Dilamar Mokondo yang SALEH

Sebuah Kepercayaan

Zizi menegakkan punggungnya di sebelah Fikri tapi di dalam dirinya seperti ada riak kecil yang terus bergerak. Dari tadi ia mengikuti arah pembicaraan, tapi bagian ini… berbeda.

Saat Mama mulai menyinggung soal kerjaan Fikri, rasa penasarannya ikut naik pelan. Ia tahu Fikri tidak pernah benar-benar diam, selalu ada yang dikerjakan, selalu ada jalan yang ia cari. Tapi kali ini, cara Fikri menjawab terasa lebih tenang, lebih mantap, seolah ia tidak lagi sekadar mencoba bertahan, tapi sudah berdiri di tempat yang ia pilih sendiri.

Zizi menunduk sebentar, menatap jemarinya yang saling bertaut, lalu diam-diam tersenyum kecil. Ada rasa hangat yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan karena semuanya sudah pasti, tapi karena ia melihat sendiri bagaimana jalan itu terbuka… setelah Fikri menolak yang salah dan tetap berjalan. Seolah Tuhan benar-benar menunjukkan arah di waktu yang tidak disangka.

Fikri mengangkat sedikit wajahnya, menatap ke arah Tuan Arsyad dan Bu Amira. “Beliau insyaAllah akan datang ke akad nanti,” ucapnya tenang. “Sebagai saksi.”

Ruangan itu langsung hening beberapa detik.

Pak Joko yang sejak tadi tenang, meraih map dari tangan istrinya lalu menyerahkannya ke Tuan Arsyad. “Ini berkas-berkasnya, Pak,” ucapnya singkat.

Tuan Arsyad menerimanya, membuka satu per satu lembar di dalamnya. Alisnya perlahan mengernyit saat matanya berhenti di satu nama.

“Rendra… Agatharsya?” ulangnya pelan.

Bu Amira ikut menoleh, sedikit mendekat. “Yang punya Agatha Raya itu?”

Fikri tidak langsung menjawab. Hanya ada senyum tipis yang terulas di wajahnya.

Alina yang sejak tadi diam, tiba-tiba menyela, “Yang catering itu bukan sih, Yah?”

“Agatha Raya… AR catering aqiqah, kan?” sambung Bu Amira, kini nada suaranya berubah, tidak setajam tadi… tapi jelas penuh tanya.

Fikri mengangguk. “Iya, Bu.”

“Terus… kamu di sana ngapain?” tanya Tuan Arsyad, kali ini lebih serius.

Fikri berdehem, “Saya bantu kelola yang catering dan aqiqahnya, Pak. Lagi beresin sistem rumah potong hewannya juga,” jawabnya. Lalu menambahkan dengan tenang, “Untuk travelnya… insyaAllah menyusul.”

Hening lagi.

Tuan Arsyad menatapnya lama, seperti mencoba menyusun cerita yang belum ia pahami. “Kenal dari mana?” tanyanya menyelidik.

Fikri menjawab sederhana, tanpa nada dibuat-buat. “Masjid, Pak.”

Deg.

“Masjid?” ulang Bu Amira, pelan.

Fikri mengangguk. “Iya. Waktu itu lagi istirahat… terus ngobrol. Dari situ awalnya.”

Zizi langsung menunduk, bibirnya tertahan membentuk senyum kecil. Ada sesuatu yang terasa begitu sederhana… tapi justru di situ letak keindahannya.

Bukan pertemuan yang dirancang, bukan koneksi yang dicari-cari. Hanya dua orang yang dipertemukan di tempat yang sama, di waktu biasa… tapi ternyata membuka jalan yang tidak biasa.

Zizi merasa semakin yakin, bahwa apa yang sedang mereka jalani sekarang bukan sekadar kebetulan, tapi rangkaian langkah yang sejak awal sudah dijaga arahnya oleh Tuhan.

“Jadi… beliau saksimu?” ulang Tuan Arsyad pelan, matanya masih menatap nama di kertas itu.

Fikri mengangguk. “Iya, Pak.”

Hening. Sepertinya orang-orang sedang mencerna sesuatu yang Fikri katakan dan itu di luar dugaan.

Fikri menarik napas sebentar, lalu menoleh ke arah Bu Amira dan Tuan Arsyad. “Kalau boleh… saya izin bawa Zizi sebentar, Pak, Bu. Mau nyicil beli seserahan.” 

Zizi langsung menoleh cepat. “Kak—”

Bu Amira mengernyit ringan. “Dari kami semua kalau itu sih,” ucapnya, setengah heran.

Fikri tidak gentar, dengan nada tenang dia berkata, “Kewajiban saya, Bu. Memberikan mahar yang pantas untuk Zizi. Itu haknya dari saya.”

