Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Maafkan aku
Ayla diam, berhenti tepat di ujung persimpangan.
Dia menatapku lama. Tatapannya datar, tapi aku kenal betul sorot mata Ayla akan berubah begitu bila menahan sesuatu.
“Kamu denger, ya?” tanyanya akhirnya.
Aku mengangguk. Ayla menghembuskan napas pelan. Seperti menimbang, mau bicara atau tidak. Tangannya masuk ke saku jaket tipisnya.
“Dia sakit,” jawabnya singkat.
Ayla kembali berjalan. Langkahnya sedikit lebih cepat dari tadi. Aku menyusul, sejajar. Tak ingin memaksanya cerita.
“Biasa,” katanya. “Kambuh.”
Aku menangkap satu hal dari nada suaranya. Ayla masih mengingatnya dengan baik.
“Hafal banget ya,” ucapku, berusaha terdengar biasa, meskipun dadaku berdentum.
Ayla menoleh sekilas. “Kenapa?”
Aku tidak menjawabnya. Hanya berjalan beriringan dan bahu kami hampir bersentuhan.
“Dek,” panggilku pelan.
“Hm?"
“Kalau Raka sakit… kamu kepikiran?”
Dia diam cukup lama. Sampai rumah ayah hampir terlihat.
“Aku nggak larang.”
Ayla berhenti mendadak. “Aku juga nggak minta izin.”
Aku tersenyum kecil, berdiri saling berhadapan. Angin pagi lewat, menggerakkan ujung hijabnya.
“Tapi,” lanjutku, lebih pelan, “kalau kamu nanya aku cemburu apa nggak… iya.”
Ayla menatapku lalu berdecak pelan. “Berisik.”
Dia melangkah lagi. Kali ini aku yang mengejar. “Dek.”
“Apa lagi?”
Aku menahan lengannya. “Aku nggak takut kalah,” kataku.
Ayla terdiam. Beberapa detik kemudian, dia melepaskan diri pelan. “Ribet, ah,” katanya lirih.
Aku mengikutinya tanpa bicara. Rumah ayah sudah di depan mata, tapi jarak di antara kami terasa lebih panjang.
Aku membuka pagar. Membiarkannya masuk lebih dulu.
Di teras, Ayla berhenti. Duduk di bangku kayu, menghempas napas panjang. Tangannya sibuk merapikan ujung hijab yang sejak tadi tertiup angin.
Aku berdiri beberapa langkah darinya. “Dek,” kataku hati-hati, “aku nggak nanya buat ngatur hidupmu.”
Dia tidak menoleh.
“Aku cuma pengin tahu… ada nggak ruang buat aku di pikiranmu, selain semua kebersamaan kita yang dulu.”
Ayla menarik napas panjang. “Aku capek ditanya-tanya mulu,” katanya akhirnya.
Tatapan kami bertemu. “Raka itu… bagian hidupku yang nggak bisa pura-pura dihilangkan gitu aja,” katanya pelan
“Aku tahu,” jawabku jujur. “Dan aku nggak minta kamu lupa.”
Aku melangkah mendekat, duduk di ujung bangku yang sama, masih berjarak.
“Aku cuma mau kamu jujur kalau suatu hari kamu kepikiran dia. Jangan jalan sendirian.”
Ayla diam. Tangannya mengepal di pangkuan.
Dia masuk ke dalam kamar, tanpa berkata apapun lagi.
Malamnya, Ayla sibuk mengerjakan tugas-tugasnya. Aku tak mengganggu, lebih memilih mengobrol dengan Agya di kamarnya.
Kami main game, tertawa lepas seperti sebelum aku menikahi Ayla. Lalu keluar motoran beli cemilan dan melanjutkan Mabar.
Aku masuk ke kamar jelang tengah malam, saat ayah menegurku jangan begadang sebab esok pagi jadwal di pabrik lumayan padat.
*
Keesokan paginya, Ayla berangkat kerja seperti biasa.
Aku mengantarnya. Dia tidak protes. Duduk di jok samping, memandang jalan, penampilannya rapi.
Ada rasa kurang nyaman, istriku wangi dan dandan cantik begini. Tapi bagaimana lagi, masa aku melarangnya, sedangkan pekerjaan Ayla menuntut kerapian.
Di halaman puskesmas, Ayla baru saja membuka pintu mobil saat ponselnya berdering.
“Oh,” katanya pelan. Dia berhenti melangkah. “Sejak kapan?”
Aku tetap duduk di mobil, pura-pura menatap depan.
“Parah?” lanjutnya.
Hening sejenak. Aku bisa melihat alisnya mengerut.
“Entah,” katanya lagi. “Gimana nanti.”
Panggilan ditutup.
Saat dia turun dari mobil, aku bertanya, “Siapa, Dek?”
