Ditipu Menantu Benalu
Kecolongan
Seorang pria bertubuh gempal dengan kumis tebal duduk di hadapan kami sebelum disilahkan. Aku dan Emak saling pandang. Ada urusan apa lelaki yang terkenal sebagai juragan sawit ini datang. Kami bahkan tidak mengenalnya. Hanya sekadar tahu nama saja, karena tak ingin memiliki urusan dengannya.
"Maaf, ada apa ya, Pak?" tanya ibu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Lelaki itu merentangkan tangannya ke sandaran sofa yang didudukinya. Asap rokok mengepul dari mulutnya dan terbang ke udara menimbulkan aroma sesak yang menguar. Tiba-tiba, dadaku sesak menghirup asap nikotin itu.
"Tisna mana?"
Radar kewaspadaanku langsung hidup. Apa lagi yang dilakukan pria itu hingga bisa berurusan dengan orang ini? Padahal mas Tisna hanya orang baru di sini. Belum banyak mengenal masyarakat sekitar. Tapi kenapa bisa mengenal juragan sawit ini? Apa dia tersandung masalah utang lagi? Kalau iya, aku bersumpah nggak akan pernah menanggungnya lagi.
"Tidak ada, Pak. Sudah pulang ke asalnya," ucapku santai. Riak keterkejutan terlihat dari wajah bulat lelaki berkumis ini. Namun segera ia menguasai ekspresinya.
"Sejak kapan?"
"Tadi pagi."
Pria itu mendegus kesal. Mungkin merasa kecolongan, jika benar iparku itu punya utang padanya. Kami tak mengucapkan sepatah kata pun. Juga tak mau bertanya ada urusan apa, karena kami tak mau kejadian beberapa jam lalu kembali terulang.
Pria itu menanyakan alamat suami kakakku itu. Karena aku juga nggak tahu pastinya, kujawab saja apa adanya. Di luar dugaan, lelaki ini justru marah besar.
"Jangan membohongi saya. Katakan dengan jujur, di mana alamatnya? Akan kucari sampai ketemu!"
Tubuh Emak sudah mulai gemetar mendengar suara lantang pria ini. Dia terus mendesak untuk mengatakan alamatnya. Bagaimana kami bisa mengatakannya, sedangkan kami juga tak pernah tahu di mana alamat lelaki yang berstatus iparku itu.
"Maaf, Pak. Kami benar-benar nggak tahu," jawabku sambil menenangkan Emak yang sudah ketakutan. Hari ini, sudah dua kali Emak menyaksikan hal seperti ini. Dan dua-duanya akibat ulah menantunya. Menantu yang awalnya tak pernah dianggap. Dan sekarang sudah berani mencoreng keluarga kami dengan perbuatannya yang memalukan.
Entah dari mana Mbak Citra menemukan lelaki tak bertanggung jawab macam dia. Jika terus-terusan seperti ini, bisa kena jantung beneran Emak.
"Kalian jangan coba-coba menipu saya, ya. Mana ada keluarga yang tak tahu rumah menantunya. Itu hanya akal-akalan kalian saja supaya tak ditagih utang, kan?"
Nah kan benar, urusan utang lagi. Belum genap sebulan pria itu tinggal di sini, tapi utangnya sudah seperti kereta api saja. Panjang banget. Mending kalau dibayar. Ini, mau enaknya saja. Sedangkan aku, tak tahu gambar uangnya, tapi kebagian jatah menghadapi penagihnya. Bahkan uangku ikut amblas untuk membayarnya.
Namun kali ini, aku tak sudi membayarnya. Enak saja. Dia yang menikmati, aku yang harus mati berdiri.
"Kalau bapak nggak percaya, cari aja, Pak. Untuk apa kami menyembunyikan orang tak berguna seperti dia," ucapku membuatnya terbelalak. Mungkin ia tak menyangka iparnya akan berkata begitu. Karena seharusnya seorang ipar akan menutupi kelakuan saudaranya. Namun tidak bagiku. Kalau tidak berkaitan dengan masalah seperti ini, mungkin aku masih bisa berbaik hati menutupi aibnya. Sayangnya ia sudah terlalu dalam menorehkan kecewa dan sakit hati padaku.
"Kalau begitu hubungi dia!"
"Kenapa nggak dihubungi sendiri saja, Pak?"
"Nomornya nggak aktif!" ketusnya. Rahangnya sudah mengeras dengan mata memerah. Namun aku harus tetap tenang menghadapinya. Aku nggak salah. Aku nggak boleh kalah.
"Nah iya. Tadi saya juga telepon juga nggak aktif."
"Kamu kan saudaranya. Nggak mungkin nggak punya nomor lain yang bisa dihubungi!"
Aku menghela napas panjang. Ya Allah, harus bagaimana menjelaskan pada orang ini kalau aku juga tak bisa menghubunginya. Kalau dia kesal karena merasa tertipu. Aku lebih kesal lagi karena harus menghadapi orang-orang macam kalian.
"Maaf, Pak. Saya benar-benar nggak tahu dimana keberadaannya. Dan asal Bapak tau, bapak bukan orang pertama yang mencarinya. Sudah ada orang lain yang ke sini sebelum Bapak. Dan perkaranya sama, soal UTANG!"
Pria gendut ini tampak menahan emosi. Tangannya mengepal. Kedua matanya memerah. Lalu dia bangkit dan berjalan menuju sebuah meja tua yang ada di sudut ruangan. Senyumnya tersungging mengamati benda terbuat dari kayu jati itu.
"Kalau gitu, berikan saja meja ini, dan utang Tisna saya anggap lunas."
Giliran aku yang terbelalak sekarang. Itu benda peninggalan Simbah satu-satunya. Meja ukir khas Jepara yang terbuat dari jati tua pilihan yang usianya sudah puluhan tahun. Meski warnanya terlihat kurang menarik,tapi mata jeli penyuka batang antik pasti akan meliriknya.
Dulu pernah ditawar tukang barang antik dengan harga yang cukup fantastis. Namun Bapak tak memberikannya. Karena barang ini memiliki nilai sejarah yang tinggi.
"Tidak bisa!" jawabku lantang. Aku segera berdiri dan mendekat pada pria berkepala plontos itu.
"Kalau gitu bayar utangnya!"
"Tidak. Saya nggak tahu menahu dengan utang itu. Kalau Bapak mau nagih, tagih saja pada yang utang."
"Kamu nggak tahu siapa saya? Baik akan saya tunjukkan pada kalian apa yang bisa saya lakukan pada kalian!"
Pria itu tampak memencet tombol HP-nya. Entah siapa yang dihubungi. Sejanak aku berpikir, apa yang harus kulakukan. Andai ada Mas Agus di sini, pasti aku nggak akan menghadapi ini sendirian. Kupejamkan mata dan menghela napas panjang. Mencoba menetralkan emosi yang mulai merajai diri. Mengucap doa supaya Allah memberikan jalan keluar atas masalah ini.
Pikiranku benar-benar buntu. Untung saja Bapak sedang tak ada di rumah. Sehingga ia tak harus menyaksikan drama ini seperti Emak. Aku yakin, saat ini pikiran Emak sudah tak karuan. Memikirkan nasib cucunya sekaligus kelakuan bej*t menantunya itu.
Mungkin dengan kejadian ini, Emak bisa berpikir ulang untuk membantu Mbak Citra jika ia minta uang lagi.
Saat aku sibuk dengan pikiran ini, suara mobil berhenti di depan rumah. Tak lama segerombolan orang berpakaian serba hitam dengan tubuh kekar memasuki rumah tanpa izin. Astaghfirullah.