Dinikahi Calon Ipar

Cemburu Lagi

Seperti sudah disetting, setiap pukul 3 dini hari Diana selalu bangun untuk melaksanakan ibadah sunah tahajud. Kelopak matanya bergerak-gerak hingga terbuka sempurna. Pertama kali saat matanya terbuka, wajah tampan Desta yang tertangkap retinanya. 

 

Jarak mereka yang begitu dekat membuat hembusan napas teratur pria itu menerpa wajah cantik Diana. Seketika wanita itu terbangun. Merasa aneh karena tidur bersama manusia kulkas yang selama ini membencinya. 

 

Namun tiga detik kemudian ingatannya kembali pada pergumulan semalam. Pipinya merona saat apa yang terjadi kembali melintas dalam benaknya. Detak jantungnya berpacu lebih cepat hingga menyesakkan dada. Dengan sangat hati-hati ia turun dari ranjang menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhnya lalu bermunajat pada Allah. 

 

Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat pas untuk berkhalwat dengan Sang Pencipta. Ia benar-benar menghayati setiap ayat yang dibaca dalam salatnya. 

 

Sementara pria yang terbaring di ranjangnya masih terlelap di alam mimpi. Hingga suara merdu Diana mengusik tidurnya. Wanita itu membaca Alquran setelah menyelesaikan salatnya. 

 

Ada senyum terbit di bibir pria itu. Hatinya menghangat mengingat kejadian semalam. Dalam hati ia mengingatkan dirinya sendiri untuk berterima kasih pada ART-nya. Tak lupa memberi bonus atas inisiatif yang awalnya dibencinya. Kini ia bahkan berharap untuk selalu dekat dengan istrinya. Tak peduli jika nantinya ia akan mendapat masalah dari keluarga Meta. 

 

Diana tak sadar jika suaminya telah duduk bersandar di headbord ranjang. Menatapnya intens sambil tersenyum. 

 

"Kenapa berhenti, lanjutkan!"

 

"Hah, Mas sudah bangun? Sejak kapan?" Diana menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di kedua pipi putihnya. "Maaf, kalau suaraku mengganggu tidurmu, Mas."

 

"Tidak, tidak. Lanjutkan saja. Aku suka mendengarnya."

 

Wanita yang masih mengenakan mukena itu meletakkan kitab suci yang baru ditutupnya ke atas meja. Lalu kembali duduk di atas sajadah menunggu alunan azan selesai. 

 

"Tapi sekarang sudah azan, waktunya salat subuh. Mas mau salat di masjid atau di rumah?"

 

Pria itu salah tingkah. Menggaruk tengkuknya untuk menghilangkan gugup. 

 

"Aku tidak pernah salat."

 

Ia pikir istrinya akan bereaksi berlebihan seperti Meta jika tidak suka terhadap sesuatu. Nyatanya wanita ini hanya tersenyum tipis dan tidak mencelanya. 

 

"Apa Mas mau menjadi imam salatku sekarang? Mas bisa mandi dulu, aku tunggu sambil salat sunah dulu."

 

Pria ini semakin salah tingkah. Ia sangat ingin, tapi ia khawatir bacaannya tak seindah sang istri. Sudah sangat lama ia tak membaca ayat-ayat suci itu. Bahkan semenjak baligh tak melakukan ibadah wajib bernama salat. 

 

"Kenapa, Mas?"

 

"Apa kamu ... mau mengajariku? Aku takut lupa dengan caranya."

 

Lagi-lagi Diana hanya tersenyum. Ia tak mau menghakimi suaminya yang tak bisa salat. Justru ia berharap bisa membuka pintu hatinya agar mendapat hidayah melalui tangannya. 

 

Pagi itu, setelah Diana selesai menjalankan ibadah wajibnya dan suami telah membersihkan diri, keduanya duduk berhadapan untuk belajar salat dengan Diana sebagai gurunya. 

 

Dengan telaten dan sabar wanita itu membimbing suaminya belajar. Hatinya menghangat menyadari betapa dekatnya mereka sekarang. Tak ada lagi aura dingin dan cuek dari pria ini. Untungnya lelaki yang sah menjadi imamnya ini masih mengingat bacaan salat. Ia hanya cukup mengoreksi sedikit saja. 

 

Pukul enam pagi terdengar suara kunci pintu diputar dari luar. Keduanya spontan menghadap sumber suara yang menampilkan bik Ijah dengan senyum canggungnya. 

 

"Maaf, Den, Non, sarapan sudah siap."

 

Wanita paruh baya itu langsung ngacir tanpa menunggu jawaban. Ia takut akan mendapatkan serbuan pertanyaan atas perbuatan lancangnya semalam. 

 

Pasangan pengantin baru yang terlihat berseri-seri melangkah bersama menuju meja makan. Namun seketika langkah Desta terhenti kala melihat di sana sudah duduk sahabatnya dengan tatapan menyelidik. Pria itu terlihat sedang menyesap kopi buatan bik Ijah sambil menatap pasangan halal ini dengan pandangan yang sulit diartikan. 

