Ditipu Menantu Benalu
Hak Asuh
Aku menajamkan mata, mengamati orang yang seperti sedang mengawasi rumah Emak ini. Dilihat dari tempatku berdiri, dia seorang laki-laki. Hanya wajahnya tak jelas karena tertutup hodie.
Tubuhku bergidik membayangkan orang tersebut berniat jahat pada keluargaku. Namun aku tak memiliki cukup bukti untuk menuduhnya begitu. Getaran smartphone dari saku gamisku membuat tubuh membeku. Pasalnya, di sana, dari jarak 100 meter, pria itu terlihat sedang memainkan ponsel sambil menatapku.
Kutebak dia sedang menyeringai melihatku panik sekarang, karena pada saat yang bersamaan sebuah pesan melalui aplikasi hijau masuk.
[Kalian sudah membuatku terhina. Siap-siap atas pembalasanku!]
Mataku melotot sempurna membaca kalimat ini. Dia, orang yang berdiri di sana adalah Mas Tisna. Dan sekarang ia mencoba mengancam kami. Huh, tidak tahu saja dia berhadapan dengan siapa. Dia pikir kami terintimidasi dengan ancaman receh ini? Aku tertawa dalam hati.
Sekali lagi sebuah pesan masuk.
[Sampai mati pun, aku akan memperjuangkan anak-anakku. Darah dagingku]
Setelah mengirim pesan itu, dia pergi meninggalkanku yang masih termangu. Cukup lama kupandangi pria itu hingga hilang dari mataku. Otak ini berpikir keras. Mencari cara agar Mbak Citra tak kehilangan anak-anaknya.
Satu-satunya cara supaya anak itu tetap dalam hak asuh Mbak Citra adalab segera dibuatkan akta lahir. Karena keduanya belum memilikinya. Mas Tisna belum menguruskan akta lahir untuk kedua anaknya karwna terkendala di surat nikah. Hingga saat ini, status Mbak Citra juga belum jelas. Dikatakan seorang istri, ternyata pernikahannya tidak sah. Dikatakan janda, bahkan dia belum memiliki surat cerai dari suami pertama.
Rumit. Kehidupan rumah tangga kakakku ini sangat rumit. Aku sendiri bingung harus memulai dari mana untuk membantunya keluar dari masalah ini. Bagaimana pun buruknya sikap Mbak Citra padaku, dia tetap kakakku. Di dalam tubuhnya mengalir darah yang sama dengan tubuhku. Kami lahir dari orang tua yang sama. Tak mungkin aku tega membiarkannya terpuruk sendirian.
Cukup lama aku termenung di sini. Melupakan Mas Agus yang masih berada di dalam rumah Emak. Pikiranku melanglangbuana kemana-mana.
Kucoba menghubungi Mas Adi, suami pertama Mbak Citra. Alhamdulillah, dalam dering ketiga, panggilanku dikawab. Kuceritakan maksudku menelepon. Meminta bantuan untuk segera mengurus surat cerai dengan Mbak Citra. Syukurnya, dia telah mengurusnya empat tahun lalu ketika tahu atas penghianatan kakakku. Hanya saja ia belum sempat mengirim surat cerainya ke Mbak Citra.
Aku bernapas lega sekarang. Satu langkah telah terlewati. Tinggal menunggu kedatangan surat itu lalu aku mengurus akta lahir anak-anak. Tentu saja tanpa bapak. Dan ini akan menguntungkan Mbak Citra karena status anak itu adalah anak ibu. Sehingga Mas Tisna tidak akan bisa merebutnya.
Memang di negeri ini, anak yang lahir dari pernikahan siri atau di luar nikah, akan tercatat sebagai anak ibu. Mau nggak mau, Mbak Citra harus melakukannya.
Mengingat kasus pernikahan Mbak Citra yang begitu rumit, ditambah lagi lahir dua bocah dari pernikahan kedua yang ternyata tidak sah itu, maka jelas status anaknya bernasab ke ibu. Sesuai ajaran Islam, anak yang lahir diluar pernikahan maka nasabnya ke jalur ibu.
Dia tidak memiliki hak atas warisan dari ayah biologisnya. Tidak pula berwali kepadanya jika menikah. Maka konsekuensi ini harus ditanggung Mbak Citra.
"Dek, kok lama banget di sini. Mana sendirian lagi, sedang chatingan dengan siapa, sih?" tanya Mas Agus membuatku berjingkat kaget.
