Dilamar Mokondo yang SALEH
Tinggal jawab Iya
“Assalamu’alaikum.”
Suara itu datang dari arah pintu depan. Zizi dan Fikri sama-sama menoleh.
Beberapa detik kemudian seorang pria masuk ke ruang tamu. Langkahnya tenang, memakai kemeja sederhana, tapi wibawanya terasa memenuhi ruangan.
Beliau menghentikan langkahnya ketika melihat Fikri berdiri di dekat meja.
“Oh,” katanya ringan, seperti baru menemukan potongan puzzle yang sudah ia kenal. “Fikri?”
Zizi langsung menoleh cepat ke ayahnya. Alisnya berkerut. Fikri juga tampak kaget sesaat sebelum menunduk sopan lalu menyalami beliau.
“Assalamu’alaikum, Pak.”
“Wa’alaikumussalam.” Ayah Zizi mengangguk pelan. Sorot matanya tenang, senyum tipis tersungging di wajahnya. “Sedang diskusi apa?”
Zizi semakin bingung. Cara ayahnya menyebut nama itu… terlalu akrab. Ia cepat-cepat menutup laptop di meja.
“Hard disk dokumentasi wisuda, Pak,” katanya singkat, hampir seperti memberi laporan. “Tadi nggak sengaja kebawa Zizi.”
“Begitu.” Ayahnya mengangguk lagi, seolah informasi itu cukup. Beliau hendak mengatakan sesuatu, tapi Zizi sudah lebih dulu berdiri.
“Fikri juga sudah mau pulang.”
Tanpa memberi kesempatan obrolan berkembang lebih jauh, Zizi berjalan lebih dulu menuju pintu. Fikri sempat melirik ayah Zizi, mengangguk hormat lalu mengikuti langkahnya keluar rumah.
Udara malam terasa lebih sejuk di halaman. Lampu taman menyala lembut di antara pohon-pohon kecil yang ditata rapi di pinggir jalan setapak.
Fikri akhirnya bertanya pelan di belakangnya. “Kenapa buru-buru?”
Zizi berhenti sebentar, lalu menoleh dengan wajah agak kesal. “Kalau ayahku ngajak ngobrol, jangan mau.”
Fikri mengernyit. “Kenapa?”
“Nanti ditanya sejak kapan kenal aku. Tahu aku dari mana. Ada hubungan apa sama aku.”
Fikri malah tertawa kecil. “Tinggal jawab jujur aja. Apa susahnya?”
Zizi melongo menatapnya. “Kak Fikri nggak tahu ayahku.”
“Ya makanya mau tahu,” jawab Fikri santai.K
Zizi menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Nanti kalau ditanya punya niat serius sama aku gimana?”
Fikri berhenti melangkah. Beberapa detik ia menatap Zizi, lalu menjawab ringan, seolah itu hal biasa baginya. “Ya tinggal jawab iya.”
Dhuar.
Zizi hanya bisa menatapnya tanpa kata, seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia berkedip beberapa kali. Otaknya seperti tertinggal dua detik di kalimat itu.
Lampu taman memantulkan bayangan daun di wajah Fikri yang masih berdiri santai di depannya. Satu tangan memegang hard disk kecil itu, tangan satunya lagi masuk ke saku jaket.
Zizi akhirnya mendesah pelan, lalu memukul ringan lengan Fikri dengan punggung tangannya. “Serius, ish. Jangan becanda.”
Fikri sedikit mundur setengah langkah karena pukulan itu, lalu malah tertawa lepas, sampai bahunya berguncang pelan.
Zizi semakin kesal melihatnya. “Kenapa malah ketawa?”
Fikri menggeleng-gelengkan kepala, masih menyisakan senyum di wajahnya. “Ekspresimu itu loh.”
“Ekspresi apa?”
“Kagetnya.” Ia menunjuk wajah Zizi dengan dagunya sedikit. “Kayak kesiram kuah seblak panas.”
Zizi memelototinya. “Kalau ayah denger berabe.”
Fikri kembali tertawa sambil menunduk sebentar, mengusap tengkuknya sebab membuat Zizi kesal, padahal komunikasi mereka baru saja membaik.
“Kan tadi kamu yang nanya,” katanya akhirnya.
Zizi menyilangkan tangan di depan dada. “Bukan begitu maksudnya.”
“Lalu?”
Zizi menatapnya sebal, tapi tidak langsung menjawab. Angin malam lewat di antara pohon-pohon kecil di halaman, membuat daun bergerak pelan di atas mereka.
“Ayahku itu…” Zizi berhenti sebentar, mencari kata yang pas. “Kalau sudah tanya begitu, maknanya serius.”
Fikri mengangguk kecil. “Bagus.”
