Ditipu Menantu Benalu

Tamu Tak Diundang

Emak meminta tamu tak diundang tersebut untuk masuk supaya tidak menjadi tontonan para tetangga kepo. Karena Emak tahu urusan ini akan panjang. Mata pria itu jelalatan. Memandang seluruh penjuru ruangan. Entah, dari awal aku sudah nggak respect dengan lintah darat ini. 

"Bu Dewi, saya tidak mau basa-basi lagi. Sekarang sudah jatuh tempo utang mas Tisna, tolong dilunasi." Pria berkacamata hitam itu duduk dengan menaikkan satu kaki ke kaki lainnya. Pembawaannya yang kurang sopan membuat aku dan Emak saling lirik. 

"Maaf, Pak. Saya rasa sudah jelas. Saya tidak punya utang, dan saya tidak punya urusan dengan Bapak." Aku mencoba untuk tetap pada pendirian. Enak saja nggak makan uangnya, ikut diuber-uber. Emangnya maling! Huh. 

"Tapi jaminan yang dipakai menggunakan BPKB atas nama Ibu. Jadi kalau nggak dibayar, motornya saya sita."

Emak melebarkan matanya mendengar ucapan lintah darat tersebut. Kepalang basah, dia nekat kemari akhirnya Emak ikut tahu urusan ini. Biar sekalian tahu sikap menantunya yang kurang ajar itu. 

"Maksudnya motor yang kamu berikan pada Bapak itu, Wi?" tanya Emak. Alisnya mengerut dengan mata sendu. Dua tahun lalu aku membelikan motor itu dengan uang hasil gaji pertamaku. Melihat Bapak jualan keliling jalan kaki rasanya tak tega. Karena Bapak tak mau berhenti jualan meski sudah kularang. Dia bilang tubuhnya masih kuat. Kalau nggak kerja, nanti lama-lama tubuhnya makin ringkih karena tak pernah dipakai gerak. Entah, dapat teori dari mana Bapakku itu.

"Silahkan aja kalau mau disita, motornya saja nggak ada," jawabku santai. Pria ini langsung menurunkan satu kakinya dan menegakkan tubuh. 

"Maksudnya?" 

"Ya, motornya nggak ada. Apanya yang mau disita!"

"Wah, ini penipuan! Saya nggak mau tahu, Ibu harus membayar utangnya sekarang juga! Kalau nggak saya akan laporkan Ibu ke polisi!"

Ingin sekali aku melempar lelaki ini dengan vas bunga yang ada di atas meja. Tapi aku masih cukup waras untuk tak melakukan itu. Berhadapan dengan rentenir macam dia, memang butuh kecerdikan. Tak boleh gegabah yang menimbulkan kerugian diri sendiri. 

Sudah banyak korban akibat rentenir macam dia. Bahkan aku pernah berazam untuk tidak terlibat dengan manusia model begini. Tapi ternyata Allah mempertemukanku dengannya karena utang yang tak pernah kulakukan. 

Cukup lama kami bernegosiasi. Namun belum juga mendapat solusi. Pria berpenampilan parlente ini tetap ngotot ingin mengambil barang-barang berharga yang ada di rumah ini. Namun aku tetap menahannya. Hampir saja ia mendatangkan para debt kolektor untuk mengintimidasi kami. Ia bahkan sudah menghubungi seseorang yang kuyakini preman bayaran seperti biasanya jika ia gagal menagih utang. 

Melihat kekacauan ini, Emak hanya menangis pilu sambil memukul-mukul dadanya sendiri. Menyaksikan orang yang paling kusayangi meratap sedih begini, naluriku sebagai anak semakin tak tega. Sejenak aku menepi. Berpikir bagaimana mencari solusi masalah ini. 

Berulang kali mencoba menelepon mbak Citra, nggak aktif. Lalu pria penyebab kekacauan ini, sama. Dia juga nggak aktif. Sepertinya hal ini sudah direncanakan. Karena tahu nggak bisa membayar, makanya dia kabur dan menutup semua akses. Dasar benalu. Parasit. Tukang bikin penyakit. Dan segala sumpah serapah lainnya kuucapkan. Namun hanya dalam hati. 

Aku masih cukup sehat untuk tak menyemburkan kata-kata kotor di hadapan Emak. Pria ini tampak tak sabar. Ia terus mendesak agar bisa membawa barang-barang berharga di rumah ini. Huh, emang itu kan yang dia inginkan? 