 

Desta menarik kursi di hadapan Daniel dan menyilahkan istrinya duduk. Lalu menarik satu lagi untuk dirinya sendiri. 

 

"Mau sampai kapan Lo numpang sarapan di rumah gue?"

 

Pemuda itu tak tersinggung sama sekali. Tampangnya yang sedikit slenge'an terlihat tak terusik dengan sorot tajam tuan rumah. 

 

"Sampai gue bosen."

 

Desta mendengus kesal. Merasa terganggu dengan kehadiran sahabatnya. Ini adalah hari bahagianya. Bisa dekat dengan istri setelah beberapa peristiwa yang membuat mereka saling acuh. 

 

Seharusnya hari ini ia bisa menikmati akhir pekan berdua saja. Dalam otaknya sudah berencana untuk membangun keintiman dengan wanita yang sejak semalam ia nobatkan sebagai bidadari di hatinya. Menebus kesalahannya yang membuat wanita di sampingnya ini menderita akibat perbuatannya. 

 

Namun kehadiran sahabatnya yak ubahnya seperti hama penggagu saat ini. Terlebih ketika melihat tatapan kagum darinya untuk sang istri. Ketenangan yang baru saja ia dapat, seolah terusik. 

 

"Di, hari ini ada acara? Ikut abang, yuk!" 

 

Pria yang sejak tadi menampilkan aura dingin itu tersedak mendengar ajakan sahabatnya. Kedua matanya tampak memerah akibat makanan yang salah masuk saluran napas. Dengan cekatan Diana langsung memberinya air putih dan mengelus punggungnya dengan lembut. 

 

"Hati-hati, Mas makannya!"

 

Setiap gerak-gerik pasangan itu tak luput dari pengamatan Daniel. Ekor matanya melirik sang adik yang hanya dibalas senyum tipis dan rona merah di pipinya. 

 

"Di, gi--"

 

"Kemana, Bang?"

 

"Ada deh, pokoknya ikut aja!"

 

"Nggak! Diana tetap di rumah," ucap Desta tegas. 

 

"Ck, kenapa sih, Lo? Cemburu?"

 

Desta melotot pada sang teman. Untuk kali ini ia sangat membenci sahabatnya. Kenapa pria itu jadi sangat menyebalkan dan tak tahu diri. 

 

"Lo yang kenapa? Mau pergi ya pergi aja sendiri! Ngapain ngajak Diana?"

 

Daniel tertawa mengejek. Sengaja ia memanas-manasi sahabatnya dengan teris menggoda satu-satunya wanita di antara mereka. Ia paham betul pasangan pengantin baru itu sedang membangun kedekatan. Dan kehadirannya saat ini dianggap mengacaukan rencana si tuan rumah. 

 

"Lo nggak ada jadwal di rumah sakit? Biasanya kalau hari minggu selalu menghabiskan waktu di sana," ucap Daniel sengaja menekan kata hari minggu. 

 

Tentu saja hal itu membuat Desta lagi-lagi menatapnya tajam. Merasa tersindir dengan kata-kata sahabatnya. Ya, selama ini memang ia selalu menghabiskan hari minggu bersama Meta. Dan hari ini, adalah hal yang sangat langka karena ia berencana di rumah saja. 

 

"Oke lah, Bang. Diana ikut. Sekalian nanti mampir Gramedia, ya. Mau cari buku."

 

"Siap tuan putri, apapun untukmu," balas Daniel dengan mengerlingkan matanya. Dalam hatinya ia bersorak sorai melihat wajah kesal sahabatnya. 

 

"Boleh kan, Mas?" tanya Diana sambil memiringkan kepalanya menghadap sang suami. 

 

"Terserah!"

 

Sengaja ia melakukan itu supaya Desta cemburu. Dan benar saja, setelah mendengar pertanyaan sang istri, pria itu membanting sendok hingga berbunyi nyaring dan beranjak dari sana. Dia pikir setelah malam panjang semalam, Diana akan menolak ajakan Daniel. Nyatanya wanita ini seolah tak peka dengan perasaannya dan memilih pergi bersama pria lain. 

 

Setelah kepergian pria es itu, kedua kakak beradik yang belum diketahui siapapun itu saling melempar senyum. 

 

"Abang yakin dia nggak bakal marah?" bisik Diana pada kakaknya. 

 

"Justru itu tujuan kita. Biar dia marah dan mengikuti kita."

 

Wanita itu mencubit lengan abangnya gemas. Keduanya lalu terbahak hingga suaranya menggema sampai ke lantai atas. 

 

Diam-diam Desta bersembunyi di balik tembok yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu. Tangannya mengepal hingga menampakkan buku-buku yang memutih. Dadanya bergemuruh hebat dengan napas memburu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!