Dinikahi Calon Ipar

Playing Victim

Diana tercenung. Mencerna apa yang baru saja dialami. Suaminya yang sudah mulai berubah hangat, kini seolah kembali memasang tembok tinggi diantara mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa suaminya pulang bersama mantan kekasihnya?

 

Segala macam pikiran bekecamuk dalam benaknya. Namun wanita itu berusaha menepis kecurigaan yang mulai menghinggapi hati. 

 

"Di, bisakah kamu meminjamkan bajumu untuknya?" Suara bariton Desta mengalihkan fokusnya. 

 

"Dia kenapa, Mas? Kenapa sama kamu?" 

 

"Sudahlah jangan banyak bertanya dulu, ambilkan saja dulu baju ganti untuknya. Aku harus segera memeriksanya!" ucap Desta dengan nada meninggi. Terlihat jelas kekhawatiran pria itu pada Meta, mantan kekasihnya. 

 

Kedua netra bening Diana sudah penuh dengan kaca-kaca yang siap pecah dalam sekali kedipan mata. Dengan hati tersayat, wanita itu berjalan menuju kamarnya. Mengambil satu setel baju tidur berlengan panjang. 

 

Meski dadanya bergemuruh, wanita itu tetap melakukan perintah suaminya. Setelah ini ia akan bertanya. Mungkin suaminya bersikap begitu karena ia tahu kondisi gadis itu. 

 

Dengan tangan bergetar, Diana mengetuk pintu kamar tamu. Setelahnya ia masuk tanpa menunggu perintah dari dalam. Tampak sang suami sedang memeriksa Meta. Saking fokusnya sampai tak menyadari kalau sang istri sudah berdiri tak jauh darinya. 

 

"Dia kenapa, Mas?" 

 

Pria itu menegakkan tubuhnya sambil membenahi alat kesehatannya. Menghembuskan napas lega, dan menatap sang istri. 

 

"Dia hampir dilecahkan sama pria hidung belang di club," ucapnya lirih.

 

"Di club? Untuk apa dia di sana? Dan ... kenapa Mas bisa ke sana juga?" Entah mengapa mendengar suaminya mendatangi tempat haram itu hati Diana seperti ditusuk-tusuk. Kepalanya menggeleng pelan menepis semua bayangan yang membuat perutnya mual. 

 

"Sudahlah, nggak perlu banyak tanya. Mana bajunya! Dia harus segera diganti bajunya supaya bisa tidur dengan nyaman. Sekarang keluarlah! Bukankah kamu juga sedang kurang enak badan? Tidurlah, sekarang sudah malam."

 

Sebenarnya Diana masih ingin tinggal. Membantu menggantikan baju Meta dan bertanya apa yang terjadi hingga mereka bisa ada di club. 

 

"Tunggu apa lagi? Cepat keluar dan istirahatlah. Ini sudah malam!" 

 

Dengan langkah gontai, Diana berjalan keluar. Keduanya matanya sudah memanas. Hingga saat kakinya baru menginjak anak tangga pertama, wanita yang baru hamil muda itu menjatuhkan dirinya. Air mata sudah meluncur bebas membentuk anakan sungai di pipinya yang tirus. 

 

"Baru tadi pagi aku merasakan kebahagiaan yang sempurna, tapi kenapa sekarang Engkau datangkan ujian ini Ya Allah. Apa salah jika hamba berharap bahagia dari pernikahan ini?" 

 

Mendengar pintu dibuka, Diana buru-buru naik ke kamarnya. Ia tak ingin menampakkan kelemahannya di depan sang suami. Ia berpikir mungkin bawaan hormon kehamilan lah yang membuatnya menjadi lebih sensitif dan mudah menangis saat ini. 

 

Berkali-kali ia mengucap istighfar. Menepis segala pikiran buruk yang meracuni hati. Berusaha memejamkan mata untuk menjemput mimpi. Berharap ketika bangun nanti, semua kejadian ini nggak nyata. 