Selama ini sudah banyak masyarakat sekitar yang terjerat oleh mulut manisnya. Awalnya orang-orang di sini nggak ada yang mau pinjam uang padanya. Namun rayuan maut pria ini cukup ampuh menghipnotis orang yang sedang butuh uang hingga terjerat olehnya. Ujung-ujungnya ya seperti ini. Menyita barang-barang berharga milik orang yang berutang. 

Jika dikatakan bank keliling, sebenarnya tak cocok juga, sih. Karena dia tidak berdiri dibawah naungan bank atau koperasi tertentu. Dia hanya orang kaya yang punya usaha mengutangkan uang dengan bunga yang tak wajar. Dan sayangnya, ipar kurang ajar itu sudah mencari masalah yang melibatkan pria bengis ini. Penampilannya saja yang seperti pegawai. Tapi perangainya tak lebih dari lintah darah pengisap uang masyarakat. 

"Bu Dewi, saya nggak punya banyak waktu. Mau bayar sekarang atau saya bawa barang-barang berharga di rumah ini!" ucapnya lantang. 

Kuhela napas panjang sebelum memutuskan. "Oke. Saya akan bayar tapi utangnya saja. Tanpa bunga!" ucapku dengan menekan kata terakhir. 

"Nggak bisa gitu dong, Bu. Perjanjiannya sudah jelas dengan bunga 10 persen."

"Bapak mau apa tidak? Kalau nggak mau saya bayar ya sudah. Silahkan pergi dari rumah ini! Atau saya panggilkan seluruh warga kampung ini biar dikeroyok warga," ucapku mengancam. Dia sendirian, jika aku berteriak rampok, pasti semua warga akan berdatangan kemari. 

"Bu Dewi mengancam saya?"

"Kalau iya, gimana?" Yakin Bapak nggak takut?" Oke, saya teriak nih. To--"

"Oke. Oke. Stop! Baik. Bayar pokoknya saja sekarang. Bunganya kapan-kapan!"

"Hah? Enak saja. Sekali tidak tetap tidak!" Aku berusaha menekan emosi agar tetap tenang. Karena menghadapi sesuatu dengan emosi hasilnya tidak akan bagus. "Bapak muslim?"

"Ya--ya. Apa hubungannya dengan utang?" 

"Hubungannya sangat erat. Dalam Islam, bunga itu sama dengan riba. Dan riba itu haram. Kalau haram artinya masuk neraka. Kalau ma--"

"Ah, sudah, sudah! Nggak usah ceramah. Saya nggak butuh ceramah kamu!"

"Jadi, masih ngotot minta bunga?"

"Tentu saja!"

"Yakin? Nggak takut neraka?" Aku tersenyum mengejek. Dia mulai salah tingkah. " Padahal dosa riba itu ada 73 pintu. Bapak tahu dosa yang paling ringan? Seperti berzina dengan ibu kandungnya!" Terlihat pria itu memucat. Sikapnya yang garang berubah ketakutan. 

Tak mau melewatkan moment ini, aku terus menjatuhkan mentalnya dengan menjelaskan dosa riba lainnya. Siksaan bagi pemakan riba, baik di dunia maupun di akherat. Tubuhnya tampak bergetar mendengar ucapanku. Dalam hati aku bersyukur karena Allah masih memberi petunjuk padaku. 

"Gimana, Pak? Masih mau minta bunga?"

"Enggak! Ya sudah, bayar pokoknya saja!"

"Nah gitu dong, Pak. Dari tadi kek!" 

Aku segera meminta nomor rekeningnya. Mengirim sejumalah uang sesuai dengan utang pokoknya saja. Setelah itu, dia memberikan BPKB motornya dan berlalu tanpa pamit. Aku tahu, sekarang dia sedang berpikir keras. Semoga Allah memberinya hidayah. 

Emak memelukku erat. Mengucapkan terimakasih berkali-kali. Aku tahu Emak sudah ketakutan tadi. Takut aku marah karena ulah menantunya itu. Mungkin Emak nggak oernah tahu jika menantunya memiliki hobi utang di sana-sini.

Kami bernapas lega setelah kepergian lelaki itu. Namun sepertinya mas Tisna mau membuatku mati berdiri. Baru saja bisa bersantai, seseorang mencarinya lagi. Entah apa lagi yang membuat suami kakakku itu bisa berurusan dengan orang ini.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!