Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Desakanku

Aku mengejar Arman ke dapur. Langkahku masih berat oleh sisa lelah, tapi sesuatu mendesakku karena dia bergerak terlalu cepat. Seperti tergesa akan melakukan hal penting setelah ini.

Kompor sudah menyala, api kecil bergetar di bawah panci. Bau gas samar bercampur udara lembap dari hujan di luar. Arman menoleh sekilas, lalu kembali menakar air, kehadiranku diabaikannya.

“Mau pergi?” tanyaku akhirnya.

Arman diam. Tangannya tetap bergerak, menuang air ke panci. Seolah pertanyaanku belum layak dijawab.

“Kak,” Aku mendekat satu langkah ke meja makan. “Aku nanya.”

Arman akhirnya menoleh. Tatapannya lurus, lalu dia alihkan lagi ke kompor. “Kamu masih capek. Istirahat dulu.”

“Nggak.” Aku menggeleng cepat. “Kemana?”

Hening. Hanya terdengar suara api dan tetes hujan dari luar. Arman tidak langsung menjawab. Jeda itu terlalu lama untuk sekedar kata ~iya dari bibirnya.

“Ke luar kota,” katanya pelan.

Dadaku berdegup kencang, gemas. “Iya, kemana?” tegasku sambil mencengkeram ujung meja makan.

Arman menghela napas, mengecilkan api kompor padahal air di panci belum sempat mendidih. “Urusan pribadi.”

Aku tertawa kecil, padahal tahu bahwa ini bukan hal lucu. “Urusan pribadi tapi tasmu udah siap?”

Arman menoleh lagi. Kali ini lebih lama. “Aku nggak niat pergi diam-diam.”

“Faktanya kamu hampir melakukan itu.” Kami saling berhadapan. “Kemana?” aku memaksanya, posisiku berdiri kini lebih tegak, tatapanku pun tajam.

“Tempat lama.”

“Siapa?”

Arman terdiam. Jarinya mengepal, lalu mengendur.

“Menikahi pacarmu?” celetukku sinis. “Kalau iya, izin dulu sama aku.”

Arman tersenyum kecil—refleks, bukan meremehkan, tapi aku merasa dia mengejekku. “Bukan soal ingin menikah lagi.”

“Terus soal apa?” suaraku meninggi tanpa bisa kutahan lagi. Kesal mulai merambat naik ke kepala. “Aku istrimu, Kak. Setidaknya aku tahu kamu pergi kemana.”

Arman mendekat setengah langkah. “Aku cuma nggak mau kamu kebawa-bawa ke hal yang ribet,” katanya pelan.

“Aku sudah kebawa sejak kamu memutuskan menikahiku.”

Hening kembali menyergap ruangan. Dapur ini terasa lebih sempit dan pengap oleh desau napasku yang memburu.

“Lain kali aja ikut, ya,” ucap Arman akhirnya. 

Aku menggeleng keras. “Nggak mau. Pokoknya ikut.” Telunjukku kutekan di permukaan meja.

“Kamu kan kerja, Dek.” Arman melembut pada akhirnya.

“Izin.” Dan aku, masih menatapnya tanpa berkedip. “tinggal bilang ke pimpinan, aku masih capek, bisa izin sakit.”

Arman terkekeh pendek. “Boong, dih.”

Lama-lama aku kesal sendiri, tanpa sadar memanyunkan bibir. “Ikut. Aku janji nggak nyusahin.”

Teko mulai berbunyi—air hampir mendidih. Arman mendekat ke sana, mematikan kompor, lalu mengangkat panci.

“Mandi dulu,” katanya. “Biar anget.”

“Nggak mau,” Aku langsung menyambar. “Nanti kamu kabur.”

Dia menoleh, senyum kecil muncul lagi—senyum yang selalu berhasil membuatku kesal sekaligus lega.

“Enggak. Aku di sini. Atau kamu mau aku mandikan?”

“Omes!” Aku melengos, masuk ke kamar, mengambil handuk.

Arman tertawa pelan, lalu berjalan ke kamar mandi, meletakkan air panas. Saat kembali, wajahnya lebih serius.

“Kita ngobrol habis ini,” katanya.

Aku mengangguk, meski masih menyimpan curiga.

*

Kami duduk berhadapan di ruang tamu. Lampu di teras kuning menyala temaram. Di luar, hujan turun lebih rapat sekarang, mengetuk genteng dengan ritme yang bersahutan, seperti ikut mendesakku.