Zizi menatapnya tidak percaya. “Bagus apanya?”
Fikri mengangkat bahu ringan. “Artinya beliau peduli.”
Zizi menghela napas panjang lagi. Ia menatap jalan setapak di bawah kakinya, lalu bergumam pelan, “Kamu benar-benar nggak tahu ayahku.”
Fikri memperhatikannya beberapa detik. Senyumnya masih ada, tapi kali ini lebih tenang. “Kalau begitu kenalin saja.”
Zizi langsung menoleh cepat. “Apa?”
Fikri mengangkat bahu ringan, seolah itu ide cemerlang. “Biar aku tahu.”
Zizi menatapnya beberapa detik, lalu menggeleng keras sambil berbalik menuju pintu rumah. “Pulang sana.”
Fikri berdiri di tempatnya, masih dengan senyum yang belum sepenuhnya hilang. “Diusir?”
Zizi berhenti di anak tangga teras dan menoleh lagi dengan wajah kesal. “Iya.”
Fikri justru terkekeh lagi. Ada sesuatu di cara Zizi marah yang entah kenapa terasa lucu baginya. “Baik, Bu Panitia,” katanya ringan.
Zizi mendengus. “Besok rapat jam delapan. Jangan telat.”
Fikri mengangguk, lalu berbalik melangkah menuju gerbang. Sebelum satpam membuka pagar, ia sempat menoleh lagi.
Zizi masih berdiri di teras dengan tangan terlipat. Fikri mengulas senyum tipisnya lagi.
“Kalau ayahmu benar-benar tanya tadi…”
Zizi langsung menyipitkan mata. Fikri mengangkat hard disk itu sedikit seperti mengingat sesuatu, lalu berkata, “Aku tetap jawab yang sama.”
Lalu ia menyalakan motornya dan keluar. Zizi berdiri beberapa detik di tempatnya. Terasa aneh karena kalimat Fikri tadi.
Suara motor Fikri perlahan menjauh di ujung jalan.
“Zi.”
Suara ayahnya terdengar dari belakang. Zizi menoleh cepat. Beliau sudah berdiri di ambang pintu ruang tamu, mungkin mengamati sejak tadi, kedua tangannya terlipat santai di dada.
Zizi berdeham kecil, lalu berjalan masuk.
“Ayah tumben pulang cepat.”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Beliau hanya memandang ke arah pagar lalu kembali menatap Zizi. “Teman kampusmu?”
Zizi mengangguk cepat. “Panitia wisuda.”
Ayahnya mengangguk pelan, seolah informasi itu menguatkan sesuatu yang sudah ia ketahui sebelumnya. “Anak yang sopan.”
Zizi berhenti melangkah, menoleh pelan ke arah ayahnya. "Ayah kenal dia?”
Ayahnya tersenyum kecil.
Zizi mengerutkan dahi. Belum sempat ia bertanya lagi, ayahnya sudah berjalan melewatinya menuju tangga. Di anak tangga pertama, beliau berhenti sebentar.
“Lain kali,” katanya ringan tanpa menoleh, “kalau ada tamu, jangan buru-buru diusir.”
Zizi mematung. Ayahnya naik ke lantai atas dengan langkah tenang.
Di ruang tamu yang kembali sunyi, Zizi hanya berdiri sambil memikirkan satu hal yang sejak tadi berputar-putar di kepalanya.
Kenapa semua orang… seperti sudah tahu sesuatu tentang Fikri?
*
Motor Fikri melaju pelan meninggalkan kompleks rumah Zizi. Jalanan malam sudah mulai lengang. Lampu-lampu taman di pinggir jalan memantulkan cahaya kuning lembut di aspal yang masih hangat oleh sisa siang.
Angin malam menerpa wajahnya. Helmnya belum ia pasang dengan benar. Pikiran Fikri masih tertinggal di halaman rumah itu.
Fikri terkekeh pelan sendiri. Ekspresi Zizi barusan benar-benar tidak bisa ia lupakan. Mata membulat, wajah memerah sedikit, lalu memukul lengannya seperti anak kecil yang kesal.
“Ya tinggal jawab iya," gumamnya.
Sejujurnya, ia sendiri tidak tahu kenapa kalimat itu keluar begitu saja. Padahal tadi hanya ingin menggoda Zizi sedikit.
Motor berhenti di lampu merah. Fikri menurunkan kaki, menatap lurus ke jalan kosong di depannya.
"Tapi kalau benar ditanya begitu… apa aku benar-benar berani jawab iya?” lirihnya, membuat pikirannya melayang.
Lampu merah berubah hijau. Motor kembali melaju. Tiba-tiba. Tiiiiiin.
Brak.
.
.