Ditipu Menantu Benalu

Nggak Respect

Setelah rapat dengan clien, aku nggak datang ke kantor. Kebetulan hari ini nggak banyak kerjaan, bisa langsung pulang. Hanya ada satu naskah yang harus kuedit dan bisa dibawa pulang. Urusan dengan mas Tisna benar-benar menjajah otakku. 

Aku memutuskan untuk langsung ke rumah emak, memastikan jika pengliharanku tadi salah. Pasalnya hari ini lintah darat yang kemarin datang ke rumah akan kembali lagi menagih utang. Aku nggak mau berurusan dengan yang namanya riba. 

"Loh, Nduk, nggak kerja?"

Aku mencium tangan emak lalu mengedarkan pandangan. Sepi. "Sudah pulang, Mak. Kok sepi, pada kemana?" tanyaku pura-pura tak tahu. 

"Pergi, Nduk. Balik lagi ke Bandung. Biarlah, biar mandiri." 

Dalam hati aku senang karena benalu itu akhirnya pergi dari rumah. Namun di sisi lain, ada emosi tertahan karena itu berarti aku harus berurusan dengan si lintah darat. 

"Ada apa, Nduk, kok kelihatan gelisah banget, apa ada masalah?"

Aku menghela napas panjang. Berpikir apa aku harus cerita sama emak atau tidak. Mataku memindai seluruh ruangan untuk mencari sesuatu, adakah barang yang hilang dari rumah ini.

"Mereka berangkat dapat uang dari mana, Mak?"

Emak langsung tertunduk lesu. Ada kecewa bergelayut pada wajahnya yang sudah keriput. 

"TV yang kamu belikan hilang. Emak nggak tahu kemana, tapi emak rasa digadaikan oleh Tisna buat ongkos ke Bandung." Emak menjeda kalimatnya. Ada kegetiran yang berusaha ia sembunyikan dariku. "Semalam, setelah kamu pulang, mbakyumu minta kalung emak untuk dijual, tapi emak nggak ngasih. Dia marah-marah dan bilang akan pergi dari rumah ini." 

Pipi tirus emak sudah basah oleh air mata. Rasa sedih dan kecewa tak mampu ditutupinya. Aku tahu emak kehilangan cucu-cucunya. Karena merekalah sumber kebahagiaan emak dan bapak. Tapi tetap seatap dengan anak dan menantunya juga menggerogoti kesehatannya sedikit demi sedikit. 

"Sudah, Mak. Biarkan saja mereka pergi. Emak kan masih ada Dian di rumah. Dia juga lebih nurut kalau nggak ada ibunya." 

Dian adalah anak pertama mbak Citra dari suami sebelumnya. Sekarang usianya audah 10 tahun. Jika ada ibunya, ia menjadi susah diatur dan selalu bikin ulah. Mungkin caper karena cemburu pada adek-adeknya. Sementara ayah tirinya sama sekali tak menyukainya. Selalu ada saja yang membuat lelaki tak tahu diri itu emosi jika menyangkut soal Dian.

Bahkan mbak Citra pun juga ikut terpengaruh. Selalu marah pada Dian jika anak itu mendekati adeknya. Selain raja utang, suami mbak Citra itu juga pandai mengadu. Hampir semua sifat buruk melekat padanya. Temperamen, ringan tangan, pemalas, dan masih banyak lagi. Ah, mengingatnya membuat darahku kembali mendidih.

Aku berusaha menenangkan emak. Meski sudah puluhan kali disakiti mbak Citra dan suaminya, emak masih saja menghawatirkan mereka. Terkadang sempat terbersit pikiran jahat olehku. Apa selama ini emak pernah menghawatirkan aku seperti mereka? Bahkan setelah menikah, aku benar-benar mandiri. Tak lagi meminta bantuan emak untuk menopang ekonomiku yang masih merangkak. Saat aku bolak-balik dirawat di rumah sakit pun emak tak memberiku uang sepeser pun untuk membantu biaya pengobatanku. 

Lagi-lagi mbak Citra yang selalu diperjuangkan hidupnya. Alasannya, aku sudah bekerja sendiri dan suamiku juga punya usaha. Aku lebih mandiri dan mbak Citra belum bisa apa-apa. Sebenarnya siapa yang kakak dan siapa yang adek? 

Masih jelas dalam ingatan saat mbak Citra melahirkan anak ketiganya. Aku yang bekerja diminta untuk ke rumah sakit saat itu juga. Padahal ada suaminya yang baru pulang dari kota. Usut punya usut, mereka tak mampu membiayai uang persalinan. 

Dan itulah pertama kali aku mulai nggak respek pada iparku. Tak ada ucapan minta tolong. Ia hanya diam sambil menunggu istrinya yang malu karena ditahan pihak rumah sakit. Ya, seharusnya mbak Citra pulang. Namun karena bely bayar, ia dan bayinya tak boleh dibawa pulang. Otomatis biaya makin nambah. 

Saat itulah emak nangis-nangis di hadapan mas Agus untuk meminjami uang. Sifat mas Agus yang tak tegaan, berhasil dimanfaatkan oleh benalu itu. 

Ah, rasanya dadaku mau meledak jika mengingat hal itu. Bukannya tak mau membantu, tapi sikap mas Tisna yang cuek dan sombong itu yang membuatku malas berurusan dengannya. Jika mau dihitung, tak kurang dari 10 juta utangnya padaku. Dan sekarang ditambah urusan BPKB motor yang kuberikan pada bapak juga dijadikan jaminan utang. 

Suara salam dari luar rumah menyadarkanku dari lamunan. Emak tergopoh-gopoh ke depan untuk melihat tamunya itu. Karena penasaran, aku mengekor dari belakang. Mataku terbelalak melihat si lintah darat ada di depan emak. 

Gila, tuh orang gigih juga. Bisa mencariku sampai ke sini. Tapi, bagaimana nanti kalau emak tahu. Ya Allah apa yang harus kulakukan. Aku beringsut mundur dan bersembunyi di balik pintu. Mendengarkan ucapan mereka. 

Dadaku berdegub kencang saat namaku disebut-sebut. Kalau saja tak takut dosa, aku sudah mengumpat kasar meluapkan emosi ini. Mas Tisna, awas saja nanti. Akan aku beri pelajaran sampai kapok. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!