Dilamar Mokondo yang SALEH
Tersinggung
Sejak percakapan di parkiran itu, satu kalimat terus berputar di kepala Zizi. Beda kasta.
Ia tidak tahu kenapa kalimat itu terasa begitu mengganggu. Padahal Fikri tidak mengatakannya langsung. Tapi tetap saja… rasanya seperti ada jarak yang ditarik tiba-tiba di antara mereka.
Beberapa hari kemudian, Zizi datang ke kajian kampus seperti biasa. Teras di samping masjid sudah cukup ramai. Beberapa mahasiswa duduk berjajar, sebagian lagi masih mencari tempat.
Zizi memilih duduk agak ke belakang. Ia membuka buku catatan, mencoba fokus pada materi yang disampaikan ustaz di depan. Tapi pikirannya masih saja melayang ke hal-hal lain.
Langkah kaki terdengar di pintu. Zizi tidak terlalu memperhatikan sampai beberapa orang di dekatnya menoleh. Ia ikut melirik.
Dan detik berikutnya langsung menyesal. Fikri baru saja masuk. Zizi refleks memalingkan wajahnya kembali ke depan.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Seriusan…? Ia datang juga?
Padahal mereka tidak pernah janjian soal kajian. Biasanya Zizi datang sendiri, duduk diam, lalu pulang tanpa banyak bicara.
Dari sudut matanya, ia bisa melihat Fikri berdiri sebentar di pintu seolah mencari tempat duduk. Zizi pura-pura tidak melihat.
Akhirnya Fikri duduk beberapa baris di sampingnya, tidak terlalu dekat tapi juga tidak jauh.
Zizi menatap catatannya. Fokus. Fokus.
Namun entah kenapa, suasana terasa sedikit berbeda. Beberapa mahasiswa yang duduk di sekitar mereka mulai saling melirik.
Bisikan kecil terdengar. “Eh… itu Fikri kan?”
“Iya.”
“Bukannya yang sering kelihatan sama Zizi?”
Zizi menahan napas kecil. Serius… gosip lagi? Ia menatap lurus ke depan, mencoba mengabaikan semuanya.
Kajian berlangsung hampir satu jam. Setelah selesai, mahasiswa mulai berdiri dan keluar dari ruangan.
Zizi mengemasi bukunya cepat-cepat. Ia tidak ingin terjebak situasi canggung lagi. Namun ketika ia keluar dari aula dan berjalan menuju halaman masjid kampus, sebuah suara memanggil dari belakang.
“Zi.”
Langkah Zizi berhenti. Ia menutup matanya sebentar sebelum berbalik. Fikri berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Ada apa?” tanya Zizi, nada suaranya datar.
Fikri terlihat ragu beberapa detik. Tangannya masuk ke saku jaket, lalu keluar lagi. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tidak tahu bagaimana memulainya.
“Aku cuma—”
Zizi memotong lebih dulu.
“Kalau cuma soal skripsi, tidak usah.”
Fikri mengernyit sedikit. Zizi melanjutkan sambil menatap jalan di depan mereka. “Aku bisa cari referensi sendiri.”
Beberapa detik hening.
Fikri tidak langsung menjawab, seperti baru menyadari sesuatu. “Kamu masih marah?” tanyanya pelan.
Zizi mengangkat bahu kecil. “Marah kenapa?”
Fikri tidak menjawab. Tapi tatapannya cukup membuat Zizi merasa seperti sedang dibaca.
Zizi menghela napas pelan. “Aku mau pulang.” Ia berjalan melewati Fikri begitu saja. Langkahnya cukup cepat sampai akhirnya ia sampai di pinggir jalan depan kampus.
Zizi mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi ojek online. Tangannya bergerak cepat memesan kendaraan.
“Lima menit,” gumamnya pelan setelah melihat estimasi waktu. Ia berdiri di tepi trotoar sambil memeluk tasnya.
Beberapa menit kemudian, sebuah motor berhenti tepat di depannya. Zizi menatap sekilas.
Pengemudi itu melepas helmnya.
Deg.
Keduanya saling menatap beberapa detik tanpa bicara. Zizi bahkan belum bergerak saat Fikri akhirnya membuka suara lebih dulu.
“Kalau tidak nyaman… tidak apa-apa dibatalkan saja.” Nada suaranya tenang. Datar. Seperti tidak ingin memaksa.
Kalimat itu justru membuat dada Zizi terasa semakin panas. Tidak nyaman? Sejak kapan dia bilang begitu?
Sebelum Zizi sempat menjawab, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di tepi jalan. Kaca jendelanya turun.
“Zi!”
Zizi menoleh.
“Kamu di sini? Ayo pulang, sekalian lewat,” kata kakaknya santai dari balik kemudi.
Zizi masih memegang ponselnya. Pesanan ojolnya belum dibatalkan. Ia menatap Fikri yang masih duduk di atas motornya, menunggu.
Entah kenapa situasi itu terasa aneh. Zizi melangkah menuju mobil, dan membuka pintu depan.
Sebelum masuk, Zizi berhenti sebentar dan menoleh ke arah Fikri. Tatapan mereka bertemu lagi. Zizi berkata pelan, “Aku nggak pernah bilang kalau aku malu.”
Lalu ia masuk ke mobil dan pintu tertutup. Mobil Alina perlahan melaju meninggalkan gerbang kampus.
Di belakangnya, motor Fikri masih berhenti di tempat yang sama. Mesinnya masih menyala. Namun Fikri tidak langsung pergi. Tangannya menggenggam setang motor sedikit lebih erat. Dadanya terasa tidak enak. Sepertinya… kali ini ia benar-benar membuat Zizi tersinggung.
