Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Gengsi
Aku menunggu.
Bukan karena ragu dengan pilihanku, tapi karena aku tahu, jawaban Ayla bukan sesuatu yang bisa dipaksa keluar malam itu juga.
Dia menatapku lama setelah kalimat terakhirku menggantung di udara.
Tangannya yang tadi kugenggam pelan-pelan ditarik.
“Aku nggak bisa jawab sekarang,” katanya akhirnya. Suaranya kecil, tapi jelas. “Boleh?”
Aku mengangguk cepat. Seolah aku sudah menyiapkan diri, apa pun yang akan keluar dari mulutnya nanti, aku akan menerima.
“Tidur aja,” kataku.
Dia tidak menjawab. Tapi menarik selimut lebih tinggi.
Aku berdiri, masuk ke kamar mandi. Air dingin mengguyur kepalaku. Tapi anehnya, pikiranku malah kian semrawut.
Aku sudah memutus akses, memilih pulang ke sini. Tapi kenapa justru bagian tersulitnya ada di kamar ini?
Saat keluar kamar mandi, lampu sudah diredupkan. Ayla berbaring miring, membelakangi sisiku. Rambutnya terurai di bantal. Napasnya pelan, tapi aku tahu dia belum tidur.
Aku berbaring di sisi lain. Jarak kami cuma selebar satu bantal.
Tanganku terlipat di dada. Aku menatap langit-langit. Rasanya seperti menunggu fajar di tempat asing, padahal ini kamar kami.
Entah bagaimana, lenganku bergerak sedikit. Punggung tanganku menyentuh jemarinya.
Beberapa detik berlalu.
Ayla bergeser. Punggungnya kini lebih dekat ke dadaku, meski masih membelakangi. Aku bisa mencium samar wangi samponya.
Aku menelan ludah. Menahan diri untuk tidak meraih lebih jauh. Entah kapan aku terlelap, dan ketika membuka mata, wajahku menempel di rambut Ayla.
Aku bangun lebih dulu, adzan subuh baru terdengar.
Pelan-pelan aku turun dari ranjang, memastikan tidak mengganggu tidurnya. Aku keluar kamar, berniat salat di ruang tengah.
Ayah Al sudah ada di sana. Beliau menoleh. “Bang.”
Aku mengangguk hormat. “Yah.”
Kami salat berjamaah. Setelahnya, Ayah duduk bersandar ke dinding, aku pun ikut duduk.
“Ayla itu keras kepala. Musuhmu nanti bukan pria lain, Bang," kata Ayah melirikku. "tapi ego dan harga dirinya," lanjutnya.
Aku mengerti. Mengangguk. "Lagipula, mau salah bagaimana pun. Aturannya selalu balik ke awal," ucapku menyungging senyum. "Wanita tak pernah salah."
Ayah tertawa. "Tapi kamu sudah tumbuh bersamanya. Harusnya gak susah amat," ujarnya lagi.
"Ya kan jarang ketemu, Yah. Meski serumah. Dia gede di Bandung. Liburan malah tidur melulu kek vampir takut matahari," kekehku diikuti ayah.
Kenyataannya Ayla begitu. Ada waktu luang pasti buat tidur atau nonton di kamar. Betah seharian tidak mandi.
Liburan pun nyaris tak main kecuali dijemput paksa atau terpaksa keluar karena beli sesuatu. Jarang ngobrol, seolah dunianya asik sendiri.
Aku cuma punya sedikit kesempatan melihatnya selama ini, selain momen lebaran. Itupun cuma seharian kami bersama, tapi tak pernah ngobrol lama. Hanya sekedar sapa seperlunya.
Kamarku di paviliun belakang setelah taman dan dapur. Aku yang memilihnya. Rasanya aku tak pantas masuk ke keluarga ayah terlalu dalam.
"Titip Ayla ya, Bang," ucap Ayah.
Aku cuma tersenyum. "Ayla belum memilih, Yah. Semoga ya," balasku.
Ayah menepuk bahuku. "Yakin dong. Masih nggak pede aja," pungkasnya berdiri, bersiap olah raga pagi.
Aku ikut bangun, menunduk hormat lalu kembali ke kamar.
Ayla sudah bangun. Baru salam salat ketika aku masuk ke kamar.
"Pagi, Dek." Aku duduk di kursi, dekat lemari.
"Pagi."
"Masih izin kan?"
Ayla mengangguk. Tak ada percakapan lain. Aku meraih ponselku dan mulai login ulang di beberapa aplikasi dan menghubungi orang-orang memakai nomer baru.
Aku iseng menelpon Ayla. Ponselnya berdering. Dia hanya melihatnya sekilas lalu menolak panggilan.
Kucoba lagi sampai tiga kali. Ayla mendengus sebal. "Dih, ganggu. Siapa sih!"
Panggilanku di tolaknya. Lalu aku kirim pesan.
"Pagi, Salihah."
Ayla membacanya. Bibirnya merengut. "Salihah gundulmu. Sotoy!" ocehnya tapi dia tak membalas..