Laki-laki bergelar suamiku ini menengok gawai yang kupegang. Mungkin curiga aku sedang cathingan sama pak Bos. Apalagi urusan itu masih mengganjal di hatinya.
Kuserahkan gawaiku padanya yang masih menampilkan layar chating dengan Mas Adi. Kulihat jedua netranya bergerak-gerak seirama dengan jalannya jemari menggeser layar berukuran 5,5 inchi itu.
Kuceritakan kejadian barusan. Bagaimana mas Tisna mencoba mengancamku melaui pesan singkat.
Ia menghembuskan napas panjang.
"Apa harus kamu yang mengurus masalah ini semuanya?"
Spontan kutatap matanya yang penuh tanda tanya. Ada ketidaksukaan tergambar jelas di sana. Aku paham kenapa dia bersikap begitu. Karena masalah ini sudah sangat menyitaku. Baik waktu, pikiran, dan uang. Meski dari hasil jerih payahku sendiri, tetap saja menurut Mas Agus aku terlalu all in membantu kakakku.
Lalu kalau bukan aku yang membantu menyelesaikan masalahnya, siapa lagi? Aku nggak mungkin membebankan urusan ini pada Bapak yang sudah tua. Apalagi Emak yang tak paham apa-apa soal ini.
Hanya aku satu-satunya saudara Mbak Citra. Setega apa pun dia padaku dulu, aku nggak bisa membiarkan terpuruk sendirian.
"Kalau bukan aki, siapa lagi, Mas? Lihat kondisinya! Mengurus dirinya sendiri saja tak mampu. Emosinya sangat labil, bagaimana mungkin bisa mengurusi ini semua?"
Kutekan suaraku bagar tidak meninggi. Kami masih berada di halaman rumah Emak sekarang. Disaksikan cahaya matahari yang mulai tampak kekuningan dengan wujudnya yang bulat seperti bola. Aku berdiskusi dengan imamku ini meski kadang sedikit berdebat.
***
Mas Adi benar-benar menepati janjinya. Hari ini surat cerai Mbak Citra dudah sampai ke tanganku. Dengan status barunya itu, mbak Citra bisa segera mengurus akta lahir.
Kali ini aku tak mengurus sendiri. Melainkan kuserahkan pada seseorang yang membuka jasa seperti ini. Aku tinggal membayar sejumlah uang, lalu beres.
Pukul 11.30 aku masih berkutat dengan jadwal deadline yang kubuat. Setelahnya akan kuberikan pada masing-masing tim. Dering telepon membuatku sedikit terlonjak. Mau tak mau aku harus mengangkatnya.
[Dewi, ke ruangan saya sebentar]
Dengan sedikit tergesa, aku meletakkan gagang telepon dan beranjak keluar, menuju ruangan orang nomor wahid di kantor ini.
Kuketuk pintu beberapa kali hingga penghuni ruangan yang sangat mewah dan elegan ini mempersilahkan aku masuk. Kulangkahkan kaki ini dengan perlahan. Rasanya sangat berat seperti ada rantai besar yang mengikat. Sengaja aku tak menutup kembali pintunya agar tidak ada yang berpikir aneh-aneh. Mengingat sebentar lagi jam istirahat.
Seorang pria dengan jas tersampir di kursi tempatnya duduk masih bergeming menekuri laptopnya. Kedatanganku tak digubrisnya. Ingin sekali aku menyemprotnya dengan ucapan pedas. Untungnya aku masih cukup waras untuk tidak melakukannya.
"Ada apa, Pak?" tanyaku setelah beberapa saat menunggu. Pria itu masih tak mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.
"Duduklah dulu di sofa itu. Biar kuselesaikan pekerjaan ini sebentar. Nanggung."
Kujatuhkan bobot tubuh ke sofa. Untuk membunuh bosan akibat menungu dan suasana hening, kucoba berselancar ke dunia maya. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri tanpa diminta.
Beberapa status temanku di tim lama rupanya sudah menunggu di kantin. Kami sudah berjanji akan makan siang bersama tadi pagi. Dan di sinilah aku sekarang. Terjebak di kantor Pak Bos tanpa kepastian. Entah apa tujuannya memanggilku kemari kalau hanya untuk melihatnya bekerja. Mana cuma berdua lagi. Kalau terjadi fitnah gimana?
Dalam kekalutan berpikir, pria yang terlihat sangat tampan dengan kemeja putih dan dasi warna biru navy itu sudah jalan mendekat. Lalu duduk tak jauh dariku.
"Bapak ada perlu apa memanggil saya kemari?"
"Temani saya makan siang!"