Dinikahi Calon Ipar

Jebakan

Dengan tangan gemetar dan bibir gemelutuk akibat kedinginan, Diana memegang gunting itu. Perlahan ia mengarahkan ujung runcing yang berkilat saat diterpa cahaya pada dada kirinya. Kedua matanya memejam rapat dengan napas memburu. 

 

Kilasan nasehat dari ustazah yang mengajarinya ngaji hingga ia memilih nuntuk hijrah, membayang jelas dalam ingatan. 

 

"Setiap manusia akan diuji oleh Allah sesui kadar keimanannya masing-masing. Semakin tinggi iman seseorang, akan semakin besar juga ujian yang diberikan. Jangan merasa senang jika hidup kita terlalu mudah dan datar. Karena bisa jadi iman kita belum naik. 

 

"Karena Allah sendiri yang mengatakan dalam Alquran, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." [Surah Al-Ankabut ayat 2-3].

 

Kalimat demi kalimat nasehat terus berputar bak film. Begitu jelas dan gamblang, membuat gunting yang digenggamnya terjatuh begitu saja. Gadis itu luruh di lantai dingin kamar mandi dan menyesali kekhilafannya barusan. 

 

Hampir saja ia berbuat dosa dengan membunuh dirinya sendiri. Namun akhirnya ia bersyukur karena Allah masih mengembalikan kewarasannya hingga perbuatan laknat itu tak sampai terjadi. 

 

Sebuah dering hp menyentak gadis itu. Gegas ia menyelesaikan mandi secara kilat lalu keluar dengan mengenakan bathrob yang tersedia di kamar mandi. 

 

Dering kedua kembali berbunyi. Tertera nama bu Susi di layar gawainya. Ternyata rekan kerjanya itu meminta Diana untuk menggantikan dirinya menjadi pemdamping lomba siswa kelas 9. Dengan berat hati, ia mengiyakan dan segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. 

 

***

 

"Bu Diana, ayo cepat bersiap! Kita segera berangkat karena jarak tempuh kita cukup jauh." 

 

"Baik, Pak. Saya kasih tugas dulu ke kelas, nanti saya langsung menyusul ke mobil."

 

Tanpa menunggu jawaban dari Pak Irfan, Diana langsung melenggang ke kelas 9C. Ia tak ingin meninggalkan kelas dalam keadaan kosong. Karena hal itu akan menimbulkan kegaduhan dan mengganggu kelas lainnya. 

 

"Kalau sudah selesai, jangan lupa nanti dikumpulkan di meja ibu, ya," ucap Diana pada para siswa sebelum keluar kelas. 

 

"Iya, Bu!" 

 

Diana melempar senyum terbaiknya pada calon generasi penerus itu lalu keluar menuju mobil yang sudah siap untuk berangkat. 

 

"Ayo, Bu, cepat masuk! Nanti terlambat," ucap Pak Irwan yang sudah duduk di balik kemudi. 

 

Awalnya Diana ingin duduk di kursi tengah bersama siswanya. Namun ternyata sudah nggak ada tempat kosong untuk dirinya. Terpaksa ia duduk di samping pak Irwan meski kurang nyaman. 

 

"Pak Irwan tahu alasan bu Susi minta diganti?" tanya Diana memecah sunyi. Sebenarnya ia enggan berbincang dengan lelaki di sebelahnya ini. Namun rasanya kurang sopan jika ia hanya berdiam diri tanpa memulai obrolan. 

 

"Saya nggak tahu, Bu. Emang Bu Diana keberatan?"

 

"Ah, tidak. Hanya saja hari ini jadwal saya full. Nggak enak meninggalkan seharian."

 

"Tapi ini kan juga tugas sekolah, Bu. Saya rasa nggak masalah meski kelas kosong."

 

Diana mengalihkan pandangannya ke samping kiri. Menatap gedung-gedung yang tampak berkejaran di lihat dari dalam mobil. Sesekali ia menarik napas dalam untuk menghilangkan beban berat yang menghimpit dadanya akhir-akhir ini. 

 

Sebuah pesan masuk ke gawainya saat ia sedang melamun. Meski enggan membuka, ia tetap mengambil benda pipih berukuran 6 inchi dari dalam tasnya. Sebuah nomor tak dikenal. 

 

[Ada waktu? Kapan kita bisa bertemu?]

From: Daniel

 

Diana mengingat-ingat nama itu. Di mana ia pernah kenalan atau bertemu dengan pria berna Daniel? Ah, iya. Dia kan yang menolong waktu ia lupa membawa uang. 

 

"Hari ini bisa. Jam 4. Mau ketemu di mana?"

 

[Di tempat kita bertemu pertama kali ya]

 

"Ok"

 

Diana kembali memasukkan benda pintar itu ke dalam tas. Bersamaan dengan itu mobil yang mereka tumpangi memasuki gedung yang dijadikan tempat lomba. 

