Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Pilihan Ayah jadi Pilihanku

Aku sadar, kata itu bukan lagi sekedar panggilan formalitas. Tapi keputusan.

Aku memanggilnya bukan karena status, tapi karena yakin dengan perasaanku.

Tangan Arman menempel diatas tanganku, perlahan kutarik untuk kucium punggung tangannya. Lalu aku melepasnya.

Arman tersenyum tipis. "Boleh, Dek?" 

Aku masih duduk diam di hadapannya. Entah dia izin mau ngapain, aku mengangguk, berusaha percaya Arman akan melakukan hal baik.

"Alhamdulillah." Dia mengusap kepalaku lembut lalu menariknya pelan.

Arman mulai mengucapkan doa kebaikan untukku. Aku baru ingat, saat selesai akad, Arman tak menyentuhku sama sekali.

"Baru ada kesempatannya, baru diizinkan istriku, baru dapat ridhonya ... Semoga tak mengurangi keberkahannya ya Robb. Maafkan kami," tutur Arman lirih sebelum mengecup dahiku.

Aku kian menunduk, haru. Kenapa semua baru terlihat di mataku ya Allah. Kututup wajah dengan kedua tangan. 

Lalu Arman menarikku ke pelukannya. Kali ini aku membalasnya. "Maaf," bisikku.

Dia tak bicara apapun. Hanya mengusap kepala dan punggungku naik turun. Lalu menyeka pipiku. 

"Lega?" tanyanya. 

Aku mengangguk. "Iya." Arman menatapku, aku menunduk malu dilihat seperti itu.

Dia meraih tanganku dan menggenggamnya. "Mulai lagi, ya," katanya pelan.

"Iya." 

"Terima kasih," ucapnya lagi.

Aku mendongak, tatapan kami bertemu. Aku mengerjap pelan, menunggunya bicara.

"Makasih, sudah mau lihat aku." Arman lalu berdiri lebih dulu, merapikan sajadah yang tadi masih terbentang.

Aku duduk melepas mukena. Kami seperti dua orang yang sedang membangun kebiasaan baru.

“Aku bikin teh, ya.”

“Aku temenin.”

Kami berdiri berdampingan di dapur sempit. Tidak bersentuhan, tapi merasa intim.

Air mendidih. Uapnya naik pelan, memenuhi ruang kecil itu.

“Besok aku ke stand sebentar,” kata Arman sambil menuang air panas. “Cek laporan.”

“Hmm.” Aku ragu sebentar, lalu berkata, “Aku ikut, boleh?”

Arman menoleh, jelas terkejut. Tapi senyumnya muncul lagi. “Boleh.”

"Aku mau belajar… lihat duniamu.”

Dia mengangguk pelan. Kami membawa dua cangkir teh ke ruang tengah. Duduk berdampingan di sofa yang sama.

Bukan sebagai dua orang yang saling menuntut. Tapi sebagai suami dan istri yang akhirnya sepakat berjalan searah.

Aku menyesap teh hangat itu. Rasanya sederhana, seperti Arman, tanpa banyak drama.

Arman lalu masuk ke kamarnya, dan keluar lagi membawa tas hitam yang sesekali ia bawa. Tas itu tampak biasa, tapi dari caranya menaruh di meja, aku tahu isinya bukan hal sepele.

“Kamu biasanya habis berapa buat skincare sama kuota?” tanyanya sambil membuka resleting.

Aku mengangkat bahu. “Nggak tiap bulan beli. Kalau kuota dari kantor disubsidi seratus, aku nambah dikit. Paling lima puluh ribu.”

Arman mengangguk, lalu menyodorkan ponselnya.

“Aku transfer aja, Dek. Nomor rekeningmu.”

Aku biasanya akan menolak, tapi kali ini belajar menerimanya, menuliskan deretan angka. Arman sedang mulai menegaskan posisinya.

Tak lama, ponselku yang tergeletak di sofa bergetar. Nyaris kedudukan.

Aku melirik layar. Sejumlah uang masuk ke rekeningku.

“Kebanyakan,” ujarku refleks.

Arman tersenyum kecil. “Buat body care, nyalon, jajan, sama pulsamu. Aku nggak mau kamu ngabarin aku nya di irit-iriit.”

Aku terkekeh. Nada suara Arman ringan, tapi dadaku hangat. Ini bukan soal uangnya. Namun, caranya memastikan kebutuhanku aman.

Lalu ia bertanya soal makanan. Aku lebih suka masakan rumah atau beli? 

“Aku sih apa aja,” jawabku jujur. “Asal halal, normal, nggak aneh bentuknya.”

Arman terkekeh. “Oke. Kamu tulisin menu harian, ya.”

“Serius?”

“Iya. Biar gak jawab terserah kalau aku nanya mau makan apa," ucapnya lagi. "Terus tiap weekend kita food prep. Mau?”