 

Pukul empat pagi Diana bangun karena perutnya kembali bergejolak. Buru-buru wanita itu berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. 

 

Cukup lama ia berada di sana hingga tubuhnya lemas. Lalu keluar dalam keadaan sedikit segar sehabis wudlu. 

 

Dua rakaat telah tertunaikan. Ia menoleh ke ranjang. Baru sadar jika tak ada siapapun di sampingnya. Bahkan spreinya masih tampak rapi menandakan tak ada orang lain yang tidur di sebelahnya semalam. Pikirannya kembali melayang pada suaminya dan juga adiknya itu. 

 

Gegas ia turun ke lantai satu untuk melihat kedua orang itu. Perlahan ia berjalan menuju kamar yang semalam ditempati adiknya, Meta. Namun langkahnya terhenti mendengar perdebatan yang cukup sengit dari dalam. Tak jelas apa yang mereka perdebatkan, karena kamar itu kedap suara. Hanya dari pintu itu ia sayup mendengar. 

 

Hatinya mendorong untuk mendekat dan masuk ke kamar itu. Namun logikanya menahan. Ia masih belum cukup kuat untuk menghadapi kenyataan yang terjadi nanti. 

 

Dalam kebimbangan, perutnya kembali bergolak. Seperti ada yang diaduk-aduk di dalam lambungnya. Kepalanya juga terasa pusing dan berat. 

 

Ia memuntahkan kembali isi perutnya yang sudah kosong. Hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya. Semakin lama kondisi seperti ini membuatnya tersiksa. 

 

Bi Ijah yang sedang membuat sarapan menghentikan aktivitasnya dan membantu mengurut tengkuk majikannya. Hatinya berdebar-debar karena menganggap Diana belum tahu jika ada wanita lain di rumah ini. 

 

Dalam hati ia merasa kasihan pada majikan kesayangannya ini sekaligus jengkel pada tuannya yang tidak bisa menjaga hati istrinya. Padahal saat ini istri tuannya ini sedang mengandung darah dagingnya. 

 

Desta yang hendak mengambil air minum untuk Meta seketika terhenti melihat pemandangan di hadapannya. Hatinya merasa dicubit melihat sang istri tersiksa karena muntah-muntah lagi. Sebenarnya ia berencana untuk membawanya ke rumah sakit hari ini jika kondisinya belum membaik. Namun kejadian semalam membuatnya tak bisa melakukan itu sekarang. Terlebih Meta sudah mengancam akan melakukan hal yang lebih gila lagi. 

 

Baru saja ia akan mendekati sang istri, suara teriakan Meta dari kamar tamu menghentikan langkah kakinya. Diana pun ikut mendongak dan memutar lehernya. Sekelebat bayangan Desta masih ia lihat. Namun sudah tertelan kembali oleh pintu kamr tamu. Entah apa yang mereka lakukan sebenarnya. 

 

"Bik, apa dari semalam mereka belum keluar kamar?" tanya Diana lirih. 

 

Tubuh wanita paruh baya itu menegang. "Bibik nggak tahu, Non. Sudah, nggak usah dipikirkan. Sebaiknya Non segera sarapan agar perutnya terisi. Terus minum susu hamil ya, Non. Biar calon dedeknya tumbuh sehat. Bibik sudah membelikannya tadi pagi di toko 24 jam dekat rumah bibik."

 

"Apa dia sudah tahu, Bik?"

 

"Belum, Non. Kan, Non Diana sendiri yang minta untuk tidak mengatakannys dulu. Bibik nggak berani mengatakannya, Non." Wanita itu membimbing Diana untuk duduk di kursi yang melingkar di depan meja makan. 

 

"Kemasan susunya tolong disimpan ditempat yang nggak pernah dia datangi ya, Bik. Aku nggak mau dia bertanya-tanya."

