Dilamar Mokondo yang SALEH

Mantu

Zizi dan Fikri sama-sama menoleh. Seorang anak kecil berlari ke arah mereka, napasnya sedikit terengah. Di belakangnya… rombongan keluarga Zizi menyusul, lengkap dengan sanak saudara.

Zizi langsung berdiri tegak, refleks merapikan ujung bajunya. “Loh…” lirihnya pelan.

Fadlan yang tadi duduk santai langsung sigap berdiri. “Eh, sudah datang!” serunya sambil melangkah cepat menyambut.

Beberapa saudara yang di dalam rumah ikut keluar. Suasana langsung berubah jadi lebih ramai. Saling sapa, salaman, senyum ke sana-sini.

Pak Joko bahkan terlihat agak tergesa keluar dari dalam. “Lho, lho… sudah sampai?” sapanya ramah, menjabat tangan Tuan Arsyad dengan hangat.

“Lebih cepat sedikit, Pak,” jawab Tuan Arsyad santai.

Di sisi lain, Alina yang berjalan di samping ibunya pelan-pelan mendekat. Matanya menyapu area depan rumah Fikri yang sudah penuh tenda, kursi rapi, dan meja hidangan yang tertata.

“Kok meriah gini…” gumamnya pelan ke arah Bu Amira. “Katanya pengajian sederhana?”

Bu Amira tidak langsung menjawab. Matanya juga ikut melihat sekitar, lalu hanya menghela napas pelan.

“Sederhana… kalau dilihat dari versi kita mungkin,” balasnya singkat.

Di dekat pintu, Zizi sudah lebih dulu menghampiri. Tangannya menyalami satu per satu keluarganya.

“Ma…” ucapnya pelan saat sampai di depan Bu Amira.

“Iya…” jawab ibunya, menatap sebentar wajah Zizi yang terlihat lebih segar, meski jelas lelah masih tersisa.

Tuan Arsyad menepuk pelan bahu Fikri. “Sudah mulai?” tanyanya.

“Sebentar lagi, Yah,” jawab Fikri sopan.

Di belakang mereka, anak kecil tadi sudah sibuk melihat-lihat, sesekali menunjuk ke arah meja makanan.

“Banyak banget kuenya…” celetuknya polos. Beberapa orang dewasa langsung tertawa kecil.

Fadlan yang berdiri di tengah-tengah itu mengatur arah dengan cekatan.

“Yang dari sana bisa ke sini dulu, nanti para bapak duduknya di sebelah kanan ya… Ibu-ibu di sebelah kiri,” katanya sambil memberi isyarat.

Zizi mundur sedikit, berdiri lagi di samping Fikri. Tangannya tanpa sadar meraih ujung baju Fikri sebentar.

“Rame ya…” bisiknya pelan.

Fikri melirik, lalu mengangguk kecil. “Iya.”

Tangannya naik sebentar, menyentuh punggung Zizi ringan. Memastikan agar dia tak canggung membaur.

Di depan mereka, dua keluarga yang tadinya berkumpul rapi. Obrolan mulai menyatu, tawa kecil mulai terdengar di beberapa sudut. Sederhana, tapi kehangatannya terasa.

***

Sebelumnya.

Sore itu, rumah Fikri sudah berubah jadi lebih sibuk. Terutama di dapur, beberapa tetangga masih merapikan menu makanan kiriman dari AR Catering.

Di dapur, beberapa ibu-ibu sibuk di depan meja, yang lain menghias, sebagian lagi ngobrol sambil sesekali tertawa. Di tengah itu semua… Zizi ikut berdiri.

Tangannya memegang pisau, pelan-pelan memotong daging matang untuk sup. Sesekali dia pindah ke talenan lain, merapikan daun bawang, potongannya rapi nggak asal-asalan.

Bu Rahma berdiri di ambang pintu dapur. Matanya mengikuti setiap gerakan Zizi. Ada rasa haru yang pelan naik di dadanya.

Perempuan muda yang kemarin masih duduk anggun di pelaminan… sekarang berdiri di dapurnya tanpa rasa canggung.

“Eh, Nyonya Fikri turun gunung juga nih,” celetuk salah satu tetangga sambil nyengir.

Zizi langsung ketawa kecil, agak malu. “Biasa aja, Bu…”

“Tangan halus gitu bisa motong juga ternyata,” sahut yang lain.

Belum selesai, satu lagi nyeletuk sambil lihat potongan daging di talenan, “Orang kaya tapi kok bisa kerjain beginian?”

Zizi sempat berhenti sebentar, lalu cuma senyum. “Belajar, Bu… pelan-pelan,” sahutnya ringan.

Fikri yang kebetulan lewat depan dapur sempat berhenti. Matanya langsung mencari Zizi. Begitu melihat istrinya berdiri di antara ibu-ibu, pakai celemek… dia cuma diam sebentar. Senyum tipisnya muncul dan lanjut jalan, tanpa menggangu mereka.

Di belakangnya, Bu Rahma masih berdiri. Kali ini senyumnya ikut terlihat. “Alhamdulillah…” lirihnya pelan.

Satu jam kemudian, pengajian dimulai.

Di dalam, keluarga inti dari pihak Zizi dan Fikri duduk berdekatan di atas karpet yang menghampar, aroma minyak wangi tipis terasa.