***
Ruang rapat BEM sore itu terasa lebih serius dari biasanya. Di meja depan ada beberapa lembar kertas dari fakultas yang sudah diberi cap dan tanda tangan dosen. Ketua BEM berdiri sambil memegang daftar itu, sementara beberapa mahasiswa duduk setengah santai di kursi plastik.
“Ini rekomendasi dari dosen untuk panitia wisuda,” katanya. “Nama-namanya sudah dipilih langsung.”
Beberapa mahasiswa langsung saling pandang. Kalau sudah rekomendasi dosen, biasanya tidak ada perdebatan.
Zizi masuk agak terlambat. Ia menutup pintu pelan lalu mencari kursi kosong di sisi ruangan. Laptopnya ia letakkan di pangkuan sambil mencoba mengikuti pembahasan yang sudah berjalan.
Ketua BEM mulai membaca satu per satu.
“Untuk tim dokumentasi.” Ia melihat daftar sebentar. “Zizi.”
Beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya.
“Cocok sih,” kata seseorang di belakang. “Dia anak multimedia.”
Zizi mengangkat tangan sedikit sebagai tanda dengar. Ia tidak keberatan. Dokumentasi memang bidangnya.
Ketua BEM mencatat namanya di papan tulis. “Koordinator dokumentasi: Zizi.”
Ia melanjutkan membaca. “Untuk koordinasi wisudawan.” Ia berhenti sebentar, lalu membaca nama berikutnya. “Fikri dan Bima.”
Ruangan langsung sedikit riuh. “Loh, dia kan wisudawan?” bisik seseorang.
“Justru itu,” jawab yang lain. “Dilibatkan biar lebih mudah ngingetin para calon wisuda.”
Zizi yang sedang membuka laptop berhenti sebentar. Jarinya menggantung di atas keyboard.
Beberapa detik kemudian Fikri masuk dan duduk di baris samping. Napasnya sedikit berat seperti habis berjalan cepat. Ketika mendengar namanya disebut, ia mengangkat kepala.
Baru beberapa detik kemudian Zizi menyadari sesuatu. Fikri harus sering berhubungan dengan tim dokumentasi yang dipimpin olehnya.
Zizi menunduk lagi ke laptopnya, pura-pura sibuk mengetik.
Sementara di kursi samping, Fikri juga tampak membaca catatan di tangannya. Tidak ada percakapan di antara mereka.
Setelah rapat selesai, beberapa panitia masih duduk untuk menyusun jadwal kerja.
Zizi membuka buku catatannya dan mulai menulis daftar kebutuhan dokumentasi. Kamera, tripod, posisi fotografer, dan jalur masuk wisudawan. Tiba-tiba sebuah kertas kecil diselipkan di samping bukunya dengan gerakan cepat.
Ia menoleh sedikit. Fikri masih duduk seperti biasa, menatap kertasnya sendiri seolah tidak melakukan apa-apa.
Zizi membuka lipatan kertas itu pelan, "Maaf soal waktu itu. Aku tidak bermaksud membuat kamu tidak nyaman, dengan kalimatku soal beda kasta."
Zizi membaca kalimat itu dua kali. Ada satu kalimat lagi di bawahnya. "Terima kasih tetap mau kerja bareng."
Zizi menutup kertas itu perlahan. Ia tidak langsung menoleh. Beberapa detik kemudian ia melanjutkan menulis di bukunya. Lalu berkata pelan tanpa melihat ke samping.
“Daftar wisudawannya jangan sampai salah.”
Fikri berhenti menulis sebentar, dan menjawab singkat. “Iya.”
Beberapa hari kemudian aula kampus dipenuhi mahasiswa yang akan gladi bersih perdana.
Kursi disusun rapi. Panitia mondar-mandir memastikan urutan berjalan lancar. Zizi berdiri di sisi aula sambil mengatur posisi kamera, menunduk sedikit untuk mengencangkan baut tripod.
Di sisi lain ruangan, Fikri berdiri di depan barisan wisudawan. Para mahasiswa bergerak mengikuti arahannya.
Gladi berlangsung hampir dua jam. Setelah selesai, ruangan perlahan mulai kosong.
Zizi mengangkat tripodnya dan berjalan keluar menuju halaman kampus. Angin sore bertiup pelan, membuat rambutnya sedikit berantakan.
Saat ia berhenti di pinggir halaman, matanya menangkap sesuatu di dekat gerbang. Seorang pria berwajah tenang berdiri di sana.
Beberapa mahasiswa yang lewat menyalaminya dengan sopan. Pria itu membalas dengan senyum kecil dan anggukan kepala. Zizi memperhatikan tanpa sadar. Aura pria itu terasa berbeda. Tidak banyak bicara, tapi entah kenapa terasa dihormati.
Lalu tiba-tiba Fikri menoleh ke arah halaman kampus. Matanya langsung menemukan Zizi. Ia mengangkat tangan sedikit. “Zi.”
Zizi kaget, menunjuk dirinya sendiri. Fikri mengangguk.
Zizi berjalan mendekat dengan langkah ragu. Ketika ia sampai, Fikri berdiri di samping pria itu.
“Zi, kenalin… ayah.”
Zizi langsung menegakkan tubuhnya sedikit. “Assalamu’alaikum, Pak.”
Pria itu menatap Zizi beberapa detik, hangat dan tenang, lalu tersenyum. “Oh… ini Zizi?”
Zizi berkedip. “Hah?”
Pria itu terkekeh kecil.
Zizi refleks menoleh ke arah Fikri yang sedikit salah tingkah. Ia mengusap belakang lehernya sebentar. Namun sebelum Zizi sempat bertanya apa pun, suara klakson terdengar dari depan gerbang.
Tin. Tin.
.
.