 

"Beres, Non. Bibik pasti bisa jaga rahasia sampai ulang tahunnya tiba. Bibik yakin, Aden pasti akan terkejut dengan hadiah terindah dari Non."

 

Wanita itu terus menghidur Diana. Membuat kesedihan yang dirasakannya perlahan terkikis. Keduanya berbincang ringan tanpa memerhatikan sekitar. 

 

"Heh, dasar kakak nggak tahu diri! Mulai sekarang jangan pernah lagi menguasai Desta sendirian. Kamu tahu, dia itu milikku. Jangan melarangnya untuk bertemu denganku. Ingat, pernikahan kalian itu hanya sesaat. Sebentar lagi, Destaku akan menceraikanmu dan kembali padaku. Bersiaplah untuk kembali sendiri." 

 

Meta yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Diana berkata ketus. Wajahnya memerah dengan urat-urat leher yang menonjol. 

 

Diana bergeming. Tak mau menanggapi sang adik. Tatapannya sendu ketika bertemu dengan mata tua bi Ijah. Merasa tak enak karena ia harus tahu tentang masalahnya. 

 

"Kak Diana, aku bicara sama kamu. Berani kamu mengabaikanku, hah?" 

 

Entah apa yang merasuki gadis yang tampak acak-acakan itu. Dengan berani ia menarik kerudung yang dikenakan Diana hingga membuat wanita itu hampir terjengkang. 

 

"Mbak Meta, jangan lakukan itu, kasihan Non Diana," sergah Bi Ijah yang sudah berdiri hendak mencegah Meta berbuat lebih jauh lagi. 

 

Tiga tahun ia mengenal mantan pacar majikannya ini, sedikit banyak ia tahu sikap bar-barnya ketika sedang marah. Bahkan ia nggak habis pikir majikannya bisa mencintai gadis ini. Berbanding terbalik dengan Diana yang lembut dan sopan. 

 

"Apa? Kamu mau ikut-ikutan? Kamu itu cuma pembantu di rumah ini. Jangan sok ikut campur! Atau kamu mau dipecat oleh Destaku?" 

 

Ancaman itu mampu membuat wanita paruh baya itu berhenti. Ia tahu, jika Desta bisa saja menuruti kata-kata gadis bar-bar di depannya ini. Sedangkan ia masih butuh uang untuk biaya kuliah anaknya yang bungsu. 

 

"Sudahlah, Met. Lebih baik kamu pulang. Kasihan Bapak sama ibu pasti khawatir di rumah."

 

"Nggak usah sok perhatian, deh. Harusnya kamu ngaca sebelum bilang begitu." Gadis itu kembali menarik kerudung kakaknya hingga Diana berdiri dari duduknya. Dengan kasar gadis itu melayangkan tamparan keras ke wajah mulusnya. 

 

"Ini karena kamu berani membuat Desta mengabaikanku!" 

 

Telinga Diana berdenging. Bekas tamparan itu terasa sangat panas dan nyeri. Belum sempat ia bereaksi, satu tamparan kembali melayang di pipi kirinya. 

 

"Dan ini karena kamu telah merebut semuanya dariku!" 

 

Diana tersungkur ke lantai. Tangisnya sudah pecah entah sejak kapan. Hantinya sangat sakit mendapat perlakuan kasar dari orang yang selama ini ia sayangi. 

 

Dalam hitungan detik, gadis itu kembali menyerang Diana dengan kalap. Sementara bi Ijah yang masih mencerna kejadian itu hanya bisa membeku. Suara pecahan gelas terdengar nyaring memenuhi lantai satu membuat Desta buru-buru turun. 

 

Melihat Desta yang berlari ke arah mereka, Meta melakukan hal tak terduka. Ia menyayat lengannya dengan pecahan kaca itu lalu melemparkan benda tajam itu ke dekat tangan Diana. 

 

"Apa yang sedang terjadi?"

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!