Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Wanita Lumpuh
Aku terbangun menjelang siang. Rumah sunyi, cuma ada suara Erti saja, meminta Mang Udjo hati-hati saat membawa makan siang buat pegawai pabrik.
Lututku masih nyeri, tapi kepalaku jauh lebih ringan dibanding pagi tadi.
Aku duduk pelan, bersandar ke kepala ranjang. Entah sejak kapan pintu kamarku terbuka.
"Ay?" panggil ayah dari luar, melongok di ambang pintu.
Aku menoleh, “Kok nggak ke pabrik, Yah?” tanyaku pelan.
Ayah masuk dan duduk di sisi ranjang. Tatapannya hangat. “Kan makan siang, sekalian Ayah mau lihat kamu bangun.”
Aku diam. Rasanya aneh, tapi menenangkan.
Ayah melirik lututku. “Sakit?”
“Dikit,” jawabku jujur. “Nanti juga sembuh.”
Ayah mengangguk. Lalu duduk lebih dekat. “Ay,” katanya pelan, “keputusanmu jadi gimana?”
Kalimat itu sederhana. Tapi dadaku langsung sesak.
Aku menggeleng pelan. “Entah, Yah.”
Ayah menarik napas panjang. “Ayah tahu kok kalau salah. Dari dulu, kamu jarang dikasih milih.”
Aku menunduk. Jari-jariku bermain dengan ujung selimut.
“Kalau kamu marah sama Ayah,” lanjutnya, “Ayah terima.”
Aku menggeleng cepat. “Aku marah… tapi akhirnya ngerti.”
Ayah tersenyum tipis. “Laki-laki itu—” menjeda sesaat, memastikan aku paham kodenya.
"Arman?" tebakku.
Ayah mengangguk pelan. “—kalau sudah memilih, biasanya diam. Bukan karena ragu. Tapi karena dia lagi nyiapin diri.”
Aku terdiam, mencerna kalimat ayah.
“Dia ke mana, Yah?” tanyaku akhirnya.
“Urusan sebentar,” jawab Ayah jujur. “Katanya mau nutup sesuatu.”
Aku memejamkan mata, lalu berdoa untuknya semoga diberi kemudahan. Entah kenapa, tapi itu terlintas begitu saja.
Ayah berdiri. “Istirahat, ya. Jangan mikir macam-macam.”
Sebelum keluar, Ayah menoleh lagi.
“Kalau dia pulang dan sikapnya berbeda ... Jangan kaget ya.”
Aku membuka mata. “Maksudnya?”
Ayah hanya tersenyum. “Nanti juga kamu ngerti.”
***
PoV Arman.
Aku duduk berhadapan dengan perempuan yang membuka semua ini.
Kursi rodanya terkunci, tangannya di atas pangkuan. Dia menatapku kecewa saat aku meletakkan sesuatu di meja kecil di antara kami. Dua keping emas. Sepuluh gram.
“Cukup sampai di sini saja,” kataku tenang. “Aku sudah menerima semua ini jauh sebelum kemarin ke Surabaya.”
Dia terdiam lama. “Kamu yakin? Hidup sebagai kuli?” tanyanya akhirnya.
“Iya,” jawabku singkat. “Aku mau hidup seperti ini saja .”
Matanya berkaca. “Aku cuma mau kamu hidup layak, Xander."
“Aku tahu,” kataku jujur. “Terima kasih… dulu pernah mengabdi di keluarga Hatsu. Tapi sekarang nama itu sudah nggak ada.”
Dia menghela napas. “Lalu aku?”
“Lanjutkan hidup Anda,” kataku. “Seperti sebelum kita berjumpa, setelah sekian lama.”
Aku berdiri, menunduk hormat pada sosok yang tak sengaja ku temui di rumah sakit, setahun lalu, saat mengantar Ayah Al medical keperluan haji.
“Semoga sehat. Jangan cari aku lagi.”
Aku pergi tanpa menoleh. Suaranya masih memanggilku. Tapi niatku bulat, demi semua orang yang melindungi ~Arman.
Di luar, aku mencabut kartu ponselku. Kubuang ke selokan. Ponsel lamaku ini akan kuberikan ke sopir angkot yang mangkal di pinggir jalan.
“Biar manfaat," lirihku saat akan menaiki angkot setelah dari gang rumah mantan Art keluargaku.
Aku pulang naik kendaraan umum. Angkot. Bus. Jalan kaki lewat gang sempit. Bajuku sengaja kubiarkan kusut. Kepalaku terus menoleh, waspada.
Sampai di stasiun akhir, aku masuk toilet. Mengganti penampilaku layaknya pegawai kantoran yang berpenampilan culun.
Sebelum pulang, aku mampir ke toko ponsel sekalian beli kartu perdana baru. Aku memilih type agak bagus biar Ayla nggak malu jika suatu saat jalan bareng.
Menjelang magrib, aku turun dari angkot terakhir.
Aku mampir ke masjid sekitaran pabrik. Salat di sana sambil memperhatikan apakah ada yang menguntit.
