Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Dia rapuh juga
Perubahan cuaca kentara terasa begitu kami keluar dari bandara. Panas Surabaya menyergap membuat keringat langsung muncul bercucuran.
Kami singgah sebentar di hotel, meletakkan ransel. Arman lalu mengurus mobil sewaan, aku duduk di lobi, meneguk air dingin sisa di tumbler, sambil memijat pelipis. Tubuhku masih sedikit lemas.
Arman tidak lagi sibuk dengan telepon. Sejak keluar hotel, ponselnya hampir tak tersentuh. Yang ada di tangannya sekarang adalah buku coklat itu.
Buku yang sama. Catatan yang sama. Dia membuka beberapa halaman, membaca, lalu menulis sesuatu. Sesekali berhenti menyetir, menatap jalan di depan, lalu kembali menunduk.
Aku memilih diam.
Mobil melaju meninggalkan keramaian kota. Bangunan berganti sawah. Jalan makin lengang. Satu jam terasa bagai perjalanan panjang yang membuat kelopak mataku berat.
Aku menguap berkali-kali. Badanku benar-benar lelah. Mungkin karena aku tidak pernah benar-benar istirahat sejak kemarin. Mungkin juga karena dekat Arman, aku merasa aman—dan itu seringkali membuatku mudah mengantuk.
“Kita ke mana, Kak?” tanyaku lirih. “Masih jauh?”
Arman melirik sekilas, senyum kecil muncul. “Kejutan.”
Sebentar kemudian ia menambahkan, “Bentar lagi sampai.”
Mobil berbelok masuk ke jalan kompleks yang lengang. Rumah-rumah lama dan luas berderet meski jaraknya berjauhan. Banyak lahan kosong. Suasana mendadak sunyi, hanya suara ban yang melindas aspal tipis.
Arman memperlambat laju mobil. Lalu berhenti.
Di depan kami, terbentang lahan mirip kebun. Dipenuhi ilalang tinggi. Rumput liar menjulang sampai lutut. Menyembul di sela seng berkarat yang berjajar rapi, menghalangi tempat ini.
Aku menelan ludah saat Arman turun. Ngapain ke sini, pikirku gegas keluar dari mobil.
Ketika Arman hendak mendorong seng itu, seseorang menegur dari arah belakang kami.
“Jangan masuk ke situ. Itu milik negara.”
Arman berhenti. Menoleh. Tidak membantah. Hanya mengangguk pelan, membiarkan orang itu lewat.
Aku sempat berpikir kami akan pergi. Tapi begitu suara langkah menjauh, Arman kembali menatap seng itu. Lalu—tanpa bicara—dia mendobraknya dengan kaki. Suaranya nyaring, membuatku tersentak.
“Kak—”
"Sstt!" Arman memintaku tidak berisik. Aku pun langsung menutup mulut dengan telapak tangan.
Dia mendorong seng sampai aman dilewati kami. Aku takut ada ular sebab rerumputan rimbun di depan kami.
Aku spontan meraih bagian belakang kaosnya. Dia menoleh cepat. Tanganku ditarik. Digenggam. Erat. Terlalu erat. Seperti bukan hanya aku yang dia jaga.
Kami melangkah masuk. Arman menarik rumput-rumput liar, membuka jalan setapak seadanya. Tangannya kotor, bajunya tersangkut daun kering, tapi dia tidak berhenti. Aku mengikuti di belakang, napasku sedikit memburu.
Takut.
Bingung.
Dan entah kenapa… sedih tanpa sebab jelas.
Saat kami sampai di depan sebuah bangunan tua yang hampir tertutup tanaman rambat, kakiku berhenti.
“Oh…” suaraku nyaris tak terdengar. “Ini tuh rumah?”
Arman menoleh. Matanya berkaca-kaca. Atau mungkin hanya pantulan cahaya siang yang terlalu terang—aku tidak yakin. Yang aku tahu, ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Rapuh.
“I-iya,” jawabnya. Suaranya serak. Parau. Seolah kalimat itu ditekan agar terdengar baik-baik saja.
“Kak?” panggilku pelan.
Dia tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam tanganku. Tidak dilepas. Malah semakin kokoh. Seolah kalau dia melepaskan sekarang, sesuatu di dalam dirinya akan runtuh.
Aku membatin, 'Mungkinkah, aku bakal melihat dirinya yang sebenarnya?'
Arman melepas genggamannya dariku, menyisakan rasa hangat di telapak tangan.
Dia berdiri di depan pintu, menyiapkan bahu, lalu mendorongnya sekali.
