Ditipu Menantu Benalu
Sok Berkuasa
Pria-pria kekar itu memasuki rumah Emak tanpa izin. Sikapnya yang angkuh dan sok berkuasa menunjukkan siapa jati diri mereka. Hanya kacung yang bertugas menggertak lawan dengan tubuh kekarnya. Baik, aku ingin tahu, seberapa besar kekuatannya melawan kaum lemah seperti kami. Apa tubuh besarnya cukup mampu menandingi argemenku nanti?
Mereka berdiri di belakang bosnya. Tatapan matanya menyorot tajam ke arah kami. Kulirik Emak yang gemetar melihat mereka."Tenang, Mak," bisikku. Kuraih tangan keriputnya untuk menenangkan.
"Gimana, masih nggak mau ngasih tau di manaTisna berada?" Lelaki bertubuh gempal itu menatap sinis ke arah kami. Rokok yang dihisapnya sudah habis. Seorang bodyguard menyodorkan kembali sebatang dan diterima. Melihat gayanya yang sok berkuasa seperti itu semakin membuatku muak dan ingin segera mengakhiri drama ini.
"Pak, mau bawa algojo satu truk pun, kalau kami nggan tau, ya nggak tau. Nggak usah menggertak kami dengan cara murahan seperti ini. Bapak berurusan dengan orang yang salah, Pak. Tolong, jangan mengancam wanita lemah seperti kami. Bapak nggak malu menindas kaum lemah seperti kami?"
Tawa pria itu membahana memenuhi ruangan. Emak semakin mengeratkan genggamannya padaku. Aku terus berpikir sambil mengulur waktu. Mencari jalan supaya pria-pria tak berakhlak ini hengkang dari rumah ini tanpa membawa sebuah barang pun. Enak saja, orang lain yang utang, kami yang harus menanggung lagi dan lagi.
"Oh, jadi masih mau menyembunyikan pria tak bertanggung jawab itu? Baik, jangan salahkan kami kalau kami terpaksa harus membawa bemda itu sebagai jaminan." Pria itu menunjuk meja tua yang menjadi incarannya. "Kalau dalam waktu satu minggu kalian nggak mau melunasi utangnya, maka benda itu sah jadi milik kami."
Tanpa sadar tanganku sudah terkapal erat. Melupakan Emak yang semakin gemetar ketakuatan. Empat pria berbadan kekar maju hendak mengangkat meja antik itu.
"Tunggu! Tolong tunjukkan kartu identitas, Bapak dulu!"
Pria-pria itu aaling pandang. Lalu mengeluarkan KTP masing-masing, setelah mendapat persetujuan dari bosnya. Kuterima benda pipih itu lalu memeriksanya satu per satu. Dia warga sebelah ternyata.
"Ada sertifikat APPI?" tanyaku lagi. Memastikan mereka bukan debt colector gadungan. Lagi-lagi mereka saling pandang. Lalu menggarakkan pundak tanda mereka tak tahu yang kumaksud.
"Apa itu?" Bosnya yang bertanya kali ini. Wajahnya menyiratkan kebingungan. Untuk apa aku menanyakan sesuatu yang mungkin menurut mereka aneh dan nggak ada hubungannya dengan urusan ini, lagi.
"Itu semacam kartu sertifikasi dari Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI). Ini merupakan kartu identitas legal yang dimaksud agar proses penagihan utang dapat dilindungi secara hukum. Apa kalian punya?"
Mereka kompak menggelang. Aku tertawa sinis. Merasa kemenangan sudah hampir digenggaman. Kalau begitu, tunjukkan surat kuasanya saja. Apa kalian punya surat kuasa pengalihan hak milik barang yang akan kalian ambil ini?"
Lagi-lagi mereka saling pandang dan menggeleng. Dalam hati aku bersorak menaang. Tak sia-sia aku memiliki tan seorang polisi. Kemarin aku sempat bertanya bagaimana caranya mengusur penagih utang macam dia. Karena aku yakin, urusan utang ini akan panjang. Mas Tisna pasti masih memiliki deretan utang lain mengingat tabiatnya yang hobi utang.
"Sudahlah, nggak usah memepermainkan kami. Kami nggak punya apa yang kalian minta. Karena kami hanya menjalankan tugas dari Bos Sarkun!" gertak salah seorang di antara mereka. Mungkin mereka pikir aku akan terintimidasi. Kalian salah berurusan sama orang. Kalian hanya mengandalkan otot, sementara otak tumpul. Aku lagi-lagi tertawa dalam hati.