Di kamar mandi, aku menanggalkan kemeja. Tinggal kaos dan celana bahan sederhana. Aku menatap bayanganku di cermin buram. “Bismillah,” gumamku. “New day, Arman.”
Aku melangkah keluar masjid. Baru satu langkah, suara lain memanggilku.
“Hei!”
Tubuhku refleks menegang. Aku menoleh.
Petugas masjid berdiri di belakangku berdiri sambil mengangkat sesuatu. “Mas, barangnya ketinggalan di toilet.”
Aku melirik sekilas, dan menggeleng cepat. “Bukan punya saya, Pak Ustaz.”
Beliau menatapku sebentar, lalu mengangguk. “Oh. Baik.”
Aku melangkah pergi tanpa menoleh lagi, mengelus dada pelan. Napasku baru mulai lega saat jalan kaki menyusuri sisi rumah-rumah kampung, melewati pematang kebun yang tanahnya agak becek, lalu menyeberang ke jalan raya.
Langkahku pendek-pendek, tapi rasanya ringan. Hari ini, aku merasa benar-benar tenang.
Di ujung jalan, rumah ayah Al sudah kelihatan. Aku berhenti sebentar memandang bangunan itu.
Rumah ketiga yang kutempati, setelah berpindah dua kali demi agar kami semua aman bersekolah.
Sudah 20 tahun, aku tinggal di sini. Aku yakin, dengan sisa kemampuan yang dimiliki, ayah Al masih menjaga kami semua. Terutama aku.
Belum sempat aku mendorong, pagar sudah terbuka. Ayah Ayla berdiri di sana. Beliau tersenyum hangat begitu melihatku.
“Aman, Bang?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Aman, Yah. Kayaknya.”
Ayah tersenyum lagi. “Aman. Ayah temenin dari siang kok.”
Aku terdiam. Feelingku tepat. “Yah…” suaraku serak.
Beliau menepuk bahuku pelan. “Kewajiban ayah, Bang. Sampai ayah masuk liang lahat, jagain anak-anaknya.”
Aku menunduk. “Makasih banyak, Yah.”
Ayah membuka pagar lebih lebar. “Sana, istirahat. Ayla baru minum obat. Dia hipotensi, tadi di cek Eva," tuturnya.
"Eva?"
"Evalia... Temen Ayla yang pernah kamu tanyain itu. Dia nakes juga," jelas ayah. Aku cuma oh.
Aku pamit masuk.
Pintu kamar kubuka pelan. Ayla belum tidur, masih berbaring miring seperti dugaanku.
Selimut menutup sampai dada. Rambutnya masih terurai, wajahnya pucat. Aku yakin pikirannya lagi lari ke mana-mana.
“Kok belum tidur?” tanyaku pelan.
Aku duduk di tepi ranjang. Kakiku pegal, badanku lengket tapi lega bisa pulang ke rumah.
“Nggak ngantuk,” jawabnya singkat. Ayla menatapku dari atas sampai bawah. Dahinya mengernyit. “Kucel” katanya.
Aku tertawa. “Iya. Mau mandi dulu." Aku melepas jam tangan. Meletakkannya di nakas.
Beberapa detik kami diam. Hanya suara lemari saat akan mengambil bajuku.
“Aku takut kamu nggak balik,” katanya tiba-tiba.
Aku menoleh. “Kenapa?”
Ayla tersenyum kecil, matanya berkaca. Aku menghampirinya, duduk lebih dekat. “Aku pulang, kan.”
“Iya,” katanya cepat. “Tapi beda.”
Aku tidak membantah. “Tadi ketemu dia,” kataku akhirnya.
Ayla menegang. Tangannya meremas ujung selimut. Diam, menungguku melanjutkan.
“Aku bilang cukup sampai di sini."
“Terus?”
“Aku pamit baik-baik. Ngasih dia sesuatu, sebagai rasa terima kasih," jawabku sambil menghela napas. “Dan aku minta dia nggak cari aku lagi.”
Ayla menelan ludah. “Dia… terima?”
“Nggak sepenuhnya tapi aku nggak peduli,” jawabku jujur, yakin dengan ucapanku sendiri. “Aku capek ditarik ke mana-mana,” kataku. “Capek hidup di antara masa lalu dan sekarang, Dek.”
Ayla diam. Wajahnya menunduk. Kebiasaannya jika ada pembicaraan yang mungkin menyenggol perasaannya.
“Aku bukan orang baik, Ay,” kataku lagi. “Tapi aku udah milih.”
Dia mengangkat wajahnya. “Milih apa?”
Aku menatapnya lama. Si wanita judes tapi hatinya mudah luluh. Yang pikirannya selalu ribut tapi punya empati dan ketulusan.
“Milih pulang ke kehidupan yang bisa aku jaga.” Aku menggeser tanganku, menyentuh jemarinya.
“Aku sudah memilih,” kataku pelan sambil menyelami mata Ayla. “Jadi apa pilihanmu, Dek?”
.
.