 

***

Tepat azan asar Diana dan rombongan sampai di sekolah kembali. Mereka pulang dengan membawa kemenangan. Ya, siswa yang mewakili sekolah berhasil memboyong piala dan uang pembinaan sebesar 2,5 juta rupiah karena mendapat juara pertama. 

 

Mereka disambut gembira oleh para guru dan kepala sekolah. Karena para siswa sudah pulang setengah jam yang lalu. 

 

Setelah berbasa-basi sebentar, Diana gegas menuju musalla untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim. 

 

Tepat saat ia hendak menstater motornya, notifikasi pesan di aplikasi WhatsApp berbunyi. Mau tak mau ia mengurungkan niatnya dan membuak gawainya terlebih dahulu. 

 

[Sory, Bu Guru, tiba-tiba aku nggak enak badan. Bisa nggak ketemuannya di apartemenku saja? Nanti ku kirim alamatnya]

 

Diana menghembuskan napas perlahan. Sebenarnya ia enggan berlama-lama dengan pria yang baru dikenalnya itu. Ia juga tak ingin datang ke apartemennya. Namun ia juga tak mau menanggung utang terlalu lama. 

 

"Lebih baik aku datang aja. Nggak usah masuk dan langsung menyerahkan uangnya," gumam Diana. 

 

Akhirnya gadis itu memutuskan untuk datang ke apartemen Daniel sesuai alamat yang dikirimnya melalui aplikasi. 

 

"Baiklah. Aku akan ke sana untuk membayar utangku kemarin."

 

[Maaf, Bu Guru, bisakah sekalian minta tolong? Maghku kambuh, rasanya sangat sakit. Sudah minum obat tapi di apartemen nggak ada makanan. Kalau tak merepotkan, tolong sekalian belikan bubur ya, nanti uangnya kuganti]

 

Sepertinya pria itu beneran sakit. Oke deh, nggak papa kan menolong? Perlahan gadis yang masih memakai seragam itu melajukan motor metiknya menuju alamat yang dikirim Daniel. Kebetulan di dekat sekolah tempatnya mengajar ada penjual bubur yang enak. Ia membeli satu bungkus dan segera menuju alamat.

 

Diana tak tahu jika seseorang yang sedang ditolongnya telah merencanakan sesuatu. 

 

Dengan seringai lebar, Daniel meminta teman-temannya untuk datang ke apartemen. 

 

"Datanglah bersama teman-temanmu ke apartemenku sekarang. Ada mangsa menggiurkan yang bisa digilir rame-rame," ucap Daniel melalui telepon. 

 

Wajahnya berseri-seri membayangkan buruannya masuk perangkap sebentar lagi. Otaknya sudah menyusun banyak rencana jahat yang akan menjadi malapetaka bagi Diana. 

 

"Kamu pikir baju taqwamu bisa menutupi siapa dirimu gadis cantik? Sekali murahan tetap saja murahan. Kamu akan tahu akibat dari sikapmu yang sok polos itu. Akan aku tunjukkan dimana tempatmu seharusnya berada!" 

 

Pria itu terbahak-bahak seperti orang kesurupan. Menunggu jarum jam berjalan serasa lambat. Ia sudah tak sabar dengan reaksi gadis itu. Apakah ia akan memohon-mohon padanya? 

 

Sebuah pesan masuk melalui aplikasi WhatsApp. 

 

[Aku sudah di depan pintu, tolong dibuka]

 

Daniel menyeriangai. Ia lalu mengetikkan pesan balasan secepat kilat dan bersembunyi di balik pintu. 

 

"Masuklah. Pintunya tak dikunci."

 

Diana berpikir keras. Tak mungkin masuk ke apartemen laki-laki asing. Sementara ia sendirian tanpa mahram. Dadanya berdebar kencang mengingat ia hanya sendiri. Menoleh ke kanan dan kiri, sepi. 

 

"Aku nggak bisa masuk. Ini buburnya sudah kubawakan. Tolong keluarlah, Mas"

 

[Kalau gitu taruh saja di meja dekat pintu. Dorong saj pintunya. Nanti aku ambil kalau sudah bisa berjalan ke sana] balas Daniel. 

 

Diana menghembuskan napas perlahan. Mengambil uang lembaran warna hijau dan memasukkan dalam kantong plastik bersama sebungkus bubur yang ia bawa. Lalu tangannya terangkat meraih hendel pintu. 

 

Perlahan gadis itu melangkah. Untung saja sofa terlatak di depan pintu. Jadi ia tak perlu melangkah lebih jauh ke dalam. Namun ketika ia sedang meletakkan bungkusan itu di atas meja, terdengar suara pintu ditutup dari belakang tubuhnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!