"Oke. Satu lagi, kalau kali ini kalian bisa menunjukkan, silahkan bawa barang itu dan kami tak akan memintanya kembali." Aku berkata begitu karwna yakin mereka juga tak akan mampu menunjukkannya. Kulirik Emak semakin menegang mendengar tantanganku yang bisa saja aku kalah kali ini. Tapi aku yakin menang.
"Apa?" jawab mereka kompak.
"Surat jaminan Fidusia, apa kalian punya?"
Tubuh mereka melorot. Sepertinya keyakinanku terbukti. Bahwa mereka benar-benar tak punya.
"Apa lagi itu?"
"Surat pengalihan hak kepemilikan sebuah benda. Jika kalian tak punya, silahkan angkat kaki dari sini!"
"Tidak bisa!" jawab bos gendut itu.
"Baiklah, Pak. Kalau gitu saya akan telpon polisi kalau kalian mau merampok di rumah kami." Aku langsung mengambil HP dari saku. Lalu memencet beberapa tombol dan hendak menelpon. Wajah lelaki plontos itu sudah memerah. Lalu mengajak anak buahnya untuk angkat kaki dari sini.
"Alhamdulillah." ucap kami kompak. Emak langsung memghambur ke pelukanku dan menumpahkan air mata di dada ini. Tak hanti-hentinya kami bersyukur karwna telah lepas dari lintah darat yang satu ini.
***
Hari ini aku benar-benar menikmati akhir pekan dengan santai. Semua pekerjaan rumah telah selesai. Aku duduk-duduk di teras rumah sambil membaca buku. Menanti tukang sayur keliling untuk persediaan di kulkas yang kebetulan sudah melompong.
Mas Agus sudah ke tambak setelah sarapan pagi. Awalnya aku mau ikut, tapi mengingat kebutuhan dapur habis, akhirnya aku memilih untuk di rumah saja sambil menunggu kang sayur.
Dua puluh menit kemudian, yang ditunggu-tunggu datang. Aku segera menyerbu beberapa sayuran yang masih segar sebelum ibu-ibu lain datang.
"Eh, Mbak Dewi, libur Mbak?" tanya Bu Siska yang tiba-tiba datang. Tangannya yang dipenuhi gelang dan cincin memilih sayuran dengan cekatan.
"Iya, Bu."
"Wah, belanjanya banyak banget, mau ada acara ya?" tanyanya lagi. Aku menghentikan aktivitas memilih bumbu. Karena kebetulan selain sayuran yang habis, bumbu dapur pun juga sama. Aku memang jarang belanja ke pasar.
"Oh, ini untuk persediaan beberapa haru, Bu. kebetulan habis semua." Aku tersenyum untuk beramah tamah. Setelah terpilih semua, kukeluarkan beberapa lembar uang biru untuk membayarnya.
Beberapa ibu-ibu lain mulai berdatangan. Rumah kami memang saling berdempetan. Hanya selisih satu sampai dua meter saja antar rumah. Aku yang bekerja, memang jarang kumpul-kumpul dengan warga sekitar. Sehingga kurang akrab dengan ibu-ibu di sini. Apalagi, kami merupakan pendatang di desa ini. Namun sedikit banyak pernah mendengar, bahwa ibu-ibu di sini tak jauh bedda dengan di desa lain. Hobi ghibah dan nyiyir. aku sih, nggak ambil peduli selama tidak menyangkut keluargaku.
Baru beberapa langkah memasuki rumah, terdengar salam dari arah belakang. Sepasang suami istri yang usinya kuperkirakan memasuki pertengahan 50 tahunan. Setelah menyilahkan masuk dua tamu itu, aku langsung ke belakang menyimpan barang belanjaan. Beberapa menit kemudia, kembali lagi dengan membawa dua gelas teh panas untuk tamu ini.
Setelah berbasa basi, pasangan setengah baya ini menyampaikan maksud kedatangannya ke rumah ini. Kuhela napas panjang sebelum menjawab. Berusaha menekan emosi agar tak terpancing dengan ucapan pedas wanita ini.
"Maksud Ibu apa bilang ke saya?" ucapku akhirnya. Nada yang kugunakan masih rendah. Bagaimanapun usianya lebih tua di atasku. Jadi harus dihormati.