Dilamar Mokondo yang SALEH

Kriteria Calon Zizi

Tin. Tin.

Suara klakson pendek dari gerbang membuat Zizi refleks menoleh. Mobil Alina sudah berhenti di tepi jalan, sedikit miring ke arah trotoar. Kaca jendelanya turun setengah.

“Zi.”

Zizi kembali menatap pria di depannya. Ayah Fikri masih berdiri dengan tegap wajahnya tenang, sorot matanya hangat. Di sampingnya, Fikri berdiri agak canggung dengan satu tangan di saku celana.

Zizi menundukkan kepala sedikit. “Saya duluan ya, Pak.”

Pria itu mengangguk pelan. “Silakan, Nak.”

Zizi membalas dengan senyum sopan, lalu berbalik. Langkahnya sedikit cepat menuju mobil. Saat membuka pintu, ia sempat melirik ke belakang. Fikri masih berdiri di tempat yang sama. 

Alina meliriknya sekilas sebelum memindahkan tuas persneling. “Siapa itu?”

Zizi memasang sabuk pengaman tanpa menjawab. Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan gerbang kampus.

“Fikri dan ayahnya.” 

Alina tidak langsung berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan sambil fokus ke jalan.

Zizi bersandar ke kursi. Angin dari ventilasi mobil terasa dingin di wajahnya. Pikirannya masih tertinggal di halaman kampus tadi.

Kalimat ayah Fikri terus terngiang.

Oh… ini Zizi? seperti seseorang yang memang sudah pernah mendengar nama itu sebelumnya.

Zizi mengerutkan dahi sedikit. Kenapa ayahnya bisa tahu namaku? Ia melirik jendela mobil. Lampu jalan mulai menyala satu per satu.

“Kenapa bengong?” tanya Alina tiba-tiba.

Zizi menggeleng kecil. “Nggak.”

Alina tersenyum tipis, seperti memahami sesuatu yang Zizi sendiri belum mengerti.

***

Beberapa hari setelah itu, sore turun dengan tenang di rumah mereka. Langit mulai berubah ke warna jingga lembut. Angin membawa aroma tanah dari taman kecil di samping rumah.

Zizi duduk di teras dengan laptop di pangkuan. Video dari gladi wisuda sedang ia putar ulang. Sesekali ia menghentikan footage, lalu menulis sesuatu di buku catatan di sampingnya.

Beberapa potongan gambar mahasiswa yang salah baris, membuatnya tersenyum kecil.

Panitia yang sibuk berdiri di depan barisan sambil memberi isyarat dengan tangan.

Zizi menghela napas kecil dan menyandarkan punggung ke kursi kayu.

Alina muncul membawa dua gelas teh hangat. Ia meletakkan satu gelas di meja kecil di depan Zizi. “Nih.”

Zizi mengangguk. “Makasih.”

Mereka duduk berdampingan tanpa bicara beberapa saat. Hanya suara daun mangga yang bergesekan pelan di atas kepala mereka.

“Zi," sebut Alina sambil menyesap tehnya.

“Hm?”

“Kamu pernah mikir masa depanmu seperti apa?”

Zizi mengangkat kepala sedikit. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi tatapan Alina membuatnya berhenti sejenak. “Maksudnya?”

“Ya… nanti setelah lulus.”

Zizi menatap halaman rumah. Beberapa ARTnya wara wiri membersihkan rumah. “Aku pengin kerja dulu, bikin sesuatu yang serius. Film pendek, dokumenter… atau apa saja yang bisa bermanfaat.”

Alina memperhatikan wajah adiknya. Beberapa detik mereka kembali diam. Angin sore bertiup pelan, membuat rambut Zizi sedikit bergerak.

Alina kemudian berkata lebih pelan. “Kalau soal menikah?"

Zizi menoleh cepat. “Hah?”

Alina tertawa kecil melihat reaksinya. “Biasa aja kali.”

Zizi menghela napas. “Belum kepikiran.”

Alina tidak langsung percaya. Ia menatap Zizi beberapa detik. “Benar?”

Zizi memutar gelas tehnya pelan di atas meja, menatap jauh ke halaman depan. “Buatku menikah itu bukan cuma… ya sudah, cocok lalu jalan.” Ia berhenti sebentar, seolah mencari kata yang tepat. “Menikah itu biar bisa lebih baik lagi ibadahnya.”

