Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Signal Ayla
(masih pov Arman)
Hujan turun makin rapat. Suara deras rintiknya menutupi hiruk pikuk lorong rumah sakit yang tadi riuh. Orang-orang berlarian masuk meneduh.
Angin kencang datang mendadak. Menyapu halaman rumah sakit, membawa dingin yang menusuk. Petir menyambar, suaranya memantul di dinding gedung, membuatnya bergetar.
Ddrrrttt.
Dalam hitungan detik, halaman luar itu berkabut oleh hujan yang terlalu deras.
Kami berdiri berhadapan, diam dalam jarak yang canggung. Ayla masih menunduk. Bahunya sedikit bergetar, entah karena dingin atau karena melihatku.
Matanya lalu menatapku. Rambutku sedikit basah.
Dia kelihatan takut saat petir menggelegar lagi. Ayla merapatkan lengannya ke badan. Seragam batiknya tipis. Dia kedinginan.
Aku tahu dia gengsi. Akhirnya aku yang mengalah, mendekatinya.
“Maaf… maksudnya apa?” tanyaku lagi, lebih pelan.
Dia mengusap cepat sisa sembab di pipinya, seolah kesal pada ketakutannya pada petir. Lalu mendongak menatapku. Matanya merah.
“Aku nggak tahu harus gimana,” katanya lirih. “Tadi itu… semuanya mendadak.”
Ayla menunduk. Ujung jarinya saling meremas. Bahunya sedikit bergetar, dingin dan takut. “Maaf,” katanya pelan. “Ke sini nggak nunggu dibolehin.”
Aku diam.
Kalimat itu menggantung di antara kami. Apakah Ayla baru saja membuat pengakuan?
Ayla mengangkat wajahnya sedikit, seperti menunggu reaksiku. Menunggu aku marah, atau melarang. Tapi aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku menunggu. Tidak menyela atau memotong kalimat yang belum selesai.
Hujan makin deras. Angin meniup ujung hijabnya. Aku berdiri sedikit lebih dekat, memosisikan tubuhku menahan angin.
Ayla menarik napas dalam. “Aku cuma pengin bilang satu hal.”
Aku mengangguk.
“Lain kali,” katanya, suaranya bergetar tapi tegas, “kalau mau ke mana-mana… kalau mau ngapa-ngapain… tolong kabarin istrinya, Pak.”
Kalimat itu sederhana. Tidak bernada tinggi atau menyindir tapi dadaku seperti ditekan sesuatu yang berat.
Istrinya.
Aku terdiam. Lidahku kelu, merasa ditegur tanpa disalahkan.
“Aku ke sini bukan buat milih siapa-siapa,” lanjutnya pelan. “Aku ke sini karena aku nggak mau jadi orang yang pura-pura nggak peduli."
Aku mengangguk pelan. “Aku tahu.”
“Dan soal tadi…” Ayla berhenti sejenak. “Aku bilang ‘maaf’ karena aku nggak ngabarin kamu. Bukan karena hal lain.”
Kata-kata itu menyadarkanku. Perlahan menambal lubang yang tadi terasa menganga.
Aku menghela napas panjang. “Aku yang harusnya minta maaf,” kataku jujur. “Aku kebanyakan mikirin yang nggak-nggak."
Ayla menatapku lama, lalu dia mengangguk kecil.
"Maaf,” kataku, suaraku hampir tenggelam oleh hujan. "Aku lupa ngabarin kalau nomerku ganti," sambungku.
Wajahnya ayu tanpa make-up berlebihan. Mungkinkah Ayla menghapusnya saat ke sini. Tanpa sadar, aku tak berkedip memandanginya. Sedikit bahagia terselip melihat Aylaku seperti ini.
"Hujannya masih deras,” katanya, seperti mengalihkan perhatianku yang sedang mengaguminya.
“Pulang sekarang masih takut nggak, Dek?"
Ayla mendekap tasnya, menggeleng ragu. Tapi melihat jam tangannya, waktu Maghrib segera tiba.
"Pulang aja."
Kami berjalan berdampingan ke parkiran. Kali ini jaraknya lebih dekat, meski tidak saling menyentuh. Payung kugenggam sedikit miring, memastikan bahunya tak kehujanan.
Di dalam mobil, Ayla bersandar, memejamkan mata. Napasnya teratur, wajahnya terlihat lelah.
Aku menatap jalan, tapi pikiranku kembali ke satu kalimat yang tak sempat kudengar utuh.
Aku juga…
Mungkin aku salah karena pergi terlalu cepat. Tapi malam ini, Aku merasa… diminta belajar sabar dan mendengarkan Ayla.
Lampu jalan memantul di kaca depan. Hujan mulai mereda. Di jok samping, istriku tertidur pelan.