Aku menekuk lutut. Rambutku masih terikat rapi, kerudung pun asal menempel di kepalaku. Tubuhku lelah tapi anehnya, mataku justru terjaga—terlalu lebar untuk seseorang yang baru pulang diklat.

Arman duduk bersandar, siku di pahanya, jemarinya saling mengait. Dia terlalu tenang. Ketika seseorang setenang itu, biasanya ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.

“Surabaya kan?” ucapku menebak akhirnya. Bukan bertanya. Teringat nama kota di buku coklat yang pernah kubaca.

Dia mengangkat wajah. Tatapan kami bertemu.

“Kamu dengar dari siapa?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng kecil. “Nggak penting.” Dadaku naik turun. “Yang penting kamu mau pergi. Dan kali ini bukan urusan kerjaan.”

Arman tidak langsung menjawab. Dia menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak meledak.

“Ay,” katanya hati-hati, “ini cuma sebentar.”

“Itu bukan jawaban.” Suaraku mengeras tanpa niat. “Kalau cuma sebentar dan nggak penting, kamu nggak bakal kelihatan kayak orang yang mau pamit diam-diam.”

Senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang menahannya agar tak bicara banyak padaku.

“Kamu masih capek,” katanya lagi.

Aku tertawa kecil. Hambar. “Kamu selalu pakai itu. Capek. Istirahat. Nanti saja.” Aku menatapnya lurus. “Seolah-olah kalau aku lemah ... mudah lelah, dan nggak berhak tahu apa-apa.”

Dia bergeser sedikit, duduk lebih dekat. “Bukan gitu.”

“Terus apa?” tanyaku. “Aku istrimu, Kak. Seenggaknya tau kemana kamu pergi.”

Kalimat itu kuulangi, dan membuatnya diam lebih lama. Tangannya yang semula saling mengait, mengendur, lalu mengepal lagi.

“Ke Surabaya…” Dia berhenti sejenak. “Ada urusan lama.”

“Urusan siapa?” Aku tidak memberi ruang untuk menghindar.

Arman menatap lantai. “Keluarga.”

Dadaku tercekat. Bukan karena jawabannya, tapi karena caranya menghindari mataku. “Keluarga yang mana?” desakku.

Hening. Hujan terdengar makin keras, seolah menebar aura dingin di suasana ruang tamu yang sudah mulai tak nyaman.

“Keluarga lama,” katanya lirih.

Kata-kata itu terasa menggantung. Seolah aku memang tidak boleh benar-benar tahu apapun soal Arman. Siapa dia, dari keluarga mana dan ada hubungan apa dengan ayahku.

“Kamu takut aku malu-maluin?” tanyaku pelan.

Dia menggeleng. “Aku takut kamu kecewa.”

Aku tersenyum miring. “Kamu pikir selama ini aku nggak pernah terluka?”

Arman mendongak. Kali ini dia tidak menghindar. Tatapan kami saling mengunci.

“Aku nggak mau kamu lihat aku di versi yang belum selesai,” katanya jujur. “Belum pantas denganmu, Ay.”

Aku menelan ludah. Dadaku menghangat, nyeri bersamaan. “Aku menikah sama kamu bukan buat dapat versi apapun.”

Kalimat itu membuatnya terdiam. Aku tahu—kata-kataku menusuk lebih dalam dari yang dia duga.

“Aku ikut,” ulangku. Nadaku lebih lembut, tapi penuh tekad. “Bukan buat ikut campur. Janji nggak bakal nyusahin.”

Arman menghela napas panjang. Lama. Seolah keputusan itu ditarik dari dasar dadanya.

“Kita berangkat subuh,” katanya akhirnya.

Aku terdiam, lalu mengangguk. Tidak melonjak senang. Tidak merasa menang. Hanya lega—lega karena tidak ditinggalkan begitu saja.

Padahal, di dalam hati, ingin rasanya berjingkrak, berhasil membuat Arman mengajakku. Tapi kutahan, gengsi.

“Dan Ay…” lanjutnya, suaranya rendah, serius, “kalau nanti kamu mau pulang duluan, bilang ya. Aku nggak maksa.”

Aku berdiri, menatapnya. “Yang jangan kamu lakukan cuma satu.”

“Apa?”

“Jangan ninggalin aku sendirian di sana.”

Dia ikut berdiri. Mengekoriku dengan matanya sampai pintu kamarku menutup. 

Di luar, hujan masih turun. Aku bersandar di balik pintu. Dadaku berdebar. "Apa yang akan dihadapi esok hari, Tuhan? Mampukah aku melewatinya?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!