. “Maaf ya… nggak bisa kalau belum nikah.”
Fikri menutup dompetnya pelan. “Iya, Bu. Maaf, terlalu semangat," kekehnya.
Zizi menunduk sedikit saat mereka pamit. Keduanya lantas kembali jalan melanjutkan pencarian.
Tak lama, Fikri menepikan motor di warung kecil pinggir jalan. “Minum dulu,” ucapnya.
Zizi mengangguk. Mereka duduk berhadapan sambil mengobrol ringan soal jarak rumah dengan kampus dan tempat kerja Fikri, juga membahas biaya hidup.
Zizi sedang menyeruput minumnya… saat tiba-tiba suara datang dari samping. “Loh…”
Zizi menoleh, langsung membeku.O
“…Zizi? Ngapain di sini?”
Seorang wanita berdiri tidak jauh dari meja mereka. Pandangannya ke Zizi lalu ke Fikri.
.
.