Dinikahi Calon Ipar
Stempel Lima Jari
"Lihatlah, penghuni baru ini begitu pendiam!" ucap wanita bertubuh gempal yang sedang dikerumuni wanita lain sambil dipijat. "Hei, penghuni baru! Kenalan dulu, dong! Kita semua sama di sel ini, penjahat, ha ha ha ...."
Diana tak menggubris ucapan wanita itu. Sejak sejam yang lalu, ia dipindahkan ke ruangan ini. Berbagi tempat dengan delapan tahanan lain yang tampaknya mereka tak ingin membuat Diana tenang.
"Heh, sombong sekali kamu! Nggak usah sok suci! Penampilan seperti malaikat tapi ternyata berhati iblis! Nggak nyangka seorang guru tega meracuni anak didiknya sendiri," ucapnya lagi diikuti derai tawa yang lain.
Telinga Diana sudah sangat panas mendengarnya. Namun ia mencoba bergeming. Pura-pura tak dengar karena tak mau bermasalah dengan penghuni lain.
"Eh, ternyata selain jahat, dia juga tuli, Gaes!"
Lagi-lagi derai tawa menggema mengejek Diana. Hanya satu yang diminta wanita hamil ini, segera bebas dari tempat ini. Jika terus-menerus di sini, ia khawatir mentalnya nggak akan kuat. Terlebih buat perkembangan janinnya.
Seorang berambut keriting mendekati Diana yang termenung di depan jeruji besi. Menarik kerudungnya hingga kepala wanita berhijab ini mendongak ke atas.
"Kamu, kalau mau menjadi bagian dari kami harus hormat pada bos kami! Sekarang cium kakinya dan memohonlah agar bos mau menerima menjadi anak buahnya! Itupun kalau kamu nggak ingin hidupmu menderita di sel ini."
Wanita itu lalu menyeret Diana menuju wanita yang disebut sebagai bos itu. Menghempaskan tubuh ringkih Diana hingga tersungkur di hadapan wanita bertubuh gempal.
"Cium kakinya!"
Diana menatap wanita itu tak suka. Baru pertama kali ia diperlakukan seperti ini. Ia tak takut meski harus menghadapi delapan orang sendirian. Merendahkan diri dan mencium kaki manusia, sama saja dengan penghinaan.
"Cepat lakukan!"
"Aku tidak mau!" ucap Diana datar.
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya, meninggalkan jejak lima jari dan rasa nyeri.
"Rasakan itu. Kamu berani membantah, kelar hidupmu!"
"Lebih baik aku mati daripada sujud di kaki manusia!"
Karena sudah nggak tahan dengan sikap membangkang Diana, tiga wanita lain maju dan menganiaya Diana.
"Ada apa ini?" tanya seorang sipir yang mendengar ribut-ribut dari dalam sel. Lalu membuka kunci dan menarik Diana ke luar.
"Kamu! Ayo ikut saya!"
"Mau kemana?"
"Ada yang menjengukmu! Waktumu hanya lima belas menit. Manfaatkan sebaik-baiknya."
Diana digiring ke ruang tunggu. Di sana sudah duduk sepasang suami istri yang terlihat cemas.
"Mommy, Daddy!"
"Diana, mantu Mommy ... bagaimana keadaanmu, Sayang? Kamu baik-baik saja, kan?" Kedua wanita beda usia itu langsung berpelukan. Melepas rindu seolah bertahun-tahun tak bertemu.
Setelah cukup lama, Diana merenggangkan tubuhnya. Menatap mata sang mertua sendu.
"Maafin Diana, Mom. Diana sudah membuat malu keluarga," lirihnya.
"Tidak, Sayang. Mommy yakin kamu nggak bersalah. Mommy juga tidak malu dengan semua ini. Kamu tetap mantu kebanggaan Mommy, Sayang.
Diana tergugu. Tak kuasa menahan bendungan air mata yang sudah mendesak ingin tumpah. Ia sungguh menyesal karena tak mencicipi bekal itu terlebih dahulu. Kalau saja ia yang makan duluan, mungkin bukan ketiga siswanya yang keracunan. Dan ia rela untuk itu asal nyawa ketiga anak didiknya tidak melayang.
"Sayang, kamu kenapa? Apa di dalam sel mereka memperlakukanmu semena-mena? Kenapa ada bekas telapak tangan di pipimu? Terus kerudungmu kenapa berantakan sekali?" Wanita paruh baya itu berubah panik melihat penampilan menantunya yang kusut. Ditambah stempel lima jari yang tercetak jelas di pipi putih Diana semakin menyakiti hati wanita itu.
"Tidak apa-apa, Mom. Mereka hanya belum terbiasa dengan kehadiranku saja."
