Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Mulai Manis

Aku menatapnya lama. Lalu menggeleng pelan. Bersamaan dengan hujan yang mulai turun. Suara tetesanya menjadi pengiring jawabanku.

“Nggak,” jawabku dengan suara rendah. “Aku malu… sama diriku sendiri.”

Arman terdiam.

“Karena sempat ngeraguin Mas,” lanjutku. “Karena terlalu sibuk menilai Mas pakai angan-anganku sendiri.”

Ia tak langsung bicara. Hanya menatapku, seolah sedang memastikan aku sungguh-sungguh.

“Aku kira malu itu soal status,” kataku lagi. “Soal kerjaan, penghasilan, omongan orang. Padahal yang bikin malu itu… kalau kita berpura-pura cuma buat menuhin kepuasan orang lain.”

Arman menghela napas pelan. Senyumnya muncul sedikit, mendengar penuturanku.

“Aku nggak butuh kamu bangga, Dek,” katanya. “Cukup percaya.”

Aku mengangguk. “Aku mau belajar,” ucapku. “Bukan jadi istri yang paling ngerti. Tapi yang mau nerima.”

Arman menunduk sebentar. Tangannya meraih tanganku, menggenggamnya hangat.

“Kita sama-sama belajar,” katanya pelan. “Aku juga masih banyak kurangnya.”

Aku tersenyum kecil, merasa harus membuktikan apa-apa di depan Arman.

Jam dinding berdetak pelan. Teh di cangkir sudah hampir habis. Malam merambat tenang, tanpa tuntutan, tanpa rencana besar yang harus selesai malam ini.

Aku bersandar ke sofa. Arman duduk di sampingku, bahu kami bersentuhan ringan.

“Mas,” panggilku lagi, kali ini tanpa ragu.

“Hm?”

“Besok… kalau ke stand, aku ikut ya.”

Ia menoleh. “Pas jam istirahat paling, Dek, nggak capek bolak baliknya?”

Aku tersenyum. “Liat suamiku masa capek?”

Arman tertawa kecil. “Baik, Bu.”

Kami diam lagi. Mulai nyaman tanpa perlu diisi banyak kata-kata.

Aku tidak bertanya padanya apakah aku pantas atau tidak untuknya. Aku cuma ingin tumbuh bersamanya, pelan-pelan, dengan cara yang benar.

Hujan turun makin deras. Dari dapur terdengar bunyi tok… tok… tok… air jatuh ke lantai. Disusul suara lain dari ruang tengah, lalu depan kamarku.

Kami berdiri, mencari sumber suara, dan aku mematung di tengah kamar, menatap kasur yang mulai basah di satu sudut.

“Ya Allah…” gumamku.

Arman muncul di ambang pintu. Rambutnya sedikit basah. Tangannya masih memegang senter kecil dari ponsel.

“Di sini juga bocor?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Iya. Ituuuuu," aku menunjuk ke atas. "Tiba-tiba netes.”

Arman masuk, menepuk-nepuk kasur yang basah. “Lumayan basah ini. Dapur juga bocor,” katanya.

“Ruang tamu sama depan kamar aku juga.” Tunjukku ke luar.

Arman menghela napas. Ia menoleh ke luar jendela kamarku. Angin mengamuk. Pohon jambu mustika di halaman depan meliuk liar, rantingnya bergesekan satu sama lain. Kanopi teras berisik, krek… krek…

“Besok kudu panggil tukang,” katanya akhirnya. "Kayaknya genteng geser kena angin," lanjut Arman masih melihat ke luar.

Aku manyun. “Ayah gimana sih. Nyuruh aku nempatin rumah lama tapi nggak dicek dulu.”

Arman tersenyum kecil, nggak menimpali keluhanku. “Sekalian aja kalau dinding mau dicat ulang juga, Dek.”

Aku menoleh. “Dicat ulang?”

“Iya,” katanya sambil melirikku. “Kayaknya perlu ditata ulang.”

“Warna apa?” ucapku.

“Semaunya kamu.”

Aku terdiam sebentar, lalu senyumku muncul. “Besok Mas kerja?”

“Aku izin ke ayah. Nggak masuk.” Dia menatapku. “Jam istirahat aku jemput ke toko. Kita lihat-lihat bahan, cat, genteng. Gimana?”

Aku mengangguk cepat. “Iya.”

“Diliat sekalian, dapur ada yang kurang nggak. Pisau, panci, atau apa, sekalian belanja, Dek.”

“Palingan gorden,” jawabku sambil tertawa kecil. “Terus aku mau coba berkebun di depan. Gersang banget, nggak ada pohon, apalagi bunga.”

Arman mengernyit. “Kamu bisa emang?”

“Nggak,” jawabku jujur. “Ada Mas yang ngurusin nanti.”

Arman tertawa. “Ujungnya aku.”

Aku ikut tertawa, lalu ke belakang mengambil pel, mengelap lantai yang basah. Laptop kupindahkan. Baskom kutaruh di atas kasur, satu lagi dekat meja rias.

“Dadakan banget sih bocornya,” gumamku.

Di ambang pintu kamarku, air masih menetes cepat. Arman berdiri di sana, menatap ke atas lalu meletakkan baskom kecil.