Aku menahan senyum. Lalu iseng mengirim pesan lagi. "Lekas sehat ya, Kesayangan."
Ayla selesai mengaji. Dia melihat pesanku lalu membuka pintu dan berteriak. "AGAR-AGAR. LU ISENG AWAS AJA LU!"
"Dek!" sebutku, terkejut dengan reaksinya. Menahan tawa melihat sikap Ayla pagi ini.
Agya keluar dari kamarnya. "Apa sih lu, Ayaaamm! Pagi-pagi kek Tarzan!"
Ayla membuka lebar pintu kamar, berkacak pinggang masih memakai mukena. "Awas lu!"
"Mahluk aneh! Gaje, dasar AYAM!"
Brak!
Ayla menendang pintu kamar Agya. Duk!
Aku menggeleng, bersandar di ambang pintu. "Dek, ya ampun," kataku. Baru tahu kelakuan Ayla yang ini kalau ribut dengan Agya.
"Dia mulai!" rutuknya padaku sambil masuk kamar. "Dari dulu suka bet isengin pake nomer baru."
"Jalan yuk, nyeker, nyari sarapan," ajakku saat Ayla akan melepas mukena. Dia melihatku dan mengangguk cepat.
Turunan kecil di ujung jalan itu licin. Entah sisa embun atau tanah yang memang lembap sejak subuh.
Aku baru mau ngingetin saat kaki Ayla sudah lebih dulu selip. “Dek—”
Refleks, tangannya meraih lenganku. Tubuhnya miring, nyaris jatuh. Aku cepat menahan pinggangnya, menariknya mendekat. Napas kami sama-sama terhenti sesaat.
Deg. Deg. Deg.
Ayla menegakkan badan secepat kilat. Melepaskan peganganku. Wajahnya pura-pura datar, tapi pipinya merona.
“Hati-hati,” kataku.
“Iya tahu,” jawabnya singkat.
Dia langsung jalan duluan. Langkahnya dipercepat. Aku cuma tersenyum, mengikutinya dari belakang.
Beberapa meter kemudian, suara perempuan menyapa. “Mas Arman?”
Aku menoleh. Janda tetangga. Cantik, senyumnya manis. “Tumben pagi-pagi jalan sendiri.”
Belum sempat aku jawab, Ayla sudah balik badan dan bilang, “Sendirian?” tanyanya, dengan nada menyindir.
Perempuan itu tersenyum kikuk. “Eh, ada Mbak Ayla. Mari… duluan.”
Ayla menoleh ke arahku, alisnya naik. “Ciyeeee, Mas Arman.”
Aku tertawa lepas, menikmati reaksinya. Tanganku ingin menggenggam tangannya, tapi Ayla sudah melangkah lagi.
Aku, ditinggal.
Warung sarapan sudah ramai. Meja dan bangku kayu panjang berderet. Beberapa terisi pelanggan yang makan di tempat. Asap nasi uduk mengepul dari dandang besar.
Cahaya tipis menyelinap di sela atap warung bercampur asap kompor kayu bakar. Wangi gorengan pun tercium.
Ayla memesan nasi uduk dan lemon hangat lalu langsung duduk.
Belum sempat makanan datang, suara lain menyela.
“Ayla?”
Ayla menoleh. “Eh, kamu.”
Mungkin ini teman kecilnya. Wajahnya langsung sumringah.
“Dih, makin gemesin aja sih, Ay. Tinggal di mana sekarang?”
“Tinggal sama aku,” jawabku tenang.
Dia menoleh ke arahku. “Oh… dia?”
Ayla diam. Sama sekali nggak membantu.
“Pawangnya Ayla,” tambahku santai.
Ayla langsung tertawa, menutup mulutnya. Bahunya naik turun, jelas menikmati konyolnya jawabanku.
“Wah, maaf, Mas,” kata pria itu. “Soalnya Ayla mah nggak keciri udah nikah.”
Wajahku datar karena Ayla masih tertawa kecil, seolah menurutnya itu lucu. Pria itu akhirnya pamit. Aku mendengus pelan. Ayla melirikku sambil senyum geli.
“Kenapa?” tanyanya.
“Nggak apa-apa,” jawabku cepat.
Makanan kami datang. Aku memperhatikan cara Ayla makan. Mengunyah pelan, menikmati. Rapi, tidak main ponsel, apalagi celingukan.
Benar kata ayah. Sainganku bukan siapa-siapa. Tapi egonya sendiri.
Selesai makan, kami jalan pulang. Di pertigaan, kami berpapasan dengan Eva yang baru selesai olahraga.
Mereka langsung ngerumpi. Jalan sambil cekikikan. Aku di belakang, jadi penonton.
Lalu samar kudengar Eva bilang soal Raka yang sedang sakit.
Langkah Ayla melambat saat di persimpangan, Eva pamit ke arah lain. Aku mempercepat langkah, berjalan di sampingnya.
“Raka kenapa tadi?”
Ayla berhenti, melirikku.
“Ay?”
Dia masih diam...
.
.