Kami sampai di rumah satu jam kemudian. Genangan air setelah hujan lebat, membuat lalu lintas sedikit tersendat.
Hujan menyisakan gerimis, menetes dari ujung atap saat mobil Ayla masuk halaman. Aroma tanah basah ikut masuk bersama kami.
Aku turun lebih dulu, memayunginya. Begitu masuk rumah, Ayla bersin dua kali berturut-turut.
“Pilek, Dek?” gumamku.
Dia cuma menggeleng pelan, melepas sepatu, menaruh tas di kursi. Rambutnya ikut lembap, hijabnya sedikit basah dan belum dilepas.
“Aku mandi dulu,” kataku. “Bajuku basah.”
Ayla mengangguk lagi. “Iya.”
Aku ke kamar mandi, melepas kemeja yang menempel di kulit. Air hangat mengalir, tapi pikiranku masih memikirkan kalimat itu.
Aku juga…
Aku selesai lebih cepat dari biasanya. Saat keluar, Ayla sudah duduk di sofa, berselimut tipis, ponsel di tangan. Hidungnya memerah.
Aku ke dapur tanpa banyak bicara. Menyalakan kompor. Merebus air untuk Ayla mandi dan membuat wedang jahe.
Dari ruang tengah, suaranya terdengar.
“Iya, Va…” Nada Ayla rendah.
Aku tidak berniat mendengar. Tapi rumah ini kecil, dan suaranya sampai ke dapur.
“Nggak. Cuma lihat dia aja.”
Jeda.
“Bentar banget malah.”
Aku menuang air ke cangkir. Uap hangat naik.
“Dia ngajak balikan?” suara Eva terdengar samar, nyaring meski lewat ponsel.
Aku berhenti sebentar.
“Aku nggak ada niatan,” jawab Ayla. “Entah… hambar aja.”
Dadaku mengendur pelan. Apa yang sedang diperbincangkan itu soal Raka? Dan respon Ayla sudah biasa saja?
Tapi, kalau hambar, kok Ayla bilang ~aku juga? Apa maksudnya? Aku membatin.
Tiba-tiba...
“Tapi Ay,” Eva belum puas bertanya di ujung sana, “kira-kira lu udah mati rasa beneran, apa belum sih?”
Aku mematikan kompor. Mengambil jahe dan menambahkan sedikit gula. Sepertinya Ayla tak sengaja kepencet loudspeaker, suara Eva tadi terdengar jelas.
“Dek,” panggilku dari dapur, sengaja menetralkan suara. “Airnya sudah siap. Mandi dulu.”
“Ay, itu laki lu manggil,” suara Eva menggoda. “Ciyeee.”
Aku melangkah ke ruang tengah. Ayla menoleh, ponsel masih di tangan, dia seperti baru menyadari obrolannya dengan Eva bocor. Tombol itu di matikan.
Ayla tersenyum kikuk tapi tampak manis di mataku. “Va, udah dulu ya,” katanya. “Laki gue minta gue mandi.”
“Eeeeeh,” Eva berseru. “Laki gue katanya."
Aku berdiri di depannya saat suara Eva tertawa tertangkap jelas di telingaku.
Ayla mematikan panggilan. Masih ada sisa senyum di bibirnya saat dia berdiri. Tiba-tiba saja aku merasa Ayla memandangku dengan sorot berbeda.
"Apa?" lirihku pelan.
“Makasih, Pak Arman," katanya ringan.
Dia melangkah ke arah kamar, lalu berhenti sebentar. Menoleh ke arahku, masih dengan senyum yang sama. Manis.
Aku berdiri canggung. “Dia kenapa?”
Ayla keluar, menyampirkan handuk di bahunya, lalu menutup pintu kamar mandi.
Aku berdiri di tengah rumah. Di antara dua pintu kamar. Masuk ke kamar yang mana? Kamarnya, pintunya sedikit terbuka atau kamarku?
Air di cangkir masih mengepul di meja. Ayla keluar beberapa menit kemudian, handuk di bahu, rambut terikat asal. Wajahnya lebih segar, tapi matanya sedikit merah, lelah.
“Minum ini dulu,” kataku.
Dia mengambil cangkir itu. Jari kami bersentuhan sekilas.
“Tidur di mana?” tanyaku, akhirnya.
Ayla menatapku. “Kalau kamu nggak keberatan,” katanya pelan, “aku tidur di kamarku dulu ya, capek.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Ayla melangkah pergi, lalu berhenti lagi. "Kak,” katanya. Jarang sekali dia memanggilku begitu.
Aku menoleh.
“Makasih ya… tadi.”
Aku tersenyum kecil. “Iya.”
Pintu kamarnya tertutup pelan. Aku duduk di sofa sendirian. Menyeruput sisa jahe dari cangkirku sendiri.
Tiba-tiba. "Aaaaaaaaaa!"
.
.