Di luar, di bawah tenda sebelah kiri, para tamu perempuan duduk berjajar. Kerudung warna lembut mendominasi.

Sebelah kanan, para pria. Pak Joko, Fikri, Fadlan, Rendra, juga Tuan Arsyad duduk bersama yang lain.

Ustadz mulai bicara. Suasana langsung berubah hening.

“Rumah tangga itu tidak selalu harus berkelimpahan,” ucapnya tenang. “Asal belajar cukup.”

Beberapa orang mengangguk pelan.

“Cukup itu bukan jumlah,” lanjutnya. “Tapi rasa. Ada yang punya sedikit tapi tenang. Ada yang banyak tapi gelisah.”

Zizi yang duduk di dalam menunduk sedikit. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.

“Laki-laki jadi qowwam itu bukan berarti kedudukannya paling tinggi di dalam rumah tangga,” suara ustadz tetap santai, “Tapi paling bertanggung jawab. Mendidik itu bukan memerintah tapi memberi contoh.” 

Di luar, Fikri menunduk sedikit. Mencerna ucapan pemuka agama di kampungnya ini.

“Dia yang pasang badan kalau ada masalah. Bukan kabur.”

Hening.

“Dan perempuan sebagai istri… posisinya bukan di bawah. Tapi di samping. Jalan bareng. Saling menjaga.”

Beberapa ibu-ibu saling lirih mengaminkan.

“Dan satu lagi,” lanjutnya. “Setelah menikah, bukan berarti selesai dengan orang tua. Justru di situ diuji… mana yang harus didahulukan, mana yang harus tetap dijagain.”

Suasana makin hening, syahdu.

“Jangan sampai karena pasangan, jadi lupa ibu. Tapi juga jangan sampai karena ibu… rumah tangga jadi sumbernya melukai pasangan.” 

Kalimat itu sederhana, tapi terasa sampai ke banyak hati.

Di dalam, Alina duduk diam. Matanya sempat menyapu ruangan. Rumah ini… tidak besar tapi bersih dan rapi. Dari luar mungkin terlihat sederhana. Namun, cara orang-orang yang hidup di dalamnya, terjalin ikatan kekeluargaan yang hangat.

Alina menyandarkan punggungnya pelan di dinding. Di matanya… Fikri itu mokondo. Modal nekat doang.

Tapi sekarang? Mokondo… ternyata tergantung siapa yang menilai. Kalau dilihat dari penampilan luar, mungkin iya. Namun, bila dilihat dari cara dia memperlakukan Zizi… dia mencoba memuliakan.

Alina diam, matanya turun ke ponselnya yang tiba-tiba menyala. Satu pesan masuk dari adiknya, Zizi.

"Kak… maafin aku, ya. Zizi akhirnya nikah duluan. Makasih banyak, Kak Alina."

Jari Alina diam di layar, tak membalas. Perlahan dia angkat wajahnya, menoleh ke arah Zizi yang duduk di sampingnya.

Alina menggeser posisinya lebih rapat, tangannya menarik Zizi pelan. Belum sempat bilang apapun… Alina sudah lebih dulu memeluknya erat.

Zizi membeku, saat suara Alina berbisik pelan di telinganya, “…kayaknya kamu bahagia, Zii.”

Zizi tak menyahut, hanya pelukannya dibalas lebih erat.

*

Suara tamu sudah hilang, tenda di depan mulai dirapikan, dan sisa-sisa makanan mulai dibagikan ke tetangga oleh Bu Rahma.

Di kamar, Zizi duduk di lantai, membuka tasnya. Baju dilipat, makeup pouch disusun, barang kecil dimasukin ke tempatnya.

Fikri belum masuk, masih bantu-bantu di luar. Zizi geser sedikit ke arah meja kecil di samping ranjang. Tangannya iseng membuka laci, niatnya cuma ingin tahu apa isinya. 

Tapi… tangannya berhenti. Ada satu kotak kecil di dalam. Dan saat diambil... Testpack, masih utuh.

Zizi bengong. “…”

Belum sempat berpikir, suara pintu terbuka pelan.

Fikri masuk, duduk di depan Zizi yang masih memegangi kotak tadi. 

“Buat nanti…” ucap Fikri ringan, sambil lepas jam tangannya. “Kalau Allah kasih cepat.”

Zizi langsung salah tingkah. Pipinya terlihat merona. Tangannya buru-buru meletakkan kembali bungkusan itu ke tempatnya.

“Ih… Kak…” suaranya kecil, campur malu, jantungnya tiba-tiba berdebar.

“Besok kita mulai hidup terpisah sama orang tua, ya.”

Zizi langsung mengangkat wajahnya, alisnya naik sedikit. “Emang kenapa gitu?”

Fikri mengulas senyum tipis, ”Nggak apa, sih. Takut kamu kaget aja tiba-tiba aku nempel kemana-mana," tuturnya lembut memandangi wajah istrinya yang ayu.

Zizi nyempetin manyun dikit. “Terus yang ini apa?” dia nunjuk ke dada Fikri yang mulai condong ke depan, nyaris menyentuh wajahnya.

"Pemanasan." Fikri mendekatkan bibirnya perlahan tapi bahunya malah ditahan Zizi. 

“Kak!”

Fikri ketawa kecil dan bangkit. Tangannya nyentuh saklar lampu.

Klik. Lampu mati.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!