Ayla melirikku sekilas. “Eh, kok Bapak mulai bawel, ya?”
Nada suaranya ringan, tapi jelas ingin menutup topik. Aku tersenyum kecil. Benar juga. Sejak kapan aku jadi begini.
“Nanya aja,” kataku santai.
Ayla tidak menjawab. Dia hanya mengangguk singkat, lalu melangkah masuk ke puskesmas. Punggungnya menghilang di balik pintu kaca.
Siang itu aku tenggelam dalam urusan. Satu pertemuan ke pertemuan lain. Telepon masuk bertubi-tubi. Kepalaku penuh. Sampai lupa, kalau jam pulang Ayla sudah lewat.
Aku baru sadar saat langit mulai redup.
Aku melaju ke puskesmas. Parkiran sudah lengang. Lampu depan masih menyala, tapi suasananya sepi. Beberapa perawat terlihat beres-beres.
Aku turun, melongok ke dalam. Tidak ada Ayla.
Aku menghela napas, lalu menelepon Eva saat kembali ke mobil. “Va, Ayla di mana?”
“Ke rumah sakit kan,” jawab Eva cepat. “Katanya sudah izin Bang Arman.”
Aku terdiam. “Ke RS?”
“Iya. Bang Arman ganti nomor ya?” Eva tertawa kecil. “Soalnya katanya nggak bisa dihubungi.”
Dadaku langsung mencelos. “Oh,” kataku pelan. “Aku belum baca. Iya, Va. Makasih.”
Telepon ditutup.
Aku langsung melaju ke rumah sakit. Jalanan sore padat, klakson bersahutan. Tanganku mencengkeram setir lebih kuat dari biasanya.
Di rumah sakit, lorong IGD ramai. Bau antiseptik menusuk. Suara langkah kaki, roda brankar, dan bisikan bercampur jadi satu.
Aku melihatnya dari kejauhan. Langkahnya lesu, bolak balik. Tangannya menyentuh dinding sesekali, seperti butuh pegangan.
Aku ingin memanggilnya. Ingin menebus semua keterlambatan yang barusan terjadi.
“Dek—”
Belum sempat suaraku keluar, Ayla sudah masuk ke sebuah kamar. Pintu terbuka, lalu tertutup setengah.
Aku berhenti. Langkahku ragu.
Masuk sekarang… atau tunggu? Atau seharusnya aku pergi saja?
Aku berdiri beberapa meter dari pintu itu. Lorong rumah sakit bau obat menusuk. Orang-orang lalu-lalang, sehingga suara dari dalam kamar terdengar samar.
Suara laki-laki. “Ay… makasih ya.”
Dadaku menegang.
“Makasih masih peduli,” lanjut suara itu.
Aku menunduk. Itu Raka. Aku tidak berniat menguping. Tapi kakiku tidak bergerak. Seperti tertancap di lantai.
“Aku pikir kamu udah… bener-bener pergi,” kata Raka lagi. Ada senyum pahit di suaranya. “Aku cerita ke siapa pun soal S2-ku, soal rencana ke luar kota… tapi nyatanya, aku masih nggak bisa lupa kamu.”
Aku menelan ludah. Ada bagian dadaku yang terasa kosong. Bukan marah. Bukan iri. Lebih ke… sadar diri. Aku ini siapa, sih, di antara semua yang dulu?
Suara Ayla terdengar. Pelan. “Aku juga—”
Kalimat itu, membuatku mencelos. Aku tidak menunggu kelanjutannya. Tidak ingin tahu apakah setelah itu ada penjelasan atau penyangkalan.
Aku tidak ingin mendengar bagian yang mungkin membuatku kian kerdil. Langkahku mundur dan berbalik badan. Lorong terasa lebih panjang saat aku berjalan menjauh.
Bahuku berat. Kepalaku tertunduk.
Mungkin ini jawabannya.
Bukan ditolak terang-terangan. Tapi ditinggalkan pelan-pelan, oleh masa lalu yang belum selesai.
Aku keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai. Tidak tahu harus pulang sebagai apa. Aku terdiam lama di mobil.
Ketika ingin pergi, hujan besar turun. Petir menggelegar. Aku ingat Ayla yang ketakutan jika hujan seperti ini.
Aku gegas turun kembali, memakai payung. Dan kulihat dia, berjalan keluar. Tangannya terlipat di dada, seperti sedang menahan sesuatu.
“Dek,” panggilku sambil mempercepat langkah. Napasku agak terengah. “Maaf.” Aku lupa pada perasanku sendiri, cemas melihat Ayla.
Ayla berhenti, mendongak. Menatapku lama. Wajahnya pucat. Mata itu… basah. “Maaf,” katanya pelan.
Air matanya jatuh begitu saja. Satu. Lalu satu lagi.
Deg.
Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.
Aku mendekat. “Maaf… maksudnya apa?”
.
.