Aku langsung mengangguk cepat. “Mau. Banget.”

Beberapa menu aku sebutkan, sekalian mencari tahu apa menu kesukaan suamiku. Selera kami ternyata tak jauh beda, Arman juga menjadwalkan hiburan setiap pekan.

"Bioskop, nonton di rumah, bobok mageran rebahan atau ngebolang," tanyanya padaku.

"Ngebolang, Mas." Aku girang, Arman malah tertawa.

"Biasanya tidur dari pagi sampe sore," ejeknya.

"Ya kan mau beda," jawabku malu-malu. 

Arman bilang oke. Dia kembali membuka tasnya. Menghitung uang, rapi, satu per satu. Lalu menaruhnya di atas meja.

“Ini buat dapur. Token. Air. Bensin mobil kamu, motor aku, sama motormu,” jelasnya. “Aku taruh di laci kamarmu, ya, Dek.”

Aku terdiam. Bukan karena jumlahnya, tapi karena caranya memetakan kebutuhan.

“Mentang-mentang anak ekonomi,” sindirku pelan.

Arman tertawa kecil. “Biar aku tenang. Kebutuhanmu cukup, jadi aku tinggal mikir buat yang lainnya.”

“Lainnya?” aku mengulang.

“Ya… mungkin kamu mau liburan. Investasi. Atau apa gitu,” katanya santai.

Aku manggut-manggut. “Iya.”

Arman tiba-tiba diam. Tangannya menopang dagu. Senyum tipis muncul.

“Dan yang paling penting,” katanya pelan, “kita juga harus siapin buat…”

Aku menatapnya. “Buat apa?”

Ia menatapku balik, matanya hangat, penuh arti. “Tebak.”

Aku tercekat. Pipiku terasa hangat. Aku menunduk, lalu tertawa kecil untuk menutupi gugup. “Apa iihh,” kataku.

Arman masih menatapku. Kali ini sorot matanya jauh lebih teduh. Tidak menggoda tapi jantungku malah berdentam tak beraturan.

“Kalau Allah titipkan,” katanya pelan, “ditunda atau diterima?”

Oh. Aku paham maksudnya. Entah kenapa pipiku terasa panas. Apa mukaku memerah? 

“Tidak dalam waktu dekat,” lanjutnya hati-hati, “mungkin suatu waktu… saat semuanya siap.”

Aku menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak. Seolah sedang menata hatiku sendiri. “Diterima,” jawabku.

Senyumnya merekah lagi. Kali ini lebih lepas.

“Alhamdulillah. Berarti kudu dipikirkan dan disambut dengan baik,” katanya.

Aku hanya mengangguk. Rasanya campur aduk. Hangat. Takut. Tapi juga tenang.

Aku memperhatikannya lagi, caranya membagi uang ke beberapa amplop. Dana darurat. Liburan. Jajan. Tabungan. Semua tertata rapi.

Malam itu, pembicaraan kami berputar soal investasi. Tentang usaha, Emas dan hal-hal yang dulu hanya sebatas angan.

Di sela kantuk, aku melontarkan pertanyaan yang sejak tadi menggelitik. “Gajimu berapa sih, Mas?”

Arman tak menjawab. Ia justru menyodorkan ponselnya. Mutasi rekening. Aku membaca pelan. Ada transfer rutin dari ayah. Lalu dari kampus. Dan beberapa kredit dengan nominal hampir sama setiap pekan.

Aku mengernyit. “Ini apa?”

“Yang tadi kamu lihat, Dek,” katanya santai. “Di warung ayam.”

“Oh…” aku terdiam. “Lumayan ya?”

Arman terkekeh. “Banget. Bisa lah ngimbangin pegawai kantoran.”

Aku ikut tertawa. Persis seperti cerita si Bapak di warung tadi sore.

Sekarang aku mengerti, kenapa ayah dengan percaya diri menyodorkan aku ke Arman. Banyak hal yang tidak kulihat darinya. 

Ayah ingin aku disayangi dengan benar. Ingin aku dijaga dan hidup dengan pria bertanggung jawab, sesuai dengan apa yang dilihatnya.

Dedikasi Arman ke ayah tak perlu dibantah. Didikan ayah sedikit menempel di dirinya. Ayah ingin aku diterima dan menerima dengan mudah di masa kecewa berat karena Raka. 

Dan pilihan ayah, tak salah.

Lalu, tiba-tiba Arman diam. Menoleh ke arahku. Tatapannya serius. “Kamu…” katanya pelan, “malu nggak, Dek, punya suami kayak aku?”

Dhuar.

Pertanyaan itu menghantam dadaku. Aku terdiam. Semua momen hari ini berkelebat: cerita si Bapak, caranya bekerja, caranya mengatur, caranya salat, caranya menjaga.

Aku menatapnya lama. Lalu....

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!