"Ah, ini nggak bisa dibiarkan. Dad, tolong usahakan agar Diana dipindah dari ruang itu. Lihatlah, menantu kesayangan Mommy menderita di sana," rengek Marini pada suaminya.
Lelaki berwibawa itu mengangguk. Lalu menatap sang menantu dengan tatapan iba. Sudah berusaha bernegosiasi dengan pihak polisi tapi sama seperti Daniel. Mereka harus membawa bukti kalau Diana nggak bersalah, baru bisa dibebaskan. Uang jaminan tak bisa membuatnya keluar dari sini berapapun jumlahnya.
"Sabar ya, Nak. Daddy sedang berusaha mencari cara agar kamu segera bebas."
"Iya, Dad. Maaf, Diana sudah menyusahkan kalian." Wanita itu menunduk sedih. Tangannya mengelus perut yang tiba-tiba bergerak. Ya, bayinya berubah aktif semenjak ia dipenjara.
"Ini, Mommy bawakan bayak buah untukmu. Kamu harus makan banyak supaya calon cucu Mommy tumbuh dengan sehat." Wanita berpenampilan modis itu menyodorkan parsel buah kepada menantunya.
"Waktu kalian sudah habis! Silahkan keluar dari ruangan ini!" ucap sipir penjara menginterupsi mereka.
Sebelum keluar, Marini memeluk erat menantunya sekali lagi. Menghujani ciuman di pipi dan dahinya bertubi-tubi. Sesaat setelahnya, Diana dibawa masuk kembali. Namun kali ini ia kembali dimasukkan ke sel yang pertama ia datang. Sendirian.
Ia merasa lebih tenang sekarang. Tak ada gangguan dari penghuni lain yang sok berkuasa.
***
Tiga hari sudah berlalu. Daniel masih belum bisa membawa bukti untuk membebaskan adiknya. Namun ia telah menyewa pengacara handal untuk membela adiknya. Setiap hari pria itu datang menjenguk Diana. Hatinya teriris pilu melihat sang adik yang semakin kurus. Entah karena makanan di penjara kurang bergizi atau adiknya yang masih shock dengan kejadian ini.
Sementara Desta, sejak mendengar kabar itu, ia menghilang bagai ditelan bumi. Tak ada kabar dan tak pernah sekalipun menjenguk sang istri. Diana hanya mampu mendesah kecewa karena orang yang seharusnya berjuang untuk dirinya justru abai.
Sementara berita tentang dirinya sudah santer di media. Bahkan selama tiga hari berturut-turut menjadi tranding topic di sosial media. Untung saja di penjara tak diperkenankan membawa alat komunikasi. HP milik wanita itu sudah diserahkan pada Daniel setelah ia datang pertama kali oleh polisi.
Dalam diam, Diana mencoba meresapi kejadian ini. Memang ada yang janggal dengan sikap ibunya yang tiba-tiba baik setelah mencampakkannya. Namun lagi-lagi hatinya menolak kalau ibunya lah yang sengaja meracuni makanan itu untuk membunuhnya.
Lelehan air mata membentuk sungai kecil di kedua pipinya. Ia merasa bahwa hidupnya sering dirundung duka. Mulai dari dilecehkan, dinikahkan paksa terus diabaikan suaminya, dan dibuang oleh keluarga yang merawatnya.
Helaan napas kasar terdengar nyaring di telinga. Hanya doa yang selalu ia panjatkan agar Allah memberinya hati yang lapang menerima ujian ini.
Suara besi saling beradu mengalihkan pandangan wanita itu. Seorang sipir kembali membuka pintu besi dan memintanya keluar.
"Keluarlah, Bu Diana! Anda sudah dibebaskan!"
"Apa? Saya bebas? Benarkah itu, Pak?"
"Ya. Selamat! Karena Anda terbukti tidak bersalah."
Dengan dada membuncah, wanita berhijab itu keluar dengan senyum merekah. Hatinya bertanya-tanya, siapa yang telah membebaskannya. Apakah Daniel sudah bisa mengumpulkan bukti-bukti itu? Ah sebaiknya ia segera keluar menemui pahlawannya.
"Terimakasih, Pak. Karena telah membebaskan saya."
"Berterima kasihlah pada pria di luar sana yang telah berhasil menunjukkan bukti-bukti. Kami hanya bertugas untuk menegakkan hukum."
Dengan langkah ringan, Diana berjalan keluar. Mencari sosok pria yang katanya telah berhasil mengeluarkannya dari ruang sempit berdinding besi itu. Matanya terus memindai seluruh ruangan. Namun nihil. Lalu melangkah keluar dan menemukan sosok yang ia cari. Senyumnya merekah saat melihat pria tampan yang baru saja berbincang dengan seorang pria lain. Diana menduga pria lain itu adalah seorang pengacara.