Fikri menoleh sedikit ke arah Zizi, lalu kembali ke orang tuanya. “Saya juga… belum paham selera Zizi,” lanjutnya, lebih ringan. “Jadi sekalian belajar. Biar apa yang dia pilih… bisa bikin dia senang. Dan semoga… jadi jalan rezeki juga buat saya.”

Zizi tidak langsung bicara. Hanya melirik sekilas ke wajah Fikri. Ada sesuatu yang diam-diam menguat di dadanya. Cara Fikri bicara… bukan sekadar ingin terlihat mampu, tapi benar-benar ingin bertanggung jawab.

Tuan Arsyad menatap mereka bergantian, lalu mengangguk kecil. “Jangan lama-lama.”

Bu Amira tidak menahan. Hanya menghela napas pelan, lalu memberi isyarat kecil dengan tangannya. “Ya sudah, pergi sana.”

Zizi masih sedikit canggung, tapi langkahnya mengikuti Fikri.

Toko perhiasan itu diterangi lampu-lampu kecil yang memantulkan kilau dari etalase kaca. Zizi berdiri di depan salah satu rak, tangannya saling menggenggam, matanya bergerak pelan dari satu set ke set lain.

“Bagus yang itu?” tanya Fikri dari sampingnya.

Zizi menggeleng kecil. “Bagus sih… tapi…”

“Tapi?”

Zizi melirik tag harga di bawahnya, lalu menahan senyum sambil berbisik, “Mahal.” Untuk ukuran Fikri, batinnya 

Fikri ikut melihat, lalu hanya mengangguk santai. “Ambil aja kalau kamu suka.”

Zizi menoleh cepat. “Kak, jangan gitu.”

“Kenapa?"

“Mending buat lainnya," lirihnya.

Fikri bersandar sedikit ke etalase, tangannya masuk ke saku celana. “Memang mahal,” jawabnya jujur. "Tapi..."

Zizi menatapnya beberapa detik.

Fikri lanjut, suaranya lebih pelan, “Kalau itu yang kamu suka… aku usahakan. Rezeki itu jalan, Zi. Aku lagi buka jalannya.”

Zizi menunduk lagi, kali ini senyumnya tidak bisa ditahan. Ada rasa hangat yang mengalir, bukan karena barangnya… tapi karena cara Fikri memandang semua ini.

Akhirnya ia memilih yang sederhana. Tidak terlalu mencolok, tapi tetap cantik. “Ini aja,” ucapnya pelan.

Fikri mengangguk tanpa banyak komentar. “Oke.”

Setelah itu mereka berpindah ke bagian lain. Zizi memilih beberapa kebutuhan seserahan yang lebih personal, skincare rutin, barang-barang yang ia pakai sehari-hari. Tangannya masih ragu tiap kali melihat harga, tapi Fikri selalu berdiri di sampingnya, berbisik, “Ambil aja.”

Di sela itu, pikiran Fikri sempat melayang ke percakapan beberapa hari lalu.

Rendra duduk santai di kursinya waktu itu, tertawa kecil saat Fikri bilang akan menikah. Dia berkata dengan antusias, akan ambil bagian dalam prosesi penting di hidup Fikri.

Awalnya Fikri menolak, tapi Rendra bilang ini adalah balasan kecil atas kerja keras Fikri beberapa bulan ini.

“Sejak kamu masuk,” lanjut Rendra, “pembukuan saya rapi. Sistem jalan. Barang keluar masuk jelas. Bahkan sekarang tiap transaksi sudah pakai barcode. Dulu? Semrawut.”

Rendra mencondongkan badan sedikit. “Sekarang saya tahu tiap usaha ini untungnya berapa. Rekening juga sudah kamu pisahkan semua. Jadi jangan ditolak. Ini dari saya dan istri.”

Fikri waktu itu hanya bisa diam beberapa detik… lalu akhirnya mengangguk.

Zizi melihat Fikri terdiam, dia menggoyangkan pelan lengannya. "Kak?" 

Fikri tergagap, "Y-ya?" 

“Lanjut ke mana?” tanya Zizi setelah semua selesai.

Fikri mengangkat dagu sedikit ke arah luar Mall. “Elektronik.”

Zizi mengernyit kecil. “Elektronik?”

“Iya. Biar nanti nggak kosong banget pas pindah.”

Zizi berhenti sebentar di langkahnya. "Kontrakannya… udah ada?”

Fikri menoleh, senyum tipis muncul di wajahnya. “Nanti kita lihat habis ini.”

Zizi menatapnya, lalu tertawa kecil, setengah tidak percaya. Dia izin ke toilet untuk menghapus make up dan ganti atasan dengan kemeja biasa. 

"Gerah!" 

Fikri menemani di lua

r toilet. Memegangi tas Zizi. Setelahnya dia menenteng belanjaan tadi sambil melangkah, “Pelan-pelan kita isi rumahnya.”

"Rumah?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!