Pintu tetap kokoh. Dia mencoba lagi. Lebih keras.
Tetap gagal.
Aku berdiri di belakangnya, menahan napas. Pintu itu seperti menolak dibuka—atau memang tidak ingin dimasuki siapa pun.
Arman menghela napas kasar, lalu memutari teras. Aku mengikutinya tergesa-gesa. Bukan karena gelap, tapi karena ekspresi di wajahnya membuatku khawatir … meski jaraknya hanya beberapa langkah.
Dia menarik ilalang lagi, menyingkap tanaman rambat yang menutup sisi rumah. Di sana ada jendela kaca. Pecah separo. Retaknya bergerigi tajam.
Arman berhenti sejenak. Matanya menyapu sekitar. Lalu ia menemukan sebuah galah—mungkin kayu jatuhan dari pohon mangga yang menjulang di samping teras.
Prang.
Suara kaca pecah memantul di udara. Aku tersentak. Debu beterbangan.
Arman menoleh padaku. Tatapannya sendu, tapi suaranya tetap rendah. “Mau ikut masuk nggak, Dek?”
Aku mengangguk cepat tanpa ragu. Arman meraih tanganku lagi, kali ini lebih hati-hati. Membantuku melangkah masuk pelan-pelan, memastikan kakiku tidak menginjak pecahan kaca.
Begitu masuk, udara berubah. Pengap. Lembap.
Debu tebal menggantung di udara, menempel di kulit dan tenggorokan. Aku terbatuk-batuk.
Kain penutup perabotan sudah menguning, robek di beberapa bagian. Rumah ini masih utuh di dalam—dinding berdiri, plafon masih ada—tapi banyak bekas bocor, genangan kering di sudut-sudut lantai.
Hanya ada sebuah sofa di ruang tengah. Kotor, berlubang dan miring. Selebihnya perabotan rusak.
Lembap kian mendominasi di bagian dalam. Bau apek bercampur tanah. Ada binatang kecil berlarian ketika kami melangkah. Sarang laba-laba menggantung seperti tirai tipis.
Arman berjalan masuk lebih jauh, langkahnya cepat dan aku sempat tertinggal.
Dia berhenti di depan sebuah pintu kamar yang kusennya berukiran indah.
Arman tertunduk. Bahunya bergetar.
“Kak?” panggilku pelan.
Tidak ada jawaban.
Jantungku berdegup kencang. Aku berdiri beberapa langkah di belakangnya, menjaga jarak.
Aku bergumam, "jangan-jangan kesurupan?" Rumah ini terlalu sunyi. Pasti banyak sesuatu yang tidak terlihat. Aku merinding.
Lalu suara itu pecah.
“Arrggghhhhhhh!”
Keras. Parau. Menggema di ruangan kosong.
Aku tersentak, sampai mundur selangkah. "K-kak?" Ingin memastikan kesurupan apa bukan, tapi lututku melemas.
Arman meraup rambutnya. Kedua tangannya mencengkeram kepala seolah menahan sesuatu agar tidak meledak. Tangisnya tumpah. Bahunya berguncang hebat, seperti orang yang akhirnya kehabisan tenaga untuk berpura-pura kuat.
Dadaku ikut nyeri. Entah kenapa. Padahal aku belum tahu apa-apa. Aku tidak menghentikannya. Kuberi dia waktu.
“Ayah… Mama…” suaranya tercekat. “Aku rindu…”
Aku membeku.
Hah? Arman punya orang tua? Apa ini rumahnya?
Tangisnya semakin pecah. Seolah seluruh dinding pertahanan diri yang selama ini dia bangun runtuh bersamaan.
Aku tidak tahan lagi. Langkahku maju pelan. Aku mendekapnya begitu saja, lenganku melingkar di tubuhnya yang jauh lebih besar dariku.
Dan Arman—langsung membalas pelukanku. Erat. Seperti orang yang tenggelam dan akhirnya menemukan pegangan.
“Kak…” bisikku sambil mengusap punggungnya perlahan.
Tubuhnya bergetar hebat beberapa detik. Lalu perlahan… melemas. Berat badannya sedikit bertumpu padaku.
Aku bertahan, masih memeluknya. Tidak bertanya apalagi meminta penjelasan.
Detik ini aku tahu, Surabaya. Bukan soal pacar, tapi tentang seorang anak yang akhirnya pulang… ke rumah yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.
"Dek." Arman berbisik, setelah beberapa menit isaknya mereda.
"Ya?" Tiba-tiba suaraku tercekat, sesak menyergap hati.
.
.