Kalimat itu keluar begitu saja, tapi terdengar sangat jujur. Zizi menunduk sedikit, memperhatikan uap tipis dari tehnya. “Aku selalu bayangin… kalau suatu hari menikah, aku ingin itu jadi jalan yang benar-benar mendekatkan ke Allah.”

Alina diam mendengarkan. Zizi melanjutkan dengan nada pelan. “Bukan sekadar suka dan nyaman.” Tangannya memainkan ujung buku catatan di pangkuannya. “Aku ingin seseorang yang bisa jadi teman jalan. Yang kalau hidup lagi berat, kita tetap ingat kenapa kita bersama.” Ia tersenyum tipis, sedikit malu dengan kata-katanya sendiri. “Mungkin terdengar terlalu ideal.”

Alina menggeleng pelan. “Tidak.” Ia menyandarkan punggung ke kursi. “Justru bagus punya impian begitu di antara banyak wanita yang takut menikah.”

Zizi mengangkat bahu, memandang langit yang mulai gelap. “Kalau memang Allah sudah siapkan seseorang… ya nanti juga ketemu.”

Beberapa detik mereka saling merenung. Alina memperhatikan wajah adiknya dari samping. Sorot mata Zizi terlihat tenang, tapi ada kesungguhan di sana.

Seperti seseorang yang sudah punya arah sendiri dalam hidupnya. Alina menunduk sedikit, tersenyum tipis. “Kalau begitu… sudah ada calonnya?”

Zizi tertawa pelan. "Nggak ada."

Alina menaruh cangkir tehnya, tangannya bertumpu di pangkuan sambil memandangi Zizi. "Kalau Fikri?" 

Deg.

Zizi tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan permukaan teh yang mulai tenang.

Menikah ... Kata yang terasa seperti batu kecil yang dijatuhkan ke dalam pikirannya. Riaknya halus, tapi menyebar.

Beberapa detik tetdiam lalu Zizi menghela napas pelan, “Buatku, calon itu bukan sekadar orang yang kita pilih.”

Alina mendengarkan tanpa menyela. Zizi melanjutkan dengan nada tenang. “Dia seperti amanah.”

Ia menggeser gelas tehnya sedikit. Alam bawah sadarnya menegaskan, bukan cuma soal siapa yang bikin bahagia… tapi yang membuat lebih dekat ke tujuan hidup. 

Alina menoleh, memperhatikan wajah adiknya. Zizi tersenyum tipis.

Angin sore berhembus lagi, membawa suara azan maghrib yang samar dari masjid di ujung jalan. Pandangan Zizi kembali mengangkasa sebentar sebelum berkata pelan, “Semoga masih ada yang seperti keinginanku…” Ia menunduk sedikit.

Beberapa saat suasana kembali hening. Alina tidak berkata apa-apa lagi. Ia memandangi adiknya dengan senyum kecil, seperti seseorang yang baru memahami sesuatu lebih dalam.

Zizi baru saja menutup laptopnya ketika terdengar suara pagar terbuka. Tak lama, seorang maid menghampirinya di teras, bahwa ada tamu yang mencarinya.

"Non, ada tamu,” kata maid pelan dari ambang teras.

Zizi mengernyit. Maghrib begini?

Ia bangkit dan berjalan ke ruang tamu, meninggalkan Alina. Begitu sampai di sana, langkahnya sedikit tertahan.

Fikri berdiri di dekat sofa, ransel masih menggantung di pundaknya.

“Kak, ada apa?” tanya Zizi heran.

Fikri terlihat agak ragu sebelum menjawab. “Hard disk dokumentasi wisuda… masih di kamu, kan?”

Zizi baru ingat. “Oh.”

Ia mengambil tas kameranya di teras, lalu menyambungkan hard disk kecil itu ke laptop. Beberapa folder video langsung muncul di layar.

Mereka duduk berhadapan di meja ruang tamu. Zizi memutar beberapa potongan footage, menghentikan salah satunya.

“Yang ini bagus buat opening.”

Fikri mencondongkan badan sedikit, memperhatikan layar sambil mencatat sesuatu di buku kecilnya. “Yang bagian masuk aula itu juga dipakai,” katanya.

Beberapa menit kemudian laptop ditutup. Hard disk sudah kembali di tangan Fikri. Ia baru saja berdiri ketika dari arah teras depan terdengar suara langkah mendekat.

Suara lelaki terdengar jelas dari depan rumah. “Assalamu’alaikum.”

Zizi dan Fikri sama-sama menoleh.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!