“Di pel Semua?” suara Arman terdengar dari belakang.

Aku menggeleng. “Cuma dua, percikannya lumayan takut licin," jelasku. "Rumah kedua tapi aku jarang nempatin.”

Dia diam. Aku yakin, dia juga pasti mengingatnya.

Setelah mama nggak ada, kami pindah ke sini. Aku kuliah di Bandung. Agya masuk asrama. Rumah ini dibeli pas aset ayah hampir habis.

Ayah bangun lagi dari nol. Sewa lahan, pinjam bank, jual perhiasan mama… sampai akhirnya pabrik gula batu itu berdiri lagi.

Hanya Ayah dan Arman yang lebih sering menempati rumah ini. Makanya dia lebih hafal letak perabotan dibanding aku.

Di tahun selanjutnya, akhirnya ayah membeli rumah dekat dengan pabrik, lebih besar. Memisahkan duniaku dengan Arman.

Arman menatap kasurku yang tak layak dipakai malam ini. Lalu menoleh ke arah kamarnya.

“Jadi…” katanya ragu, menggaruk tengkuk.

“Mau tidur di mana, Dek?”

Aku menelan ludah. Mengendikkan bahu. “Kamar Mas…” kataku pelan. “Aman, kan?”

“Iya,” jawabnya cepat. “Hanya rembes aja di pojok atas pintu tapi gak netes," bebernya.

Kami sama-sama diam. Hujan seperti sengaja memperkeras suara tetesanya. Angin kembali menghantam kanopi.

“Aku bisa tidur di sofa,” kataku refleks.

Arman menggeleng. “Nggak. Sofa dekat bocoran. Anginnya gede dari celah atas.”

Aku menghela napas. “Terus gimana?”

Arman berpikir sebentar. “Kasur aku cukup gede.”

Aku menatapnya. Dia juga menatapku, lalu buru-buru menambahkan, “Maksudnya… aku bisa di lantai. Kamu di kasur.”

Aku tersenyum kecil. “Mas…”

“Hm?”

“Kita....”

Kami terdiam. Canggung.

“Tidur aja,” lanjutku. “Aku ngantuk.”

Arman mengangguk pelan. “Iya.”

Kami berjalan ke kamarnya. Tanpa saling sentuh. Hanya dua orang yang sama-sama belajar merasa aman berbagi ruangan yang sama.

Kasur di kamar Arman lebih rapi dari dugaanku. Seprai abu-abu, bantal dua, lampu tidur kecil menyala temaram. Suara hujan masih menghantam atap, angin sesekali menderu, membuat kaca jendela bergetar pelan.

Aku duduk di tepi kasur. Arman berdiri sebentar, lalu mematikan AC. “Dingin?” tanyanya.

“Sedikit,” jawabku jujur.

Dia membuka lemari, mengambil selimut. Saat dibentangkan, aku baru sadar, ukurannya kecil..Kami saling pandang sebentar.

“Ini aja adanya,” katanya.

“Nggak apa-apa,” jawabku cepat.

Kami naik ke kasur dari sisi yang berlawanan. Aku memunggunginya, menarik selimut sampai ke dagu.Tapi dingin tetap menyusup. Pelan-pelan. Dari kaki. Ke punggung.

Aku memejamkan mata. Di kegelapan, pikiranku berisik.

Rumah ini dulu cuma dihuni ayah dan dia. Aku jarang pulang. Ada orang lain di rumahku. Dan sekarang… orang itu justru jadi suamiku.

Aku menelan ludah, masih belum terbiasa dengan keberadaannya dan status kami. Oleh rasa aman yang baru tumbuh ini.

Selimutku bergerak sedikit. Aku merapatkan tubuh ke tepi kasur.

“Dingin?” suara Arman pelan dari belakang.

Aku mengangguk meski tahu dia tak bisa melihat. “Iya.”

Beberapa detik hening.

Lalu… tangannya menyentuh pinggangku. Ragu. Seperti minta izin tanpa kata.

Aku membeku. 

Arman mendekat sedikit. Tubuhnya hangat. Ia menarikku perlahan ke dadanya, memeluk dari belakang. Tidak erat tapi cukup untuk menghalau dingin.

“Kalau nggak nyaman, bilang,” bisiknya.

Aku menarik napas. Dadaku naik turun. Anehnya… tubuhku justru rileks.

Pelukannya menguat sedikit. Aku bisa merasakan napasnya di tengkukku. Teratur. Tenang.

Oh… Begini rasanya dipeluk tanpa rasa bersalah. Aku memejamkan mata lagi. 

“Tidur ya,” katanya.

“Iya.”

Hujan tetap deras. Tapi dingin sudah tidak terlalu terasa.

Pagi datang sisa hujan yang meninggalkan bau tanah basah. Aku terbangun perlahan.

Hangat.

Aku diam beberapa detik, baru sadar masih di dalam pelukan Arman. Tangannya melingkar di perutku. Wajahnya dekat dengan rambutku.

Aku menelan ludah. Jantungku berdetak lebih cepat. Pelan-pelan aku mencoba bergeser.

“Hmm…” Arman menggeram pelan, setengah sadar. Tangannya justru menguat.

Aku berhenti. “Mas,” panggilku pelan.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!